Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 15. Sahabat Terbaik


__ADS_3

Flora*


Begitulah kehidupanku selama enam tahun terakhir. Setelah kelahiran ketiga putriku, aku merasa sangat bahagia sampai aku tidak bisa membendung air mataku yang terus keluar.


Aku menyesali semua yang ku ingin lakukan sebelumnyya. Jika, pada saat itu aku tidak mengikuti permintaan Hannah dan langsung mengugurkan janinku. Mungkin selamanya aku akan menyesal. Karena aku sudah membuang harta berharga yang punya dalam hidupku.


Bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Itulah yang terus kulakukan saat itu. Aku juga akan mengajari anak-ananku untuk selalu bersyukur pada apa yang terima.


Setelah mendengar ceritaku, Odellia pun terlelap tidur dalam pelukanku. Aku sudah panjang lebar bercerita, entah dia mengerti atau tida. Yang jelas aku asudah menyampaikan apa yang bisa kusampaikan pada anakku.


Pintu kamar anak-anak terbuka, kulihat Hannah mengintip kami.


"Hai, anak-anak sudah tidur?" tanyanya sembari masuk dan berjalan mendekati anak-anak.


"Ya, mereka baru saja tidur. Ayo, aku perlu bicara denganmu, Hannah. Ada yang ingin kutanyakan padamu." ajakku.


Aku melepas pelukanku dan membenahi posisi Odellia. Aku menyelimutinya sampai sebatas leher. Kutarik tangan Hannah sehingga kamipun keluar dari dalam kamar anak-anak.


"Ada apa? kau sampai harus menyeretku." tanya Hannah, terlihat tidak nyaman.


'Umh, maaf. Aku tidak bermasud menyakitimu. Aku hanya khawatir." jawabku.


Aku merasa tidak enak hati pada Hannah. Namun, aku juga ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting padanya. Ini mengenai sikap Odellia yang tidak aku mengerti.


"Tidak apa-apa. Lora, ada apa? kau baik-baik saja, kan?" tanya Hannah.


"Apa akhir-akhir ini anak-anak pernah bertanya sesuatu hal yang aneh?" tanyaku.


Hannah mengernyitkan dahi, "Apa maksudmu? pertanyaan Aneh yang bagaimana?" tanya Hannah terlihat kebingungan.


"Beberapa hari belakangan, Odellia tertarik dengan cerita seputar Papanya. Kau kan tahu, aku bahkan tidak mengenalinya. Aku terpaksa berbohong dan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal." ungkapku.

__ADS_1


"Sesuatu yang tidak masuk akal. Seperti apa, itu?" tanya Hannah lagi ingin tahu.


"Apa lagi. Saat aku ditanya bagaimana wajah Papa? secara tidak sadar aku menjawab sesuai apa yang kupikirkan. Apa yang kubayangkan. Aku memang sudah gila sepertinya." keluhku.


Aku merasa sangat bersalah sudah membohongi Odellia. Meski aku samar melihat dan orng itu tidak terlihat buruk. Namun, tetap saja aku tidak bisa tahu wajahnya secara jelas.


"Seharusnya saat itu aku mendekatinya dan memastikan wajahnya. Atau mungkin ku foto saja. Ah, sial! aku sangat merasa bersalah pada Odellia, Hannah." ucapku lagi.


Aku kesal, juga bingung. Satu sisi tidak mau berbohong. dI sisi lain aku juga tidak mau membuat Odellia kecewa karena jawabanku yang ambigu.


Hannah memberikanku segelas air putih, "Minumlah dulu, Lora. Tenangkan dirimu." pintanya.


Aku menerima pemberian Hannah. Kuhabiskan air dalam gelas dengan sekali teguk. Setelah itu kuletakan gelas ke atas meja. Kulanjutkan dengan menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan.


"Bagaimana jika mereka kecewa padaku?" gumamku.


"tidak akan. Kau kan tahu sifat abnak-anak tidak seperti itu. Lambat aun, mereka akan tumbuh besar. Sampai saat itu tiba, mereka akan mengerti alasanmu berbohong. Jangan terlalu dipikirkan dan lekaslah tidur. Kulihat beberapa malam ini kau selalu terlambat untuk tidur." jelas Hannah.


Apa yang Hannah katakan itu benar. Aku memang sering terlambat tidur beberapa malam terakhir. Entah mengapa aku selalu kepikiran tentang laki-laki asing itu. Sosok Ayah dari ketiga putraku.


Ku coba menenangkan Hannah. Aku senang, masih ada Hannah yang selalu khawatir dan peduli padaku. Ya, meskipun keluarga angkatku juga sangat menyayangiku juga ketiga putriku.


"Kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu, Lora. Jangan menyerah dan teruslah bersemangat, ya." kata Hannah menyemangati.


"Ya, Terima kasih, Hannah." ucapku berbinar.


Hannah memelukku, "Oh, temanku. Maaf selama ini aku tidak bisa banyak membantu. Aku hanya mampu melakukan sampai batas ini saja. Kau kan tahu, aku hidup sendiri dan harus meningkatkan rasa mandiriku lebih lagi." ucap Hannah.


"Kau sudah sangat mandiri, Hannah. Aku sangat bangga padamu. Sebagai teman, aku juga sangat merasa senang. Apa yang sudah kau lakukan, itu berharga. Tidak, bukan hanya berharga, tetapi juga istimewa. Kau banyak berkorban untukku juga anak-anak. Dukungan dan semangatmu adalah sumber kekuatanku." jelasku.


Aku hanya bisa mengatakan itu. Mengatakan apa yang kurasakan dan kualami.

__ADS_1


"Terima kasih, Lora. Karenamu juga menjadi tidak kesepian karena tidak adanya kedua orangtua. Kau yang terbaik." kata Hannah mengeratkan pelukannya lalu melepas pelukan.


Hannah menatapku dengan tersenyum. Aku pun membalas senyumannya. Hannah sungguh sosok yang sangat hangat. Dia adalah wanita yang dewasa dariku. Setiap aku mengalami kesulitan, dialah yang membantuku. Selalu mengingatkanku akan hal-hal kecil juga.


"Ada apa melihatku?" tanyanya bingung.


Aku menggelengkan kepala, "tidak ada apa-apa. Aku hanya kagum saja padamu. Kau sangat keren di mataku." jawabku menggodanya.


Hannah menarik hidung, "Dasar penggoda. Sudah-sudah. Ayo, kita tidur. Ini sudah larut malam. Kau kan besok harus mampir ke rumah keluarga angkatmu. Kau tidak lupa, kan." katanya, yang lagi-lagi mengingatkan.


Aku hanya bisa menganggukkan kepala mengiyakan ucapannya.


"Aku duluan, ya. Kau cepat tidur." pamit Hannah, ia pun berlalu. berjalan pergi meninggalkanku.


Aku hanya menatapi kepergiannya. Pikiranku tiba-tiba saja teringat akan sesuatu. Ya, aku terbayang wajah Papa dan Mama kandungku. Sudah sejak saat itu, aku dan mereka sama sekali tidak menjalin komunikasi. Ada rasa takut, sedih dan kecewa. Ingin sekali mendengar suara mereka sesekali. Namun, sepertinya mereka tidak mengingat putri tunggalnya ini.


Tidak hanya kedua orangtuaku. Aku juga memikirkan sepupuku, Reine. Apakah dia dan Evan pada akhirnya menikah? Haaaaaaah ... lucu sekali. Kenapa juga aku mengingat orang yang sudah mengusir dan membuatku dalam masalah.


"Hahaha ... " tawaku masam.


Hatiku terasa nyeri sampai ekujur badan. Hal-hal buruk itu, satu per satu kembali kuingat. Rasanya sangat menyesakkan dada. Pengkhianatan sepupu dan mantan tunangan sendiri. Tidak hanya kejahatan berselingkuh, mereka bahkan ingin melemparku pada laki-laki asing untuk menghancurkan reputasiku. Ya, meskipun pada akhinya aku juga tidur dengan orang asing lainnya. Mereka tertawa bahagia dia atas penderitaanku.


"REine, Evan. Aku berharap kalian akan menuai dari apa yang kalian tabur padaku. Semoga kalian juga merasakan rasanya dikhianati dan dipermainkan." gumamku.


Kutepuk kedua pipiku dengan dua tanganku. Agar aku sadar dari pemikiranku yang kelam. Akan kuanggap apa yang baru saja kupikirkan adalah sebuah mimpi buruk. Mimpi yang hanya bunga tidur.


Usai sadar, aku pun berjalan pergi ke kamarku. Rasanya tubuhku lemas dan tidak bertenaga. Ditambah banyaknya pikiran yang memenuhi kepalaku. Sampai-sampai aku tidak bisa berpikir dengan baik dan benar.


Sesampainya di kamar, aku langsung melemparkan tubuhku ke atas tempat tidur. kupandangi langit-langit kamarku.


"Lupakan semuanya, Lora. Dan ayo pejamkan matamu. Waktunya tidur, karena hari esok yang panjang akan menantikanmu." kataku berbicara pada diri sendiri.

__ADS_1


Perlahan kupejamkan mataku. Suasana begitu hening dan tenang. Tanpa kusadari pun aku pada akhirnya tenggelam dalam keheningan dan bertemu mimpi.


****


__ADS_2