
Setibanya di rumah Christopher. Ada tetangganya yang datang menghampiri Christopher dengan tergopoh-gopoh.
"Chris ... " panggil seseorang. "Kau darimana saja. Kau meninggalkan Nenekmu sendirian di rumah. Kau harus segera ke rumah sakit, Nak. Cepatlah ... " kata seseorang itu dengan nada panik.
"Apa? ru-rumah sakit? ta ... " ucapan Christopher dipotong oleh seseorang tersebut.
"Tidak ada tapi-tapi, Chris. Nenekmu terlihat kesakitan dan tidak berdaya." sahut seseorang itu.
Christopher menatap Alexias sedih tanpa bicara. Seakan tahu Christopher butuh bantuan dan kebingungan. Alexias pun bertanya pada seseorang tersebut.
"Umm, maaf menyela. Nyonya, apakah Anda tinggal sekitar sini?" tanya Alexias.
"Ya, aku tetangga sebelah rumahnya." jawab seseorang itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi? maaf, sebelumnya saya banyak bicara. Tapi, Christopher terlihat kebingungan." kata Alexias lagi.
Seseorang itupun lalu bercerita. Ia menjelaskan secara singkat dan jelas apa yang terjadi pada Nenek Christopher. Setelah mendengar cerita tetangganya, Christopher langsung ingin pergi.
"Tunggu, Chris. Kau mau ke mana?" tanya Alexias menghadang Christopher.
"Nenek dalam bahaya, Paman. Aku akan ke rumah sakit segera." jawab Chritopher langsung.
"Kau mau ke rumah sakit dengan jalan kaki? aku akan mengantarmu. Ayo," ajak Alexias.
Keduanya lalu berjalan masuk kembali ke dalam mobil. Lora yang ada di dalam mobil pun bingung lantas bertanya. Kenapa suami dan Christopher kembali masuk ke dalam mobil lagi.
"Sayang, ada apa?" tanya Lora, sesaat setelah Alexias masuk ke dalam mobil.
"Nenek Christopher dilarikan ke rumah sakit. Kita akan ke sana sekarang." jawab Alexias.
Lora terdiam setelah mendengar jawaban suaminya. Ia tidak tahu lagi harus bicara apa.
"Anak itu pasti sangat sedih," batin Lora.
Mobil berjalan meninggalkan sekitaran rumah Christopher. Dengan dikemudikan Alexias, mobil yang ditumpangi Alexias, Lora, Christopher dan si kembar tiga berjalan menuju rumah sakit.
***
Di rumah sakit, Di parkiran ....
Christopher dan Alexias pergi masuk ke dalam gedung rumah sakit. Sementara Lora dan si kembar menunggu di dalam mobil. Lora tidak ikut turun karena dua dari ketiga putri cantiknya tertidur.
"Mami, apakah Nenek Kakak tadi sakit?" tanya Odellia tiba-tiba.
"Ya, sepertinya begitu. Lia tidak tidur?" tanya Lora. Ia menatap Lia yang duduk tepat di sebelahnya.
Odellia menggelengkan kepala, "Tidak, Mi. Aku tidak mengantuk." jawabnya.
Lora merangkul lalu mengusap bahu Odellia, "Maaf, ya. Kalian jadi ikut mondar mandir begini. Maafkan Papi dan Mami." kata Lora. Yang merasa tidak enak karena ada kejadian yang tidak menyenangkan. "Jalan-jalan kita juga harus tertunda karena hal ini. Ini semua di luar dugaan, Nak." lanjutnya.
"Tidak apa-apa, Mi." jawab Odellia.
Lora menyandarkan Odellia ke pelukannnya. Tangannya lembut mengusap-usap kepala Odellia. Membuat Odellia nyaman dan tenang.
***
Sementara itu, di lain tempat. Alexias dan Christopher akhirnya betemu Nenek dari Christopher. Pertemuan haru antara cucu dan Nenek tejadi. Sang Nenek senang akhirnya bisa bertemu Christopher setelah seharian tidak menemukan cucunya itu.
Kondisi Nenek Chritopher tidak baik. Saat bicara dengan Christopher pun, terlihat jika napasnya terenggah-enggah. Saat sanb Nenek bertanya pada cucunya, siapa orang dibawa cucunya, Christopher langsung memperkenalkan Alexias pada sang Nenek.
__ADS_1
"Nek, ini ... Pa-paman Alexias. Beliau yang mengantarku ke rumah sakit." kata Christopher.
Sang Nenek menatap Alexias, "Maaf, membuatmu kerepotan." katanya pelan.
"Tidak apa-apa. Hanya bantuan kecil," jawab Alexias.
Ponsel Alexias berdering, rupanya Lora memanggil. Karena si kembar tiga tidur, Lora ingin membawa ketiganya pulang agar bisa tidur dengan nyaman. Lora bertanya apakah Alexias sudah selesai dengan urusan Nenek Christopher atau belum. Saat ingin menerima panggilan, Alexias berpamitan pergi keluar dari dalam ruangan.
"Maaf, ada telepon." kata Alexias lalu, pergi keluar ruangan.
Alexias lalu, menerima panggilan Lora.
"Ya, sayang." jawab Alexias.
"Kalian sudah bertemu Nenek Christopher? Apa terjadi sesuatu, dan bagaimana keadaan Nenek itu? tanya Lora tanpa jeda.
"Soal keadaannya aku belum tahu. Aku masih ingin mencari dokter dan bertanya lebih detail nanti. Ada apa kau menghubungiku, sayang? terjadi sesuatu denganmu atau anak-anak?" tanya balik Alexias.
"Ah, itu. Anak-anak tidur. Tapi, sepertinya tidak nyaman. Maksudku, jika kau sudah selesai dengan urusan Christopher. Aku ingin mengajakmu pulang." jelas Lora. Mengutarakan maksud dan tujuannya menghubungi Alexias.
"Hm, bagaimana ini? aku kan belum bettmeu dokter bahkan belum memastikan keadaan di sini apakah baik-baik saja atau tidak." batin Alexias.
"Sayang, apa kau keberatan. Jika kau pulang lebih dulu dengan anak-anak? maaf bukannya aku tidak mau pulang. Aku amsih ingin memastikan keadaan Nenek Christopher pada dokter. Ya, kalau itu juga kau izinkan." kata Christopher.
"Tentu saja boleh, sayang. Baiklah, jika seperti itu keinginanmu. Aku pulang lebih dulu, ya. Nanti saat aku sudah mengantar anak-anak dan berganti pakaian aku akan menjemputmu dan menemui Nenek Christopher juga." kata Lora.
"Ok. Maaf, sayang. Tolong hati-hati mengemudi." Alexias sebenarnya tidak tega. Tapi, ia juga tidak bisa mengabaikan Christopher dan Neneknya.
"Ya, sayang. Lakukanlah yang terbaik untuk Christopher dan Neneknya. Kabari aku terus perkembangannya." kata Lora.
"Ok." jawab Alexias singkat.
"Dahhh ... aku mencintaimu." kata Lora.
Lora langsung mengakhiri panggilannya. Alexias mengirim pesan pada Lora sekali lagi mengingatkan untuk istrinya berhati-hati dan mengurangi kecepatan karena sedang membawa anak-anak. Setelah mengirim pesan, Alexias kembali masuk ke dalam ruangan. Menemui Christopher dan Neneknya.
Di dalam ruangan, Christopher sedang bicara dengan Neneknya. Terlihat Chtistopher sedang menangis dan Neneknya mengusap - usap kepala Christopher. Melihat itu, Alexias mendekati keduanya lalu, bertanya apa yang terjadi.
"Christopher, kau menangis? ada apa?" tanya Alexias.
"Anak ini baru saja menceritakan sesuatu. Apakah benar dia mencuri tas milik istrimu?" tanya sang Nenek.
Alexias mengernyitkan dahi, "Dia menceritakan kejahatannya pada Neneknya?" batin Alexias tidak mengerti.
"Ya, itu benar. Tapi, tidak apa-apa. Chtistopher sudah mengembalikannya dan mengakui kesalahannya. Ini pertama kalinya dia terlibat kejahatan jadi, kami memberinya kesempatan." jawab Alexias.
"Terima kasih, Nak. Kau baik sekali. Maafkan cucuku ini, ya. Sampaikan itu pada istrimu." kata Nenek.
"Tidak apa-apa. Kami sudah memaafkan. Anda tidak perlu cemas dan memikirkan hal ini. Christophet tidak akan kami laporkan ke polisi. Jadi, tolong fokus saja pada kesehatan Anda." kata Alexias.
Alexias, Christopher dan Neneknya, ketiganya berbincang banyak hal. Sampai-sampai, hal mengejutkan diceritakan si Nenek pada Christopher dan Alexias. Jika sebenarnya, Christopher adalah anak dari majikan anaknya yang bekerja sebagai juru masak. Mendengar itu, Christopher lanytas bertanya, siapa orang tua kandungnya. Dan mengapa sampai ia dibawa oleh anak si Nenek. Nenek itu kembali bercerita. Katanya, Mama kandung Christopher sengaja meminta anaknya membawa Christopher demi keselamatan. Karena, di rumah di mana Mama kandung Christopher tinggal terjadi perang dingin.
" ... apa yang terjadi, Nek?" tanya Christopher, ingin tahu.
"Papamu ... dia membawa wanita lain dengan dua anak laki-laki. Mamamu tidak mau sampai kau disakiti wanita simpanan Papamu yang ternyata juga sudah memiliki anak dari wanita itu. Karen Papamu dan Mamamu menikah karena perjodohan. Di dalam perjodohan, tidak ada cinta dan kasih sayang. Mamau bukan wanita yang mendapatkan cinta dan kasih sayang Papamu, Nak. Karena itu juga Papamu tidak mau mengakuimu sebagai anak dan memilih membawa wanita simpanannya pulang." susah payah Nenek itu bercerita. Ia berusaha membuat Christopher mengerti.
"A-apa sekarang Mama masih ada?" tanya Christopher lagi ingin tahu di mana Mamanya.
Nenek itupun menangis. Ia merasa bersalah sudah menyembunyikan kebenaran dari Christopher. Melihat Neneknya menangis, Christopher pun langsung memeluk tangan sang Nenek.
__ADS_1
"Nenek, apapun yang terjadi. Nenek adalah Nenekku. Tidak ada yang bisa mengubah itu. Nenek orang yang paling kusayangi." kata Christopher menahan tangisnya.
"Mamamu ... dia ... dia ... dia sudah tiada, Chris. Saat usiamu satu tahun, tepat di hari ulang tahunmu. Mamamu yang hendak melihatmu dan memberikan hadiah, mengalami kecelakaan. Kabar yang Nenek dengar, sehari sebelumnya, Mamamu bertengkar dengan wanita simpanan Papamu itu. Jelasnya Nenek tidak tahu. Itupun, Nenek dengar dari teman Anak Nenek yang merupakan seorang pelayan di sana." jelas Nenek.
"Maaf, jika saya menyela. Di mana Anak Anda?" tanya Alexias tiba-tiba. Ia penasaran. Karena tidak melihat Anak yang dibicarakan si Nenek.
"Anakku sakit keras dan meninggal seminggu setelah membawa pulang Christopher ke rumah. Karena itu, dia memintaku merawat Christopher seperti cucu sendiri. Aku ragu, karena aku sungguh tidak mau berurusan dengan keluarga orang kaya yang arogan itu. Awalnya pada saat Anakku membawa Christopher pulang. Aku sempat marah-marah dan mau mengursirnya. Tapi, saat melihat wajahnya yang lucu dan tampan akupun luluh. Sedih rasanya, saat aku berjuang membesarkan Christopher seorang diri. Tapi, aku sama sekali tidak menyesal. Karena dialah satu-satunya yang kumiliki setelah putraku satu-satunya meninggal. Karena itu, aku selalu menyayanginya dan mencintainya layaknya cucu kandungku." ungkap Nenek dengan mengusap-usap kepala Christopher.
"Oh, maaf. Saya telah menyinggung." gumam Alexias merasa tidak enak hati. Karena tahu jika Anak dari Nenek Christopher telah meninggal dunia.
"Tidak apa- apa. Itu adalah fakta yang tidak bisa dirubah. Aku memang kehilangan putraku. Tapi, aku juga dapatkan cucuku ini, kan." kata Nenek tersenyum cantik.
"Nenek ... " panggil Christopher sedih.
"Cris, boleh Nenek minta tolong? pulanglah dan masuklah ke dalam kamar Nenek. Di dalam lemari, ada sebuah amplop cokelat dan kau boleh membuka isi amplop itu. Itu adalah hadiah ulang tahunmu dari Mamamu dulu. Nenek juga ingin bicara berdua dengan Paman yang berdiri si sampingmu. Kau tidak keberatan kan, Nak?" Nenek menatap Alexias. Menunggu jawaban dari Alexias.
"Oh, tentu. Pergilah, Cris. Sesuai keinginan Nenekmu." kata Alexias.
"Apa aku harus pergi sekarang, Nek?" tanya Christopher.
"Kau mau menguping dengar orang dewasa bicara? itu dilarang, dasar nakal." goda si Nenek.
Christopher berdiri dari posisi duduknya, "Baiklah aku akan pulang. Aku hanya akan mengambil amplop itu dan kembali ke sini. Aku mau menemani Nenek di sini. Tidak mau berpisah dengan Nenek." kata Christopher tegas.
"Ya, ya, ya. Anak pintar, pergilah dan ambil hadiahmu. Lalu, kembalilah. Nenek juga ingin menghabiskan waktu bersamamu, cucuku." kata Nenek tersenyum lagi.
Christopher menatap Alexias, "Paman, aku boleh menitipka Nenek sebentar? selagi aku pergi, tolong jaga Nenek untukku." pinta Christopher penuh harap.
"Tentu saja. Aku akan menjaga Nenekmu. Kau tenang saja. Oh, tunggu ... " Alexias merogoh saku celananya dan mengeluarkan sejumlah uang lalu, memberikannya pada Chrisopher. "Kau naiklaj taxi untuk pulang. Kau juga bisa naik taxi untuk datang ke sini lagi." kata Alexias.
Christopher menerima uang pemberian Akexias, "Apa boleh begini? aku bisa naik bus saja." kata Christopher.
"Jangan, bus harus menunggu dan sesak. Ini kan sudah waktu jam pulang kantor. Naik taxi saja. Jika kau lapar, kau bisa juga beli makanan. Tidak perlu khawatir, Nenekmu aman bersamaku." jelas Alexias.
Christopher menganggukkan kepala, "Ya, aku percaya pada Paman. Terima kasih, Paman." ucapnya. Ia lalu, menatap Neneknya dan berpamitan. "Nek, aku pulang dulu. Nanti aku kembali lagi. Nenek harua banyak istirahat, ya." kata Christopher.
"Ya, sayang. Pergilah. Hati-hati di jalan, ya. Kau tidak perlu cemaskan Nenek. Nenek akan baik-baik saja menunggumu datang kembali." kata Nenek.
Setelah berpamitan, Christopher pun pergi meninggalkan Alexias dan Neneknya. Melihat cucu kesayangannya sudah pergi meninggalkan ruangan, Nenek pun langsung memaggil Alexias dan meminta bantuan Alexias.
"Nak, boleh aku minta bantuanmu?" tanya Nenek.
"Ya, silakan. Jika saya bisa dan mampu. Saya pasti akan membantu Anda." jawab Alexias.
"Tolong bantu aku mengurus semuanya untuk cucuku. Ah, maksudku Christopher. Aku tahu, umurku tidak akan lama lagi. Aku beberapa kali bahkan bisa merasakan kehadiran putraku di sisiku. Aku masih memikirkan nasib Christopher ke depannya. Bagaimana dia tanpaku. Karena hanya aku satu-satunya orang yang dia punyai." kata Nenek sedih.
AlexIias kaget, "Tolong, Anda jangan bicara demikian. Tidak ada seorangpun yang tahu tentang berapa lama usia kita di dunia ini. Anda pasti akan sembuh. Saya akan minta dokter memberikan pelayanan terbaik, bila perlu mencarikan dokter terbaik." kata Alexias, menyakinkan Nenek untuk tidak putus asa.
Nenek itu menggelengkan kepala, "Tidak, Nak. Aku sudah berada dibatasanku. Aku meminta tolong padamu, karena aku yakin kau bisa membantu Christopher. Untuk kesalahannya, kau bisa menyalahkanku. Karena aku dia jadi, seperti itu. Dia mencuri demi aku, demi Nenek yang tidak berguna ini." ucap sedih Nenek, tanpa terasa air mata Nenek mengalir membasahi pipi.
Alexias terdiam sesaat. Ia tidak tahu jik ia akan mengalami keadaan yang tidak ia mengerti. Rasa kasian dan rasa sedih bercampur menjadi satu.
"Jika Anda ingin saya mengawasi Christopher atau membantu memantau Christopher ke depannya. Akan saya lakukan. Saya memang berencana memasukannya kembali ke sekolah. Karena dia bercerita sudah satu tahun tidak sekolah dan terus mencari uang. Saya juga seorang Ayah, melihat ada anak yang seperti itu. Hati saya pun tidak sanggup." kata Alexias.
"Itu juga kesalahanku. Karena aku sakit dan tidak bisa menjaga kios buku. Dia memintaku terus istirahat, sementara dia yang akan membuka kios dan berjualan. Dia memutuskan untuk tidak sekolah, padahal saat aku bertanya, dia hanya mengatakan jika semuanya baik-baik saja." kata Nenek.
Alexias memahami sesuatu. Ia sadar, jika sebenarnya Christopher sudah banyak menyembunyikan rahasia dari Neneknya. Mulai dari tidak sekolah, bekerja menjadi pekerja serabutan paruh waktu sebelum buka kios dan setelah tutup kios.
"Jadi, Christopher tidak mrnceritakan kesusahannya pada Neneknya, ya? anak itu benar-benar di luar dugaanku. Bagaimana bisa, anak semuda itu memaksakan diri untuk memeras keringat dan banting tulang demi uang? aku saja seusiany masih sibuk bermain dan belajar. Dia sudah sibuk bekerja dari satu tempat ke tempat lain." batin Alexias.
__ADS_1
Keduanya kembali bicara. Nenek mengungkapkan semua keinginannya. Harapan terakhirnya pada Alexias. Setelah selesai mendengar cerita dan bicara dengan Nenek Christopher, Alexias pun berpesa pada perawat ingin bertemu dokter yang menangani Nenek. Ia penasaran, apa sakit yang diderita Nenek dan ingin melihat hasil pemeriksaan.
*****