
Di rumah sakit ....
Hal buruk terjadi. Nenek Christopher tiba-tiba saja sesak napas. Tentu saja itu membuat Chritopher yang sedang bersama Neneknya khawatir dan takut. Christopher bahkan sampai berteriak memanggil dokter untuk memeriksa Neneknya.
" ... do-dokter ... tolong Nenek, dok!" serunya. Saat dokter sedang memeriksa Neneknya.
Terlihat seorang dokter didampingi dua orang perawat menangani Nenek Christopher. Di samping Christopher, ada Alexias yang juga menunggu Nenek diperiksa. Namun, takdir ternyata berkata lain. Nenek Christopher tidak berhasil diselamatkan.
Melihat Neneknya yang tidak selamat Christopher pun kembali histeris. Ia terus meminta dokter memeriksa dan memeriksa ulang.
" ... tidak! tolong beriksa Nenek sekali lagi, dok. Tolong! Nenek tidak mungkin meninggalkanku seperti ini. Tidak! tidak mungkin. Ini tidak mungkin!" teriaknya.
"Cris, tenanglah!" kata Alexias mencoba menenangkan.
Cristopher menatap Alexias, "Paman, selamatkan Nenek. Kumohon, Paman." mohonnya memelas.
Alexias melihat Christopher dengan rasa kasihan, "Nak, lihat aku!" pinta Alexias pada Christopher, "Ini hal di luar kendali. Kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima. Kau tahu itu, kan? cobalah menerima, Chris." kata Alexias menyakinkan.
Air mata Christopher kembali jatuh berhamburan. Ia sangat merasa kehilangan. Neneknya adalah satu-satunya keluarga baginya.
"Tidak boleh! Nenek tidak boleh meninggalkanku." batin Christopher.
Hiks ... hiks ... hiks ....
"Nenek ... " gumam Christopher.
Alexias memeluk dan mengusap punggung Christopher pelan. Ia juga merasa kasian, rasanya ia pun tidak menyangka jika seseorang yang baru saja bicara dengannya dengan cepat pergi.
"Kasian sekai Anak ini. Bagaimana sekarang, ya." batin Alexias tidak tahu harus apa.
Beberapa saat kemudian, Lora datang dan menghampiri Alexias yang sedang memeluk Christopher. Ia lantas memanggil suaminya itu.
"Sayang ... " panggil Lora.
Pelukan Alexias dan Christopher terlepas. Alexias memalingkan wajah menatap istrinya.
'Sayang, kau sudah datang?" tanya Alexias.
Lora memandang sekitar, "Ini ... ada apa?" gumamnya, ia melihat dokter dan perawat yang sibuk. Ia lantas melihat ke arah Alexias, " A-apa yang terjadi, sayang? kenapa ruangan ini banyak orang?" tanya Lora.
"Itu ... mmm ... itu ... " belum sampai Alexias menjawab, ia sudah lebih dulu dipanggil dokter.
"Tuan ... apakah Anda wali yang menjamin mendiang? bisa saya bicara sebentar?" tanya dokter.
"Oh, ok. Sayang, sebentar, ya." kata Alexias yang langsung pergi bersama dokter keluar dari ruangan.
Lora terdiam, "Aku tadi tidak salah dengar, kan? me-mendiang? siapa yang dimaksud dokter itu dengan 'Mendiang'? batin Lora bingung. Tiba-tiba matanya melebar, "Apa, jangan-jangan ... " batin Lora lagi yang langsung menatap Christopher yang matanya sembab.
Matanya berpaling, ia melihat perawat sibuk mengurusi sesuatu. Kini Lora tahu, apa yang terjadi meski Alexias belum mengatakan apa hal yang terjadi. Hanya dengan melihat Christopher yang sedih dan terlihat terpuruk.
"Nak, kemarilah ... " ucap Lora merengkuh tubuh Christopher.
Dipeluknya Chtistopher dan ditepuk-tepuk punggungnya, "Tuhan lebih sayang Nenekmu. Kau harus tabah dan merelakan kepergiannya. Ok." kata Lora.
__ADS_1
Christopher kembali menangis, tidak ada jawaban. Lora hanya bisa mendengar suara isak tangis seseorang yang dipeluknya. Tidak lama pelukannya dilepas, Lora menyeka air mata Christopher lalu, mengusap kepalanya pelan-pelan.
"Nak, dengar ... kau harus kuat. Kepergian adalah satu hal yang tidak bisa kau hindari meski terkadang bisa saja tertuda. Jangan menjadi Anak yang lemah, jadilah Anak yang tangguh." dengan lembut Lora bicara. Ia berusaha menyemangati Christopher yang sedang bersedih.
"Ta-tapi ... tapi ... tapi, aku tidak bisa hidup tanpa Nenek. Hanya Nenek satu-satunya orang yang peduli dan mengerti akan keadaanku. Aku tidak mau ditinggal," ucap Christopher dengan suara pelan.
"Tidak, Chris. Kau tidak sendiri. Ada aku dan juga Alexias. Kami juga orang yang peduli denganmu." kata Lora menegaskan.
Christopher melebarkan mata, "A-apa?" katanya bingung.
Lora tersenyum, "Ya, apa yang kau dengar adalah kebenaran. Aku dan suamiku akan membantumu, Chris. Kau tidak sendirian lagi, jika ada apa-apa kau bisa bicara dan cerita pada kami. Kau mengerti, kan?" jelas Lora lagi.
Christopher menganggukkan kepala, "Ya, Bi." jawab Christopher masih dengan ekspresi wajah yang belum berubah.
Alexias pun datang setelah berbincang dengan dokter. Ia lalu meminta Lora dan Christopher keluar dari ruangan, karena pihak rumah sakit akan memperisapkan mendiang Nenek.
***
Setelah proses yang begitu lama, akhirnya tiba waktu pemakaman. Di pemakaman, sebagian tetangga yang mengenal Nenek dan Christopher datang untuk menberikan penghormatan terakhir. Lora dan Alexias masih terus mendampingi Christopher.
Semua hening, karena sedang berdoa dalam hati mereka masing-masing. Begitu juga Christopher. Ia menatap nisan Neneknya dan bertekad untuk memulai kehidupannya yang baru. Kata maaf juga tidak luput diucapkan oleh Christopher pada sang Nenek.
"Selamat jalan, Nek. Terima kasih untuk apa yang Nenek berikan padaku selama ini. Kasih sayang, cinta dan semua pengorbanan Nenek untukku akan kukenang sepanjang hidupku. Maaf, aku masih belum bisa membanggakan Nenek pada saat Nenek masih ada bersamaku. Aku masih suka menyusahkan Nenek. Maaf, Nek. Maafkan aku." batin Christopher dengan derai air mata.
Terlihat Lora dan Alexias juga khusuk berdoa untuk mendiang Nenek. Dengan berakhirnya doa, berakhir juga prosesi pemakaman. Beberapa tetangga menghampiri Christopher dan mengucapkan bela sungkawa. Alexias dan Lora pun memberikan ruang bagi tetangga dan Christopher untuk berbincang. Mereka sedikit menjauh agar tidak mengaganggu.
Masih di tempat yang sama, tidak jauh dari Christopher yang sedang berbincang dengan beberapa tetangganya. Lora dan Alexias juga membicarakan hal serius.
"Sayang ... " panggil Lora.
Keduanya bersamaan memanggil. Lalu, keduanya saling menatap karena kaget bisa bersamaan memanggil.
"Ah, kau duluan saja. Ada apa?" tanya Alexias.
"Umh, ini soal Christopher." jawab Lora.
"Oh, aku juga ingin bicarakan hal yang sama." kata Alexias menyahuti jawaban Lora.
Lora mengernyitkan dahi, "Oh, apa yang ingin kau bicarakan. Ayo, bicaralah." pinta Lora penasaran.
"Begini, sayang. Sebenarnya, sebelum Nenek Christopher meninggal. Beliau dan aku sempat berbincang. Aku dimintai tolong untuk menjaga dan mengawasi Christopher. Ada hal yang tidak terduga, yang kudengar juga tadi. Soal asal usul Christopher. Soal ini nanti akan aku ceritankan detailnya, tidak enak jika kita bicarakan di sini. Intinya, aku ingin sementara ini Christopher tinggal di mansion. Bagaimana pendapatmu? kau setuju tidak?" Christopher meminta izin pada Lora. Karen bagaimanapun, Lora adalah istri sekaligus Nyonya dari mansionnya. Tidak enak jika ia begitu saja membawa Christopher untuk tinggal sementara di Mansion tanpa izin dari Lora.
Lora teridam sesaat, "Hm ... sejujurnya aku juga berniat seperti itu. Agar kau mau untuk menjaga dan mengawasinya. Karena dia masih butuh seseorang untuk mengarahkannya. Jika tidak, aku takut dia akan lepas kendali dan bertindak di luar batasan. Soal niatanmu yang ingin membawanya tinggal di mansion, aku juga tidak keberatan. Kamar di mansion kan banyak. Kasian juga jika dia harus tinggal sendirian di rumah. Dia akan terus teringat Neneknya." kata Lora. Tidak menolak apa yang menjadi keinginan Alexias.
"Baiklah jika seperti itu. Ah, lihat. Tetangganya sudah pergi, kita hampiri dia dulu dan bertanya apakah dia mau tinggal bersama kita sementara atau tidak. Kita juga tidak bisa memaksanya, kan." kata Christopher.
"Ya, kau benar, sayang." jawab Lora.
Karena semua orang sudah pulang, pemakaman pun menjadi sepi. Lora dan Alexias menghampiri lalu, mengajak Christopher pulang juga. Tidak menolak, Christopher mengiakan permintaan dua orang yang sudah setia mendampinginya sejauh ini.
***
Di rumah Christopher. Alexias langsung berterus terang dengan niatannya. Ia ingin mengajak Christopher tinggal bersama di mansion miliknya.
__ADS_1
" Chris ... " panggil Alexias.
"Ya, Paman. Ada apa?" jawab Christopher yang sudah mulai tenang.
"Hm ... aku tidak tahu ini waktu yang tepat atau tidak. Tapi, aku juga tidak mau terus mengulur waktu. Begini, aku ingin kau ikut denganku tinggal di mansionku sementar waktu. Aku tidak berniat apa-apa, karena aku juga mau jalankan pesan dari Nenekmu, Chris. Di mana aku harus menjaga dan membantumu sampai kau bisa benar-benar hidup mandiri, dan aku sudah berjanji akan hal itu pada Beliau. Namun, kembali lagi. Semua keputusan ada padamu. Mau ikut atau tidak, atau inginkan hal lain. Yang jelas, aku sudah utarakan maksud dan tujuanku." Alexias dengan detail menjelaskan apa niatannya. Kini, ia menunggu hasil keputusan Christopher.
Mendengar ucapan Alexias, Christopher diam sesaat. Ia masih tidak tahu apa hal yang harus dilakukannya. Tapi, ia lantas meminta sesuatu pada Alexias.
"A-aku ... sejujurnya ini sangat berat buatku, Paman. Apa boleh aku tinggal di sini satu atau dua hari? aku mau tidur di kamar Nenek. Dan ... apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Christopher menatap Alexias.
Alexias menatap balik Christopher, "Ya, kau ingin apa?" tanya Alexias.
"Apa aku boleh pindah sekolah yang ada asramanya? aku mau tinggal di asrama saja. Maaf, bukan maksudku tidak menghargai niat baik Paman dan Bibi, tetapi aku merasa tidak enak saja. Jika Paman keberatan, aku juga tidak masalah. Aku akan ikuti apapun keinginan Paman, karena itu juga yang pasti Nenek inginkan." jelas Christopher. Ia mengutarakan keinginanya.
Alexias dan Lora saling bertatapan. Suasana tiba-tiba hening. Tidak beberapa lama, Lora pun berbicara dan memecah keheningan.
"Chris ... jika kau ingin seperti itu, tentu saja kami tidak akan keberatan. Tapi, sebelum itu, maukah kau tinggal bersama kami semnetara kami akan mengurusi perihal sekolahmu? malam ini kau boleh tinggal jika kau ingin tinggal, nanti aku akan mengirim salah satu pelayan dan penjaga mansion datang. Maaf, aku tidak bisa tinggal karena aku punya tiga anak yang harus ku awasi, Chris. Kau tidak apa-apa, kan?" kata Lora.
"Tidak apa, Bi. Justru aku yang merasa tidak enak. Aku sudah jahat pada Bibi, tetapi Bibi tetap masih baik padaku. Ya, aku akan ikuti apa yang Bibi katakan. Terima kasih, Bibi. Sudah membiarkanku tidur di sini malam ini. Aku tidak apa-apa sendirian. Paman dan Bibi tidak perlu repot." kata Christopher.
"Begini saja. Biar aku yang temani. Apa ini tidak apa-apa sayang?" usul Alexias.
Lora menatap Alexias, "Oh, tentu saja tidak apa-apa. Lebih baik jika kau mau menemaninya, sayang." jawab Lora.
"Kalau begitu, kau pulang saja sekarang. Temani anak-anak di mansion." kata Alexias.
"Apa tidak apa-apa aku pergi begitu saja?" sahut Lora.
"Tentu saja tidak apa-apa. Memangnya kenapa?" sahut Alexias.
Lora melihat jam yang melingkar ditangannya, "Hm, baiklah. Aku akan pulang dan meminta orang mengantar baju gantimu." kata Lora.
"Ya," jawab Alexias tersenyum.
Lora menatap Christopher, "Aku pulang dulu, ya. Kau jangan sungkan, jika ingin sesuatu katakan saja. Anggaplah kami ini seperti keluargamu sendiri. Ingat apa yang kukatakan tadi, Chris." kata Lora tersenyum lalu, mengusap kepala Christopher.
"Ya, Bi. Akan kuingat. Bibi hati-hati di jalan. Dan terima kasih karena sudah peduli padaku," kata Christopher tersenyum tipis menatap Lora.
"Ya, sama-sama." jawab Lora. Ia pun pergi meninggalkan Alexias dan Christopher.
***
Di parkiran, di dalam mobil. Lora selesai menghubungi seseorang. Ia meminta Martha menyiapkan pakaian ganti untuk Alexias dan menyiapkan makan malam untuk dua orang. Lora meminta Martha memberikan pada Marc. Agar Marc dan supir yang mengantar ke alamat yang sudah dikirim Lora ke ponsel Marc. Ia juga mengirim pesan pada Alexias.
"Hiburlah dia, sayang. Aku sudah hubungi Martha dan meminta dikirim pakaian ganti dan makan malam untuk kalian. Nanti Marc dan supir yang akan mengantar. Jaga dirimu, aku mencintaimu."
Itulah isi pesan Lora untuk Alexias.
"Hahhh ... rasanya enggan pergi, tetapi aku juga tidak bisa meninggalkan anak-anak sendirian. Sulit sekali, ya. Pulang saja dulu jika begini." gumam Lora.
Ia lantas memasang sabuk pengamannya dan menghidupkan mesin mobil. Mobil melaju perlahan dikemudikan Lora meninggalkan parkiran yang lokasinya tidak jauh dari rumah Christopher.
*****
__ADS_1