Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 31. Kenyataan (1)


__ADS_3

2 Minggu kemudian ....


Keadaan Odellia mulai pulih. Meski ia haris dirawat lagi untuk pemulihan lebih lagi, ia tampak bahagia akan kedekatannya dengan Alexias. Setiap hari Alexias datang, ia memberikan hadiah kepada ketiga putri cantik itu.


***


"Mami, Paman belum datang?" tanya Odellia.


"Mungkin terlambat datang karena sibuk. Kenapa?" tanya Lora.


"Aku rindu. Paman sangat perhatian dan peduli padaku, pada Annah dan Lesi juga. Apa Papi juga orang seperti Paman? andaikan Paman itu Papi, kami pasti akan sangat, sangat, sangat senang." kata Odellia penuh semangat.


Deg ...


Hati Lora terasa nyeri. Lora sedih, tetapi ia tidak tahu harus apa. Pendirianny mulai goyah mendengar ucapan Odellia yang berapi-api bercerita.


"Bagaimana, ini? apakah anak-anak sungguh sangat senang? Alex memanglah Papi kandung mereka, tetapi ... " batin Lora yang langsung terdiam.


"Mami ... " panggil Odellia.


"Mami kenapa? apa sedang memikirkan sesuatu?" tanya Odellia lagi, melihat Maminya yang diam membeku.


"Mami ... " panggil Odellia menarik baju Lora perlahan.


Lora kaget, "Oh, ah ... i-iya, Nak? ada apa?" tanya Lora.


"Mami sibuk di kantor, ya? Mami tidak fokus saat bicara denganku." kata Odellia.


"Maafkan Mami, sayang. Mami sedang memikirkan sesuatu. Mami ... " kata-kata Lora terhenti, saat pintu ruangan terbuka.


"Hallo, sayang ... " sapa Alexias tersenyum.


"Lia ... " sapa Oriana.


"Lia, Lia ... " sapa Olesia.


Oriana dan Olesia berlari mendekati Odellia dan Lora. Alexias menutup pintu, berjalan cepat mendekati ketiga anak kembarnya dan Lora.


"Kau baik-baik saja hari ini? apa ada yang sakit?" cecar Alexias menatap Odellia.


Odellia menggelengkan kepala, "Tidak ada, Paman. Aku meeasa jauh lebih baik." jawab Odellia.


Alexias menggendong Odellia kepangkuannya, "Wuah ... si cantik makan dengan baik ternyata. Beratmu bertambah," kata Alexias.


"Benarkah? aku bertambah gemuk, ya." sahut Odellia.


"Aku juga, beratku bertambah." sahut Oriana.


"Aku juga, lihat pipiku yang menggembung ini." sahut Olesia menunjuk kedua pipinya.

__ADS_1


Alexias tertawa, "Tidak masalah. Kalian kan sedang masa pertumbuhan. Sedikit berat tidak apa-apa. Yang terpenting kalian tetap harus rajin berolah raga dan belajar, ok." kata Alexias dengan nada suara rendah dan lembut.


"Kalian sudah mengerjakan tugas kalian?" tanya Lora pada Oriana dan Olesia.


"Sudah, Paman membantu kami." jawab Oriana.


"Paman orang hebat. Paman bahkan tadi membawa kami ke kantornya sepulang sekolah. Kantor Paman besar sekali," jelas Olesia penuh semangat.


"Kalian suka? besok mau ikut Paman lagi?" tawar Alexias.


"Mau ... " jawab Oriana dan Olesia kompak.


"Jangan terlalu menanggapi anak-anak, Lex. Kau tidak perlu repot seperti itu." kata Lora, merasa tidak enak hati.


Alex menatap Lora, "Kenapa? aku tidak keberatan. Aku sudah menganggap mereka seperti putri-putriku sendiri." jawab Alexias.


"A-apa?" kaget Lora menatap Alexias.


Alexias tersenyum, "Kena kau, Lora! beraninya menyembunyikan kebenaran dariku. Akan kubuat kau mengakuinya dan menerima hukumanmu nanti." batin Alexias.


"Tidak ada pengulangan," kata Alexias.


"Huh, mengesalkan. Siapa juga yang mau punya Papa sepertimu. Anak-anak, apa kalian mau?" tanya Lora menatap tajam ke arah Alexias.


"Tentu saja mau," jawab Odellia.


"Ya, Paman sangat baik dan perhatian. Yeah ... " tambah Olesia.


"Hah? apa-apaan kalian, bukannya mendukung Mami kalian malah mendukung orang asing ini." gerutu Lora.


"Mami tidak suka pada Paman?" tanya Olesia.


"Apa? pertanyaan konyol apalagi yang kau tanyakan Lesi?" kata Lora melebarkan mata.


"Hm, Mami hanya mencintai Papi, ya?" sambung Oriana.


"Apa lagi ini. Kenapa mereka menyerangku?" batin Lora kesal.


"Apa maksudmu, Annah. Tentu saja Mami mencintai Papi. Mami bilang, Papi orang yang yang sangat tampan dan juga hangat. Papi juga orang hebat." sahut Odellia.


"Wah, sungguh? kapan Mami bicara begitu?" tanya oriana lagi.


"Oh, itu. Saat selesai membacakan buku cerita. Kalian berdua sudah tidur. Aku belum dan bertanya pada Mami soal Papi. Lalu, Mami menjawab seperti itu." jelas Odellia.


Lora kaget, ia terdiam dan tidak bisa bicara apa-apa saat mata ketiga putrinya menatap ke arahnya. Alexias hanya tersenyum, ia merasa Lora menggemaskan karena wajahnya merona.


"Lucu sekali ekspresinya. Aku jadi ingin mengigitnya," batin Alexias.


"Astaga, anak-anak ini. Aku jadi tidak bisa bicara jika seperti ini. Bisa-bisanya mereka menjahati Ibu mereka sendiri," batin Lora.

__ADS_1


"Anak-anak, tidak boleh seperti itu pada Mami. Ayo minta maaf," kata Alexias.


Oriana, Olesia dan Odellia menunduk. Mereka terlihat merasa bersalah. Mereka lalu meminta maaf pada Lora karena bersikap tidak sopan. Melihat anak-anaknya, Lora menjadi terharu. Ia melihat ketulusan di mata ketiga putrinya. Ia menatap Alexias, Alexias hanya tersenyum tampan menatap Lora.


***


Lora dan Alexias pergi, karena ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan. Agatha menjaga si kembar tiga, setelah menyelesaikan pekerjaan.


Di dalam mobil, Lora dan Alexias saling diam. Mereka larut dalam pemikiran masing-masing. Lora penasaran, apa yang membuat Alexias ingin bicara empat mata dengannya. Sedangkan Alexias memikirkan sesuatu yang lain. Ia sangat ingin tahu alasan Lora pergi setelah mebghabiskan malam panas dengannya, dan menyembunyikan kenyataan jika Lora hamil setelahnya.


"Umh, itu. Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Lora.


"Sesuatu hal yang penting. Namun, sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu." jawab Alexias.


"Ya, tanyakan saja." sambung Lora.


"Enam tahun lalu, kenapa kau pergi begitu saja? apa kau tidak mau meminta pertanggung jawaban padaku?" tanya Alexias.


Lora kaget, "A-apa maksudmu? aku, aku, aku ... aku, tidak mengerti maksudmu." kata Lora gugup.


"Flora Elvise. Apa perlu aku mengorek informasi pribadimu dengan caraku? Kau tidak mau mengaku meski bukti sudah ada? Selama enam tahun ini aku terus mencarimu. Aku sama sekali tidak menemukam jejakmu. Saat ini kau tidak bisa mengelak lagi, katakan sejujurnya padaku." jelas Alexias terlihat serius.


"Bagaimana, ini? apa yang harus kukatakan padanya? aku bingung ... " batin Lora mengigit bibir bawahnya.


Melihat Lora menggigit bibir, Alexias pun berusaha mencegah. Ia tidak ingin Lora terluka, ia mengusap dagu Lora lembut.


"Jangan menggigit bibirmu, nanti terluka." kata Alexias.


Lora tersadar, "Ah ... maaf." kata Lora.


Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskan perlahan. Lora pun akhirnya bicara apa yang sebenarny terjadi padanya saat itu.


"Sebenarnya, aku dijebak malam itu. Aku dibuat mabuk oleh sepupuku dan tunanganku. Mereka hendak menjual tubuhku kepada orang yang tidak kukenal. Aku tidak yakin apa yang terjadi, tetapi sepertinya aku salah masuk ke dalam mobilmu. Aku kira itu mobil yang sebelumnya aku tumpangi. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi saat aku bertemu denganmu. Saat aku bangun hari sudah pagi, dan kita sudah melakukan itu." jelas Lora.


"Lalu ... " sambung Alexias.


"Lalu, karena panik aku segera bangun dan bersiap. Aku, aku kira kau pria bayaran atau sejenisnya. Aku tidak bisa membangun kanmu karena aku harus buru-buru pulang. Jadi, aku tinggalkan uang dan pergi. Aku bahkan tidak sempat melihat wajahmu. Aku tidak mau siapa-siapa tahu apa yang terjadi padaku malam itu. Atau keluargaku akan hancur. Nama baik Papa dan Mama akan tercemar karena prilaku putrinya yang liar." ungkap Lora bercerita. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Lalu, selanjutnya apa yang terjadi?" tanya Alexias panasaran.


"Apa lagi. Karena semua rencana sepupu dan tunanganku, tentu saja mereka mengadu pada orang tuaku. Tunanganku langsung membatalkan pertunangan, sedangkan orang tuaku langsung murka. Papa mengusirku dari rumah, karena aku dianggap aib keluarga. Papa berpikir, pria mana lagi yang akan menikahi wanita bercela sepertiku. Aku mrndatangi apartemen mantan tunanganku itu, ingin menjelaskan semuanya. Ingin kukatakan padanya jika aku dijebak. Namun, aku melihat sesuatu yang mengejutkan. Aku ... " cerita Lora terhenti. Tanpa sadar Lora meneteskan air matanya.


Alexias menyeka air mata Lora, "Hei, jangan menangis. Tidak apa, jangan cerita lagi." kata Alexias sedih.


Lora menggelengkan kepala, "Tidak bisa, Lex. Kau harus tahu apa yang sebenarnya. Aku juga tidak bisa menutupinya lagi. Meski rasanya menyakitkan dan sesak jika diingat. Namun, jika semua disimpan hanya akan menjadi beban hidupku." jelas Lora.


Alexias mengernyitkan dahi. Ia tidak tahu jika Lora adalah wanita yang terbuka. Awlanya Alexias mengira, jika Lora adalah wanita yang tidak mau diusik hal-hal pribadinya, juga tertutup.


*****

__ADS_1


__ADS_2