Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 86. Sekolah Baru Christopher


__ADS_3

Christopher sudah mulai masuk sekolah. Ia juga sudah berkemas, bersiap tinggal di asrama. Alexias dan Lora mengantar ke sekolah baru Christopher. Keduanya lalu berbincang dengan kepala sekolah.


Alexias memasukan Christopher ke sekolah yang masih satu yayasan dengan sekolah si kembar tiga. Gedung sekolah Christopher juga terletak tidak jauh dari gedung sekolah si kembar tiga.


***


Alexias, Lora dan Christopher menunggu kepala sekolah yang sedang rapat. Mereka berada di ruang tunggu yang dikhususkan untuk tamu.


"Apa kau senang?" tanya Lora, menatap Christopher.


Christopher menganggukkan kepala, "Ya, Bi. Aku senang. Terima kasih sudah mau mengantar dan mendaftarkanku ke sekolah baru." Christopher lalu, menatap ke arah Alexias, "Terima kasih juga untuk Paman," lanjutnya bicara.


"Ya, sama-sama. Kami senang, jika kau juga senang." kata Alexias.


"Semangat belajar, ya! kuharap, kau tidak mengecewakan aku, Chris. Aku yakin kau akan bisa mengejar ketertinggalanmu." Lora mendukung Christopher.


"Akan kulakukan sesuai keinginan dan harapan Bibi." jawab Christopher.


"Jika ada apa-apa. Kau bilang saja padaku atau Bibi. Jangan sampai kau menutupi sesuatu, Chris. Apapun itu, kau harus terbuka pada kami. Bukannya ingin mengusik kehidupan pribadimu atau sesuatu yang ingin kau rahasiakan, tetapi ini perihal yang lainnya. Misalnya sekolahmu, bagaimana teman-temanmu, gurumu, sampai lingkunganmu sekitar. Baik itu di dalam kelas ataupun asrama. Kau masih ingat pesanku semalam, kan?" Alexias berusaha mengingatkan Christopher akan semua hal yang perlu diingat. Ia tidak mau terjadi hal- hal tidak diinginkan.


"Masih, Paman." jawab Christopher.


"Bertemanlah dengan teman yang mau menerimamu apa adanya. Bukan karena ada apa-apanya. Kurasa kau tahu maksudku, ini. Jangan juga bergaul dengan teman yang tidak berprilaku baik. Pergaulan buruk bisa menghancurkanmu. Ingat tujuanmu, kau akan mengejar mimpimu dan membahagiakan mendiang Nenekmu, kan." kata Lora, juga mengingatkan Christopher.


"Ya, Bi. Aku akan ingat." jawab Christopher.


"Bagus. Sia-sia aku khawatir," kata Lora tersenyum.


"Paman dan Bibi benar. Aku harus berjuang dan berusaha melakukan yang terbaik yang kubisa. Demi Nenek, demi masa depanku juga. Ayo, Chris. Semangat!" batin Christopher menyemangati diri sendiri.


Pintu ruangan tiba-tiba terketuk lalu, terbuka. Ternyata Kepala sekolah sudah selesai rapat dan masuk ke dalam ruangan.


"Maaf, membuat Anda sekalian menunggu." kata Kepala sekolah.


"Tidak apa-apa. Kami yang merepotkan, Anda pasti harus cepat-cepat mengakhiri rapat, karena kedatangan kami." kata Lora.


"Sama sekali tidak, Nyonya. Saya justru senang, Tuan dan Nyonya Muda Owen mau datang berkunjung. Jadi, apakah ada hal yang bisa saya bantu?" tanya Kepala Sekolah.

__ADS_1


"Anda pasti sudah dengar perihal keponakam kami yang ingin daftar sekolah." kata Alexias. "Karena tinggal di tempat jauh dan merasa kurang nyaman dengan kami, dia juga memilih tinggal di asrama. Mohon bantuannya, Bu Kepala Sekolah." jelas Alexias.


"Oh, ya. Saya sudah diberi tahu oleh pihak Administrasi dan Guru pembimbing. Jadi, dialah siswa barunya?" tanya Bu Kepala Sekolah menatap Christopher.


"Hallo, Bu. Selamat siang." sapa Christopher.


"Hallo, juga. Siapa namamu, Nak?" tanya Kepala Sekolah.


"Christopher. Christopher Lyonel." jawab tegas Christopher.


"Chris. Kau sudah siap belajar di sekolah kami? kuharap kau bisa beradaptasi dengan lingkungan baru di sini. Jika ada apa-apa, kau bisa menemuiku dan bicara. Ok." kata Kepala Sekolah.


"Ya, Bu Kepala Sekolah. Saya akan ingat kata-kata Ibu." jawab Christopher.


Kepala sekolah menatap Lora dan Alexias, "Karena hari ini pelajaran sudah berjalan setengah jalan. Christopher bisa masuk esok hari. Jika berkenan, dia bisa berkeliling melihat-lihat sekolah." katanya.


Lora menatap Christopher, "Bagaimana, Chris? kau berminat? atau mau istirahat di asrama saja?" tawar Lora.


"Berkeliling juga tidak apa-apa. Setelah berkeliling aku akan langsung ke asrama." jawab Christopher.


"Ok. Akan kupanggilkan seseorang untuk mendampingimu. Tunggu sebentar," kata Bu Kepala Sekolah. Ia segera berjalan mendekati meja dan meraih gagang telepon.


***


Ternyata Christopher didampingi oleh seorang siswa yang merupakan ketua organisasi perwakilan siswa. Dia bernama Ryan.


Ryan merupana siswa teladan di sekolah. Ia memilili prestasi dan reputasi yang baik. Selain pintar, ia juga merupakan anak seorang wali kota.


Pada saat menemani Christopher berkeliling, ia juga langsung memperkenalkan diri. Ryan anak yang ramah, dan juga sopan. Melihat Ryan yang demikian, membuat Christopher terkesan.


" ... oh, aku akan perkenalkan diri lebih dulu. Aku Ryan. Ryan Julius. Aku siswa kelas dua tingkat satu. Kau siapa? dan kelas berapa?" tanya Ryan.


"Hallo, aku Christopher. Ah, aku baru saja menyelesaikan ujian susulanku. Aku siswa kelas satu. Masih belum tahu tingakatanku. Kata Guru pembinbing, besok akan diinformasikan." jawab Christopher.


"Oh, begitu." sahut Ryan sembari menganggukkan kepala. "Aku, ketua organisasi perwakilan siswa yang baru. Karena kelas tiga akan fokus untuk masuk universitas, maka setiap tahun pasti diadakan pemilihan ketua baru. Tahun ini aku beruntung, tetapi aku juga kurang senang." kata Ryan bercerita.


"Oh, kenapa? apa ada sesuatu?" tanya Christopher.

__ADS_1


"Ya, banyak 'Sesuatu' yang membuatku sakit kepala." jawab Ryan.


Christopher bingung, tetapi ia tidak ingin banyak bertanya. Karena ia tidak mau membuat Ryan merasa jenuh dan lelah menjawab pertanyaannya.


***


Keduanya berkeliling kebeberapa tempat. Ryan membawa Christopher ke ruang guru, kantin, perpustakaan, lapangan olah raga. Lalu, ruang music, ruang komputer, dan banyak lainnya. Sampai ruang keamanan juga mereka datangi.


" ... bagaimana? ada tempat yang membuatku terkesan?" tanya Ryan.


"Hm ... sejauh ini belum. Semua biasa saja. Setiap sekolah kan selalu ada ruangan serupa." jawab Christopher.


"Ya, kau benar. Ah, aku akan tunjukan tempat lain yang menyenangkan. Mau tahu?" tawar Ryan.


"Tempat apa? jangan bilang ... " jawab Christopher terjeda.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Ayo," ajak Ryan.


Mereka berdua pergi, ternyata mereka pergi ke atap sekolah. Tempat di mana biasanya Ryan menghabiskan waktu luang sambil membaca buku atau mendengarkan lagu.


"Nah, bagaimana?" tanya Ryan.


"Wah, ini hebat. Kita bisa lihat gedung-gedung dari sini." kata Christopher.


Ryan mengangukkan kepala, "Sudah kubilang, kan. Ini tempat yang menyenangkan. Di sini kau bisa menenangkan pikiran, menghirup udara segar dan ... " kata-kata Ryan terhenti. Ia mendengar suara, ada orang yang datang selain dirinya dan Christopher.


Tidak disangka, di atap didatangi orang lain selain Christopher dan Ryan. Mereka lalu, bersembunyi di balik dinding dan mengintip. Siapa orang yang datang. Ternyata, itu adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


Keduanya menjadi saksi pertengkaran. Ryan dan Christopher saling menatap lalu, kembali menguping sepasang kekasih yang bertengkar itu.


"Apa hal seperti ini sering terjadi, Ryan?" tanya Christopher.


"Ah, ya ... tentu saja. Ini kan juga tempat umum yang akan didatangi banyak orang. Tapi, aku baru pertama kali melihat mereka datang ke sini." jawab Christopher. "Hm, mereka ... siapa, ya?" gumam Christopher.


"Ryan, lihat! pria itu menampar kekasihnya." kata Christopher kaget.


"Oh, iya. Dasar gila! bagaimana bisa dia seperti itu?" kata Ryan.

__ADS_1


Keduanya masih melihat dan menguping dengar pertengkaran sepasang kekasih tersebut. Melihat kekerasan di hadapannya, Christopher teringat juga akan kejadian yang ia alami di sekolah lamanya. Di mana ia seringkali dipukul lalu diolok teman-teman sekelas sampai teman dari kelas lain.


*****


__ADS_2