
Pernikahan Hannah dan Ezra di gelar. Sebelumnya, Ezra secara manis melamar Hannah, pada saat tahu kekasih tercintanya itu sedang hamil. Ezra langsung meminta kedua orang tuanya untuk merestui hubungannya dengan Hannah. Lain halnya dengan kedua orang tuan Ezra, Bibi Hannah menentang keras hubungan Hannah dan Ezra. Sampai-sampai Bibi Hannah mempengaruhi Mama Hannah dengan pikiran kotornya.
Untung saja, jauh sebelum Bibinya bicara dengan Mamanya, Hanna sudah lebih dulu menceritakan apa yang terjadi Pada kedua orang tuanya. Hannah tidak mau lagi menutupi apa-apa, atau membuat cela untuk Bibinya bertindak jahat.
Dengan belajar pada masa lalu, Hannah akhirnya bisa mempertahankan pemikiran Mama dan Papanya tentang Ezra sekeluarga. Karena itulah, kedua Kakak beradik itu berdebat. Tepat sehari sebelum acara pernikahan Hannah dan Ezra diselenggarakan.
Bibi Hannah yang emosi, langsung meluapkan apa yang dipikirkannya tanpa memilah ucapan. Kata-kata kasar dan pedas keluar dari bibir Bibi Hannah. Mengatai Mama Hannah yang adalah saudari kandungnya, dan juga Hannah yang dinilai membuat malu keluarga.
Perang saudara itu berakhir dengan diusirnya Bibi Hannah oleh Hannah sendiri. Ia tidak terima Mamanya dihina dan diinjak. Meski kurang perhatian dan sibuk bekerja, Hannah menilai Papa dan Mamanya bukanlah orang jahat. Ia pun tidak keberatan, jika orangtuanya lebih memilih pekerjaan daripadanya. Itu, bukan berarti Hannah tidak dipedulikan atau tidak diurus. Sebaliknya, kedua Hannah mati-matian mengumpulkan uang demi bisa menyekolahkan dan memberikan kehidupan yang layak untuk Hannah.
Pesta Hannah dan Ezra diselenggarakan secara sederhana. Keduanya sepakat untuk lebih ingin menjaga privasi. Lora yang datang bersama Alexias, memberikan sebuah hadiah yang istimewa. Sebagai seorang atasan, Alexias ternyata memiliki sisi perhatian yang cukup peka pada semua bawahannya. Salah satunya adalah Ezra, yang sudah setia melayaninya selama ini.
Alexias membelikan Ezra sebuah rumah sederhana impian Ezra. Rumah itu memang sederhana, akan tetapi memiliki halaman yang cukup luas. Sehingga harga yang ditawarkan penjual cukup membuat Alexias dan Lora tercengang sebelumnya. Namun, Alexias tak merasa keberatan dan langsung membeli sesuai harga. Karena rumah itu merupakan rumah idaman Ezra.
Mendapatkan hadiah istimewa, tentu saja membuat Ezra dan Hannah senang. Mereka berdua sangat berterima kasih pada Lora dan Alexias. Karena merasa terharu, Ezra sampai menangis. Ia tidak sangka, jika Tuan majikannya diam-diam akan sepeduli itu padanya.
Semua tamu undangan yang hadir, terlihat menikmati pesta. Sampai pesta berakhir, dan semuanya satu per satu pergi meninggalkan lokasi pesta. Termasuk Lora dan Alexias.
***
Lora dan Alexias sedang dalam perjalanan pulang setelah menghadiri pesta pernikahan Ezra dan Hannah.
"Hahhh ... lelah sekali," Lora mendengus dan menyandarkan kepalanya. "Tapi, aku senang. Hannah akhirnya menemukan kebahagiaannya. Bukankah Ezra pendamping yang sempurna untuk Hannah. Bagaimana menurutmu, sayang?" tanya Lora menatap suaminya yang sedang mengemudi.
Alexias menganggukkan kepala perlahan, "Ya, kau benar. Ezra itu pekerja keras dan sangat bertanggung jawab akan pekerjaannya. Sebagai Asisten CEO dia sangat kompeten. Selalu selangkah lebih depan dibandingkan Sekretaris ku. Hanya saja, jika dia sudah punya kemauan atau menginginkan sesuatu, dia tidak akan mau tidak mendapatkannya. Apapun yang terjadi, bagaimanapun caranya, dan kapan. Dia harus dapatkan. Itu kekurangannya. Sehingga ia tidak akan mau mendengar apa pendapat orang lain. Syukurlah, sekarang ada Hannah yang bisa mengimbangi jalan pikirannya yang kaku itu." Alexias menceritakan apa yang ia ketahui tentang Asistennya.
Lora kaget, "Ah, benarkah begitu? Wah, pantas saja terkadang aku melihat sisinya yang lain. Hanya saja aku tidak terlalu perhatian." sahut Lora.
"Apa kau ingin sesuatu, sebelum kita kembali ke mansion? mau beli cemilan atau dessert untuk anak-anak?" tawar Alexias mengingatkan.
"Ya, tentu saja harus kita beli. Kau kan tahu, anak-anak kita itu suka sekali makanan manis dan lahap makan. Setiap kita pergi seperti ini, bukankah saat pulang nanti, mereka akan menagih sesuatu?" kata Lora tersenyum.
Mendengar ucapan Lora dan membayangkan ketiga putrinya, membuat Alexias tersenyum. Tingkah lucu juga menggemaskan Oriana, Olesia dan Odellia tidak akan pernah membuat Alexias bosan walau sesaat.
"Oh, ya. Kudengar Agatha pergi ke luar negeri. Apa kau yang suruh dia pergi?" tanya Lora, memalingkan wajah dan menatap lagi ke arah Alexias.
"Tidak. Bukan aku, tetapi Papa. Kau kan tahu, aku darimana punya keberanian mengusir Manager gila kerja sepertinya hany untuk menghadiri sebuah perkumpulan tahunan tidak jelas. Yang ada, kerah baju suamimu ini akan ditarik dan aku akan terpelanting ke lantai." jawab Alexias.
Lora tertawa, "Hahaha ... sudah kuduga, kau akan jadi seperti kucing saat di hadapan Agatha." sahut Lora.
"Bukannya aku takut. Mungkin lebih ke aku menghargai dan ingin menjaga hatinya agar tidak terluka. Dia satu-satunya saudariku. Selama aku masih hidup, aku hanya ingin melihatnya tersenyum dan tertawa sepanjang waktu. Cukup bagiku melihatnya sedih, menangis dan terpuruk. Sampai hatiku juga ikut sakit." kata Alexias terdengar sedih.
__ADS_1
Lora terdiam sesaat, "Ah, mungkin yang dimaksud Alexias, pada saat Agatha kehilangan suami dan tidak lama kehilangan anaknya. Ya, meski aku tidak tahu jelas bagaimana dan seperti apa kejadiannya. Ini cukup membuatku tersentuh saat aku mendengar sekilas Mama dan Papa bercerita, pada saat itu. Mungkin saja dia hanya akan terbuka pada Alexias tentang hal-hal yang menyesakkan. Membaginya dengan saudaranya, agar hatinya merasa lebih baik. Mereka kan juga kembar, ikatan batin di antara mereka juga pasti lebih erat dari saudara kandung biasa." batin Lora berpikir.
"Umh, maaf menanyakan ini. Apa aku boleh tahu, apa alasan Agatha tidak mau menikah lagi? bukankah tidak mungkin, wanita secantik dan secerdas dia tidak disukai pria. Pasti banyak pria yang mendekatinya, kan." tanya Lora ingin tahu.
"Tentu saja. Agatha itu populer sudah sejak sekolah. Dia yang selalu berani dan menolak tegas apa yang tidak dia sukai, membuat pria-pria jatuh hati padanya. Sampai kami masuk universitas pun, banyak sekali pria yang bertanya padaku hanya ingin mendekati Agatha. Sampai mereka yang tak suka padaku, berpura-pura menyukaiku demi mencari informasi tentang Agatha. Soal dia tidak mau menikah lagi, mungkin dia belum menemukan seseorang yang menggetarkan hatinya lagi. Sepeti dia bertemu dengan mendiang suaminya." jawab Alexias.
"Aku jadi penasaran, bagaimana kisah Agatha dan iparmu itu. Jika mendengar ceritamu, seperti sedang baca kisah percintaan yang ada di novel-novel." sahut Lora.
Alexias tersenyum, "Wah, kau punya rasa penasaran juga, ya. Aku mengira kau itu bukan tipe yang suka ingin tahu hal-hal pribadi orang lain. Ternyata dugaanku keliru." goda Alexias.
"Entahlah, mungkin karena Anakmu ini." jawab Lora mengusap perutnya, "Aku juga heran, semenjak hamil aku jadi suka ikut campur urusan orang lain. Padahal aku bukan tipikal orang seperti ini." kata Lora yang juga heran.
"Aku akan ceritakan. Jadi, dulu .... hm, aku sedikit lupa. Maaf jika aku tidak lancar saat aku cerita, ya. Jadi, dulu saat kami menghadiri acara reunian sekolah SMA, salah seorang teman sekelas kami mengajak kenalannya. Orang itulah yang bisa menjinakkan singa betina seperti Agatha. Agatha yang berselisih paham, bertengkar dengan seseorang. Agatha terdorong dan diselamatkan olehnya. Karena jarak posisi mereka yang dekat. Sedangkan aku kan berada di ujung. Entah mengapa dia jadi malu-malu dan bersikap lembut. Sampai-sampai membuat bingung semua orang. Semua menatapku, ya ... tentu saja aku hanya bisa mengangkat bahu. Aku kan tidak tahu apa-apa. Intinya semenjak kejadian hari itu, Agatha mulai berubah. Dia bukan lagi gadis yang terkenal sebagai singa betina. Kau tau, sayang. Lebih uniknya, ternyata pria itu adalah senior kami di universitas. Ah, lebih tepatnya pria itu sudah lulus dan mengajar di universitas kami untuk sementara waktu. Kurang lebih begitu. Agatha akhirnya bersama pria itu, dan akhirnya setelah kami lulus Agatha memutuskan untuk menjalin hubungan serius dengan teman dekatnya itu." Alexias menjelaskan panjang lebar, menceritakan tentang Agatha dan mendiang suami Agatha.
"Jadi, baru setelah Agatha lulus mereka resmi berpacaran?" tanya Lora.
"Ya," jawab Alexias.
"Wah, hebat. Agatha wanita yang bisa menahan diri juga, ya. Bukankah, mereka cukup lama hanya untuk menjadi sekedar 'Teman dekat?' apa aku salah?" gumam Lora.
"Kau tidak salah, sayang. Apa yang kau katakan benar. Mereka memang cukup lama saling mengenal sampai memutuskan berpacaran. Tapi, asal kau tahu. Gaya pacaran mereka sangat berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Kalau dipikir baik-baik, Agatha dan mendiang suaminya itu sama-sama pendiam dan tidak pandai mengungkapkan perasaan. Jadi, begitulah. Mereka seperti sepasang robot yang kaku dan membosankan." kata Alexias, dilanjutkan dengan terkekeh.
Alexias melebarkan mata, "Aku sungguh tidak pernah berpacaran. Aku tidak menampik, memang banyak wanita yang mendekatiku. Tapi, aku tidak suka berpacaran. Karena aku dulu sering mendengar keluhan teman-temanku yang hatinya terluka karena putus cinta. Seorang temanku memperingatkan aku, jika wajah tampan bukan jaminan aku tidak akan dicampakkan. Sebaliknya, wajah tampan itu adalah petaka. Seorang yang tampan akan merasa bangga akan paras tampannya. Dan menganggap remeh seseorang yang bertampang biasa-biasa saja atau berwajah rata-rata. Jadi, bisa dikatakan aku termakan ucapan temanku itu dan tidak mau pacaran." jawab Alexias.
"Hahahaha ... hahaha .... "
Mendengar jawaban suaminya, Lora tertawa. Air matanya sampai keluar dan pipinya sampai sakit karena terlalu keras tertawa. Alexias mengernyitkan dahinya. Ia tidak tahu kenapa istrinya begitu keras tertawa sampai terpingkal-pingkal.
"Sayang, kau baik-baik saja, kan?" tanya Alexias bingung.
"Hahaha ... astaga," lora menyeka air matanya. "Aku tidak menyangka, aku akan tertawa sampai menangis seperti ini. Ahhhh ... aku tidak habis pikir. Kau itu polos sekali, Lex. Temanmu itu hanya mengerjaimu, karena mereka tahu wajah mereka yang rata-rata terkalahkan dari paras tampan. Wanita mana yang tidak akan tergoda oleh paras tampan. Wanita mana juga yang akan berpaling pada pria lain saat punya pria tampan idamannya di sisinya. Tapi, jika aku boleh bertanya lagi, bagaimana bisa kau menguasai ... ah, itu. Maksudku, itu ... hm ... itu, saat kita pertama kali bertemu." tanya Lora dengan wajah memerah.
"Ah, gila! kenapa aku bertanya hal yang memalukan seperti ini? Lora, kau sudah gila." batin Lora, wajah Lora semakin memerah seperti tomat.
Awalnya Alexias tidak mengerti maksud ucapan lora. Ia berpikir keras mencerna perkataan istrinya tersebut. Sampai saat Alexias mengingat kalimat 'Saat pertama kali kita bertemu' yang artinya pertemuannya dengan Lora dan akhirnya mereka melakukan 'One night Stand' dan anehnya, Alexias pun tersipu malu saat mengingat kejadian gilanya itu.
Keduanya sama-sama merona. Baik Alexias maupun Lora, tidak menyanggah jika pada malam itu mereka melakukannya dengan penuh semangat. Mungkin karena itu adalah hal pertama kalinya bagi mereka. Terlebih situasi dan kondisi yang mendukung, di mana Lora yang sedang mabuk, dan Alexias dengan pikiran penat karena pekerjaan yang menumpuk.
Tiba-tiba, Alexias menepikan mobilnya dan menghentikan laju mobilnya. Mmebuat Lora kaget, Ia memalingkan pandangan ke arah Alexias.
"Kenapa?" tanya Lora bingung.
__ADS_1
"Ayo," ajak Alexias.
"Ayo? ke mana?" gumam Lora semakin bingung.
"Ayo, kita lakukan dengan benar kali ini. Saat itu kan kau sedang mabuk. Dan aku sedang banyak pikiran. Jadi, aku mengajakmu untuk mengulang kejadian itu. Apa kau mau?" kata Alexias.
Deg ... deg ... deg ....
Jantung Alexias berdegup kencang.
"Alexias, kau gila! apa-apaan kau. Mana mungkin Lora mau. Dia pasti akan menolakmu." batin Alexias memaki diri sendiri.
Deg ... deg ... deg ....
jantung Lora berdegup. Lora tidak menyangka Alexias akan mengatakan hal seperti itu padanya.
"Ah, lupakan. Aku hanya asal bicara." kata Alexias yang merasa malu karena tingkah lakunya sendiri.
Lora mendekat dan mencium pipi Alexias, "Ayo," bisik Lora. "Apa dulu aku menciummu seperti ini?" tanya Lora. Ia mengusap wajah Alexias, menangkupnya dengan kedua tangan. Lalu, mencium bibir Alexias.
Jantung Alexias semakin berdebar, "Gila, ini gila! aku gila ... " batin Alexias.
"Astaga, aku sudah gila! bagaimana bisa aku memancing singa yang sedang kepalaparan." batin Lora. Ia ingat, jika sebelumnya ia dan Alexias gagal bermesraan karena diganggu anak-anak mereka lalu, diganggu lagi oleh pekerjaan Alexias.
Ciuman terlepas. Alexias dan Lora saling memandang dalam.
"Apa kau sengaja menggodaku sekarang? kau ingat kemarin aku tidak bisa tidur dan mandi sampai tiga kali dalam waktu satu jam." kata Alexias.
Lora tersenyum, "Kenapa? kau kan yang menawarkan, sekarang kau yang menghindari?" tanya Lora.
"Tidak, aku tidak akan menolak. Akan kumanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya." jawab Alexias.
Keduanya pun kembali berciuman. Setelah puas berciuman. Alexias meminta Lora menghubungi Martha agar bisa menjaga anak-anak mereka lebih lama. Lora juga di minta menghubungi toko dessert dan diminta untuk mengirim banyak kue, cake, dan semua yang ada di toko untuk ketiga anaknya. Sekalian untuk para pelayannya yang ada di mansion.
Begitulah, Alexias kembali menyalakan mesin mobil dan mengemudikan mobilnya menuju sebuah Hotel. Di mana Hotel tersebut, adalah tempat Lora dan Alexias bermain panas untuk pertama kalinya.
*****
Tamat
Hallo, terima kasih saya ucapkan untuk semua pembaca yang sudah setia membaca dari awal, pertengahan, sampai akhir. Terima kasih, sudha like, favorit dan vote. Maaf apabila ada salah-salah kata, penulisan, dan lainnya. Maaf juga apabila endingnya kurang memuaskan. Hehe ... semoga next, saya bisa menulis cerita yang lebih bagus lagi. Sampai jumpa lagi, all.. bye_bye ... salam hangat dariku...
__ADS_1