Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 63. Hannah Dan Ezra


__ADS_3

Hannah dan Ezra sedang makan malam bersama. Malam itu, Ezra berencana melamar Hannah. Ia sudah mempersiapkan semuanya. Mulai dari bunga, cincin bahkan ia juga sudah mempersiapkan kata-kata dan ucapan yang romatis untuk Hannah kesayanganya.


"Kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Hannah kebingungan.


"Kenapa, ya? hm, lihat saja. Ini pasti akan membuatmu terkejut." jawab Ezra tersenyum senang.


Hannah tidak mengerti apa yang dikatakan Ezra. Ia hanya diam mengikuti kemauan seseorang yang sukainya itu. Digandengnya tangan Hannah sampai masuk ke dalam restorant.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Silakan." sapa pelayan restorant itu dengan sangat ramah pada Hannah dan Ezra.


"Ya, terima kasih." jawab Hannah tersenyum.


Ezra menarik kursi untuk Hannah, "Silakan, dewiku yang kukagumi." ucapnya dengan gaya yang khas.


Hannah tersenyum malu, "Terima kasih, Tuan." jawab Hannah. Ia langsung duduk dengan anggun.


Ezra menarik kursinya sendiri lalu, duduk. Ia duduk tepat di hadapan Hannah. Ia pun menatap pelayan dan langsung memesan menu makan malam. Hannah dan Ezra sudah memesan, pelayan juga sudah mencatat. Sesaat setelah mencatat pesanan, pelayan segera pergi meninggalkan meja tamunya itu.


Mata Hannah melihat sekitar. Pengunjung cukup ramai. Suasana di dalam restorant itu juga terkesan nyaman. Ada pemusik yang memainkam biola dan piano juga penyanyi duel yang bersuara merdu.


"Kau suka tempat ini?" tanya Ezra pada kekasihnya, Hannah.


Hannah tersenyum menganggukkan kepala, "Ya, aku suka sekali. Terima kasih sudah mengajakku ke sini. Aku tidak sangka, kau adalah orang yang romantis seperti ini." puji Hannah senang.


Wajah Ezra bersemu merah. Ia tidak sanggup lagi berkata-kata. Melihat lawan bicaranya yang malu-malu, membuat Hannah kecil. Air matanya sampai keluar karena perutnya terasa digelitik.


"Ada apa? kenapa kau tertawa?" tanya Ezra bingung.


"Kau lucu sekali. Maafkan aku, aku jadi kehilangan kendali dan tertawa seperti itu. Apa kau marah padaku?" tanya Hannah menatap Ezra.


Ezra tersenyum, "Mana bisa aku marah padamu, sayang. Aku justru senang bisa melihatmu tertawa seperti ini. Aku ingin kau terus bahagia." jawabnya penuh arti.


"Owh, kau mengejekku, ya. Jika seperti ini terus aku akan terbang. Jangan terus bicara manis. Jangan buat aku ... " kata-kata Hannah terhenti karena Hannah ragu untuk mengatakanya.


"Buat aku ... apa? kenapa kau tiba-tiba diam, Hannah. Tidak apa, bicaralah." pinta Ezra.


Hannah tersenyum lebar. "Jagan buat aku menumbuhkan rasa lebih padamu, Ezra." lanjut Hannah berbicara.


Deg ... deg ... deg ....


Jantung Ezra berdegup kencang. Tidak hanya karena senyumam cantik Hannah, tetapi juga karena ucapan Hannah.


"Apa ini pertanda baik," batin Ezra. Yang memang memiliki suatu niatan.


"Memangnya, kenapa jika seperti itu. Apa kau tidak menyukaiku?" tanya Ezra menyakinkan peradaan Hannah padanya.


"Suka. Aku suka sekali padamu, Ezra." jawab langsung Hannah tanpa ragu.


"Hanya suka?" tanya Ezra. Ia sengaja memancing Hannah agar mau bicara.


"Hm, memangnya kau mengharapkan apa?" tanya Hannah lagi.


"Apa, ya? ah, sudahlah. Kita makan saja dulu. Makan malam kita sepertinya sudah siap." jawab Ezra. Ia menatap pelayan yang datang ke arah mejanya dengan membawa hidangan.

__ADS_1


Hannah mengikuti arah pandang kekasihnya. "Wah, akhirnya datang. Aku sudah lapar." sambung Hannah girang.


Pelayan berdiri di sisi meja. Ia menyajikan hidangan makan malam yang dipesan Hannah dan Ezra. Setelah semua hidangan tertata di atas meja, pelayan itu segera mengundurkan diri meninggalkan Hannah dan Ezra.


"Selamat makan, sayang." ucap Ezra tersenyum.


"Selamat makan juga," sahut Hannah ceria. Ia mengangkat gelasnya yang berisi wine dan menyodorkan ke arah Ezra. "Ayo bersulang," ajaknya. Hannah menatap Ezra penuh harap.


Ezra mengangkat gelasnya dan mendekatkan ke gelas Hannah hingga kedua gelas itu saling bertemu dan menimbulkan suara.


Tring ....


Hannah dan menarik kembali gelas masing-masing dan mencicipi nikmatnya wine berkwalitas tinggi yang dipesan Aiko. Keduanya melanjutkan sesi makan malam. Lee Jun Seo bahkan sampai membantu Aiko, memotongkan steak di piring Aiko. Agar lebih muda dalam menikmati, tidak perlu bersusah payah lagi memotong.


***


Sekitar lima belas menit kemudian. Makan malam keduanya selesai. Aiko bahkan sampai menghabiskan bersih steak di dalam piringnya. Lee Jun Seo mulai menjalankan rencananya. Ia mengajak Aiko berdansa.


"Ingin melancarkan pencernaa, kan. Bagaimana jika kita menggerakkan tubuh kita sebentar. Ayo berdansa satu lagu denganku." ajak Lee Jun Seo.


"Umh, ok. Ayo," jawab Aiko.


Lee Jun Seo berdiri dari duduknya dan menghampiri Aiko. Dengan sedikit membungkukan badan ia mengulurkan tangan kananya kepada Aiko. Dengan senyuman yang mengembang sempurna, Aiko menerima tangan Lee Jun Seo dan berdiri dari tempat duduknya.


Kedua pun berdansa bersama. Tidak hanya Hannah dan Ezra saja yang berdansa. Tetapi juga beberapa orang lainya. Sepanjang pergerakan mereka, semuanya berjalan mulus dan lancar. Pandangan keduanya lekat memandang satu sama lain. Keduanya juga saling melemparkan senyuman sesekali.


"Sebentar lagi, aku akan memberikan kejutan yang sebenarnya, Hannah." bisik Ezra di telinga Hannah.


"Tunggu dan lihatlah." jawab Ezra misterius. Membuat Hannah semakin penasaran.


Beberapa saat kemudian, dansa keduanya usai. Masih dengan memegang tangan Hannah, Ezra tiba-tiba saja berlutut. Tentu saja itu membuat Hannah terkejut. Ia tidak mengerti apa maksud Ezra yang seperti itu.


"Apa ini, Ezra?" tanya Hannah kebingungan.


"Hannah, maukah kau menikah denganku? menjadi pendamping hidupku untuk selamanya." kata Ezra penuh harap.


"Apa?" gumam Hannah kaget. Ia melihat sekeliling dan mandapati mata semua orang tertuju padanya. "E-ezra, jangan seperti ini. Ayo, berdiri dulu." pinta Hannah merasa malu sekaligus tidak nyaman dengan tatapan mata yang lekat menatap ke arahnya.


Ezra menggenggam erat tangan Hannah, "Aku mencintaimu. Sangat, sangat, sangat mencintaimu, Hannah. Kumohon, jawablah peintaanku ini. Jadilah pendamping hidupku. Kau bersedia atau tidak?" tanya Ezra lagi. Ia mengeluarkan sebuah cincin berlian dari dalam saku jasnya.


Deg ... deg ... deg ....


Jantung Hannah semakin berdebar. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba saja ada Lora dan Alexias yang datang dan membawa buket bunga berukuran besar.


"Jadilah pendamping hidunya, Hannah." kata Lora tersenyum.


Hannah menatap Lora dan Alexias lalu, kembali menatap Ezra. Ia pun mengangguk dan meminta Ezra memasang cincin ke jemarinya.


"Aku bersedia. Pakaikan cincin itu di jari manisku dan berdiralah." pinta Hannah dengan anggunnya.


Ezra berdiri, melebarkan mata lalu tersenyum. Dengan segera ia menyelipkan cincin ke jari manis tangan kanan Hannah dan mencium lembut punggung tangan Hannah. Ia segera berdiri dari posisinya berlulut dan disambut oleh riuhnya tepuk tangan seluruh orang. Lora pun berjalan mendekati Hannah dan Ezra, memberikan buket bunga pada Hannah lalu, mengucapan selamat.


*****

__ADS_1


Hannah terjaga dari tidurnya. Ternyata ia sedang bermimpi. Ia mengusap kepalanya lalu mengusap-usap matanya.


"Ah, cuma mimpi. Apa yang kuharapkan darinya sampai terbawa mimpi begini." gumam Hannah.


Hannah meraba sisi tempat tidurnya, ia kaget karena ada seseorang di tempat tidurnya. Hannah langsung memalingkan wajah, ia tidak tahu jika tangannya sudah menyentuh dada Ezra yang tertidur.


"E-ezra? bagaimana bisa ada dia? dia kan sibuk kerja? kenapa dia di sini?" gumam Hannah.


"Sudah cukup bergumam dan merabanya?" tanya Ezra yang ternyata tidak tidur. Ia langsung bangun dan memeriksa keadaan Hannah. "Apa kau sudah lebih baik? tadi, kau mengeluh pusing." tanya Ezra sangat peduli.


Hannah mengernyitkan dahi, "Kenapa kau di sini? bukankah kau bilang padaku, kau sibuk? a-apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Hannah.


"Bagaimana aku bisa fokus bekerja jika orang yang kusayangi menantikanku. Maaf, Hannah. Tidak seharusnya aku mencampur adukkan kasalah pribadiku dengan hubungan kita. Aku hanya sedang kacau," jelas Ezra. Ia tidak mau membuat Hannah salah paham dan bersedih lagi.


"Apa terjadi sesuatu? katakan, kenapa?" tanya Hannah mendesak Ezra bercerita.


Ezra pun cerita semua hal yang membuatnya jadi stres dan memilih mengalihkan pikirannya ke pekerjaan. Mendengar kekasihnya seperti itu, Hannah menjadi sedih. Hannah mengusap wajah Ezra lembut, sekaan memberikan semangat dan dukungan.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku hanya sedih sesaat. Aku sangat merindukanmu dan invin berbagi masalahku denganmu. Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu. Saat aku baca pesanmu, aku sedikit kecewa dan mengajak Lora makan malam bersama. Maaf, aku juga egois. Tidak seharusnya aku terlalu berharap." kata Hannah.


"Ini tidak akan terjadi lagi, sayang. Aku janji." kata Ezra.


Hannah tersenyum manatap Ezra. Ezra membalas tatapan mata Hannah hangat dan penuh cinta. Ezra mendekatkan wajahnya, ia mencium bibir Hannah dengan lembut. Hannah langsung mengalungkan tangannya ke leher Ezra dan membalas ciuman Ezra. Mereka berciuman panas.


Ciuman Ezra terlepas. Ia lalu, mencium leher Hannah dan bahu Hannah. Merasa geli, Hannah melengkuh. Ini pertama kalinya Ezra menciumi bagian lain selain wajah dan tangannya.


"Apa ini terlalu cepat?" tanya Ezra.


Hannah mengernyitkan dahi, "Hm ... kurasa tidak. Kita kan sudah lama berpacaran. Dan sampai saat itu, kita hanya sebatas berpelukan dan berciuman saja. Apa kali ini kau akan melakukan sesuatu yang menarik?" tanya Hannah.


"Kalau kau mau dan kalau boleh," sahut Ezra.


Wajah Hannah memerah. Ia tidak sangka Ezra akan langsung berterus terang. Ia hanya berniat menggoda Ezra saja awalnya. Namun, Ezra kini berekspresi serius.


"K-kau se-serius? aku kira kau akan mengabaikan candaanku ini. Aku kan jadi berdebar sekarang. Bagaimana, ini?" kata Hannah.


"Lihat aku Hannah," pinta Ezra.


Hannah menatap Ezra, "Ya, ada apa?" jawab Ezra.


"Apa kau mau melakukannya denganku? dan ... apakah aku boleh menyentuhmu lebih lagi?" tanya Ezra.


Deg ... deg ... deg ....


"Gila, gila, gila! Apa-apaan dia ini. Dia membuat jantungku terus berdebar sejak tadi. Aku harus apa? aku tidak menolak dan takut juga. Ah, rasanya campur aduk." batin Hannah.


Hannah memejamkan matanya perlahan, ia mencoba berpikir. Pada saat bersamaan, Ezra langsung mencium bibir Hannah. Tangan Ezra sudah menjalar ke bagain lain dari tubuh Hannah. Hannah kaget, ia membuka mata dan melihat Ezra yang terlihat menikmati ciumannya.


"Umh ... " suara lengkuhan Hannah dengan napas yang memburu.


Pada akhirnya, Hannah dan Ezra menghabiskan waktu semalaman bersama.


*****

__ADS_1


__ADS_2