Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 105. Misi Penyelamatan Si Kembar (2)


__ADS_3

Mobil yang Evan kemudikan akhirnya sampai. Lora dan Evan buru-buru turun dari dalam mobil. Mereka saling bertatapan bingung, karena ada banyak mobil terparkir dan ramai orang berseragam polisi.


"Ada apa, ini?" gumam Lora.


"Apa kau memanggil Polisi, Lora?" tanya Evan bingung.


Lora menggeleng, "Tidak. Aku bahkan tidak tahu tempat ini. Bagaimana caraku memberitahukan alamat ini kepada polisi." jawab Lora. Ia memalingkan wajah, Ia melihat mobil yang tak asing. "Tunggu, Van. Seperti mobil Alexias." kata Lora menunjuk sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir tidak jauh.


"Benarkah?" sahut Evan ragu-ragu.


"Ayo, Van. Kita harus segera masuk. Aku yakin pasti terjadi sesuatu di dalam." ajak Lora, ia langsung berlari masuk ke dalam gudang.


Lora mencari-cari keberadaan Alexias. Ia sangat yakin, suaminya ada di gudang yang ia datangi. Lora sempat bingung, bagaimana bisa Alexias tahu tempat yang bahkan ia tidak ketahui. Namun, pikiran itu hilang begitu saja, saat ia melihat Alexias bersama ketiga anaknya. Terlihat juga dua orang dokter dan empat perawat.


"Lex ... " panggil Lora, berlari mendekat.


Alexias memalingkan wajah, "Lora ... " gumamnya. Ia langsung dipeluk oleh Lora.


"Ternyata benar kau," kata Lora.


"Ya, ini aku. Maaf, aku tidak sempat memberitahumu." Alexias melepas pelukan, ia menatap Lora dalam. "Kau baru sampai? kau diantar Evan, kan?" tanya Alexias.


Lora menganggukkan kepala, "Ya, Aku diantar Evan. Kau bagaimana bisa tahu tempat ini? aku kan belum mengirimimu lokasi ini." tanya Lora bingung.


"Ah, itu. Oriana yang memberitahu. Jadi, setelah tahu lokasinya, aku langsung datang ke sini Aku juga, meminta polisi menambah jumlah bantuan." jelas Alexias.


Lora menatap anak-anaknya yang sedang diperiksa dokter, "Anak-anak kenapa? kenapa ada dokter juga?" tanya Lora lagi mendekati anak-anaknya. "Sayang, kalian baik-baik saja?" tanya Lora mengernyitkan dahi.


"Mami ... " panggil Oriana.


Odellia menangis, "Hiks ... Mami ... Hiks ... " dengan tersedu-sedu Odellia mengulurkan tangan ingin dipeluk oleh Lora.


Lora mengernyitkan dahi bingung, "Kalian ... " gumam Lora yang langsung terdiam.


Lora menyambut tangan Odellia, ia memeluk erat Odellia. Tangannya mengusap wajah Oriana dan Olesia bergantian. Lora kaget, melihat anak-anaknya kacau.


"Oriana, kenapa kau pucat sekali, Nak?" tanya Lora. Pandangan Lora menatap tajam Olesia, "Kau juga, tanganmu kenapa? sudut bibirmu juga terluka." tanya Lora penasaran.


Ketiga anaknya diam membisu. Mereka seakan takut ingin mengungkap kebenaran pada Lora. Melihat anak-anaknya diam, membuat Lora semakin penasaran. Ia lalu menatap Alexias dengan dahi yang mengkerut.

__ADS_1


Melihat ekspresi wajah istrinya, Alexias pun memberitahu apa yang sudah terjadi pada Lora perlahan-lahan. Ia tidak mau Lora sampai shock saat mendengar kebenaran yang akan dia sampaikan.


"Tenanglah dulu, sayang. Akan kujelaskan pelan-pelan. Sebelum itu, kita perlu tau dulu keadaan anak-anak kuta." kata Alexias. Alexias menatap dua dokter yang baru selesai memeriksa keadaan ketiga anaknya. "Bagaiman, dok? apakah ada sesuatu hal yang perlu diperhatikan detail? semua anak-anakku baik-baik saja, kan? tanya Alexias serius.


"Mereka perlu dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan, Tuan. Terutama Nona yang sedang dipeluk Nyonya. Suhu tubuhnya terus meningkat, bahkan setelah diberi obat pereda demam." kata salah seorang dokter.


"Kami hanya memberikan pertolongan pertama. Untuk jaga-jaga, kita harus melakukan pemeriksaan secara menyeluruh." sambung dokter yang lain.


"Untung saja anak-anak sudah dapatkan pertolongan pertama. Setidaknya, aku sedikit sedikit lega," batin Alexias.


"Aku mengerti. Terima kasih." ucap Alexias.


Seseorang datang menemui Alexias dengan tergesa-gesa. Seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada Alexias.


"Tuan," panggil seseorang itu.


"Oh, Anda. Silakan, apa ada sesuatu?" tanya Alexias, saat tahu seseorang datang menghampirinya.


"Jadi, menurut pengakuan tersangka. Dia telah bertransaksi dengan seseorang berama Reine. Apa Anda mengenal Reine? atau, apa Anda tahu siapa itu Reine?" tanya seseorang itu serius.


Lora dan Alexias kaget. Keduanya saling bertatapan dan sama-sama mengernyitkan dahi. Raut wajah mereka terlihat tidak baik. Alexias menatap seseorang yang menghampirinya dan menjawab.


"Ya, saya kenal. Dia adalah sepupu istri saya. Apa mungkin dia orang dibalik penculikan, ini?" tanya Alexias penasaran.


"Wanita gila!" gumam Alexias kesal, "Apa yang ada dipikirannya? sehingga dia melakukan ini?" lanjutnya bicara.


"Apa kami boleh memproses kasus ini segera, Tuan? jika Anda mengizinkan, kami juga akan segera menangkap otak pelaku kejahatan." kata seseorang itu lagi.


Alexias mengernyitkan dahi menatap Lora, "Bagaimana, Lora? aku terserah padamu. Karena dia adalah keluargamu. Jika kau tanya pendapatku, aku akan memprosesnya dan ingin dia dihukum sesuai hukum yang berlaku. Apa yang dia sudah tanam, dia harus tuai." kata Alexias.


Lora menarik napas dalam lalu, mengembuskan napas perlahan. Ia mencoba berpikir jernih. Pandangan matanya berpaling, menatap Evan yang berdiri tidak jauh darinya.


"Bagaimana, ya? apa aku boleh sejahat ini pada Reine? Lalu, Evan bagaimana? dia tidak akan membenciku karena aku memenjarakan istrinya, kan?" batin Lora bertanya-tanya tanpa kepastian.


Evan berjalan mendekati Lora dan Alexias, "Kalian tidak perlu memikirkanku. Juga tidak perlu khawatir aku akan membenci kalian. Lakukan saja sesuai apa yang seharusnya. Mau bagaimana lagi. Meski sebenarnya aku berat karena dia sedang hamil, tetapi dia adalah pelaku kejahatan. Dia tidak akan jera jika tidak dihukum." kata Evan terlihat sedih.


Alexias menepuk bahu Evan, "Maaf, jika apa yang kami lakukan ini, akan melukai hatimu." kata Alexias.


Evan menatap Alexias dan tersenyum. Ia menganggukkan kepala, tanda mengiyakan ucapan Alexias.

__ADS_1


"Ya, jangan sungkan. Aku baik-baik saja. Justru sebaliknya, akulah yang harusnya minta maaf. Aku suaminya, tetapi aku tidak bisa mengarahkannya dan membimbingnya ke jalan yang benar. Aku terlalu mementingkan diri sendiri." kata Evan mengakui kesalahannya.


"Maaf, Evan. Aku tidak bisa berdiam diri lagi sekarang. Dulu, aku mungkin akan diam dan memaafkannya. Sekarang tidak lagi, anak-anakku bahkan sampai seperti ini karena ulahnya." ungkap Lora kecewa, atas apa yang sudah diperbuat oleh Reine.


"Ya, Lora. Tidak apa-apa. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Jangan pikirkan aku." jawab Evan.


"Terima kasih sudah mau mengerti kami, Evan. Semoga dia bisa belajar menjadi orang yang lebih baik lagi. Kau juga, berilah semangat dan lebih pedulikan dia. Karena bagaimanapun, Reine adalah istrimu." kata Lora menjelaskan.


"Aku mengerti. Terima kasih sudah mengingatkanku." jawab Evan.


Pada akhirnya, setelah melalui pembicaraan panjang. Alexias dan Lora memutuskan untuk memproses segera kasus penculikan ketiga putrinya. Mereka berdua tidak bisa membiarkan pelaku kejahatan berkeliaran damai. Meski itu adalah salah satu anggota keluarga sendiri, ataupun si tersangka sedang dalam keadaan tertentu.


Setelah semua proses dilimpahkan ke polisi untuk segera diurus. Alexias, Lora, dan si kembar tiga pergi meninggalkan gudang tersebut. Alexias juga mengerahkan pengacara terbaik keluarganya untuk membantunya mengurus kasus kejahatan yang menimpa ketiga anaknya.


Selain Lora dan Alexias. Evan pun juga langsung pergi. Ia bingung, ia ingin menemui Reine dan meminta penjelasan langsung pada Reine. Ia juga ingin Reine meminta maaf secara pribadi pada Alexias dan Lora terkait kejahatan yang sudah menculik si kembar tiga.


***


Evan ada di parkiran apartemen Reine. Cukup lama dia duduk diam menunggu di dalam mobilnya. Di tangan kananya ponselnya digenggam erat. Evan ingin menghubungi Reine, tetapi ia ragu Reine akan menerima panggilannya.


"Hahh ... " hela napas Evan. Ia melemparkan ponselnya ke bangku samping kemudinya. "Lebih baik aku pulang. Untuk apa aku di sini. Nomor kamarnya saja aku juga tidak tahu." gumam Evan.


Baru saja Evan ingin menghidupkan mesin mobilnya, ia melihat mobil yang tidak asing parkir di samping mobilnya. Ia melihat pria yang juga tidak bisa ia lupakan wajahnya. Pria yang memeluk dan mencium Reine, istrinya.


"Pria b*r*ngs*k!" gumam Evan.


Tiba-tiba, Evan terpikirkan sesuatu. Ia ingin membuntuti pria itu agar ia bisa tahu nomor kamar apartemen Reine. Meski dibilang gila dan tidak benar karena menguntit. Evan merasa ia juga berhak. Mengingat Reine adalah istrinya yang sah.


Pria asing yang tidak lain adalah Frans, turun dari mobilnya. Frans berjalan meninggalkan mobilnya untuk masuk ke dalam gedung apartemen. Evan buru-buru melepas sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil. Ia berjalan mengikuti pria yang menurutnya asing. Dengan harapan penuh, ia ingin bisa bertemu dan bicara dengan Reine.


***


Evan terus berjalan mengikuti. Bahkan, saat Frans naik ke dalam lift, ia juga ikut masuk. Karena di dalam lift ramai, Frans tidak sempat memperhatikan Evan. Sebaliknya, Evan terus berhati-hati agar ia tidak ketahuan.


"Aku hanya ingin tahu lantai dan nomor kamarnya saja. Setelah itu aku akan kembali pulang. Aku akan datang lagi besok untuk bicara dengannya." kata Evan dalam hati.


Frans keluar dari lift, begitu juga Evan dan seorang yang lain. Frans sama sekali tidak curiga. Ia mengira jika orang-orang yang keluar dari lift bersamaan dengannya adalah tetangganya atau tamu dari tetangganya.


Evan melihat, Frans dengan mudah masuk ke dalam sebuah kamar. Setelah Frans masuk, Evan segera berlari kecil. Saat lewat, Evan melirik dan menghafal nomor kamar yang dimasuki Frans sebelumnya.

__ADS_1


Ia berjalan sampai ke ujung, Ia lalu berpura-pura kebingungan. Evan tidak mau dicurigai sebagai orang jahat ataupun penguntit. Matanya menyelisik sekitar, dirasa aman, Evan pun segera berbalik dan berjalan cepat pergi menuju parkiran.


*****


__ADS_2