Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 101. Pencarian Si kembar Tiga (5)


__ADS_3

Si kembar tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka dikurung di dalam ruangan. Odellia yang bertubuh lemah pun kesehatannya menurun. Ia seperti terserang demam, karena suhu ruangan yang lembab dan pengap. Juga udara yang tidak bersih.


Brakkk ... brakkk ... brakkkk....


Olesia memukul keras pintu yang menjadi penghalang baginya dan dua saudarinya yang hendak keluar.


"Hei, Paman. Paman jelek, buka pintunya." teriak Olesia. Ia terus menerus memukul pintu.


"Lesi, hentikan! percuma saja, orang itu tidak akan pernah mau mendengarkan kita. Lebih baik kita pikirkan cara lain dan berdoa saja. Semoga ada orang yang akan menolong kita." kata Oriana.


"Tidak bisa, Anah. Kau lihat, kan. Lia sedang tidak sehat. Kita tidak bisa diam dan menunggu. Bahkan kita tidak diberikan makanan yang layak." gerutu Olesia.


Oriana terdiam, "Apa yang dikatakan Olesia ada benarnya. bagaimana, ini? apa yang harus kulakukan?" batin Oriana bingung berpikir.


Uhukkk ... Hukkk ... Hukkkk ....


Odellia terbatuk-batuk. Oriana lekas mendekati saudarinya itu lalu, memberikan air minum yang ada di dalam botol pada Odellia.


"Lia, kau tidak apa-apa?" cemas Oriana.


Odellia tersenyum menganggukkan kepala, "Ya, aku baik. Kalian tidak perlu khawatir." jawab lemas Odellia.


Oriana tidak senang. Ia kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu, Olesia masih tetap berteriak-teriak menggedor-gedor pintu ruangan. Olesia bahkan sampai emosi lalu, marah-marah.


"Aaarggghhhhh ..." teriak kencang Olesia kesal. "Kenapa Paman tidak buka pintu? apa Paman tidak punya hati?" lanjut Olesia berteriak-teriak.


***


Di luar, Pria yang mendengar Olesia berteriak pun emosi. Ia merasa kesal, karena Olesia terus berteriak -teriak.


"S*alan. Anak-anak itu merepotkan saja. Jika bukan karena Reine yang memintaku mengawasi, aku tidak akan sudi." kata pria itu dengan dahi berkerut.


"Paman jelek! Hei, Paman jelek. Paman yang jelek dan bermuka menyeramkan. Cepat buka pintu ini. Aaaaaaarghhh ... " lagi-lagi Olesia histeris. Terdengar Olesia meracau tidak jelas.


"B*r*ngs*k! anak ini. Lihat, bagaimana seseorang yang kau sebut 'Paman Jelek' ini memukulmu." batin pria itu.


Pria itu menarik lacinya, Ia mengambil tali dan kain. Ia segera berdiri dari posisinya duduk. Ia lalu, berjalan melangkah mendekati pintu ruangan. Di mana si kebar tiga dikurung.


Kunci pintu di buka. Pria itu membuka pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan yang kotor dan pengap itu. Olesia kaget, begitu juga Oriana dan Odellia. Seseorang di hadapan mereka tampak menyeramkan.


"Kau bilang apa anak b*r*ngs*k? siapa yang kau bilang 'Paman Jelek' ? apa itu aku?" tanya pria itu melebarkan mata.


Olesia juga melebarkan mata, "Ah, aku lupa. Aku kan hanya anak kecil yang tidak melawan. Bagaimana, ini? apakah aku akan dimarahi Paman ini?" batin Olesia.


"Kau diam? dasar anak tidak punya sopan santun. Kepada orang yang lebih tua darimu, kau harus bisa bersikap baik. Kau paham? kau sejak tadi terus berteriak dan mengataiku. Lihat, apa yang akan ku lakukan padamu." kata Pria itu. Ia sengaja menakuti Olesia.


Benar saja. Semampu dan sekuat-kuatnya Olesia, ia tetaplah anak-anak yang berhati lembut juga bisa merasakan takut dan tertekan.


Pria itu langsung menarik kasar tangan Olesia. Disatukanya tangan Olesia kebelakang lalu di ikat kuat. Begitu juga kaki Olesia yang juga diikat. Terakhir, orang itu langsung menyumpal mulut Olesis dengan kain. Membuat Olesia hanya bisa bergumam tidak jelas.


Umh ... umh ... umh ...

__ADS_1


"Hahaha ... s*alan! siapa suruh kau Banyak bicara, Nak. Jika seperti ini, salahkan saja dirimu sendiri." kata pria itu kasar.


Olesia tidak bisa bicara, ia meronta-ronta ingin lepas. Tapi, ikatan ditangannya begitu kuat. Sampai ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Olesia merasa kesakitan, matanya pun berkaca-kaca.


Oriana yang melihat kaget, "Ke-kenapa Paman melakukan ini? apa ini semua, Paman? Tolong lepaskan saudariku." kata Oriana panik. Ia tidak tega melihat Olesia terikat.


"Apa kau bilang? kau ingin aku melepas anak nakal ini? Apa kau tahu, dia sangat berisik!" sentak kasar pria itu. Matanya menatap tajam pada Oriana. "Kau lebih baik diam atau mau kuikat juga?" kata pria itu lagi menakut-nakuti Oriana.


Oriana kaget, ia tidak tahu harus apa lagi sekarang. Dua saudarinya dalam keadaan tidak baik. Satunya jatuh sakit, satunya lagi diikat. Ia tidak punya pilihan selain hanya diam.


*****


Pria itu membawa Oriana ke luar dari dalam ruangan, ia meminta Oriana untuk bersih-bersih. Merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja. Karena setengah takut, Oriana tidak menolak dan hanya mengerjakan apa yang diperintahkan.


Setelah cukup lama, pekerjaan itu selesai. Dilihatnya pekerjaan Oriana yang rapi, pria itu memerintahkan Oriana membersihkan ruangan lainnya. Sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi.


Oriana sempat takut, tetapi ia berusaha mengumpulkan keberanian. Pria itu berjalan di depan Oriana, ia ingin Oriana mengikutinya. Sesampainya di depan pintu, Pria itu lalu mengeluarkan kunci untuk membuka pintu ruangan tersebut.


Kleekkk ....


Pintu terbuka. Itu adalah sebuah ruangan cukup besar dengan beberapa perangkat komputer, rak-rak buku dan lain sebagainya. Oriana melihat sekeliling, ia terkesan dengan ruangan itu.


"Kau bersihkan lantai dan meja di sini. Aku mau mandi. Selesai mandi aku akan ke sini untuk mengawasimu. Paham?" kata Pria itu bernada tinggi.


Oriana hanya menganggukkan kepala sebagai tanda ketersediaannya. Ia diam menunduk tidak bicara apa-apa. Pria itupun lalu, pergi meninggalkan Oriana seorang diri.


Beberapa saat setelah kepergian pria itu, Oriana mulai beraksi. Dia berjalan membuka pintu untuk melihat situasi. Dirasa aman, Orina kembali menutup pintu dan mengunci pintu dari dalam. Ia langsung berlari mendekati sebuah komputer.


Oriana menyalakan sebuah komputer. Ia mengecek isi dalam komputer itu. Ternyata, banyak bukti kejahatan yang tersimpan di dalamnya.


Oriana mengernyitkan dahinya, "Wah-wah, Paman ini sungguh pelaku kejahatan besar. Apa, ini? Hmm ... karena Paman orang yang jahat, aku akan membantu Paman." batin Oriana.


Dengan kecerdikan dan kelebihannya. Oriana meretas komputer milik pria itu, ia juga langsung mengirim semua bukti kejahatan pria itu kepada polisi. Tak lupa, Oriana mengirim email pada Papinya. Ia memberi kode 'O-3' sebagai tanda jika pesan yang di kirim adalah dari salah satu si kembar tiga.


Setelah selesai mengirim pesan berisikan lokasi keberadaannya pada Alexias, Oriana buru-buru mematikan komputer. Dia membuka kunci pintu ruangan. Ia lalu bersih-bersih sesuai perintah.


Oriana hanya berharap agar pesannya sampai. Harapan satu-satunya kini hanya ada pada Papinya saja.


***


Di perjalanan ....


Alexias mendapatkan sebuah email ia langsung membuka email dan membaca isi email yang menunjukan denah gambar lokasi suatu tempat, lengkap dengan sebuah alamat. Alexias mengernyitkan dahi, ia melihat pesan itu lagi, ada sebuah tulisan yang membuatnya langsung tercengang dan mengenali siapa pengirim pesan.


"O-3. Oriana ... " gumam Alexias. "Ya, tidak salah lagi, ini pasti Oriana." kata Alexias senang bercampur gelisah.


Alexias langsung menghafal alamat dan menghubungi seseorang. Ia menghubungi polisi yang dia bawa bersamanya. Mobil Polisi itu, ada di belakang mobilnya.


"Hallo, Tuan." jawab seseorang.


"Tuan, saya dapatkan alamatnya. Saya tau di mana ketiga putri saya berada. Saya akan jalan dan tolong ikuti saya. Saya meminta bantuan Tuan untuk mengirimkan bantuan tambahan." kata Alexias.

__ADS_1


"Baik, Tuan." jawab seseorang di ujung panggilan.


Panggilan diakhiri, Alexias lalu menambah kecepatan laju mobilnya. Ia menuju lokasi di mana ketiga putrinya berada.


"Bertahanlah, anak-anak. Papi akan datang menjemput kalian," batin Alexias.


***


Di tempat lain ....


Evan dan Lora juga sedang dalam perjalanan. Evan sempat kebingungan, karena jalan yang ia lalui menuju gudang itu banyak yang ditutup karena perbaikan. Ia tentu haru berputar dan mencari jalan lain. Tapi, Evan tidak terlalu tau jelas daerah tersebut. Hal itu, membuat Evan kesal dan jengkel. Ia lalu, marah-marah.


"Ah, s*al! kenapa banyak sekali jalan yang di perbaiki. Sejak tadi kita hanya berputar-putar tidak jelas." geram Evan.


Lora yang tahu jelas kebiasaan Evan pun mencoba meredam emosi Evan. Ia meminta Evan bersabar, Lora pun minta dibelikan kopi. Itu adalah salah satu alasan agar Evan tidak meledak-ledak.


"Hei, Van." panggil Lora.


"Hm," gumam Evan.


"Aku ingin minum kopi. Bisa kau behenti di kedai kopi dan belikan aku kopi?" pinta Lora.


"Oh, ok. Kita cari dulu kedai kopi di sekitaran sini." jawab Evan. sembari melihat sekeliling. "Ah, itu." kata Evan, melihat sebuah kedai kopi.


Setelah parkir, Evan kembali bertanya apa yang ingin Lora minum. Lora pun kembali menjawab, jika dia ingin minum kopi yang pahit. Evan turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kedai kopi. Sementara Lora hanya bisa menunggu.


"Bagaimana, ini. Kenapa sesulit ini untuk menemukan tiga putriku. Bagaimana mereka sekarang? apa mereka makan dengan baik? apa mereka sehat? Mami merindukan kalian, anak-anak." batin Lora dengan wajah murung.


Tidak lama, Evan datang. Evan memberikan segelas cokelat hangat untuk Lora. Karena tidak memesan cokelat, Lora pun protes.


"Apa ini? aku kan pesan kopi, bukan Cokelat." protes Lora.


"Untuk apa minum kopi. Kau kan suka cokelat. Kopinya habi, hanya ada cokelat. Sudah, minum saja apa kubelikan." kata Evan.


Evan terlihat stres. Ia masih kesal karena perjalanannya terhambat. Ia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Tapi, ia tahu jika itu membuat Lora tidak nyaman.


Lora melihat gelas cokelat hangat di tangannya. " Terima kasih, untuk cokelatnya." ucap Lora.


"Hmm, iya. Sama-sama. Maaf, aku membuatmu tidak nyaman karena terus menggerutu. Maaf juga, sepertinya kita memerlukan waktu menuju gudang itu." kata Evan.


"Tidak apa. Mau bagaimana lagi. Mungkin inilah jalan yang harus kita tempuh." jawab Lora.


"Tadi aku sudah bertanya kepada beberapa orang di dalam kedai. Dan aku diminta mengambil jalan lain, menuju ke sana. Meski jalannya harus berputar dan sedikit lama menempuh waktu." jelas Evan.


Lora tersenyum, "Ok. Kali ini aku percaya padamu. Jadi, jangan buat aku kecewa." kata Lora.


"Pasti. Dan terima kasih, sudah mau percaya padaku. Aku tidak akan mengecewakanmu kali ini." jawab Evan.


Setelah itu, perjalanan Evan dan Lora pun berlanjut. Evan yang sudah diberi arahan mulai menguasai medan jalan. Ia mengemudi lebih tenang dan emosinya sudah benar-benar hilang. Sedangkan Lora, menikmati cokelat panas dengan tenang. Meski hatinya tetap resah gelisah karena tidak kunjung mendapat kabar dari anak-anaknya.


*****

__ADS_1


__ADS_2