Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 69. Kencan (Alexias Dan Lora)


__ADS_3

Saat memasak dan menyiapkan sarapan. Lora sekalian mengecek bahan-bahan kebutuhan dapur. Ternyata, banyak kebutuhan yang harus dibeli dan diganti stoknya. Melihat sang istri yang sibuk, Alexias berinisiatif membantu.


"Ada apa, sayang?" tanya Alexias, merangkul pinggang istrinya.


"Oh, ini. Aku harus buang stok lama bahan-bahan di lemari. Karena masa pemakaian sudah hampir habis. Ada bahan yang habis juga." jawab Lora.


"Hm ... sepertinya kita harus belanja. Apa kita belanj saja sekalian jemput anak-anak? aku sangat merindukan mereka." kata Alexias mengusulkan.


Lora menganggukkan kepala, "Boleh juga. Apa tidak sebaiknya kita jemput dulu lalu, kita ajak sekalian anak-anak pergi belanja?" usul Lora.


"Begitukah? Hm ... boleh juga. Biar aku hubungi Agatha dulu untuk mengabari, kalau kita akan datang." kata Alexias.


"Ok. Aku masih mau menulis daftar belanjaan. Tanyakan pada Agatha, apakah anak-anak perlu dibawakan sesuatu?" kata Lora, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku catatan kecilnya.


"Ya, aku ambil ponsel dulu di kamar." jawab Alexias.


Alexias berjalan meninggalkan dapur menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Di kamar, Alexias langsung menghubungi saudarinya, Agatha. Guna menanyakan kabar anak-anaknya.


Percakapan di telepon*


"Hallo, Lex. Ada apa?" tanya Agatha.


"Di mana anak-anak? apa mereka sudah makan? Papa, Mama sedang apa? kau juga, sudah makan?" cecar Alexias.


"Tunggu, tunggu ... kau bisa kan tanya satu-satu. Jangan langsung mencecarku." jawab Agatha. "Anak-anak sedang sarapan dengan Papa dan Mama, denganku juga. Ada apa? kau mau bicara?" tanya Agatha, setelah ia sepesai menjelaskan.


"Tidak. Aku hanya mau memberitahumu jika aku nanti akan datang. Aku mau jemput anak-anak untuk kami ajak belanja." kata Alexias memberitahukan tujuannya menghubungi Agatha.


"Hm, sepertinya tidak bisa, Lex. Karena kami akan pergi hari ini. Kami mau ke taman bermain anak-anak. Papa dan Mama sudah merencanakan dan mengajak anak-anak semalam. Apa coba kutanyakan dulu ke mereka? " sahut Agatha.


"Oh, begitu. Ya, sudah kalau anak-anak sudah ada janji. Aku tidak mau merusak liburan mereka. Nanti, aku akan mampir setelah pergi belanja kebutuhan dapur bersama Lora. Kalian pergi pukul berapa? apa ada sesuatu yang harus kubawakan untuk anak-anak?" tanya Alexias lagi. Ia menanyakan kebutuhan si kembar tiga.


"Aku periksa dulu, ya. Jika memang ada sesuatu yang dibutuhkan Oriana, Olesia dan Odellia, aku akan kirim pesan atau menghubungimu. Kalau tidak ya tidak. Sepertinya Mama dan Papa lebih memilih untuk membelikan mereka." jawab Agatha.


Alexias tersenyum, "Ya, sepertinya begitu. Aku hanya sampaikan apa yang Lora katakan tadi. Jika menghubungimu aku diminta bertanya. Ok. Aku tutup panggilanku. Bergegaslah makan sarapanmu. Salam untuk Papa, Mama dan si kembar cantikku." kata Alexias ingin mengakhiri panggilan.


Alexias merasa lega setelah menghubungi Agatha. Meski ia tidak bisa membawa anak-anaknya bersamanya dan istrinya belanja, ia akan tetap datang untuk bertemu dengan si kembar tiga kesayangannya.


"Ya, Lex. Kau juga. Hati-hatilah saat mengemudi, ok. Sampai bertemu nanti," Agatha mengingatkan saudaranya untuk berhati-hati.


"Ok, dahh ... " jawab Alexais. Ia langsung mengakhiri panggilannya.


Setelah menghubungi Agatha. Alexias pun keluar kamar dengan membawa ponselnya. Ia menunggu kabsr dari Agatha, kalau-kalau ada sesuatu yang dibutuhkan anak-anaknya.


Pada saat Alexias pergi menuju dapur. Ia melihat Lora sudah duduk di dan menikmati segelas susu di meja makan. Alexias langsung menghampiri istrinya itu. Menarik kursi dan duduk di samping istrinya. Lora tersenyum melihat Alexias datang.


"Kau darimana, sayang? lama sekali," tanya Lora, yang langsung menyiapkan sarapan.


"Aku baru saja menghubungi Agatha. Katanya, anak-anak akan pergi bersama Papa dan Mama juga Agatha ke taman bermain anak. Jadi, kita tidak bisa mengajak anak-anak bersama kita." jelas Alexias. Ia mengatakan hasil pembicaraannya dengan saudarinya, Agatha.


Lora menganggukkan kepala, "Ah, begitu rupanya. Ya, mau bagaimana lagi. Kita pergi belanja berdua saja. Sekalian berkencan." jawab Lora. Menanggapi penjelasan suaminya.


Alexias tersenyum, "Wah, benar juga. Berduaan saja juga bukan hal buruk. Ayo, kita lakukan apapun yang dilakukan pasangan kencan." Alexias tampak begitu semangat.


Lora dan Alexias sarapan bersama. Mereka melanjutkan mengobrol seputar anak-anak mereka.


***


Alexias dan Lora sudah ada supermarket. Tempat yang biasa Lora kunjungi bersam Martha dan si kembar tiga. Alexais mendorong troli berisi beberapa bahan makanan dan beberapa belanjaan yang sudah dipilih oleh Lora. Ia berjalan melambat mengikuti kesayangannya yang lebih dulu berjalan untuk memilih-milih. Lora terlihat sibuk memilih-milih. Ia membelikan cemilan dan biskuit kesukaan anak-anaknya.


"Apa yang kau lihat?" tanya Akexias, ia melihat Lora sudah berpindah tempat dan berdiri di area rak sayur-mayur.


"Aku ingin beli lebih banyak sayur," jawab Lora, masih fokus melihat sayur dan memikirkan apa yang hendak dibelinya.


"Kau ingin diet?" tanya Alexias curiga.


Lora mengangguk, "Ya, sepertinya aku harus diet. Aku sudah punya lemak yang tebal sekarang, aku harus perhatikan penampilanku, kan?" jawab Lora santai.


"Tidak boleh!" tolak Alexias tidak suka.


Lora memalingkan wajah menatap Alexias, "Kau ini kenapa? istrimu ingin diet, kenapa kau larang?" tanya Lora tidak mengerti. Ia melihat ekspresi kaku wajah suaminya.


"Tidak perlu diet, sayang. Aku menyukai semua yang ada pada dirimu tanpa terkecuali," jawab Alexias tegas. Meski ia terlihat sedikit malu-malu. Ia pun mendekat dan berbisik di telinga istrinya. "Beli sayur seperti biasanya saja," imbuhnya menyelesaikan ucapan.


Lora tersenyum, ia tersipu mendengar jawaban suaminya. Ia merasa senang karena suaminya selalu mau berterus terang mengenai pendapaatnya dan mau langsung mengutarakan perasaanya. Pada akhirnya Lora tidak jadi mengambil sayur lebih dari yang biasa ia beli. Ia mengikuti ucapan suaminya dan mengurungkan niatannya berdiet.


"Ya, apa boleh buat. Daripada aku kena omelannya. Kapan-kapam saja aku diet," batin Lora. Ia sedang memilih-milih sayur.


Keduanya langsung berpindah tempat setelah Lora selesai mengambil sayur yang dibutuhkan. Mereka menuju rak kebutuhan mandi dan bersih-bersih. Alexias melihat Lora memilih beberapa item, Alexias mengambil sebungkus sabun mandi cair yang biasa digunakan anak-anaknya dan menunjukkan pada istrinya.


"Ini sabun mandi yang biasa digunakan anak-anak, kan?" tanya Alexias menunjukan kemasan sabun cair yang ia pegang pada Lora.


Lora melihat kemasan sabun cair yang dipegang suaminya. Seketika senyum Lora mengembang, ia tampak senang. Ia pun menganggukkan kepala sebagai tanda jika pilihan suaminya itu benar.


"Ah, iya. Ini yang aku cari," ucap Lora girang. "Terima kasih, sayang. Kau memang yang terbaik. Ah, apa cemilan untuk anak-anak sudah cukup, ya? bagaimana menurutmu?" Lora bertanya tentang cemilan anak-anaknya pada Alexias. Ingin tahu pendapat suaminya itu.


"Beli secukupnya saja. Tidak terlalu baik makan makanan ringan dan cemilan terlalu banyak." terang Alexias menegaskan.


"Ok, aku mengerti," jawab Lora. "Jika itu pendapatmu, kurasa segini saja sudah cukup" lanjut Lora bicara.


Alexias memasukan beberapa kemasan sabun mandi cair yang biasa digunakan anak-anaknya ke dalam troli belanjaan. Ia mengambil sesuatu yang dipegang istrinya dan memasukan ke troli.


"Kita sudah berkeliling, ingin pergi beli sesuatu lagi?" tanya Alexias. Ia tidak tahu istrinya ingin pergi ke mana lagi.

__ADS_1


"Tidak ada, ini tempat terkahir, kan. semua yang kita ingin beli sudah kita beli," jawab Lora.


"Ok. Ayo, kita ke kasir untuk membayar tagihan," ajak Alexias.


Lora tersenyum dan mengangguk, "Ya," jawabnya singkat. Lora lalu, merangkul lengan Alexias. Ia berjalan mengiringi langkah kaki suaminya itu.


***


Selesai mengantri dan melakukan transaksi pembayaran, merekapun langsung pergi meninggalkan supermarket tempat mereka berbelanja. Alexias membawa barang belanjaan menuju parkiran bersama Lora.


Axel memasukan belanjaan kedalam mobil, "Tidak ada yang tertinggal, kan?" tanya Alexias memastikan.


"Tidak ada, sayang." jawab Lora, yang sudah duduk manis di dalam mobil.


Lalu, Alexias langsung masuk ke dalam mobil, ia menatap sekilas ke arah istrinya. Terlihat Lora sedang bermain ponselnya. Tidak mengulur waktu lagi, Alexias langsung mengemudikan mobilnya menuju restorant. Sesuai yang diingkan Lora. Ia akan membawa Rowena makan siang bersama.


***


Setibanya di restorant. Alexias dan Lora turun dari dalam mobil secara bersama-sama. Alexias mengulurkan tangan dan disambut oleh Lora dengan diiringi senyuman cantiknya.


"Cantik sekali," puji Alexias di dalam hatinya. Ia sangat menyukai senyumam Lora yang hangat.


"Kenapa kita ke sini? ini kan restorant baru yang diberitakan di koran." kata Lora melihat sekeliling. "Harusnya kita saat ke sini, kita ajak anak-ana juga. Steak di sini katanya sangat enak." sambung Lora.


"Karena itulah aku mengajakmu dulu untuk mencicipi. Aku takut kau akan bosan dan ingin mau melihat tempat baru. Ayo, aku sudah pesan tempat di luar. Soal anak-anak, bukankah kita sudah sepakat akan menjalani hari ini seperti pasangan kencan? nanti malam kita ajak anak-anak pergi makan. Bersama Papa dan Mama juga Agatha." jelas Alexias. Ia memang ingin menghabiskan waktunya bersama kesayangannya. Bukan berarti ia tidak mengingat anak-anaknya.


Seorang pelayan menghampiri. Alexias menyampaikan pada pelayan itu, jika ia sudah memesan tempat sebelumnya. Dan menunjukan bukti transaksi pemesanan tempat. Pelayan dengan segera mengantar kedua pelanggannya ke tempat yang sudah dipesan oleh Alexias.


"Silakan, Tuan, Nyonya." pelayan mempersilakan kedua pangganya untuk duduk.


"Terima kasih," ucap Lora tersenyum ramah.


"Kami akan langsung pesan," kata Alexias menatap pelayan.


Pelayan tersenyum, "Baik, Tuan. Saya akan ambilkan buku menunya. Mohon tunggu sebentar." jawab Pelayan yang langsung pergi untuk mengambil buku menu. Tidak beberapa lama ia kembali dengan membawa dua buku menu di tangannya. "Silakan, ini adalah buku menu restorant kami. Steak kami adalah daging kwalitas terbaik. Dengan ahli masak yang sudah profesional. Apakah Anda berdua tidak tertarik mencoba?" tawar pelayan, mempromosikan menu andalan restorant tempatnya bekerja.


"Apa itu menu rekomendasi di sini? sepertinya terlihat enak. Aku mau itu," kata Lora langsung mengiakan tawaran pelayan.


Alexias menatap Lora, "Tidak mau pesan dessert?" tawar Alexias.


Lora mentap Alexias, "Kau sungguh ingin membuatku gemuk, hum?" sahut Lora melebarkan mata. Lora merasa jika suamimya sengaja untuk menyuruh mulutnya mengunyah makanan tanpa jeda.


Alexias tersenyum, "Baiklah, Nona. Kami pesan steak yang Anda rekomendasikan. Kami pesan dua porsi dengan kematangan medium." kata Alexias pada pelayan.


Pelayan mengangukkan kepala, "Baik, Tuan. Untuk minumnya? apakah ingin coba wine terbaik kami?" tawar pelayan itu lagi kepada Lora dan Alexias


Alexias menganggukkan kepala, "Boleh saja. Sekalian bawakan minuman lain yang direkomendasikan." jawab Alexias.


"Baik, saya permisi. Pesanan Anda berdua sudah saya catat." kata pelayan yang langsung pergi meninggalkan Lora dan Alexias berduaan saja.


"Kau benar sekali. Pada saat malam dan langit berbintang. Kita bisa melihat jelas bintang dilangit dari sini. Ini juga yang mereka rekomendasikan padaku dan membuatku tertarik untuk memesan tempat di sini. Seluruh tempat ini aku pesan hanya untukmu sayang. Karena tempat istimewa hanya untuk seseorang yang istimewa." kata Alexias, mencoba bermulut manis.


Deg ... deg ... deg ....


Jantung lora berdegup mendengar perkataan Alexias yang begitu manis. Ia serasa bak putri yang diperhatikan khusus oleh sang pangeran berkuda putih. Keduanya pun berbincang santai sembari menunggu pesan mereka datang. Cukup lama menunggu, pesanan mereka datang. Tanpa mengulur waktu lagi, Alexias dan Lora menikmati steak yang mereka pesan. Tidak lupa, Alexias membantu Lora memotong steak di piring istrinya itu, agar istrinya itu tidak kesulitan. Lora sangat senang, ia juga terlihat begitu menikmati hidangan makan siangnya bersama suami tercintanya.


***


Waktu sudah menunjukan pukul dua waktu setempat. Selesai makan malam, Axel dan Rowena memutuskan untuk pulang. Sebelum makan siang, Lora dan Alexias lebih dulu menemui anak-anak mereka. Karena si kembar tiga harus segera pergi bersama Kakek, Nenek dan Bibi mereka. Maka Alexias dan Lora hanya menghabiskan waktu singkat dengan anak-anaknya


"Sayang sekali, ya. Kita hanya bertemu anak-anak sebentar. Padahal, aku masih sangat merindukan mereka." gumam Lora.


"Ya, mau bagaimana lagi. Mereka kan mau pergi. Kita tidak bisa menahan anak-anak berlama-lama dengan kita." sahut Alexias.


"Ya, kau benar. Sudahlah kalau begitu. Ayo, kita harus segera pulang." ajak Lora.


"Ya," jawab Alexais singkat.


Setelah membayar tagihan, Alexias dan Lora memutuskan untuk pulang. Saat mereka berdiri hendak meninggalkan meja mereka, mereka bertemu dengan Evan dan Reine. Yang juga baru selesai makan. Suasana mencekam, tetapi Lora enggan untuk memandang kedua orang yang dikenalnya itu.


"Ayo, sayang. Kenapa kit harus diam di sini?" ajak Lora, merangkul lengan suaminya.


"Ok," jawab Alexias.


Reine memanggil Lora, "Hei, Lora."panggil Reine.


Lora dan Alexias menghentikan langkah kaki mereka. Lora berbalik menatap sepupunya tanpa menjawab. Reine berjalan perlahan menghampiri Lora dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Aku harap kau bisa hadir dipernikahanku minggu depan. Aku mau menghubungimu dan sempat menitipkan undangan ini pada Paman dan Bibi agar merek menyampaikannya padamu, tetapi sepertinya itu tidak benar. Akan lebih baik jika aku sampaikan sendiri. Kebetulan kita bertemu, maka aku bisa berikan ini padamu. Jika kai tidak sibuk, datanglah." kata Reine tersenyum cantik.


"Bagus, aku sudah bersikap baik dan lembut. Kau haru datang, Lora. Agar aku bisa melancarkan rencananku," batin Reine.


Suara Reine tampak lembut dan halus. Jika orang lain dengar, maka orang tersebut tidak akan menyangka betapa busuknya hati Reine sebenarnya.


"Apa-apaan dia ini. Dia berbicara debgan suara lembut dan bersikap baik. Ini buruk, dia pasti sudah merencanakan hal jahat." batin Lora. Ia tahu benar wajah Reine yang asli, dan tidak akan tertipu topeng Reine yang cantik.


Lora menerima undangan dari Reine, "Aku tidak janji akan datang. Namun, doaku pasti yang terbaik. Semoga penikahamu berjalan lancar. Hidupmu bahagia selalu," kata Lora.


"Ya, terima kasih untuk doamu. Aku sungguh berharap kau datang, Lora. Doamu memang berarti, tetapi kehadiranmu juga penting." kata Reine memelas.


Lora tersenyum cantik, "Maaf, Reine. Aku harus pergi. Karena masih ingin pergi belanja. Akan kupikirkan lagi, dan kusesuaikan jadwalku. Karena sekarang aku juga punya kesibukan merawat anak-anakku." Kata Lora menjelaskan. Ia ingin segera pergi meninggalkan Reine.


Lora akhirnya pergi bersam Alexias. Tanpa mendengarkan jawaban Reine. Reine yang melihat Lora mengabaikannya menjadi kesal. Di belakang, Evan menertawakan Reine yang bertingkah tidak seperti biasanya, mengomentaru Reine yang harus berpura-pura lembut dan baik.

__ADS_1


"Hahaha ... kau yakin bisa meluluhkan hatinya, Reine? lihat, bahkan dia saja enggan melihatmu." sindir Evan.


"Diam kau, Evan! jangan mengejekku," kesal Reine. Ia tidak senang saat ia harus diabaikan oleh Lora. Namun, Reine tidak bisa marah atau protes, jika ia melakukan kesalahan lagi, maka peluang untuk melancarkan rencananya akan berkurang.


***


Sesampainya di rumah, Alexias segera membawa masuk Lora ke dalam kamar dan menenangkan Lora yang sedari tadi marah-marah. Ia membantu melepaskan mantel istrinya lalu, membantu mengganti pakaian Lora dengan pakaian rumah yang nyaman. Setengah mati Alexias membujuk Lora untuk tenang dan bersabar.


"Apa yang kau inginkan sekarang? mau minum sesuatu?" tanya Alexias, ia mengusap lembut wajah Lora.


"Buatkan aku cokelat panas," pinta Lora bersuara lembut.


"Co-cokelat panas? kau mau minum cokelat panas?" tanya Alexias menyakinkan pendengarannya.


Lora mengangukkan kepala, "Ya, buatkan aku cokelat panas," ulang Lora meminta.


Alexias terdiam sesaat, ia sebenarnya kurang bisa membuat cokelat panas. Selama ini dia hanya membantu Lora sekedarnya. Namun, ia tidak bisa menolak permintaan orang terkasihnya itu.


Melihat suaminya yang terdiam dan seakan kebingungan, membuat Lora cemas. Ia lantas bertanya, kenapa suaminya itu diam dan tidak bicara apa-apa.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Lora, memegang tangan Alexias.


"Umh, tidak apa-apa. Hanya saja aku bingung. Aku tidak yakin bisa membuat cokelat panas yang enak. Selama ini, jika kau buat cokelat panas, aku kan hanya melihat dari jauh atau membantu seadanya." jelas Alexias.


Lora terdiam sesaat, "Ah, ternyata itu yang kau cemaskan. Kau mengira aku tidak akan meminumnya karena cokelat buatanmu rasanya belum tentu seenak buatanku, begitu?" Lora memperjelas penjelasan Alexias.


"Ya, begitulah." jawab Alexias mengusap tengkuk lehernya.


Lora tersenyum, "Baiklah, jika seperti itu. Ayo, aku akan pandu kau membuatnya. Aku hanya akan melihat dan mengamati, ya. Aku tidak akan turun tangan mengolahnya. Tidak apa-apa, kan. Ini kulakukan, agar kau bisa membuat cokelat panas yang enak tanpa cemas dan khawatir tidak terminum olehku." jelas Lora.


"Ya, begitu juga boleh. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik. Mohon bantuanmu, Nyonya." kata Alexias. Ia merasa terhormat Lora bisa memandunya secara langsung.


Alexias dan Lora pergi dari kamar menuju dapur. Alexias meninggalkan Lora, ia ingin mengambil belanjaan di dalam mobil yang belum sempat terbawa keluar olehnya. Saat melangkah pergi, Lora memanggil dan bertanya ke mana Alexias akan pergi.


"Lex ... " panggil Lora, "Kau mau ke mana?" tanya Lora lagi.


"Aku mau ambil belanjaan kita tadi, sayang." jawab Alexias.


"Oh, ok. Lekaslah kembali," Pinta Lora. Yang dijawab anggukkan kepala oleh Alexias.


Alexias pun kembali ke luar mansion dan menuju mobilnya yang terparkir di garasi. Ia lantas mengambil barang belanjaan yang masih ada di dalam mobil. Alexias membawa belanjaanya masuk ke dalam mansion, langkah kakinya cepat berjalan menuju ke dapur. Sesampainya di dapur, dengan segera disusunya ke dalam lemari pendingin dan lemari dapur semua bahan yang sudah dibelinya. Lora pun ikut membantu. Sekitar sepuluh menit kemudian, keduanya selesai dengan apa yang mereka kerjakan. Mereka langsung mencuci tangan dan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat cokelat panas.


***


Bahan dan cara membuat cokelat panas yang enak.


Bahan:



200-250 gram coklat batangan, jenis cokelat sesuai selera masing-masing (potong kecil-kecil)


1 liter susu cair (direkomendasikan susu rendah lemak)


Sedikit garam (opsional)


Krim (opsional)


Penambah rasa, misalnya vanili, kayu manis, daun mint, dan lain sebagainya (opsional)



Keterangan tambahan:


Jika tidak ada bahan tambahan (no 5) juga tidak apa-apa. Bahan tambahan hanya pelengkap. Jika ingin rasa yang manis sekali, bisa tambahkan susu kental manis atau gula secukupnya saja untuk campuran. Kalau saya kurang suka manis, lebih suka rasa yang condong ada pahit-pahitnya.


Cara membuat:



Nyalakan kompor dengan api kecil, kemudian taruh panci berukuran sedang di atasnya.


Masukkan coklat batangan yang sudah dipotong-potong ke dalam panci, lalu tuangkan susu cair.


Aduk hingga meleleh dan tercampur rata dengan susu.


Setelah itu, tambahkan sedikit garam dan bahan perasa lain yang pembaca inginkan sambil terus diaduk.


Rebus campuran bahan dengan api sedang. Jangan merebusnya sampai meletup-letup.


Angkat panci begitu uap sudah cukup panas.


Aduk kembali hingga suhu panasnya sedikit menurun.


Tuangkan ke dalam cangkir dan siap untuk dinikmati.



***


Lora memandu Alexias membuat cokelat panas. Dengan sabar dan penuh kasih ia menerangkan langkah-langkahnya. Membuat Alexias paham juga mengerti. Merasa Alexias memahami apa yang diajarkannya, Lora tidak segan memberikan kecupan pada suaminya itu.


Sekitar lima sepuluh menit kemudian, cokelat panas buatan Alexias pun jadi dan siap untuk dinikmati. Lora bersorak girang, hanya dengan melihat saja, ia sudah tahu jika susu cokelat panas buatan suaminya sangat enak. Keduanya pun pergi ke ruang tengah dan menikmati cokelat panas bersama-sama sembari berbincang.

__ADS_1


*****


__ADS_2