Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 25. Firasat Ibu


__ADS_3

Di kantor, Lora seperti orang linglung. Entah kenapa ia tidak fokus bekerja. Pikirannya campur aduk. Sampai-sampai ia mendapatkan teguran dari Direktur di kantornya, yang tidak lain adalah Papa angkatnya.


"Kenapa, ya. Aku sama sekali tidak fokus bekerja." batin Lora. Ia sedang membuat kopi di dapur kantor.


Kopi Lora sudah jadi, ia hendak membawa kopi ke ruang kerjanya. Namun, ia menumpahkan kopinya dan membasahi celaka kerjanya. Lagi-lagi ia tidak fokus. Ia tersandung kaki meja yang ada di dapur.


"Ouch ... sshhh ... " desis Lora merasa panas di kakinya. "Hhhh, bisa-bisanya aku seceroboh ini." gumamnya.


"Astaga, Bu. Apa yang terjadi? apakah anda baik-baik saja?" tanya seseorang yang baru Masuk ke dapur, tidak lain adalah salah satu petugas kebersihan.


"Oh, maaf. Aku menumpahkan kopiku." kata Lora.


"Bu, wajah Anda pucat. Apakah Anda sakit?" tanya petugas kebersihan menatap Lora. Pandangan petugas itu turun ke kaki dan melihat celana kerja Lora basah, "Pakaian Anda basah, biarkan saya bantu bersihakan. Kaki Anda baik-baik saja?" lanjutnya bertanya.


"Ti-tidak perlu. Aku akan bersihkan sendiri. Maaf, bisa tolong bersihkan lantainya?" kata Lora terlihat sedih.


"Ya, Bu. Tentu saja. Inikan tugas saya sebagai petugas kebersihan di kantor ini." jawabnya.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Maaf sekali lagi, dan terima kasih sudah membantu." kata Lora yang langsung pergi.


Lora berjalan cepat kembali ke ruangnya. Ia tidak memperhatikan sekitar, pikiranny benar-benar kacau. Sesampainy di ruangan pun, ia hany bisa mondar-mandi kebingungan. Hatinya resah dan gelisah tidak menentu.


"Apa yang kupikirkan. Kenapa aku gelisah seperti ini? Dadaku terasa sesak dan tidak nyaman. Rasanya seperti ikan hidup tanpa air." batin Lora.


Deg ... deg ... deg ....


Jantungnya berdegup kencang. Lora berusaha tenang. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Lora berjalan menuju meja kerjanya, saat ingin duduk, tangannya tanpa sengaja menyentuh bingkai foto sehingga bingkai foto di mejanya jatuh.


Prakkkk ....


Suara bingkai foto yang jatuh. Hal itu mengejutkan Lora. Ia segera memungkut bingkai foto tersebut. Kaca bingkai pecah, jantung Lora semakin bergemuruh.


Deg ... deg ... deg ....


Jantungnya seakan ingin meledak. Lora tanpa sadar mengusap foto Odellia, karena itu juga akhirnya jari Lora terluka dan berdarah. Namun, Lora tidak menghiraukan lukanya. Ia segera meletakan bingkai foto di meja dan mengambil ponsel untuk menghubungi Hannah.


***


Di rumah sakit. Dokter sedang melakukan pemeriksaan. Cukup lama Alexias, Agatha, Hannah, Oriana dan Olesia menunggu. Sampai akhirnya dokter keluar dari ruangan.


"dok ... " panggil Alexias.


"Tuan, " sapa dokter.


"Ya, dok." jawab Alexias.


"Bagaimana keadaan anak itu, dok?" tanya Agatha.

__ADS_1


"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Hannah.


"Odellia ... hiks ... " panggil Oriana.


"Hiks ... Mami ... hiks ... " tangis Olesia sedih.


"Maaf, kami membutuhkan pendonor. Saat ini kami kehabisan stok darah untuk pasien. Butuh waktu sekitar satu jam perjalanan dari rumah sakit pusat untuk mengantar darah. Apakah ada pihak orang tua? kami tidak bisa menunda, anak itu bisa kehilangan nyawa jika terlalu lama menunggu." jelas dokter.


"Bagaimana, ini." gumam Hannah.


"Ada apa? apa ada masalah?" tanya Agatha.


"Ya, golongan darah Mami mereka tidak sama." jawab Hannah.


"Bagaimana dengan Papinya?" sahut Alexias.


Hannah menggelengkan kepala, "Papi mereka tidak tahu di mana." jawab Hannah sedih.


Alexias terdiam sesaat, ia lalu bertanya pada dokter. Golongan darah Odellia. Saat dokter menjawab, Alexias kaget, ternyata golongan darah Odellia sama dengan Alexias.


"Ambil darah saya saja, dok. Berap banyak darah yang diambil tidak masalah, asalkan bisa menyelamatkan gadis kecil itu." kata Alexias.


"Baiklah, mari kita periksa lebih dulu. Silakan ikut saya, Tuan." ajak dokter.


"Lex ... " gumam Agatha.


Alexias segera pergi meninggalkan Agatha, Hannah, Oriana dan Olesia. Ia mengikuti dokter, membawanya ke dalam ruangan yang sama dengan Odellia diperiksa.


Agatha cemas, "Semoga semuanya baik-baik saja." kata Agatha.


"Maaf, merepotkan. Dan terim kasih, Nona." ucap Hannah.


Agatha menatap Hannah, "Oh, bukan apa-apa. Anak-anak ini sudah mengungkap kebenaran. Karena itu saudara kembarku tidak dalam bahaya. Kamilah yang seharusnya minta maaf. Karena kami, anak itu terluka. Maaf, anak-anak. Bibi dan Paman membuat saudari kalian terluka." kata Agatha sedih.


Agatha memeluk Oriana dan Olesia bersamaan. Ia merasa bersalah pada kedua anak yang dipeluknya itu. Oriana dan Olesi hanya bisa menangis, ia sangat sedih. Namun, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Ponsel Hannah berdering, Hannah mengambil ponselnya di saku mantel dan melihat Lora menghubunginya.


"Lora ... bagaimana ini?" batin Hannah.


Agatha melepas pelukan dan menatap Hannah, "Ada apa?" tanya Agatha.


"Umh, ini Mami anak-anak. Sepertinya dia sudah merasa sesuatu terjadi pada salah satu anaknya. Aku harus mengangkatnya, bisa tolong jaga anak-anak untukku?" jawab Hannah, yang juga minta tolong pada Agatha.


"Ya, aku akan jaga mereka berdua." jawab Agatha.


Hannah menatap Oriana dan Olesia, "Anak-anak, jaga sikap kalian. Mama akan bicara dengan Mami, ok. Ingat, jangan ke mana-mana" pinta Hannah.

__ADS_1


Oriana dan Olesia menganggukkan kepala bersamaan. Hannah segera pergi untuk bicara pada Lora. Sebagai Orang tua si kembar, Lora harus tau yang sebenarnya.


***


Alexias menghubungi seseorang. Ia terlihat kesal, tetapi ia mencoba menahan amarah. Satu tangannya yang ada di dalam saku celana mengepal.


" ... apa yang kau inginkan, Lex?" tanya seseorang di ujung panggilan.


"Aku ingin kita bertemu. Aku akan segera ke sana. Aku butuh bantuanmu." jawab Alexias.


"Sepertinya keadaan yang darurat. Datanglah, kami semua menyambutmu." jawab seseorang itu.


Alexias langsung mengakhiri panggilannya. Ia mencengkram kuat ponselnya.


"Aku tidak akan mengampuni orang yang ada dibalik ini semua. Siapapun kau, aku akan menemukanmu dan membalas perbuatanmu." batin Alexias.


Alexias segera menemui Hannah, ia ingin berpamitan karena ingin pergi ke suatu tempat. Hannah mengiakan dan mengucapkan terima kasih pada Alexias.


"Maafkan aku. Aku harus pergi ke suatu tempat. Orangku akan berjaga di sini, juga saudariku." kata Alexias.


"Ya," jawab Hannah.


"Kau mau ke mana, Lex?" tanya Agatha.


"Kau tidak perlu tau. Yang jelas aku akan tuntaskan ini dan menghukum mereka semua yang terlibat. Tinggallah dan berjaga. Aku akan datang lagi nanti." jawab Alexias.


"Apa kau gila? biarkaan polisi yang mengurusnya." kata Agatha tidak setuju.


"Polisi tidak akan bisa cepat mendapatkan informasi, Agatha. Tolong jangan halangi aku. Kau tau kan bagaimana aku jika menginginkan sesuatu?" jawab Alexias. Menatap tajam pada Agatha.


Agatha kaget, "Bagaimana bisa Alexias semenakutkan, ini?" batin Agatha.


Alexias langsung pergi. Tekadnya sudah tidak bisa dihentikan. Agatha khawatir jika sesuatu terjadi pada saudara kembarnya. Namun, ia tidak bisa mencegah kepergian Alexias.


"Apa sesuatu terjadi, Nona?" tanya Hannah.


Agatha tersenyum tipis, "Ya, sepertinya begitu." jawab Agatha.


"Apa Paman akan baik-baik saja? Paman akan menangkap penjahat itu, kan?" tanya Olesia.


Agatha mengusap kepala Olesia, "Ya, sayang. Paman akan menangkap mereka semua. Paman juga pasti akan baik-baik saja. Olesia tidak perlu khawatir, ok." jawab Agatha.


"Oh, syukurlah. Aku tidak mau Paman celaka karena orang jahat tadi. Karena kami sudah bersusah payah. Sampai Odellia terluka," kata Olesia.


"Anak baik. Terima kasih," ucap Agatha.


"Anak-anak ini mengkhawatirkan Alexias rupanya. Mereka anak-anak yang manis manis, wajah mereka ... ah, bagaiman bisa wajah mereka mirip denganku dan Alex?" batin Agatha, ia terdiam sesaat.

__ADS_1


*****


__ADS_2