
Alexias*
Karena aku kebetulan bertemu Agatha. Aku pun meminta bantuannya untuk mencari wanita itu. Wanita yang memporak porandakan hati dan pikiranku.
"Agatha ... " panggilku, pada saudari kembarku yang sedang meminum air putih di gelas.
Ia menatpku, "Hm ... " gumamnya. Ia meletakan gelasnya di atas meja. "Ada apa, Lex?" tanyanya padaku.
Aku diam sesaat. Aku ragu, apakah benar aku akan meminta bantuannya. Atau aku akan cari tahu saja sendiri. Ya, meski sejauh ini aku tidak menemukan petunjuk apapun karena pemilik bar tak mengingat banyaknya pengunjung yang datang ke bar.
"Lex, Alexias ... " panggil Agatha.
Aku sedikit kaget, "Ah, ya." jawabku.
Agatha mengernyitkan dahi menatapku, "Ada apa, kenapa kau melamun?" tanyanya lagi.
"Sebenarnya, aku ingin minta tolong padamu. Kau kan punya kenalan informan handal." kataku memberitahunya.
"Ya, lalu?" sambungnya.
"Bantu aku mencari informasi tentang seseorang." jawabku.
"Seseorang? siapa dia?" tanya Agatha ingin tahu.
"Entahlah, aku tidak tahu namanya. Karena itu aku ingin tahu namanya dan latar belakang keluarganya." jawabku.
"Apa kau sudah hilang akal, Lex? bagaimana bisa mencaritahu jika tidak tahu apapun tentangnya. Siapa sebenarnya yang kau cari, itu? Laki-laki atau perempuan?" kesal Agatha.
"Wa-wanita. Dia wanita, cantik dan ... ya, dia juga seksi." jawabku yang tiba-tiba gugup.
Aku jadi teringat akan mimpiku. Sial! Sebelumnya aku tidak begini pada siapapun dan tentang apapun itu. Rasa ingin tahuku selalu kupendam dan akhirnya sirna begitu saja. Namun, setelah mimpi itu, pikiranku dipenuhi oleh wajah wanita itu. Aku ingat wajahnya yang memerah dan juga ingat bagaimana suaranya saat aku mencumbuinya.
"Apa kau sungguh baik-baik saja, Alexias Owen? Aku rasa, kau harus istirahat. Liburlah bekerja atau pergilah rekreasi. Otakmu pasti lelah bekerja selama beberapa tahun terkahir." kata Agatha mengkhawatirkanku.
"Aku baik-baik saja, Agatha. Aku tidak apa-apa."jawabku. Aku tak ingin membuatnya khawatir.
Agatha menarik kursi dan mempersilakan aku duduk dengan tenang.
"Duduklah. Baru bicara yang jelas. Ada apa dengan wanita itu, siapa dia?" tanya Agatha.
Terlihat jelas dari tatapannya, jika ia sangat ingin tahu siapa wanita itu. Aku diam, tetapi aku mengikuti kemauannya untuk duduk di kursi.
__ADS_1
"Kejadian ini sudah lama berlalu, Agatha. Namun, aku tidak bisa melepaskan bayangannya. Aku ingin tahu, siapa namanya dan di mana rumahnya. Aku sangat penasaran padanya yang bisa merobohkan pertahananku. Masih bisa kurasakan sentuhannya, bisa kudengar suara desahanya. Bahkan rasa perih cakarannya di bahu dan punggungku. Aku .... "
Ceritaku tiba-tiba terpotong oleh Agatha yang langsung membuk suara.
"Tunggu, tunggu." selanya memijat keningnya. Ia terlihat kebingungan. "Biarkan aku mencerna ceritamu, Lex. Apa ini? jangan katakan dia adalah wanita yang ... " kata-kata Agatha terhenti. Ia hanya melanjutkan dengan menghela napas.
"Ya, apa yang kau pikirkan benar." sahutku.
"Jadi, kau dan wanita itu melakukannya? kalian melakukannya?" tanya Agatha melebarkan mata.
"Ya, aku melakukannya. Tidak hanya sekali. Malam itu, sepertinya aku melakukannya sampai hampir pagi." jelasku.
"Alexias, kenapa kau tidak beritahu aku sejak awal? mungkin saja aku bisa langsung mendesakmu menikah saat itu juga." kata Agatha.
"Ya, aku tidak menyangka dia pergi meninggalkanku setelah menikmati tubuhku. Saat kubuka mata, hanya ada beberapa lembar uang dan catatan permintaan maaf darinya saja. Aku kira, aku akan bisa melupakannya. Ternyata, tidak bisa. Terlebih, aku baru saja memimpikan kejadian enam tahun lalu." jelasku.
Tanpa kusadari, aku telah menceritakan sesuatu yang bersifat sangat pribadi. Karena terbawa suasana aku mengungkapkan semua yang kupikirkan juga yang ada di dalam hatiku.
Agatha menepuk bahuku pelan, "Ok. Aku akan coba bantu. Di mana aku bisa mencarinya? maksudku, petunjuk. Apa bisa kau ceritakan sedikit awal pertemuanmu kalian?" tanyanya.
Aku hanya bisa mengangguk. Lalu, aku pun menceritakan kembali awal pertemuanku dengannya pada Agatha.
***
"Kau, ok?" tanya Agatha. Ia sedang sarapan bersamaku.
Aku menggelengkan kepala perlahan, "Tidak baik." jawabku.
"Kau libur kerja saja, Lex. Jangan memaksakan diri." kata Agatha.
Setelah lama kupikirkan. Mungkin aku memang harus istirahat. Aku tidak akan bisa fokus bekerja disituasi seperti ini.
"Ya, aku akan istirahat di rumah. Kau hati-hatilah pergi bekerja. Jika tidak sibuk, tolong bantu Ezra dan Johana. Mereka pasti kerepotan jika aku tidak ada di tempat." Pesanku pada Agatha.
"Ya, aku akan bantu mereka. Itu pasti. Kau istirahatlah, jika ada apa-apa hubungi saja aku." jawab Agatha.
Selesai sarapan, Agatha meringkas piring kotornya dan meletakan di dapur. Lalu ia berangkat kerja. Sedangkan aku, masih ingin melihat-liat halaman belakang rumah.
***
Siang harinya. Ezra datang membawa makan siangku. Ia menyiapkan semuanya di meja makan. Aku melihat ada tas di atas meja makan.
__ADS_1
"Apa itu?" tanyaku, menunjuk tas di atas meja makan.
Ezra terlihat gugup, "Itu, itu, itu dessert dan minuman yang saya beli bersamaan dengan makan siang Anda, Tuan." jawabnya.
"Dessert?" tanyaku lagi memastikan.
"Ya, Tuan. Maafkan saya, saya membawanya masuk tanpa seizin Anda." ucapnya meminta maaf.
"Boleh kulihat dessert apa?" tanyaku lagi.
Aku tidak tahu, mengapa aku tertarik melihat dessert yang dibawa Ezra.
"Silakan, Tuan. Apakah Anda ingin? Hm, dessert rasa lemon. Anda kan tidak menyukai rasa dan aroma lemon." kata Ezra.
Meski Ezra bicara seperti itu. Aku masih tetap tertarik ingin melihatnya. Aku penasaranan.
Ezra pun mengikuti kemauanku. Ia membuka kotak dan memperlihatkan dessert yang ia beli. Aneh tapi ini nyata, melihat dessert-dessert itu, aku jadi tergoda ingin mencicipinya.
"Hm, Ezra ... " pangggilku.
"Ya, Tuan." jawabnya.
"Apa boleh aku ambil satu? aku ingin mencicipinya." tanyaku meminta izin sebelum tanganku benar-benar turun mengambil dessert itu.
Ezra terlihat kaget, "Apa? Anda benar-benar ingin makan, ini? ini kan rasa lemon." katanya setengah bergumam.
"Ya, aku tahu. Tercium dari aromany jika ini rasa lemon. Tidak tahu kenapa aku ingin mencicipinya." jawabku.
"Baiklah, Tuan. Saya akan ambilkan piring di dapur." kata Ezra.
"Tidak perlu. Aku makan begini saja." kataku melarang Ezra.
Aku mengambil dan mencicipi dessert itu. Aku seperti bukan diriku. Aku bahkan tanpa ragu dan berpikir panjang untuk langsung menggigit dessert itu.
Tanpa terasa aku mengambil satu per satu dessert dan ku makan habis semuanya. Bahkan minuman dingin rasaa lemon pun kuminum tanpa ragu. Sungguh, ini sangat enak. Aku merasakan perutku kenyang sekarang. Rasa manis asam segar, masih tersisa di rongga mulutku.
Aku melirik ke arah Ezra. Dia menatapku heran. Entah mengapa aku jadi merasa bersalah telah menghabiskan dessertnya.
"Ezra, belilah lagi. Oh, lebih baik kau pergi bersamaku saat beli. Aku ingin makan ini lagi." kataku.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya kaget karena Tuan makan dengan begitu lahap. Mungkin memang Tuan butuh sesuatu yang menggugah selera. Seperti dessert ini. Saya akan ajak Anda ke toko yang menjual dessert ini nanti." jawbanya.
__ADS_1
Ya, syukurlah. Ezra tidak keberatan atas hal aneh yang kuperlihatkan. Setelah kupikirkan baik-baik, aku memang merasa aneh dan janggal. Aku yang menghindari lemon sejak remaja sampai setua ini. Kini begitu menikmati dessert dengan rasa lemon tanpa keluhan.
*****