Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 94. Pesta Ulang Tahun Si Kembar (5)


__ADS_3

Sebelumnya ....


Seorang pria sedang berjalan terburu-buru. Pria itu tidak sengaja menabrak seseorang, yang tak lain adalah Lora.


"Ah, s*al!" batin pria itu mengumpat.


"Maaf, saya sedang terburu-buru." katanya, ia pun langsung pergi tanpa melihat Lora.


Pria itu terus berjalan, ia melihat ada pelayan perempuan yang kesulitan. Dengan itu dia punya alasan untuk masuk ke kerumunan orang-orang di pesta.


"Berikan padaku, akan kubantu. Ini untuk tamu yang di sana, kan?" katanya menjelaskan.


Pelayan perempuan itu sedikit kaget, "Ah, oh ... i-iya. Ini untuk para tamu. Tapi, siapa kau? aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," kata pelayan peremuan itu penasaran.


Pria asing itupun kaget, ia lalu mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau membahas tentang identitasnya, karena ia hanyalah penyamar yang diperintahkan melakukan misi oleh seseorang lain.


"Ah, aku adalah pelayan yang baru dipanggil. Aku menggantikan seseorang yang sakit. Jadi, aku boleh langsung bekerja, kan? aku akan bawa ini, permisi." katanya berpamitan usai menjelaskan identitasnya.


Pelayan perempuan itupun tidak menaruh curiga. Ia lantas mempersilakan pria asing itu untuk lewat dan bekerja. Sejenak pelayan perempuan itu memperhatikan si pria asing. Meski sedikit mencurigakan karena bahasa dan gerakan tubuh yang kaku. Tapi, setelah dilihat pria itu bekerja dengan baik dan ramah. Kecurigaannya tidak beralasan. Pelayan perempuan itupun lalu, pergi menuju tempat lain. Dia melihat ada pekerjaan lain yang harus ia kerjakan.


***


Pria yang menyamar sebagai pelayan itu mulai bekerja sesuai profesi samarannya. Ia memberikan minuman bagi tamu yang ingin minum. Matanya menyelisik sekitar mencari-cari keberadaan si kembar tiga yang akan menjadi targetnya.


"Di mana Anak-anak, itu." batinnya terus mencari.


Ia berjalan berkeliling menjajakan minuman yang ia bawa di nampan di tangannya. Sembari tersenyum ramah penuh kepalsuan pada para tamu undangan. Matanya terus melirik sekitar, kalau-kalau targetnya terlihat. Dan, benar saja. Tidak jauh dari pandangannya, ia melihat si kembar sedang seorang wanita.


Ia lalu menghindar dari kerumunan. Ia berpura-pura meletakan nampan di atas meja, menukar kosong dengan gelas minuman baru ke nampannya. Ia berpikir, bagaimana cara mendekati si kembar karena ada wanita asing di sisi si kembar tiga.


Ponsel pria itu berdering di saku. Pria itu memasang earphonenya dan menerima panggilan dari temannya yang sudah bersiap.


"Hei, sudah kau temukan?" tanya si teman di ujung panggilan.


"Target sudah terlihat. Tapi, dia ditemani wanita asing yang entah siapa. Bagaimana, ini?" kata pria asing itu.


"Bagaimana, apa? mau tak mau kita tetap harus menjalankan misi ini. Buat wanita itu pingsan. Oh, ya. Bagaimana keadaaan sekitarmu?" tanya temannya lagi.


Pria itu melihat ke kiri dan kanan sambil tangannya terus menukar gelas. Ia mengamati situasi dan kondisi sekitarnya.


"Banyak orang. Kau di mana?" tanya pria asing itu lagi.


Tidak lama, ada dua orang yang mendekati pria asing itu dengan alasan meminta minum. Rupanya dua pria asing itu adalah rekan mereka yang berhasil masuk dengan menyamar sebagai pihak keamanan.

__ADS_1


Melihat dua rekannya yang datang membantu, pria itu tersenyum senang. Ia lalu, bertanya pada rekan lainnya di ujung panggilan.


"Aku baru saja menemukan pusat pengaturan listriknya. Aku akan padamkan listriknya dari hitungan sepuluh. Kau bergeraklah. Ah, tunggu. Apa dua rekan kita sudah menemukanmu?" tanyanya memastikan.


"Ya, mereka baru saja menemukanku." jawabnya.


"Ok, aku akan bergerak sekarang. Aku hitung mulai dari sekarang, Sepuluh .... "


Pria itu menatap dua rekannya yang sedang berpura-pura minum, "Hitungan sudah di mulai, kita berjalan ke arah barat. Begitu lampu padam, aku akan lumpuhkan wanita bergaun biru itu dan kalian tangani anak-anaknya. Mengerti?" katanya menatap tajam.


"Menegerti," jawab kedua orang lain serentak.


"Ayo, kita bergerak. Tetap waspada, jangan sampai kita ketahuan." katanya lagi.


Pria itu membawa nampan dan bergerak mendekati Agatha dan si kembar tiga. Dua rekannya berpencar, mendekat ke arah yang sama dari dua arah berbeda.


Sementara itu, seseorang di ujung panggilan masih terus menghitung. Pria itu sudah berada di dekat Agatha, Ia lantas tersenyum dan menawarkan minuman.


"Silakan, Nyonya." ucapnya ramah dan lembut.


"Oh, ok. Jus jeruk saja." kata Agatha. Mengambil gelas berisi jus jeruk dari nampan yang di bawa pria itu.


"Baik," jawab pria itu lagi-lagi tersenyum.


"Aku strawberry," jawab Odellia.


"Aku jeruk," jawab Olesia.


"Aku juga rasa jeruk," jawab Oriana.


"Baik, Nona. Tunggu, saya ambilkan." katanya ramah.


Dengan hati-hati pria itu memberikan satu per satu gelas minuman pada si kembar tiga. Gelas berisi minuman itu, juga langsung diterima oleh di kembar. Agatha dan si kembar tiga bahkan tidak menyadari sisi lain pria asing yang menyamar itu. Kemampuan pria itu sungguh hebat, ia melebihi aktor film. Ia mampu mengelabuhi orang-orang disekelilingnya.


Pria itupun melihat sekeliling, ia melihat dua rekannya sedang berjalan-jalan. Berpura-pura memantau situasi.


"Dua .... "


"Nyonya, saya permisi." pamit pria itu beralasan.


"Satu .... "


Setelah hitungan satu berakhir, lampu seluruh tempat padam. Pria itupun langsung bergerak, memukul tengkuk Agatha, membuat Agatha langsung pingsan. Dua teman pria itu juga langsung memukul satu per satu si kembar tiga agar ketiganya juga pingsan.

__ADS_1


"Aman, kan?" tanya pria asing pada dua temannya.


"Aman, " jawab temannya.


"Ayo, cepat pergi. Waktu kita tidak banyak." jawab pria lain di ujung panggilan.


"Ok," jawab pria asing itu. "Ayo, kita pergi sekarang." ajaknya.


Masing-masing dari mereka menggendong satu anak. Mereka membawa si kembar tiga menuju ke parkiran, di jalan pita rambut odellia terjatuh. Odellia, Oriana dan Olesia dimasukan dalam mobil. Dua orang datang dengan terburu-buru dan langsung masuk dalam mobil bersama-sama


"Ayo, cepat! kita harus pergi dari sini." kata salah seorang yang baru masuk ke dalam mobil.


Ketiga orang yang membawa si kembar juga masuk ke dalam mobil. Salah seorang langsung mengemudikan mobil, mereka semua pergi meninggalkan parkiran dengan menumpangi mobil. Mereka menuju tempat di mana Boss mereka menunggu.


Di jalan, pria yang menyamar sebagai pelayan pun melepaskan pakaiannya dan membuang pakaian pelayan yang baru saja ia kenakan ke jalan.


"S*alan! kalian membuatku tegang saja." kata seseorang yang bertugas mengurus kamera pengawas.


"Haha, salahkan saja dia." sahut seseorang yang memadamkan listrik. Ia menunjuk seseorang yang baru saja membuang pakaian pelayan.


"Apa? kenapa salahku? apa kalian gila? aku bahkan sampai menghajar habis-habisan seorang pelayan demi sebuah pakaian. Kalian b*r*ngs*k!" maki pria itu kesal.


"Hahaha ... lihat, dia jadi marah."


"Sudah, sudah. Sekarang kita akan pergi ke tempat Boss, kan?"


"Ya, " jawab pria asing yang menyamar. "Entah kita akan selamat atau tidak. Kurasa kita pasti akan di buru sekarang," tambahnya.


"Tentu saja. Mereka kan keluarga berpengaruh. Aku saja tidak yakin kita akan bisa melarikan diri. Tapi, karena aku butuh uangnya, mau tidak mau aku ambil misi ini."


"Siapa yang meminta misi gila seperti ini?" tanya seseorang yang bertugas mengurus listrik.


"Wanita yang entah siapa. Yang jelas, dia wanita licik. Aku bisa lihat dari tatapannya tadi." jawab pria asing yang menyamar.


"Sudahlah, untuk apa kita bahas lagi. Yang jelas, kita sudah dapat apa yang kita harus dapatkan. Berikan anak-anak ini pada Boss, kita dapat uang kita dan kita akan jalani hidup kita seperti biasa. Bukankah yang terpenting, setelah menerima uangnya, kita harus melarikan diri sejauh-jauhnya?" kata seseorang yang bertugas mengurus kamera pengawas.


"Kau benar sekali. Pikirkan saja kemana kita akan pergi bersembunyi. Jangan sampai tertangkap, karena kita bisa langsung dibunuh oleh Ayah anak-anak ini." sahut teman di sisinya.


Mereka berlima terus bercakap-cakap di sepanjang jalan. Mereka bahkan saling memberikan arahan dan saran, ke mana sebaiknya mereka pergi setelah menerima upah mereka.


Si kembar tiga yang mereka bawa masih tidak sadarkan diri. Anak-anak itu pingsan, setelah tengkuk mereka dipukul oleh dua orang yang tadi membantu seseorang yang menyamar sebagai pelayan.


*****

__ADS_1


__ADS_2