
Lora*
Aku menunggu-nunggu kedatangan Alexias dan Anak-anak. Alexias masih terlihat sibuk bicara sembari mondar mandir di depan kedai es krim. Sementar anakku entah sedang apa di kamar mandi.
"Apa ku susul saja mereka, ya?" gumamku.
Keputusanku bulat. Aku hendak menyusul mereka. Aku berdiri dari posisi dudukku dan berbalik. Aku kaget saat melihat anak-anakku saling berangkulan. Olesia dan Oriana seperti sedang memapah Odellia. Dan ... benar saja, kulihat lutut Odellia berdarah. Kaki Odellia juga tertatih-tatih saat berjalan.
"Sayang ... kau kenapa?" tanyaku berlari mendekati anak-anakku.
"Mami, maaf ... " kata Odellia menangis.
Aku bingung. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku lalu bertanya lagi pads Oriana dan Olesia.
"Lesi, Annah, ada apa? Lia kenapa?" tanyaku.
"Itu, tadi ... " kata Oriana yang tiba-tiba terdiam.
"Jatuh karena tidak sengaja menabrak orang, Mi. Maaf, kami tadi bermain dan berlari kecil di lorong setelah dari kamar mandi." jelas Olesia.
"Oh, kau ibunya?" suara seseorang asing.
Aku mengernyitkan dahi. Siapa? apa dia bicara padaku? ku alihkan pandanganku menatapnya dan berdiri. Betapa kagetnya aku, melihat seseorang yang tidak ingin kulihat seumur hidupku.
"Kau ... " gumamku.
"Kau ... " kata Evan. Yang terlihat jelas kaget saat melihatku. "Kau, Lora, kan?" lanjutnya bertanya.
"Sayang, dia siapa? kau kenal?" tanya wanita di samping Evan.
Evan menganggukkan kepala, "Ya, dia adalah mantan tunanganku." jawabnya.
Wanita itu menatapku tajam, "Hei, kau. Ajari tata krama pada anak-anakmu. Bagaimana bisa kau punya anak-anak yang nakal dan tidak sopan seperti mereka." katanya.
"Maaf, apa? kau bicara apa?" sahutku.
"Kau tuli, ya. Hah, bisa-bisanya Ibu dan anak-anaknya sama-sama b*doh! aku bilang, ajari anak-anakmu tata krama dan sopan santun." kata wanita itu lagi menjelaskan.
Aku terdiam. Aku tidak tahu apa maksud ucapan wanita ini. Kata-katanya sangat kasar dan menusuk. Dia mengatakan aku perlu mengajari anakku tata krama dan sopan santun. Tidak perlu disuruh pun aku sudah ajarkan sejak dulu. Wanita ini bisa-bisanya asal bicara.
__ADS_1
"Kenapa kau diam, Lora? kekasihku sednag bicara padamu. Apa kau tidak bisa bicara sekarang? Kau bisu?" kata Evan mengejekku.
"Bisakah kalian bicara baik-baik? apa harus berteriak dan membuat anak-anakku ketakutan?" kataku kesal.
"Oh ... jadi, mereka anak-anakmu, ya. Kau sudah menikah rupanya. Dengan siapa? apa pekerjaan suamimu? apa suamimu tahu kau wanita bekas pakai? kau 'kan ku campakan karena kau tidak pulang ke rumahmu pada saat itu. Bukankah kau pergi ke Hotel dengan seorang pria? entah, seperti apa pria yang menghabiskan malam denganmu saat itu." katanya.
Plaakkkkk ....
Suara tamparan keras terdengar. Aku menampar Evan yang bicara memuakkan. Aku tidak tahan lagi mendengarnya bicara.
"Tutup mulut busukmu, Evan! bukankah kau dan Reine yang berkhianat? kalian 'kan yang menjebakku. Kau melemparkan batu lalu, menyembunyikan tanganmu rupanya." Geramku. Aku ingin sekali mencakar wajahnya itu.
Evan meraba wajahnya, "Kau menamparku? hei, wanita j*l*ng! beraninya kau menamparku." kesalnya.
Evan mengangkat tangan ingin menamparku. Aku memejamkan mata dan melindungi wajahku dengan tanganku. Aku terdiam sejenak, aku tidak merasakan apa-apa. Saat ku buka mataku, aku melihat Alexias berdiri di depanku dan mencengkram kuat tangan Evan.
"Hei, siapa kau? lepaskan tanganku!" perintah Evan.
"Apa yang kau lalukan? siapa yang akan kau pukul, hah?" kata Alexias dengan nada suara dingin.
"Aku ingin memukul wanita j*l*ng ini," kata Evan.
"Ouch ... hei, kau. Lepaskan aku. Kau gila, ya. S*al*n! cepat lepaskan tanganku." sentak Evan.
Aku kaget. Ini pertama kalinya aku melihat Alexias seperti ini. Ia seperti harimau yang sudah siap mencabik buruan yang sudah didapatkannya.
"Lex, lepaskan dia." pintaku. Aku mengusap bahu Alexias. Aku tidak ingin masalah ini semakin keruh.
Alexias melepaskan tangan Evan. Lalu memperingatkan Evan.
"Bersyukurlah kau bisa lolos dariku. Tidak akan lain kali. Jika aku bertemu denganmu yang menghina Lora lagi, aku tidak akan segan. Aku akan langsung mematahkan tanganmu." peringatan Alexias untuk Evan.
"Kau gila, ya! apa yang kau lakukan padanya?" kata wanita yang diakui evan sebagai kekasih.
"Dan kau. Jika kau adalah masalah, katakan saja. Kau butuh berapa banyak untuk gaunmu? apa kau terluka? tidak, kan. Anakkulah yang terluka. Bersiaplah menghadapi pengacaraku, Nona. Kau tidak akan bisa lari dari jerat hukuman yang akan kuberikan." kata Akexias. Seketika bulu di sekujur tubuhku berdiri. Aku merasakan aura yang tidak biasa dari Alexias yang sedang kesal.
Kulihat, wanita itu langsung kaget dan melebarkan mata. Evan masih terlihat kesakitan dan hanya peduli pada tangannya. Akhirnya, Evan dan wanita itu pun pergi meninggalkan kami. Aku menggenggam tangan Alexias.
"Terima kasih," ucapku tersenyum.
__ADS_1
Alexias menatapku, "Kau tak apa?" tanyanya padaku.
Aku menganggukkan kepala, "Ya, aku tidak apa-apa." jawabku.
Pria di hadapanku ini pun langsung melihat kondisi anak-anak mereka. Dia menggendong Odellia dan mencoba menenangkan Odellia yang menangis. Aku merangkul Oriana dan Olesi yang juga sedih.
Kami kembali duduk. Alexias meminta bantuan pelayan memberikannya kotak obat. Agar dia bisa mengobati luka di lutut Odellia. Oriana dan Olesia makan es krim, tetapi tetap saja mereka terlihat tidak bersemangat.
Aku kembali ingin tahu, kejadian yang sebenarnya terjadi seperti apa. Olesia pun bercerita. Ia menceritakan dari awal sampai akhirnya terjadi keributan itu. Dengan perasaan penuh emosi Olesia bercerita.
" ... begitiulah. Aku sangat kesal pada Bibi itu. Aku tahu, kami memang salah berlarian di sana. Tapi, kami kan tidak sepenuhnya salah. Kami juga sudah berhati-hati. Kami hanya tidak sangka akan ada Bibi itu yang tiba-tiba muncul." jelas Olesia.
"Pandai sekali anak-anak Papi. Tidak apa-apa. Semua sudah selesai. Mereka tidak akan macam-macam lagi." sahut Alexias.
Aku melihat Alexias mulai mengobati Odellia. Odellia menatap Papinya lekat, aku bisa rasakan perasaan senang penuh cinta dari tatapan itu.
"Lia, buka mulutmu. Mami suapi es krim, ya?" kataku.
Odellia membuka mulut dan memakan es krim di sendok yang ku suapkan. Aku tidak mau dia merintih kesakitan karena rasa pedih. Alexias tersenyum menatapku. Aku tahu maksudnya, tetapi aku hanya diam saja. Aku hanya membalas senyumannya dengan senyuman tipis.
Beberapa saat kemudian, Alexias selesai mebgobati luka Odellia. Alexias mencium lutut Odeliia.
"Tidak apa-apa. Pasti besok sembuh." kata Alexias berusaha menghibur Odellia.
Odellia tersenyum, "Terima kasih, Papi." katanya.
Alexias memangku Odellia, "Ayo, makan esmu. Papi akan suapi," kata Alexias. Ia menatapku, "Kau suapi saja Annah dan Lesi, sayang. Biar aku suapi Odellia." katanya.
"Ya," jawabku.
"Tidak mau, aku mau makan esku sendiri." kata Olesia menyahut.
"Ah, begitu. Kalau Annah, bagaimana?" tanyaku menatap Oriana.
"Aku juga akan makan sendiri, Mami. Aku tidak apa-apa." jawabnya.
Aku senang, anakku sudah semakin mandiri. Aku juga senang, saat melihat Alexias yang dengan sabarnya mengurus Odellia. Tiba-tiba, pikiranku teralihkan. Aku memikirkan Evan dengan wanita asing tadi. Evan mengatakan jika wanita itu adalah kekasihnya. Bukankah dia menjalin hubungan dengan Reine. Apakah mereka putus? atau, ada hal lain yang disembunyikan?
Ah ... lupakan saja. Untuk apa juga aku memikirkannya. Tidak penting bagiku, siapa yang dikencaninya. Toh, aku sudah tidak punya parasaan apa-apa padanya.
__ADS_1
*****