Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 103. Bersenang Senang Sebelum Jatuh (2)


__ADS_3

....


Frans keluar dari dalam bath up. Begitu juga Reine. Digendongnya Aiko keluar dari kamar mandi oleh Frans. Perlahan-lahan Frans melangkahkan kaki mendekati tempat tidur. Dibaringkannya kekasih kesayangannya itu ke atas tempat tidur.


Frans mengecup kilas bibir Reine. Reine yang merasa tidak puas, langsung merengkuh tubuh Frans, membalas ciuman kekasihnya itu. Cukup lama mereka berciuman. Sampai pada akhirnya ciuman keduanya terlepas.


Dirabanya wajah Reine dan mengecup lembut kening Reine dengan durasi cukup lama. Karena gemas dan ingin terus menempel pada Reine, Frans pun mendekap erat tubuh Reine sampai kekasihnya itu berteriak ingin dilepaskan. Frans lalu, berbaring di samping Reine.


Reine kaget, tiba-tiba saja Reine melebarkan mata, "Hei, posisi apa ini? lepaskan pelukanmu," kata Reine. Ia meronta ingin dilepaskan. "Ini sesak, Frans." lanjutnya bersuara.


"Tidak," tolak Frans segera.


"Aku tidak akan melepaskanmu. Aku ingin seperti ini, ingin terus memelukmu." lanjutnya terus mendekap tubuh Reine, bahkan semakin dieratkan pelukannya.


"Frans, posisiku tidak nyaman. Biarkan aku mengubah posisiku, ok. Pelukanmu terlalu erat." bujuk Reine agar ia bisa bergerak bebas.


"Berjanjilah, kau tidak marah. Jika tidak, maka aku tidak akan lepas," kata Frans memberikan syarat.


"Situasi apa ini? ah, pria ini selalu saja seenaknya. Selalu saja ingin untung dan merugikanku," batin Reine.


"Yah, mau bagaimana lagi. Salahku juga yang menyukainya." Lanjutnya dalam hati.


"Aku berjanji. Lepaskan aku sekarang," jawab Reine. Yang pada akhirnya hanya bisa mengiyakan permintaan Frans.


Mendengar jawaban kekasihnya, Frans pun merenggangkan pelukan, perlahan-lahan pelukannya terlepas. Reine bebas sekarang, ia pun segera mencari posisi yang nyaman. Reine berbalik menghadap Frans. Posisi Reine sangat dekat dengan Frans.


Reine menatap dalam mata Frans. "Aku tidak bohong, kan? aku hanya ingin berbaring. Aku juga tidak marah padamu, Frans." kata Reine tersenyum terus menatap Frans.


Frans memeluk Reine lagi, "Ya, terima kasih. Kau tahu? aku sangat menyayangimu, Reine." ucap Frans merasa senang.


Reine merasa aneh saat Frans memeluknya, ia tidak bisa menolak juga tak ingin melepaskan dekapan. Ia merasa pelukan Frans selalu membuatnya nyaman dan terasa aman. Semakin lama dipeluk, semakin enggan untuk terlepas.


Reine tahu benar, jika ia terus terbiasa dengan sikap Frans yang seperti ini. Begitu juga Frans yang juga membiasakan diri dengan menyentuh Reine sesuka hati.


"Aneh, saat bersama Frans, kenapa aku bisa lupa pada Evan, ya? padahal dulu aku mengejar Evan sampai rasanya ingin menyerah." batin Reine.


Reine menatap Frans, Frans terlihat tidak baik. Tatapan mata Frans terkesan kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Apa kau punya masalah, Frans? kau bisa cerita kepadaku," kata Reine.


Frans diam tidak menjawab, begitu juga Aiko yang langsung diam. Suasana hening dan sunyi siang itu. Tidak ada suara yang terucap walau sepatah kata pun dari bibir Frans ataupun Reine .


Sampai akhirnya, Frans angkat biacara beberapa detik berikutnya.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." jawab Frans.


"Apa yang kau pikirkan? apa aku tidak boleh tahu?" gumam Reine menanggapi ucapan Frans.


"Ini masalah keluarga, Reine. Siapa yang bilang kau tidak boleh tahu?dan ... Ada satu orang yang membuatku kesal. Seseorang yang selalu menuntutku untuk sama denganya, menjadikanku kesayangannya di depan orang lain. Pada kenyataanya, aku selalu diabaikan, tidak diperhatikan ataupun dipedulikan. Beliau memandang dari jarak yang jauh, hanya karena aku satu-satunya penerus keluarga, Beliau selalu mengekangku belajar dan ingin aku mengikuti jejak beliau. Salahkah, jika aku seperti ini? berpisah dengan beliau dan berjuang sendiri meraih mimpiku? Ini juga bukan kemauanku. Aku tidak suka berlari dari masalah. Aku selalu berusaha agar aku terlihat baik, namun pada akhirnya aku hanya menelan rasa kecewa. Tidak ada orang yang bisa memahamiku." panjang lebar Frans bercerita.

__ADS_1


Frans menceritakan apa yang ia rasakan, apa yang ia jadikan beban pikirannya selama ini kepada Reine. Hanya Reine, satu-satunya orang yang tahu. Apa yang Frans alami selama ini.


Mendengar cerita Frans, meski Reine masih tidak memahami, tetapi ia merasa kasihan. Ia mengubah posisinya lagi, ia memeluk dan mengusap kepala Frans juga bahunya. Reine menepuk pelan punggung Frans , sekaan menghibur Jonathan.


"Jangan sedih. Kau adalah pria tangguh yang aku temui. Jika itu aku, pasti sudah akan berbeda cerita. Aku tidak tahu pasti, apa dan bagaimana kau mengalami semu ini. Tapi, jika ini keluargamu, harusnya kau bersyukur. Bukankah kau masih punya Papa dan Mama? Lihat aku, Frans. Aku seorang yatim piatu. Keluargaku satu-satunya hanya Paman, Bibi dan Lora, sepupuku." Reine juga bercerita, ia mencoba menenangkan Franas.


Frans kaget, ia membuka lebar matanya dan menatap Reine. Begitu juga Reine yang menatap Frans dengan tajam. Pandangan keduanya saling bertemu.


Pada Saat saling memandang, tangan Reine tidak diam. Tangannya mengusap lembut kepala Frans dan Reine menorehkan senyuman.


Melihat senyuman Reine, juga mendapat perlakukan penuh kasih dari Reine. Frans merasakan senang. Ia bersyukur, atas apa yangia terima. Karen teramat senang, jantungnya berdegup kencang. Degupan jantung Frans semakin cepat dan tidak terkendali.


Deg ... deg ... deg ....


"Maaf, sayang. Aku tidak bermaksud mengeluh. Hanya saja ... ya, kau taulah. Banyaknya tuntutan dan aturan membuatku jenuh juga merasa frustasi." kata Frans.


"Boleh aku tahu, apa tuntutan keluargamu?" tanya Reine ingin tahu.


"Setelah menuntutku bekerja keras seperti robot, sekarang Papaku kembali berulah. Beliau hendak menjodohkanku dengan anak dari sahabat baiknya. Aku sudah menolak dan langsung kukatakan, jika aku sudah punya kekasih. Tapi, tetap saja beliau tidak percaya." cerita Frans lagi.


"Kenapa tidak kau coba. Siapa tahu saja wanita itu tipemu." sahut Reine.


"Aku tidak mau. Tipeku cuma kau. Jika harus menikah, aku hanya akan menikah denganmu." jawab Frans.


Reine kaget, "Apa?" gumam Reine.


"Tidak ada pengulangan ucapan," jawab Frans.


"Bagaimana, ini? " batin Reine.


Reine pun tersenyum untuk menutupi rasa canggungnya.


"Jangan tersenyum," kata Frans tiba-tiba. Ditatapnya dalam mata Reine.


Reine mengernyitkan dahinya, "Kenapa?" tanya Reine menatap tajam ke arah Frans. "Kenapa aku tidak boleh tersenyum?" tanya Reine lagi. Ia penasaran ingin tahu apa sebabnya ia tidak boleh tersenyum.


"Jangan memancingku. Jangan membuatku berdebar," sambung Frans sesaat setelah Reine bertanya. Ia mengakui perasaanya yang berdebar.


Reine mencerna ucapan Frans dan tidak lama kemudian tertawa. Entah mengapa, hati Reine merasa geli.


"Hahaha ... dasar kau. Apa maksudmu? tidurlah, kau sudah cukup bicara melantur." kata Reine menanggapi ucapan Frans. Ia lalu, mengusap kepala Frans. "Satu atau dua jam lagi kubangunkan. Kau rapat pukul berapa?" tanya Reine ingin tahu.


"Pukul empat sore. Tapi, aku ingin terus di sini. Ingin terus bersamamu." kata Frans sedih.


"Kita bisa bersama sepulang kau kerja, kan. Kau tadi semangat sekali, sampai menolakku. Sekarang sikapmu begini. Kekanak-kanakan sekali." gerutu Reine.


Frans mengecup pipi Reine, "Aku mencintaimu," ucap Frans


"Kenapa kau mau menuruti semua keinginanku, Frans? kenapa kau tidak menolak saat kuperintahkan ini dan itu?" tanya Reine penasaran.

__ADS_1


"Tidak alasan untukku menolak. Karena aku adalah kekasihmu. Aku terikat olehmu," jawab Frans tenang.


"Lalu, jika tidak terikat, kau akan menolak?" tanya Reine lagi.


"Tentu saja. Untuk apa aku mengiyakan ucapanmu. Kau bukan siapa-siapa bagiku," kata Frans tanpa ragu.


"Begitu, ya." ucap Reine sedikit kecewa. Ia lalu tersenyum, "Benar juga. Aku bukan siapa-siapa." kata Reine.


"Kenapa? kau terlihat kecewa dengan jawabanku." tanya Frans.


"Tidak. Aku tidak kecewa," elak Reine berbohong.


"Apa yang kau pikirkan, aku tahu jelas, Reine. Jangan berbohong." Frans mengusap kepala Reine perlahan.


"Ternyata kau tidak terlalu menyukaiku. Terima kasih sudah jujur mengatakan perasaanmu, Frans" kata Reine yang langsung murung.


Frans terkejut, "Hei, kau salah paham. Aku tidak katakan aku tidak menyukaimu. Dari mana kau mendapatkan kata-kata seperti itu? jangan salah paham dan jangan banyak berpikir. Aku menyukaimu, Reine. Aku menyayangimu. Aku juga mencintaimu. Sungguh, aku tidak bohong. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Jika bukan karenamu, untuk apa aku lakukan ini semua? jelas Frans, menekankan setiap ucapannya.


"Suka seperti apa?" tanya Reine lagi.


"Apa, ya? aku tidak bisa jelaskan. Yang jelas aku tidak bisa membencimu meski terkadang kau membuatku kesal. Aku juga tidak bisa mengabaikanmu. Entah mengapa aku merasa punya tanggung jawab penuh atasmu," jawab Frans mengungkapkan perasaannya.


Frans mengubah posisi tidurnya. Ia lalu, menarik napas dalam dan mengembuskan napas perlahan. Beberapa kali ia mengulangnya.


***


Sore harinya ....


Reine kaget, ia melihat tangan yang melingkar di perutnya. Ia juga merasakan jika di punggungnya Frans menempel. Frans mengusap-usap kepalanya ke punggung Reine.


"Kau belum berangkat? sudah pukul berapa, ini?" tanya Reine yang sibuk menata dapur. "Pergilah, sayang. Aku tidak apa-apa sendirian. Kau bisa terlambat rapat nanti." kata Reine lagi menegaskan.


Frans menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak mau," jawab Frans lemas. Ia mengeratkan pelukan, "Aku tidak mau pergi. Sekalipun kau mendorongku pergi. Siapa tadi memintaku jangan pergi, sekarang aku diusir." jelasnya bersikeras tidak mau pergi dari sisi Reine.


"Jadi, Kau tak mau pergi? Kau tidak akan rapat?" tanya Reine memastikan.


Frans menggelengkan kepala. Melihat itu, Reine tersenyum tipis. Ia pun segera berbalik menghadap Frans. Dikecup lembut kening Frans.


Frans berbalik mengecup kening Reine. Kecupan itu perlahan turun di kedua kelopak mata lalu di pipi kiri dan kanan, sampai akhirnya kecupan Frans berakhir di bibir Reine. Mata Reine membulat sempurna. Kecupan bibir yang ringan berubah menjadi ciuman lembut. Dirasakannya tepi bibirnya digigit lembut oleh Frans.


Lidah Frans menelusuri rongga mulut Reine dengan lihainya. Ciumannya begitu lembut hingga membuat Reine terhanyut di dalamnya. Reine pun membalas ciuman Frans, ia juga menggigit lembut bibir bawah Frans. Ia membalas perlakuan Frans padanya.


Reine juga menggunakan lidahnya menelusuri rongga mulut Frans, lidah keduanya bertemu dan saling melilit. Ciuman itu perlahan-lahan mulai memanas. Lidah dan bibir mereka saling menyatu, sedangkan tangan keduanya saling menjalar entah ke mana.


"Kenapa dia seperti ini? bagaimana ini? ciuman ini sangat manis. Aku, aku, aku tidak akan pernah bisa membenci dan menolaknya. Justru sebaliknya, aku justru menyukainya. Ya, aku sangat menyukai ciuman ini. Sangat ... " batin Reine yang langsung membalas lagi ciuman Frans.


Reine membuat Frans terkejut dengan sikapnya yang ingin mendominasi. Frans melebarkan mata saat dengan agresifnya Reine melahap seluruh bibirnya dan menjadi dominan. Ia lalu, tersenyum tipis, pasrah menerima perlakuan Reine. Ia ingin tahu seberapa liar wanita yang membuatnya berdebar itu.


"Lakukan apa saja yang kau mau lakukan, Frans. Yang terpenting saat ini, aku inginkan kau menemaniku. Temani aku, Frans. Temani aku," batin Reine.

__ADS_1


Cukup lama keduanya saling berciuman. Tidak beberapa lama, keduanya saling melepas ciuman. Mereka saling menatap satu sama lain. Pandangan mata mereka saling bertemu. Frans dan Reine saling mengembangkan senyuman. Beberapa detik berikutnya, mereka kembali saling berciuman mesra.


*****


__ADS_2