
Di pusat perbelanjaan ....
Alexias, Lora, Oriana, Olesia dan Odellia sedang berjalan-jalan. Alexias menggandeng tangan anak-anaknya, demikian juga Lora.
"Kita sudah sampai. Kalian bertiga mau ke mana, Anak-anak?" tanya Alexias.
"Bagaimana kalau makan lebih dulu, Lex. Kita belum makan siang, kan." usul Lora menyahut.
Alexias menatap Lora, "Oh, begitu juga boleh." jawabnya. Ia lalu, menatap anak-anaknya, "Bagaimana dengan kalian, kesayangan Papi. Mau makan?" tanyanya pada Oriana, Olesia dan Odellia.
Ketiganya menganggukkan kepala bersamaan tanda setuju.
"Mau, Pi. Mau ... " jawab Oriana.
"Makan steak ... " kata Olesia dan Odellia bersamaan. Kedua anak itupun saling menatap dan langsung tertawa. Merek merasa senang karena bisa menjawab secara kompak.
Lagi-lagi Alexias menatap istrinya, "Bagaimana menurutmu, sayang? apa boleh anak-anak makan steak lagi? karena kemarin kita sudah seharian makan steak, kan." Alexias bertanya dulu pada Lora. Takut, jika ia langsung mengiakan akan membuat Lora marah atau kesal.
Lora sesaat melihat anak-anaknya. Ia tahu benar, jika steak adalah makanan kesukaan anak-anaknya. Karena itu Lora kadang juga merasa tidak bisa memberikan batasannya. Tapi, kali ini Lora menolak permintaan ketiga anaknya dan mengajak mereka makan pasta dan sup.
"Sayang, anak-anak. Bukan Mami tidak izinkan, tapi kan kita kemarin sudah makan siang dan makan malam dengan steak. Daging memang menyehatkan. Tapi kan tidak boleh juga dimakan terlalu sering. Kuta bisa makan ayam, sup, sayur, atau yang lain juga. Kalian ingat kan pesan Nenek Erlisa dan Nenek Merlyn, juga Nenek Rosella? Jika makan sesuati yang disukai tidak boleh ... " Lora sengaja menjeda ucapannya. Agar ketiga anaknya mau menjawab.
"Berlebihan," jawab Oriana.
"Berlebihan. Hahhh ... " jawab Olesia, sambil menghel napas karena sedih.
"Berlebihan," jawab Odellia menunduk.
Ketiganya sedih, karena mereka tidak diizinkan makan steak. Lora mengusap kepala satu persatu anak-anaknya, memeluk juga mencium kening mereka.
"Apakah kalian marah pada Mami? Maafkan Mami, anak-anak." kata Lora yang juga ikut sedih.
Alexias berlutut di samping istrinya, "Ah, begini saja. Sebagai gantinya, bagaimana jika kita ke arena bermain anak yang ada di sini. Papi dan Mami izinkan kalian bermain sampai puas. Kita akan pulang sebelum makan mapam. Bagaimana? tidak buruk, kan?" usul Alexias. Ia tidal ingin anak-anaknya sesih karena tidak boleh makan steak yang merupakan makanan kesukaan ketiganya.
"Boleh makan es krim?" tanya Olesia lagi tiba-tiba. Dengan mengumpulkan keberanian, Olesia bertanya. Setelah usulan makan steaknya ditolak sang Mami.
Lora dan Alexias saling bertatapan. Mereka tersenyum lalu, Lora menggelengkan kepala. Sedangkan Alexias hanya mengangkat kedua bahunya.
"Astaga ... kau ini, ya. Steak tidak boleh minta es krim." kata Lora menarik pelan hidung Olesia. ia pun berpikir sejenak lalu, "Baiklah. Mami izinkan. Besok tidak boleh, ya. Ok." lanjut Lora.
Olesia tersenyum, ia matap Odellia dan Oriana dengan perasaan senang. Tidak hanya dirinya yang emrasa senang, ternyata Oriana dan Odellia juga. Ketiga pun bersorak dan berterima kasih kepada Mami mereka karena sudah diizinkan makan es krim.
"Yeah ... " sorak Olesia.
"Asik, es krim. " ungkap Odellia. "Aku mau es krim cokelat dengan potongan buah stroberry." lanjutnya bicara. Odellia sudah membayangkan bentuk es krim yang diinginkannya.
"Ayo, Papi, Mami. Cepat-cepat, kita makan es krim." kata Oriana tidak sabar.
"Eh, makan siang dulu." kata Lora menegaskan.
Si kembar tiga saling menatap satu sama lain dari saudari mereka. Lalu, ketiganya menganggukkan kepala bersamaan mengiakan ucapan Lora. Mereka menurut, setidaknya mereka dapatkan es krim walaupun kehilangan steak.
Lora berdiri, begitu juga Alexias. Mereka lalu, menggandeng tangan si kembar tiga untuk berjalan menuj u sebuah restoran atau tempat makan yang ada di pusat perbelanjaan. Hal buruk terjadi, baru saja mereka berjalan beberapa langkah. Tas yang dibawa Lora berhasil dibawa lari seseorang tidak dikenal.
"Tasku ... " teriak Lora.
Pencuri itu langsung berlari kabur membawa tas Lora. Melihat itu, Alexias menitipkan anak - anak, la juga segera melepas jasnya lalu, diberikan pada istrinya dan langsung pergi mengejar pencuri.
"Sayang, jaga dulu anak-anak. Dan baqa ini," kata Alexias memberikan jasnya pada Lora.
__ADS_1
Lora menerima jas suaminya, "Oh, kau ..." kata Lora terhenti karena Alexias sudsah berlari mengejar si pencuri.
Melihat kepergian suaminya, Lor memeluk jas suaminya dan langsung mengajak anak-anaknya mencari pihak keamanan pusat perbelanjaan, guna mencari bantuan.
***
Aksi kejar - kejaran pun di mulai. Pencuri itu turun dengan terburu-buru menuruni eskalator. Di belakang, Alexias mengejar. Karen tau jarak mereka cukup jauh, Alexias pun lalu, mencari jalan lain. Ia tidak mengejar dari belakang, melainkan dari samping.
Alexias berlari menyelinap di antara baju-baju yang dipanjang untuk di jual. Ia menatap ke arah si pencuri yang terus menatap ke belakang, ke kiri dan kanan, seperti sedang mencari sesuatu.
Sampai Alexias menemui jalan buntu. Ia terpaksa memanjat dan melompati pembatas. Alexias semakin dekat dengan si pencuri. Saat tangannya hendak merain baju si pencuri, Alexias bertabrakan dengan seseorang. Membuat seseorang itu dan belanjaanya kocar kacir.
"Umh, maaf. Saya bantu," kata Alexias, bergegas mrngumpulkan tas belanjaan lalu, memberikan pada seseorang. "Saya sedang terburu-buru. Maaf sekali lagi," Alexias kembali berlari mengejar si pencuri.
"Ah, jarak kami semakin jauh lagi." batin Alexias.
Karena Alexias yang sempat memungut tas-tas dan menggentikan pengejaran. Jarak antara dirinya dan si pencuri semakin melebar. Pencuri itu menuju pintu utama keluar masuk pusat berbelanjaan hendak kabur.
"S*al! Dia mencoba kabur." batin Alexias lagi.
Alexias lalu melihat ada seorang petugas kebersihan mendorong sebuah keranjang berisikan sapu dan alat pel. Rupanya petugas itu sedang bertugas. Muncul sebuah ide dalam benak Alexias. Ia berusaha menghentikan pencuri dengan cara yang ada dipikirannya.
"Permisi. Saya pinjam ini. Nanti saya ganti dan akan bertanggung jawab pada atasan Anda. Ini darurat," kata Alexias langsung menarik keranjang dan mendorongnya sekuat tenaga menuju si pencuri.
"Maaf, tolong minggir!" seru Alexias.
Semua orang yang tahu langsung memberi jalan dan minggir dai jalan yang hendak dilalui Alexias. Semua heran, apa yang akan Alexias lakukan. Semua orang berbisik, penasaran dan ingin tahu itulah yang orang-orang pikirkan. Diras sudah tepat, Alexias langsung mendorong sekuat tenaganya keranjang berisi penuh alat kebersihan ke arah si pencuri. Tujuannya adalah, untuk menghentikan si pencuri berlari.
Benar saja. Keranjang besar yang penuh dengan alat-alat kebersihan itu berhasil menabrak tubuh bagian belakang si pencuri dan membuat si pencuri itu terjatuh lalu, tersungkur di lantai. Melihat itu, dengan cepat Alexias berlari mendekatinya.
"S*al*n! kau membuatku berkeringat. Beraninya kau!" sentak Alexias. Ia menarik krah pakaian si pencuri, ingin melihat wajah si pencuri.
"Maaf?" kata Alexias menatap tajam dan dingin pada si pencuri.
Alexias dan si pencuri dikerumi orang-orang. Sedikit demi sedikit orang-orang mendekat dan ingin melihat. Apa yang sedang terjadi. Terlihat wajah pencuri di hadapan Alexias pucat pasi. Dia lalu menunduk seakan malu dengan apa yang telah ia perbuat. Malu juga karena tertangkap dan dilihat banyak orang.
Melihat tidak adanya perlawanan, Alexias menurunkan emosinya dan bersikap tenang. Tidak beberapa lama, Lora dan si kembar tiga bersama petugas serta Manager pusat perbelanjaan datang. Mereka semua menghampiri Alexias dan si pencuri.
"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Lora khawatir.
Alexias menatap istrinya, "Sayang, kau kenapa bisa ke sini?" tanya balik Alexias.
Lora telihat panik. Ia meraba wajah suaminya seakan sedang melihat apakah suaminya baik-baik saja atau tidak.
"Hei, aku baik-baik saja. Jangan cemas," kata Alexias. Ia tahu jika istrinya cemas dan panik. Karena tangan Lora terasa dingin di wajahnya.
"Sungguh?" Lora seakan tak yakin. Karena ia melihat suaminya begitu berantakan.
"Iya, sayang. Ah, kau membawa keamanan, ya." Alexias menatap beberapa keamanan lalu, menatap Lora lagi.
"Ya, aku langsung minta tolong diantar ke kantor keamanan yang kebetulan letaknya tidak jauh. Lalu, kami ke kantor Pengelola dan aku bertemu Manager pengelola di sini." jelas Lora.
Seseorang yang disebut sebagai Manager pusat perbelanjaan pun mendekati Lora dan Alexias. Dia meminta maaf, dan bertanya tentang keadaan Alexias.
"Hallo, Tuan. Kami mewakili seluruh staf karyawan pusat berbelanjaan meminta maaf. Karena Anda mengalami hal buruk di tempat kami, di mana tempat kami ini sedang beroperasi." katanya Ramah.
"Oh, tidak apa. Hanya saja, kita perlu mengurus ini." kata Alexias, yang masih memegang krah baju si pencuri.
"Kita ke ruang keamanan saja, Tuan. Saya sendiri yang akan memanggil polisi." kata Manager.
__ADS_1
Akhirnya, si pencuri digiring menuju ruang keamanan. Di sana, si pencuri di cecar oleh Alexias karena Alexias penasaran dengan motif si pencuri.
Si pencuri itu diminta Alexias melihat ke monitor, di sana ia melihat rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan aksi jahatnya. Si pencuri pun menangis. Dia lalu, mengatakan sesuatu hal. Ya, dia mengakui semuanya kepada Alexias.
"Sa-saya be-bersalah. Ma-maafkan saya, Tuan. Tolong, maafkan saya. Saya, saya, saya terpaksa mencuri. Ka-ka-ka ... hiks ... ka-karena saya butuh uang. Hiks ... " kata si pencuri.
Si pencuri itu masih seorang remaja berusia lima belas tahun yang putus sekolah dan kesehariannya hanya menjual koran di kios milik Neneknya. Dia pun menjelaskan, jika sang Nenek sakit parah dan dia tidak bisa membawa Neneknya ke rumah sakit. Uang dari berjualan koran dan majalah serta buku tidaklah cukup untuk kebutuhan berobat sang Nenek ke dokter. Uang tersebut hanya bisa ia pakai untuk beli kebutuhan sehari-hari dan obat ala kadarnya yang dia beli di apotik agar sang Nenek tidak terlalu kesakitan.
" ... a-ampuni sa-saya, Tuan. Saya mohon." si pencuri itu langsung berlutut dan bersujud di kaki Alexias memohon ampunan. "Ini pertama kalinya saya melakukannya. Saya mohon, Tuan. Maafkan saya kali ini. Saya mohon." katanya terus memohon sambil menangis tersedu-sedu.
Lora tidak tahan, ia mendekati Alexias dan menarik tangan Alexias untuk diajaknya pergi. Keduanya lalu, keluar dari dalam ruangan dan berbicara di depan pintu.
"Sayang, ada apa?" tanya Alexias.
"Umh, itu. Umh ... " gumam Lora. Ia berat untuk bicara, karena takut Alexias tidak akan setuju dengan idenya.
"Apa? kau mau memberinya kesempatan dan nenolong Neneknya?" tanya Alexias langsung menebak isi pikiran istrinya.
Lora kaget, "Ba-bagaimana kau bisa tau apa yang kupikirkan?" tanya Lora menatap Alexias.
"Sebenarnya, aku juga berpikir demikian. Mendengar dan melihatnya secara langsung, aku yakin dia tidak berbohong. Akan lebih baik jika kita menemui Neneknya dan membawanya ke rumah sakit. Bagaimana menurutmu?" tanya Alexias.
"Ide bagus, sayang. Ayo, kasian jika Neneknya terlalu lama menunggu. Anak tadi juga kasian, dia memang melakukan kesalahan, tetapi kan dia tidak bermaksud jahat." kata Lora.
Alexias menganggukkan kepalanya. Mereka lalu, masuk kembali ke dalam ruangan. Si pencuri masih di posisi berlutut dan tidak bergerak sedikitpun. Sesekali terdengar samar suara sesenggukan.
Lora mendekat si pencuri, "Nak, bangunlah." pinta Lora, membantu si pencuri berdiri.
"Maafkan sa-saya, Nyonya. Ma-maafkan sa-saya." ucap si pencuri sesenggukan. Terlihat jelas jika dia menyesali apa yang telah dia perbuat.
Lora tersenyum, "Sudah, jangan menangis lagi. Lihat, wajah tampanmu berubah menjadi jelek." Lora berusaha menghibur. Diusapnya kepala dan disekanya air mata si pencuri itu.
Sementara Lora sibuk menenangkan si pencuri, Alexias sedang bicara pada Manager dan pihak keamanan. Alexias menjelaskan niatannya, dan meinta izin membawa si pencuri untuk dipulangkannya.
***
Alexias, Lora dan si kembar tiga mengantar si pencuri pulang ke rumah. Si pencuri duduk di bangku di samping bangku kemudi. Sedangkan Lora di bangku belakang dengan Oriana, Olesia dan Odellia.
"Siapa namamu?" tanya Alexias.
"Christopher. Christopher Lyonel." jawab si pencuri.
"Jadi, kau putus sekolah sejak kapan?" tanya Alexias lagi.
"Sejak tahun lalu." jawabnya.
"Alasannya kau putus sekolah? aku tahu kau tadi sudah jelaskan jika kau memilih untuk bekerja dan mengelola kios kecil milik Nenekmu. Tapi, kau pasti punya alasan lainnya, kan?" tanya Alexias.
Christopher me ganggukkan kepala, "Ya, Amda benar. Di sekolah saya juga diasingkan. Hanya karena saya seorang yatim piatu dan dipungut oleh Nenek. Saya diejek oleh teman-teman. Saya memang miskin, karena itu saya mau membantu Nenek berjualan koran dan majalah. Dan saya tidak pernah sekalipun menceritakan kondisi saya pada Nenek, karena saya tidak mau membuat Nenek bersedih." Christopher mengungkapkan semuanya.
Alexias terdiam sesaat, "Hm ... mengesampingkan kejadian tadi. Aku cukup bangga padamu, Nak. Kau mau membantu Nenek dan tidak mau membuat Nenekmu sedih. Kau tenang saja, soal Nenekmu. Aku akan bantu." kata Alexias.
Christopher menatap Alexias, "Sungguh, Tuan? anda akan membantu saya?" katanya seakan tidak percaya.
Christopher tidak menyangka jika Alexias akan membantunya untuk Neneknya. Ia kira, ia hanya akan diantar pulang saja.
"Oh, kau bisa panggil aku, Paman. Dan kau bisa pakai bahasa santai padaku." Pinta Alexias.
Christopher diam, ia tidak tahu. Apakah ia harus senang atau sedih. Ia merasa malu, saat mengingat kejadian di mana dia menarik tas milik Lora dan membawanya lari.
__ADS_1
*****