
Setelah makan malam bersama Hannah dan dijemput oleh Alexias. Lora mengajak Alexias ke bar untuk minum. Alexias tidak melarang, ia menuruti Lora dan membiarkan istrinya itu minum sepuasnya. Sampai hampir tengah malam, mereka baru pulang.
Entah apa yang Lora pikirkan. Ia melakukan hal gila di luar batasannya. Tanpa sadar ia mencetak jejak ciuman di dada suaminya. Hal itu, tentu saja membuat Alexias terkejut sekaligus kelabakan. Ia tidak menyangka jika Aiko berani menandainya seperti itu di tempat umum.
"Sayang, apa yang kau lakukan. Kita masih diparkiran." kata Alexias.
"Hehe ... " kekeh Lora puas melihat hasil karyanya. "Ternyata mudah melakukannya, ya. Lihatlah, sayang. ini jejakku. Jejak ciumanku yang sempurna," kata Lora menunjuk tanda merah di dada Alexias.
"Berani sekali kau, hum. Aku akan menghukummu." kata Alexias menatap lekat mata Lora.
Lora tersenyum, ia kembali mencium bibir Alexias gemas. Dilahapnya habis sampai membuat Aelxias sesak untuk bernapas. Tidak lama kemudian Lora melepas ciumannya dan menyandarkan kepalanya ke dada Alexias, Lora pun tertidur.
"Sayang," panggil Alexias.
"Apa dia tidur?" batinnya bertanya-tanya pada diri sendiri.
"Hei, Lora. Kau baik-baik saja?" tanya Alexias menadahkan wajah istrinya, agar dia jelas melihat.
Dilihatnya mata Lora yang terpejam, tanda jika Lora sudah terlelap tidur. Alexias menarik napas dalam lalu mengembuskan napasnya perlahan. Wajahnya memerah saat ingat berata agresifnya Lora tadi.
"Apa-apaan ini. Setelah kau merayuku, menciumku bahkan sampai mengigitku. Kau dengan mudahnya terlelap tidur seperti ini. Dasar tidak bertanggung jawab." batin Alexias menggerutu, dengan wajah merona.
Tidak terbayangkan oleh Alexias jika Lora akan bertindak gila. Jika ia akan mengalami hal yang membuuat dadanya bergemuruh. Itu semua, hal yang ada di luar pikirannya. Jangankan mengharapkan mencium Lora di tempat umum, bisa bermesraan dengan istrinya di temoat umum saja, ia sudah sangat senang. Tidak tahu, apakah hari itu ia harus bahagia atau sedih. Karena ia tahu, apa yang dilakukan Lora adalah tindakan di luar kesadaran karena mabuk.
"Kejadian ini, sepertinya hanya aku yang akan ingat. Kau pasti akan melupakannya karena kau sedang mabuk. Meski begitu, aku tidak akan meminta maaf, dan tidak akan berterima kasih karena kau sudah menciumku lebih dulu. Hahhh ... " batin Alexias sedikit kecewa, sembari menghela napas panjang.
Beberapa saat kemudian, Alexias membenarkan posisi Lora. Ia merebahkan Lora perlahan dan kembali mengemudi mobilnya menuju mansion. Alexias membawa istrinya pulang.
***
Sesampainya di mansion. Alexias mencoba membangunkan Lora. Namun, Lora tidak kunjung bangun dan membuka mata. Ia malah bergumam-gumam tidak jelas.
"Sayang bangun. Kita sudah sampai," panggil Alexias. Ia mengusap wajah istrinya itu dengan lembut. "Sayang, ayo bangun. Kita sudah sampai." katanya algi berbisik di telinga Lora.
"Umh ... " gumam Lora tanpa membuka matanya.
"Hei, kau tidak mau bangun? aku akan mnciummu lagi nanti." bisik Alexais gemas. Ia mengusap-usap wajah Lora yang cantik.
__ADS_1
"Hm ... " gumam Lora lagi. Masih dengan kaadaan mata tertutup. Lora hanya mengubah posisi kepalanya saja.
Alexias tersenyum menggelengkan kepalanya perlahan. "Wanita ini benar-benar menguras emosi saja. Di depan laki-laki dewasa dia sama sekali tidak waspada." katanya yang langsung keluar dari dalam mobil.
"Bagaimana jika kau bersama pria lain selain aku? kau sudah pasti akan diterkam, Lora." batin Alexias.
Alexias turun dari dalam mobil. Ia melangkahkan kakinya mendekati sisi mobil yang lain. Ia pun membuka pintu mobil dan membantu Lora keluar dari dalam mobil. Ia menggendong Lora lalu, berjalan cepat menuju pintu utaman mansion.
"Mau tak mau aku harus menekan bel. Entah, masih ada orang yang belum tidur tidak. Semoga saja ada yang membuka pintu," batin Alexias berharap.
Ditekannya dengan siku bel mansion itu. Alexias dengan sabar menunggu pintu dibuka sambil berdiri menggendong Aiko. Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka. Martha yang memang tinggal serumah dengan Alexias dan Lora pun kaget saat melihat Tuannya menggendong Nyonyanya.
"Tuan," sapa Martha kaget.
"Ah, Martha. Maaf mengganggu, ya. Aku tidak bisa buka pintu karena sudah terlanjur mengendong Lora tadi." kata Alexias tidak enak hati pada kepala pelayannya.
"Tidak apa-apa. Silakan masuk lebih dulu." Pinta Martha membuka lebar pintu rumah.
"Ah, iya. Astaga. Aku sampai lupa." gumam Alexias.
"Terima kasih," ucap Alexias yang langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar tidurnya.
Ia membaringkan tubuh istrinya ke atas tempat tidur. Lalu ia membuka sepasang sepatu yang dikenakan istrinya itu. Ia juga menaikan selimut untuk menyelimuti Lora sampai sebatas leher.
"Terima kasih, Martha. Kau belum tidur? " tanya Alexias.
"Ya, sama-sama. Saya baru ingin mengambil air minum dan mendengar bel berbunyi. Saya ingat jika tadi Anda pergi dan belum kembali pulang." jawab Martha dengan jelas.
Alexias menatap Martha "Ya, aku lupa. Harusnya aku buka pintu dulu lalu menggendongnya. Tapi, yang kulakukan justru sebaliknya. Pada akhirnya seperti ini." jelas Alexias tersenyum.
"Maaf, Tuan. Saya lancang bertanya. Tapi, apakah ada sesuatu? sampai Nyonya minum alkohol dan ambuk? tanya Martha ingin tahu
"Tidak apa, Martha." jawab Alexias. Ia kembali menatap Martha. "Mungkin hanya sedikit stres saja mendengar cerita temanya. Kau kan tahu Nyonyamu ini seperti apa. Dia tipikal orang yang tidak bisa diam saja menghadapi keluhan seseorang." lanjut Alexias bicara.
"Ah, begitu. Say sudah banyak berpikir ternyata. Oh, apa Anda butuh sesuatu? minuma atau hal lain?" tawar Martha.
"Ah, iya. Tolong hangatkan susu untukku. Aku juga sedikit lapar. Apa ads cemilan yang bisa kumakan? tadi aku terburu-buru pergi dan aku hanya terlalu fokus memperhatikan istriku saja." kata Alexias.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Saya akan hangatkan susu dan siapkan cemilan. Anda bisa berganti pakaian lebih dulu." kata Martha.
"Tidak perlu. Aku langsung ke dapur saja. Setelah minum susu dan makan kudapan aku akan mandi." jawab Alexias.
Keduanya keluar dari kamar tidur dan langsung berjalan menuju dapur. Di dapur, Martha langsung menghangatkan susu. Ia mengambil piring dan menyiapkan cemilan untuk Tuannya.
***
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Alexias menyusul Lora, berbaring di samping Lora. Melihat istrinya belum berganti pakaian, Alexias langsung bangun lagi dan mengganti pakaian Lora dengan pakaian tidur. Tidak lupa, Alexias membersihkan riasan istrinya agar kulit wajah istrinya itu tidak iritasi. Lora tanpan sengaja menarik piama Alexias, membiat beberapa kancing piama itu terlepas. Melihat tingkah Lora, Alexias hanya bisa menghela napas.
"Oh, saat tidur pun kau mesum, ya." gumam Alexias. Ia segera menanggalkan piamanya dan bertelanjang dada.
Saat bertelanjang dada, posisi Alexias sedang berdiri di depan cermin. Ia melihat dadanya, ada tanda merah di sana. Dirabanya tanda itu. Senyumnya mengembang manakala ia mengingat kejadian sebelumnya. Mengingat bertapa liarnya istrinya.
Ia mengambil ponselnya yang ada di nakas dan memotret tanda merah itu. Ia ingin mengabadikan jejak ciuman dari perempuan yang disayanginya. Karena jejak itu akan memudar dan menghilang dalam beberapa hari ke depan.
"Andai saja jejak ini tidak akan menghilang." gumam Alexias. Ia memandangi Lora, "Awas saja jika besok kau mengelak, Nyonya. Jangan katakan kau akan menuduhku macam-macam juga dengan tanda merah ini." lanjutnya bergumam.
Alexias meletakan ponselnya lagi ke nakas dan langsung naik ke atas tempat tidur. Dibaringkannya tubuhnya di samping Lora. Ia menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya kembali terbayang akan momen indah singkatnya dengan Lora di parkiran Bar. Ingatan itu membuat wajahnya kembali bersemu merah dan jantungnya berdegup.
Deg ... deg ... deg ....
Jantung Alexias berdegup kencang tidak beraturan.
"Lora, Lora. Kaulah wanita pertama yang begitu berani memperlakukanku seperti ini." batin Alexias.
Lora bergerak, ia mengubah posisinya memeluk Alexais. Alexias juga langsung mengubah posisinya memeluk Lora. Ia perlahan memejamkan mata dan mengingat semua pujian Lora untuknya.
Tiba-tiba saja matanya terbuka, "Ah, bukannya pasa awal pertemuanku denganya, juga seperti ini? dia menggodaku, merayuku sampai mnciumku lebih dulu." gumam Alexias tersenyum. Ia membayangkan kejadian enam tahun lalu. Saat ia pertama kali bertemu Lora.
"Memang, ya. Cuma kau yang bisa membuatku segila ini, sayang." gumam Alexias menatao Lora dengan senyuman.
Ia langsung mengacak-acak rambutnya kasar. Alexias merasa malu. Perasaanya semakin kuat pada Lora dan karena itu juga ia tidak ingin melepaskan Lora. Namun, ia juga tidak ingin mengekang Lora dan memaksa Lora untuk mau mengikuti kemauannya atau kehendaknya. Baginya, kebahagiaan Lora adalah hal utama.
Merasa lelah berpikir, Alexias kembali memejamkan matanya. Ia mengusap dadanya perlahan. Ia ingin segera terlelap tidur. Ia ingin mimpi indah bersama Lora, istrinya.
*****
__ADS_1