Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 104. Misi Penyelamatan Si Kembar Tiga (1)


__ADS_3

Alexias sudah sampai di lokasi yang dikirim oleh Oriana. Ia melihat sekeliling. Dahinya berkernyit, ia merasa harus hati-hati dan waspada.


"Aku harus hati-hati. Sepertinya ini bukan keadaan yang baik. Meski aku merasa kuat, tetapi aku tidak tahu berapa banyak jumlah orang ada di dalam sana. Bagaimana, ya? apa sebaiknya aku tunggu saja bantuan datang." batin Alexias bingung dan ragu.


"Tapi, aku juga tidak bisa menunggu terlalu lama. kasian anak-anak di dalam sana. Ah, s*al!" batin Alexias lagi.


Baru saja Alexias mengumpat karena kesal dilanda dilema, Ada dua mobil polisi yang datang. Ya, bantuan yang diminta Alexias telah datang.


Alexias turun dari mobilnya, "Akhirnya. Aku bisa segera menyelamatkan ketiga peri kecilku." batin Alexias.


Beberapa orang polisi mendatangi Alexias. Salah satunya menyapa dan menanyakan hal-hal terkait situasi dan kondisi lokasi.


"Apa ada hal yang mencurigakan, Tuan Owen?" tanya seseorang menatap Alexias.


"Sejauh ini belum. Aku juga baru saja tiba. Kira-kira lima menit sampai sepuluh menit lebih dulu dari kalian semua. Apa kalian sudah meminta bantuan lagi?" jawab Alexias.


"Ya, Tuan. Sesuai keinginan Anda." jawab salah seorang, ternyata seseorang yang sebelumnya menerima panggilan Alexias.


"Lalu, apa rencana kalian? aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Ketiga anakku pasti dalam bahaya di dalam sana." kata Alexias tidak sabar.


"Tuan, mohon bersabar. Kita akan masuk bersama-sama. Kami juga sedang bersiap dengan perlengkapan yang sudah kami siapkan." jawab seseorang yang diduga adalah ketua tim. "Oh, ya. Untuk berjaga-jaga, tolong Anda juga mengenakan pengaman. Ini juga demi keselamatan Anda.


Alexias menganggukkan kepala, "Baik. Sesuai arahan Anda." jawab Alexias.


Setelah semua persiapan selesai, Alexias dan Semua polisi yang membantunya bergerak maju mengepung gudang kosong. Untuk jaga-jaga agar tidak ada yang bisa kabur melarikan diri.


***


Sementara itu, Oriana masih disibukkan dengan banyak pekerjaan. Pria yang mengawasinya sungguh tidak mengizinkannya istirahat barang sejenak.


Oriana tidak mengeluh, ia terus berharap Papinya bisa segara tahu keberadaanya. Bukan untuk diri sendiri, ia khawatir akan kedua saudarinya. Olesia dan Odellia sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Melihat Oriana terdiam sesaat, membuat pria asing yang mengawasinya bertanya. Karena ucapannya bernada tinggi, Oriana sempat kaget dan menjatuhkan alat pel.


"Hei, kau! kenapa diam saja?" tanya pria itu bersuara kasar.


klang ....

__ADS_1


Suara alat pel yang jatuh, karena Oriana kaget. Ia menatap si pria yang mengawasinya lalu, menundukkan kepala. Tidak ingin menatap mata pria tersebut.


Pria itu marah melihat Oriana yang demikian. Ia lalu, berdiri dan menghampiri Oriana.


"Kau sudah mulai malas-malasan rupanya, ya. Mau kau dan dua saudarimu di dalam sana tidak makan malam ini?" ancam pria itu.


Oriana langsung menggelengkan kepala, "Tidak, Paman. Jangan! tolong, beri kami makan. Jika tidak makan, maka kami akan jatuh sakit." kata Oriana mulai takut.


Pria itu tersenyum miring, "Oh, kau takut kelaparan juga, ya. Jika tidak mau kelaparan, kerja yang benar. Makanan yang aku berikan pada kalian itu kubeli dengan uang. Bukan kuterima secara cuma-cuma. Kalian ini, dasar anak-anak menyusahkan." omel pria itu.


Oriana sedih, selama ini ia dan dua saudarinya tidak pernah diperlakukan tidak baik oleh keluarga mereka. Ya, meski terkadang ada beberapa teman di sekolah yang mengejek dan mengatai ketiganya.


"Papi, Mami ... Hiks ... " batin Oriana dengan mata berkaca-kaca.


Tubuh kecil Oriana gemetar, rasanya ia sudah tidak mampu lagi menahan diri. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya detik itu juga.


"Kau masih mematung, hah? tidak dengar apa yang kukatakan? wah-wah, karena aku memperlakukanmu baik kau semakin bertingkah, ya. Lihat, apa yang bisa kulakukan padamu. Aku sejak tadi sudah menahan diri. Tidak kali ini. Dasar s*alan!" maki pria itu manatap tajam Oriana.


Ditariknya kasar rambut panjang Oriana. Lalu diseretnya menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Oriana di siram air. Ia diminta pria asing itu untuk berdiri di bawah shower dan tidak boleh bergerak barang sedikit.


Pakaian Oriana yang kering mulai basah. Oriana terdiam. Ia takut jika ia bergerak atau bersuara, dia akan dipukul. Bahkan kemungkinan buruknya tidak hanya dia seorang yang akan dipukul, Oriana lebih takut jika dua saudarinya mengalami hal serupa dengannya.


"Rasakan ini, br*ngs*k!" kata Pria itu lalu, tertawa. "Hahaha ... lihat, kau seperti tikus yang masuk ke dalam parit. Kan aku sudah bilang, bekerjalah dengan baik. Kau tidak dengar dan mengabaikan ucapanku. Beginilah hasilnya," kata pria itu.


Kedua tangan Oriana mengepal, "Ma-maaf, Paman. Maafkan aku, aku ... aku, aku be-be-bersalah." ucap Oriana bergumam.


"Apa? kau bilang apa? coba katakan lagi. Aku tidak dengar," kata pria itu sengaja.


Ia bangga, ia bisa menakut-nakuti Oriana. Karena rasa takut yang mulai menggerogoti Oriana, ia pun segera mengulangi penyataan maafnya pada pria itu.


"Maafkan aku, Paman. Ampuni aku. Aku mengaku salah." kata Oriana.


Mendengar permintaan maaf yang kedua kalinya, Pria itu pun mematikan shower yang tadinya menyala.


Ditariknya keluar dari kamar mandi Oriana. Pria itu dengan kasar mencengkram tangan Oriana dan di seretnya menuju ruangan di mana Olesia dan Odellia berada.


Hal yang tidak diduga terjadi. Oriana dan pria asing itu bertemu dengan Alexias yang sedang berpencar dengan polisi. Mata Alexias melebar seakan ingin lepas dari wadahnya. Ia melihat sendiri, jika anaknya Oriana diperlakukan tidak baik.

__ADS_1


"Kau, apa yang kau lakukan pada putriku, b*r*ngs*k!" murka Alexias.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Alexias langsung berlari dan memukul pria yang mencengkram muat tangan Oriana.


Buukk ....


Pukulan keras tepat mengenai wajah si pria jahat itu. Dengan sekali pukul, Alexias mampu melepaskan cengkraman tangan pria itu dari Oriana. Dengan cekatan, Alexias menarik tangan putrinya, Oriana. Untuk mendekat padanya.


"S*al*n! siapa kau? datang-datang langsung buat onar. Kau tahu ini di mana? dasar b*r*ngs*k!" maki pria itu manatap tajam pada Alexias. Terlihat hidung pria itu berdarah, ia mengusap darah di hidungnya.


"Diaman dua anakku yang lain?" tanya Alexias menatap tajam.


"Anak?" batin pria asing itu berpikir. Ia lalu, terkejut. "Ka-kau ... kau ..." pria itu sampai tidak bisa berkata-kata karena shock.


"S*alan! pria itu kenapa datang ke sini, pada saat seperti ini? tidak boleh tertangkap, aku harus kabur dari sini." kata pria itu.


Pria itu mundur beberapa langkah langsung berbalik dan berusaha lari. Namun, belum sampai langkahnya jauh, Alexias berhasl mengejar dan memukulnya habis-habisan. Alexias terbawa emosi, dia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya.


Bukkk ... bukk .... buukkkk ....


Suara pukulan Alexias. Ia memukul bagian wajah dan perut si pria asing tersebut.


"Beraninya kau kabur. Jawab, di mana dua putriku yang lain? jika tidak jawab, kau akan mati ditanganku." geram Alexias


Uhukkk ... huhhkk ....


Pria itu terbatuk, napasnya tersengal. Ia merasa sakit di area wajahnya karena pukulan Alexias.


Alexias tidak sabar lagi, dia mencengkram kuat krah pakaian pria yang dihajarnya.


"Jangan buat aku habis kesabaran. Cepat katakan atau kau banar-benar akan kuhabisi." kata Alexias.


Pria itu terkulai lemas, "A-akan kuberi tahu. Me-meraka, mereka ... meraka ada ... " kata-kata pria itu terjeda karena ada dua orang polisi yang memanggil Alexias.


"Tuan ... " panggil salah seorang polisi.


Alexias dan pria yang dihajarnya terpaku menatap kedatangan dua polisi yang melangkah dengan terburu-buru mendekati keduanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2