
Hari H pernikahan pun tiba. Setelah sekian lam menunggu, dan sekian banyak hal yang terjadi. Moment bahagia Lora dan Alexias akhirnya tiba.
Keduanya mengadakan pemberkatan pernikahan disebuah gereja. Alexias sudah berdiri di depan altar, ia mengenakan stelan jas berwarna hitam. Penampilannya sungguh sangat menawan. Sampai-sampai beberapa mata tamu wanita tidak berpaling menatap Alexias.
Terlihat Agatha duduk di dampingi Papa dan Mamanya. Di sampingnya juga ada Papa dan Mama kandung Lora. Ada Hannah, dan juga keluarga angkat Lora. Semua berkumpul demi hari bahagia.
Seseorang datang memanggil Hanson dan Mattew. Lora meminta Papa dan Papa angkatnya mengantarnya menuju altar di mana Alexais sudah berdiri. Hanson dan Mattew pun pergi mengikuti seseorang yang memanggilnya.
***
Di ruangan tidak jauh dari tempat pemberkatan. Lora sudah bersiap, ia mengenakan gaun pernikahan berwarna putih. Hanson dan Mattew menghampiri Lora.
"Sayang, kau sudah siap?" tanya Mattew.
"Ya, Pa." jawab Lora.
"Wah-wah, betapa cantiknya kau, Nak." puji Hanson.
"Terima kasih, Pa. Papa berdua sudah mau memenuhi keinginanku." kata Lora. Ia tidak mau membanding-bandingkan keluarga kandung atau keluarga angkatnya. Karena, di matanya semua sama-sama berharga.
Tidak menunggu berlama-lama. Perias yang mendampingi Lora meminta kedua Papa mengenakan veil (tudung pengantin) pada putri mereka, dan kedua Papabpun dengan hati-hati menutupkan veil ke kepala Lora.
Kedua Papa sama-sama mengulurkan tangan. Lora mengulurkan dua tangangannya. Hanson berdidi di ssbelah kanan, sedangkan Mattew disebelah kiri. Masing-masing Papa membantu Lora berjalan perlahan menuju altar.
***
Lora memasuki ruangan, didampingi Hanson dan Mattew sebagai pengiring mempelai wanita. Lora berdebar, dari jauh ia melihat Alexias yang berdiri dengan gagahnya.
Semakin lama, langkah kaki Lora semakin dekat. Sampai akhirnya Lora sampai di altar. Alexias mengulurkam dua tangannya. Hanson dan Mattew bersamaan memberikan tangan Lora pada Alexias.
"Tolong jaga putriku, Lex." kata Hanson.
"Semoga bahagia dan damai sejahtera melingkupi kehidupan rumah tangga kalian. Bantu kami merngurus Lora dan anak-anak, Alexias." kata Mattew haru.
"Pasti. Papa Papa sekalian tidak perlu khawatir. Lora akan sepenuhnya kujamin. Demikian juga anak-anak." tegas Alexias.
Hanson dan Mattew kembali ke tempat asal mereka duduk. Alexias menggenggam erat dua tangan Lora.
"Kau cantik sekali, sayang." bisik Alexias.
Wajah Lora memerah, "Kau jangan menggodaku. Jangan buat aku malu." bisik Lora.
Mereka bedua berdiri di alatar di depan pendeta. Acar pemberkatan pun di mulai. Setelah pendeta menyampaikan beberapa kata, mereka langsung mengucap janji suci pernikahan. Proses pemberkatan berjalan lancar dan tenang. Sampai tiba saatnya salimg bertukar cincin. Si kembar tiga masuk dalam ruangan. Oriana membawa cincin untuk Lora dan Olesia membawa cincin untuk Alexias. Sedangkan Odellia membawa sebuah mehkota bunga hasil karya si kembar yang akan dipasangkan kepada Lora.
__ADS_1
Melihat ketiga putrinya, Lora merasa terharu. Matanya berkaca-kaca. Oriana mendekati Alexias, Olesia mendekati Lora. Mereka memberikan cincin pada Papi dan Mami mereka.
Alexias mengenakan cincin pernikahan di jari manis tangan kanan Lora. Begitu juga Lora, mengenakan cincin pernikahan di jari manis tangan kanan Alexias. Perlahan, Alexias membuka veil dan mengecup sekilas bibir Lora. Ia mengambil mahkota bunga yang dibuat anak-anaknya, lalu dipasangkan ke kepala Lora. Lora tampak cantik. Semua orang bersorak untuk kebahagiaan Lora dan Alexias.
***
Resepsi pernikahan digelar di hari yang sam setelah acara pernikahan. Mereka memakai taman samping gereja sebagai lokasi resepsi.
Di acara tersebut, Reine dan Evan datang. Reine memprotes Lora karen Lora tidak mengundangnya datang. Reine memberanikan diri langsung bicara dan menemui Lora.
"Kau kejam sekali. Bagaimana bisa kau tidak mengundangku?" tanya Reine.
"Untuk apa kau kuundang? aku tidak mau kau iri hati dengan apa yang sudah kucapai. Aku juga sedang sibuk. Jangan mengganggu waktuku." kata Lora kesal.
Reine marah, "Hei, Lora. Jangan sombong. Jangan karena kau menikah, kau lantas bisa menyembunyikan aibmu. Apa suamimu ini tahu, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" kata Reine menatap Alexias. "Tuan, untuk apa Tuan menikahi wanita kotor ini. Apakah Tuan tahu, bagaimana masa lalunya?" tanya Reine.
Alexias tersenyum masam, "Ya, katakan saja. Apa hal yang ingin kau sampaikan." kata Alexias kesal.
"Dia ini, kenapa ada di sini. Aku kan tidak mengundangnya datang. Mengesalkan sekali." batin Lora.
"Hm ... itu ... " gumam Reine.
"Ah, si*l*n! kenapa aku jadi tidak bisa bicara seperti ini? liat tatapan pria ini, dia menakutkan sekali." batin Reine.
"Apa?" kaget Reine. "Hei, kau tidak bisa seenaknya padaku! siapa kau sampai mau menyeretku pergi. Aku sudah berbaik hati memberitahumu tentang Lora. Seharusnya kau berterima kasih padaku. Apa kau tahu, bagaimana Lora enam bulan lalu? setelah mabuk dia acara ulang tahun, ia lalu pergi ke hotel bersama pria asing yang tidak dikenali. Dan ... selanjutnya kau bisa tau seperti apa jadinya. Ku akui kau memanglah tampan. Sayang sekali jika kau menghabiskan waktumu sepanjang sisa umurmu dengan wanita sepertinya, kan. Wanita kotor ini tidak layak kau nikahi. Sadarlah!" kata Reine.
Alexias benar-benar geram. Ia rasanya tidak bisa lagi mengendalikakndiri saat mendengar istrinya dihina oleh sepupu dari istrinya sendiri. Kedua tangan Alexias mengepal, ia ingin bicara, tetapi dicegah oleh Lora. Lora menggenggam erat jemari Alexias.
Alexias menatap Lora, Lora menggelengkan kepala dan tersenyum. Lora tau Alexias kesal, tetapi ia tidak mau sampai harga diri dan reputasi Alexias jatuh hanya untuk meladeni omong kosong Reine.
"Kau sudah selesai bicara, Reine. Apa itu saja yang ingin kau sampaikan?" tanya Lora.
"Kau tidak khawatir, suamimu ini akan langsung menceraikanmu, Lora? kau tampak santai, ya." kata Reine.
Lora tersenyum, "Terima kasih banyak, kau sudah khawatir padaku. Sepertinya, kekakhawatiranmu itu berlebihan. Aku tajut diceraikan? tidak, Reine. Justru aku takut kau akan terkena masalah setelah ini. Sebagai sepupumua, aku beri peringatan terakhir. Jaga ucapanmu dan jangan bicara sesuatu yang tidak kau ketahui. Jangan buat malu dirimu sendiri. Ok." jelas Lora. Ia masih sabar menahan diri. Karena ia tidak mau menimbulkan masalah.
"Cih! Kau masih bisa bicara seperti itu ternyata. Kau tidak perlu menceramahiku soal hidupku. Ini hidupku, aku yang sepenuhnya bertanggung jawab. Mendapat masalah? masalah apa? memangnya apa salahku, hah?" Reine masih bernai menatap tajam dan melebarkan mata di hadapan Lora.
"Cukup! kau sungguh menjijikan." sentak Alexias marah.
"Lex, tahan amarahmu." kata Lora merangkul tangan Alexias. Lora merasa khawatir karena Alexias tiba-tiba emosional.
Reine tersenyum, "Aha ... sepertinya umpanku termakan, ya. Ayo, marahlah. Buang Lora sejauh yang kau bisa. wanita kotor sepertinya, tidak pantas mendapatkanmu. Lora, Lora, Lora ... sebentar lagi. Riwayatmu akan tamat. Siapa suruh kau datang lagi dan membuat Evan kacau. Gara-gara kau, sepanjang hari Evan terus membicarakanmu. Kau mengesalkan sekali. Wanita j*l*ng!" batin Reine.
__ADS_1
"Tidak bisa, Lora. Aku tidak tahan lagi. Aku kesal!" kata Alexias.
"Tapi, di sini banyak orang, Lex." lirih Lora.
"Aku tidak peduli!" jawab Alexias kesal.
Alexias lalu menatap Reine, "Kau ... kau rupanya suka sekali mencampuri urusan pribadi orang lain, ya. Tidak hanya itu, kau bahkan tidak pernah merasa puas dan bersyukur untuk apapun yang kau miliki. Apa salah Lora sampai selalu menekannya, Reine? kau wanita tidak tahu malu! kau sudah dirawat dan dibesarkan oleh orang tua Lora, tetapi kau dengan sengaja justru merusak keluarga yang yang memberimu bantuan. Kau manusia atau bukan? kau seenaknya menhina istriku, mengatainya sampai aku marah mendengarnya. Aku tidak tahan lagi. Pergi kau dari hadapanku!" sentak Alexias.
Reine marah, "Hah, pria b*r*ngs*k! jangan mentang - mentang kau punya tampang rupawan kau bisa seenaknya padaku. Dasar orang tidak tahu terima kasih." kata Reine.
"Jangan banyak bicara, kau pergi sendiri atau aku yang menyeretmu pergi!" kata Alexias.
Reine tersenyum miring, "Ayo, cobalah mengusirku! aku akan berteriak kencang jika kau menikahi wanita j*l*ng yang sudah bekas pakai." kata Reine.
Plakkkk ....
Tamparan keras mendarat di wajah Reine.
Lora menampar Reine, "Aku sudah katakan, kan. Jaga ucapanmu, Reine. Kesabaranku sudah habis untukmu. Kau memang tidak bisa diberi hati, ya." kata Lora marah.
"Wanita j*l*ng! Kau berani menamparku, hah. S*al*n! aku akan membalasmu." geram Reine.
Reine hendak menampar Lora, namun Alexias melindungi Lora. Alexias berdiri di depan Lora, sehingga Alexias lah yang terkena tamparan Reine.
Plakkk ....
Tamparan keras Reine untuk Lora, mendarat di wajah Alexias.
Alexias memejamkan matanya sekilas, "Kau sudah puas, kan?" gumam Alexias.
Lora kaget, "Lex ... " lirihnya.
Lora tidak terima, segera ia mendorong tubuh Alexias dari hadapannya. Ia langsung memaki Reine dengan kata-kata pedas.
"Cukup Reine. Kau ... dasar gila! Berani sekali kau menampar suamiku. Pergi!" sentak Lora melebarkan mata.
Reine kaget, ia lalu mengernyitkan dahinya. Lora terus menatap Reine tajam.
"Kau boleh merendahkanku sesukamu. Tapi, aku tidak suka kau mengusik keluargaku. Aku akan beritahu kau sesuatu. Pria yang kau sebut-sebut, sebagai 'Pria asing tidak dikenal' itu, adalah Alexias. Ya, dialah pria enam tahun lalu yang bersamaku di Hotel. Apa kau puas sekarang? Tidak tahu malu. Sudah berbicara lancang tanpa tahu apa yang kau bicarakan. Masih tebal muka datang ke acara orang tanpa undangan. Kuberi kau tiga detik untuk angkat kaki dari hadapanku." Lora sangat murka. Sejak dahulu, ia memang paling tidak suka sesuatu miliknya di usik.
Reine dan Lora masih saling bertatapan tajam. Kini Lora sudah seperti harimau betina yang bersiap menerkam mangsa. Sedangkan Reine seperti mangsa yang sia0 diterkam Lora kapan saja. Reine menatap penuh rasa benci. Rasa bencinnya pada Lora sudah mendarah daging.
*****
__ADS_1