
Alexias*
Jujur saja aku terkejut. Jantungku pun berdegup dengan kencang. Rasanya ada yang mau keluar dari rongga dadaku ini.
Deg ... deg ... deg ....
Suara degup jantungku.
Aku senang dan terharu. Aku akan memiliki anak lagi. Ya, aku akan punya anak lagi. Aku tidak bisa meluapkan perasaanku yang sedang meletup-letup ini. Aku menekannya sebisaku.
Memiliki anak lagi, memikirkannya saja sudah membuatku menggebu. Aku berharap bisa menjadi Suami dan Ayah yang lebih baik lagi dari sekarang. Ingin menjadi sosok yang sempurna.
Ini pertama kalinya, aku akan mengurus seorang Ibu hamil. Sebelumnya, aku tidak bisa bersama Lora pada saat ia mengandung si kembar tiga. Namun, aku akan pastikan, jika aku akan selalu berada di sisinya, apapun yang akan terjadi nantinya.
Kudengar dan kusimak baik-baik setiap penjelasan dokter. Aku yang tidak paham, mulai tahu apa saja yang bisa mempengaruhi baik tidaknya perasaan seorang Ibu hamil. Jadi, aku memang harus benar-benar mempersiapkan diri, hati dan pikiran. Jika sewaktu-waktu? ada sesuatu, aku akan lebih mudah mengatasi.
Setelah selesai mendengar penjelasan dokter, aku dan Lora pergi meninggalkan ruang pemeriksaan. Aku tidak mau kembali, ah ... bukan, maksudku aku masih ingin menikmati waktu berdua saja dengan Lora. Jadi, aku memutuskan untuk mengajaknya ke taman yang berada di samping rumah sakit. Aku mau mengajaknya berjalan-jalan sebentar sebelum kami kembali ke ruangan anak-anak kami.
***
Di taman, aku memintanya untuk duduk di bangku kosong, yang berada di bawah sebuah pohon yang rindang. Aku tidak duduk, tetapi aku memilih berlutut satu kaki dan membenamkan wajahku ke pangkuannya.
Kini, aku tidak bisa lagi menutupi perasaan haruku. Aku pun menangis sejadi-jadinya tanpa rasa malu di hadapan Lora.
Bisa kurasakan belaian lembut di kepalaku, juga tepukan di punggungku. Rupanya, Lora sedang menghiburku. Suaranya lembut, memintaku bicara. Ia ingin tahu, kenapa aku bertingkah aneh seperti ini. Mulutku ini seperti direkatkan oleh lem. Sehingga membuatku terdiam tidak menjawab. Aku masih bertahan pada posisiku.
Setelah aku merasa tenang, aku menadahkan kepalaku menatap Lora. Jemarinya menyeka air mataku, dikecupnya kening, kedua kelopak mata, hidung, kedua pipiku lalu, bibirku dengan lembut. Akhirnya aku mengutarakan apa yang menjadi debu di hatiku ini pada Lora.
__ADS_1
Aku mengatakan semua yang ingin kukatakan dan apa yang kupikirkan. Meski sudah pernah kulakukan dan sudah sangat terlambat, aku tetap meminta maaf pada Lora. Atas apa yang terjadi pada masa lalu.
" ... maaf ... " ucapku.
"Ya? sahut lora terlihat bingung. "Maaf? untuk apa?" tanyanya.
Sebelum aku menjawab, aku ubah posisiku. Aku berdiri dan duduk di samping Lora. Ku genggam erat jemari tangan Lora. Karena aku tidak mau kehilangannya.
"Untuk semua. Apa yang sudah terjadi pada masa lalu. Jangan berbohong, pasti dulu kau sangat kesulitan, kan? pada saat sedang mengandung si kembar tiga." kataku, kembali mengingat masa lalu.
Kulihat, Lora diam sesaat. Lalu, ia mulai menjawab apa yang kukatakan. Lora tidak membantah perkataanku. Ia mengakui, jika ia sangat keberatan.
"Aku tidak akan mengelak, Lex. Apa yang kau katakan memang benar. Aku bahkan tidak pernah berpikir, jika saat itu aku hamil. Semua terasa seperti mimpi buatku. Terlebih, aku baru saja beberapa hari diterima bekerja. Bukankah akan memalukan dan aneh, karyawan yang baru diterima kerja tiba-tiba perutnya membuncit, padahal dia belum menikah." ucapnya, Ia menarik napas dalam-dalam lalu, mengembuskan perlahan. "Jika kau pikir aku baik-baik saja, maka akan ku tegaskan. Pada saat itu, aku sangat tidak baik-baik saja. Bahkan, aku sempat punya pikiran keji karena keegoisanku." katanya yang langsung terhenti.
Aku mengernyitkan dahiku. Aku memang tahu jika ia kesusahan karena aku tidak ada bersamanya pada saat itu. Tapi, tidak kusangka dia akan bercerita sepanjang ini. Aku penasaran, kenapa dia menjeda ucapannya. Dia mengatakan jika dia egois. Egois yang seperti apa? aku menjadi semakin penasaran dan ingin tahu lebih dalam.
Lora menatapku, "Jika kukatakan, kau tidak akan merah? karena apa yang kau akan dengar, itu semua adalah kebenaran yang ku alami dan kupikirkan. Bahkan akan kulakukan." jelasnya serius.
"Ambil napasmu lalu, embuskan perlahan. Jangan bercerita sesuatu yang kau rasa berat atau sulit kau beritakan. Kita bisa menceritakannya dengan santai dan perlahan, Lora." jawabku.
Bagaimana dia bisa berpikiran aku akan marah? padahal aku saja tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Jika aku tahu, maka aku tidak akan perlu banyak bertanya dan membuat rekaman catatan di pikiranku.
"Dulu, aku sempat ingin menggugurkan kandunganku. Saat pertama kali aku tahu aku hamil, pikiranku langsung kacau. Aku panik, cemas dan gelisah. Bagaimana bisa aku mengandung anak dari pria asing yang tidak kukenal. Bahkan wajahnya saja aku tidak melihatnya sekalipun. Aku takut, jika karirku yang baru kutapaki hancur. Pada saat punya pikiran seperti itu, aku belum tahu jika janin yang kukandung adalah bayi kembar. Kau tahu? Hannah adalah orang pertama yang menentang aku mengugurkan kandunganku. Dia memintaku untuk memeriksakan kandunganku lebih dulu sebelum aku benar-benar mengambil keputusan besar seperti itu. Aku menurut, aku pun datang ke rumah sakit untuk periksa. Dan ... aku kaget, saat aku tahu aku sedang mengandung calon bayi kembar tiga. Aku bingung, bagaimana bisa aku tega menghilangkan tiga nyawa sekaligus? dokter menjelaskan jika satu janin belum berkembang baik, namun dua janin yang lain terlihat baik-baik saja. Aku tanpa sadar mengucapkan doa, meminta kepada Tuhan untuk melindungi ketiga calon bayiku. Aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku menangis tersedu saat itu juga. " panjang lebar Lora bercerita. Yang intinya adalah, kita tidak boleh asal membuat keputusan karena sedang emosional.
Tanpa sadar, aku menghela napas. Membuat Lora kaget dan bingung. Ia mengira jika aki marah padanya.
"Hahhh .... "
__ADS_1
"Ada apa, sayang?' tanya Lora.
"Tidak apa. Aku hanya sedikit terkejut. Aku tidak menyalahkanmu, jika kau sempat punya pikiran seperti itu. Mau bagaimana lagi, kau kan baru bekerja dan ingin menata hidupmu untuk lebih baik. Tapi, aku juga bangga. Karena pada akhirnya kau kan mau menerima juga melahirkan mereka. Bahkan kau bisa membesarkan si kembar dengan sangat baik seperti saat ini.
"Lepas dari itu semua. Aku senang sekali. Bisa hamil lagi sekarang. Aku menantikan dia yang akan datang ke dunia ini. Aku juga penasaran, akankah dia adalah, anak perempuan atau laki-laki. Yang membuatu ingin tertawa, 'Apakah aku akan melahirkan anak kembar lagi atau tidak." kata Lora mencoba membuatku nyaman dengan keadaan.
Aku mencium punggung tangan Lora, "Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu. Ya, kali ini aku tidak mau menjadi seorang pecundang. Aku akan menjagamu, si kembar tiga dan calon anak kita ini. Biarkan aku yang menanggung semua rasa tidak nyamanmu. Rasa sesak dan bahkan sakitmu. Berikan semuanya padaku, biar aku yang merasakan." jelasku. Yang mau mempertaruhkan segalanya demi istri dan anak-anakku.
Lora terlihat kaget, "Apa? kenapa harus seperti itu? tidak perlu, Lex. Aku bisa melakukannya sendiri. Tapi, aku juga tidak akan bisa menolak keinginanmu." jawabnya.
"Maaf, kalau aku terkesan memaksa," kataku.
"Tidak apa. Niatanmu baik. Itu saja sudah cukup melegakanku." jawab Lora.
"Kalau begitu, mari kita lakukan." ajakku.
"Me-melakukan apa?" tanyanya bingung.
"Ayo, kita berjuang bersama. Kita berusaha bersama, menjadi orang tua yang terbaik untuk si kembar tiga dan untuk calon anak kita. Mulai dari sekarang, kita harus saling mendukung, menyemangati, juga membagi beban pikiran. Terutama kau, Lora. Jangan melakukan tindakan apapun yang kau pikirkan tanpa izin dariku. Ok." kataku.
Lora mengangguk, tanda setuju. Ia tersenyum menatap ke arahku. Senyumnya sangat cantik, membuat jantungku kembali berulah.
"Apa sebaiknya kita kembali sekarang? kita akan kabarkan kabar baik ini pada semua orang. Si kembar pasti akan senang, mereka akan memiliki adik." kataku.
"Ya, ayo. Mereka juga pasti resah mencari kita, sayang." kata Lora.
Kamipun berdiri dari posisi duduk kami. Kaki kami bersamaan melangkah pergi meninggalkan taman dan berjalan menuju gedung rumah sakit.
__ADS_1
*****