Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 89. Mengirim Undangan


__ADS_3

Lora pergi ke rumah orang tuanya. Ia ingin memberikan undangan pesta ulang tahun si kembar. Tidak di sangka, di rumah orang tuanya, Lora bertemu dengan Reine. Yang kebetulan sedang ada di sana.


Reine menyapa Lora, "Hallo, Lora. Lama tidak bertemu, ya." kata Reine tersenyum.


"Oh, Reine. Kau datang ke sini. Apa ada sesuatu?" tanya Lora ingin tahu.


"Hm, biasa saja. Tidak ada sesuatu hal istimewa atau hal penting yang mendesakku datang. Yang utama, adalah aku merindukan Paman dan Bibi." Alasan Reine.


Sebenarnya Reine hanya ingin menganbil sesuatu yang penting di kamarnya. Ia berniat langsung pulang saat sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun, saat melihat Lora, niatannya diurungkan.


"Begitu, ya." jawab Lora, menganggukkan kepalanya perlahan.


Reine melihat undangan di atas meja, "Eh, apa ini? undanganya lucu sekali," puji Reine.


"Itu undangan pesta ulang tahun putri-putriku." jawab Lora.


"Oh, ya? ini lucu sekali, Lora. Warnanya juga bagus. Sangat imut, sesuai dengan si kembar, kan." Puji Reine lagi tersenyum. Reine terus memandangi undangan yang ia pegang.


"Hm, ya. Terima kasih pujianmu. Kalau kau ada waktu dan berkenan datang, datang saja. Ini, undangan untukmu." kata Lora, memberikan sebuah undangan lain untuk Reine.


"Yah, sebenarnya aku berjaga-jaga untuk ini. Karena sungguhan bertemu, apa boleh buat. Mau tak mau aku mengundangnya karena dia masih keluargaku. Meski aku ragu, dan hati ini tak tenang. Entah mengapa, aku merasa berbahaya mengundangnya datang ke pesta." batin Lora. Lora merasa ragu, tetapi ia tidak bisa juga mengabaikan Reine begitu saja.


Melihat ia mendapatkan undangan, Reine tampak senang. Ia lantas berterima kasih, karena Lora berkenan mengundangnya.


"Wah, terima kasih." ucap Reine meletakan kembali undangan yang dipegangnya ke atas meja lalu, menerima undangan dari Lora. "Aku pasti akan datang, Lora. Terima kasih, ya." lanjut Reine. Ia tersenyum cerah.


Lora menganggukkan kepala, "Ya, sama-sama." jawab Lora.


Ponsel Reine berdering, ia lansung merogoh tasnya mengambil ponsel dan melihat layar ponsel. Reine tersenyum cantik.


"Paman, Bibi, Lora. Aku pamit pergi dulu, ya. Ada hal penting yang harus kuurus." kata Reine berpamitan.


"Oh, kau tak makan siang dulu?" tanya Marlyn, Mama Lora.


"Tidak, Bi. Lain waktu saja. Maaf," jawab Reine sopan.


"Apa sepenting itu, sampai kau buru-buru pergi, Reine?" sahut Hanson, Papa Lora.


"Maafkan aku, Paman. Ini sungguh sesuatu hal yang penting. Aku tidak bisa melewatkan pertemuan ini. Maaf," ucap Reine manis.


"Oh, ok. Kau naik apa? apa kau bawa mobil? jika tidak, Paman akan antar." tawar Hanson.


Reine menggelengkan kepala, "Tidak, Paman. Tidak perlu repot. Aku naik mobil," jawab Reine.


"Kau yakin?" tanya Hanson lagi. Ia begitu peduli pada Reine.

__ADS_1


"Amat sangat yakin," jawab Reine.


"Aku pergi dulu. Dahhh ... " selepas berpamitan Reine langsung pergi.


"Hati-hati, Reine. Ingat, kau sedang mengandung," kata Lora mengingatkan., agar Reine berhati-hati.


"Ya, Lora. Terima kasih. Sampai jump di pesta." jawab Reine penuh semangat.


Lora bertanya pada Mamanya perihal Reine. Marlyn mengungkapnya, Reine memang jarang sekali pulang ke rumah semenjak sudah menikah dengan Evan. Tetapi akhir-kahir ini dia datang ke rumah. Dan ... ekspresi wajahnya, selalu terlihat murung dan sedih." jelas Marlyn.


"Kenapa, ya? Reine terkesan mencurigakan. Apa hanya perasaanku, atau memang dia sungguh menyembunyika sesuatu dariku dan Papa, Mama." batin Lora berpikir.


"Lora ... " panggil Marlyn.


"Sayang ... " panggil Marlyn lagi.


"Lora. Kau sedang apa, Nak." tanya Marlyn.


Marlyn bingung, ucapannya tidak mendapatkan respon dari Lora. Ia memalingkan wajah menatap suaminya. Hanson menatap istrinya. Pandangan mereka saling bertemu


"Kenapa dia melamun. Apa yang sedang dipikirkannya," bagin Marlyn.


"Sayang, Lora ... " panggil Hanson.


Panggilan Hanson pun tidak terdengar oleh Lora. Sesaat kemudian, Lamunan Lora terhenti, karena Marlyn memanggil Lora keras-keras.


"Kau ini kenapa?" tanya Hanson khawatir.


"Tidak apa-apa, Pa. Bukan hal penting. Papa tenang saja." jawab Lora.


"Ini kan masih dugaanku. Aku tidak mungkin mengatakan dugaan dan perkiraanku pada Papa atau Mama." batin Lora.


Setelah ketiganya bicara panjang. Lora pun berpamitan untuk pulang, pada Papa dan Mamanya.


***


Di tempat lain. Reine sedang bertemu dengan seseorang. Pria yang ditemui Reine terlihat menyeramkan. Tubuhnya banyak tato. Tatapan mata seseorang itu juga tajam.


"Jadi, apa yang Anda ingin saya lakukan?" tanyanya menatap Reine.


"Santai saja denganku. Tak usah bicara formal seperti itu." Kata Reine.


"Oh, baiklah. Apa yang kau mau dengan menghubungiku, Nona? kau tahu aku siapa dan apa pekerjaanku, kan?" kata pria itu.


"Karena itu, aku menghubungimu." sahut Reine.

__ADS_1


Seseorang itu mengerutkan dahi dan menatap tajam arah Reine.


"Wanita ini. Apa yang sebenarnya dia inginkan dariku. Membuatku lelah menunggu saja," batin sesorang itu.


Reine mengirim sebuah foto pada seseorang di hadapannya. Ia lalu, mejelaskan, siapa dan apa tugas pria misterius itu.


"Aku butuh mereka. Tugasmu membawa mereka padaku." kata Reine.


"Mereka kembar?" tanya si pria misterius.


"Ya," jawab singkat Reine.


"Hm ... aku tidak yakin jika harus membawa mereka sekaligus. Jika bergeram sendiri, ini mustahil." jawab di pria misterius.


"Hoho, kau menyerah sebelum mencobanya? apa yang mebuatmu kesulitan?" tanya Reine.


"Entahlah. Aku tidak pernah tidak yakin seperti ini dalam pekerjaanku. Tapi, aku rasa aku akan dapat masalah besar jika melakukannya. Anak-anak ini juga terlihat tidak selemah itu." jelas pria itu.


"Apa matamu bermasalah? kau bicara melantur apa? bagaimana bisa kau berpikir anak-anak sekecil mereka menyusahkanmu. Kau kan tinggal membius mereka lalu membawa mereka padaku." kata Reine meyakinkan si pria misterius.


"Akan kupikirkan lagi. Nanti aku hubungi dan memberimu jawaban." kata si pria misterius.


Reine kesal, "Hahhh ... aku menyesal memanggilmu. Terserah saja. Kau mau ambil pekerjaan ini ataupun tidak. Aku akan minta orang lain saja. Pergilah!" Reine mengusir pria misterius di hadapannya.


Pria itu mengernyitkan dahi, "Aku sudah katakan, bukan? aku akan pikirkan. Ini cukup sulit. Sebagai seorang yang biasa melakukan pekerjaan seperti ini, memang aneh rasanya jika aku punya perasaan seperti ini. Tapi, tolong! Pahami aku dan pekerjaanku. Beri aku waktu berpikir. Aku akan selidiki lebih lagi," jelas pria itu.


Reine menarik napas dalam lalu, mengembuskan napas perlahan. Reine sebenarnya tidak mau menunggu, tapi akhirnya dia mau memberi pria itu waktu berpikir.


"Tiga hari," kata Reine.


"Apa?" sahut pria itu.


"Kau kuberi waktu tiga hari. Tidak lebih, tidak kurang. Jadi, pikirkan baik-baik dan kabari aku. Jika kau menolak, aku akan langsung minta orang lain melakukannya. Jika kau menerima, maka kau harus melakukannya dengan baik." kata Reine menegaskan.


"Baik, aku mengerti." jawab pria itu.


"Hahhhh ... mengesalkan sekali." batin Reine.


Pria itu sibuk menatap foto di ponselnya. Ia berpikir, apakah benar-benar tidak masalah, jika ia menculik dan membawa anak-anak di foto yang ia lihat.


"S*al*n! Sepuluh tahun aku bekerja, baru kali ini aku ragu-ragu begini. Membunuh orang tanpa berkedip saja aku tidak segan. Ini hanya menculik tiga anak, dan aku tanpa sadar langsung melemah. Apa ini sebenarnya? kenapa seperti ini? perasaanku, hatiku, dan pikiranku tidak sejalan. Bahkan tubuhku seakan tak bersemangat seperti biasanya saat menerima misi." batin pria itu tidak mengerti akan keadaanya.


Reine tidak senang sebenarnya. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu jawaban pria misterius di hadapannya.


"Bagaimana, ini? kenapa pria yang pekerjaanya membunuh orang langsung melemah hanya untuk menculik anak-anak? apa informasi dari Frans itu tidak benar? profilnya hanya tipuan saja untuk mengelabuhi pelanggan, begitu? apa benar seperti, itu. Jika benar, Frans tidak mungkin berkata, jika dia orang terbaik dalam melakukan pekerjaannya. Kenapa begitu sulit membuat Lora menderita, ya? arrgghhh! aku kesal, kesal, kesal! awas saja kau, jika kau menolak pekerjaan ini." batin Reine.

__ADS_1


Reine menatap tajam pria misterius di hadapannya. Melihat pria itu sudah tenang, Reine perlahan berusaha mempengaruhi pikiran pria itu dengan ucapan-ucapan manisnya.


*****


__ADS_2