Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 27. Akhirnya Menemukanmu (2)


__ADS_3

Flora*


Aku terkejut. Bisa-bisanya pria aneh ini mengatakan sesuatu yang ingin kulupakan. Sesuatu yang benar-benar tak ingin kukenang.


"Ka-kau ... " gumamku.


"Ya, akulah pria itu. Alexias Owen. Itu namaku," katanya.


Gila! apa ini? rasanya kakiku langsung lemas. tubuhku langsung terhuyung dan disangga oleh pria aneh di hadapanku. Tanap kusadari, tubuhku gemetar.


"Maaf, aku tidak bermaksud melakukan ini padamu. Aku, aku, aku hanya ... " kata pria itu yang tiba-tiba terdiam dengan wajah memerah saat melihatku.


Oh, sial! aku lupa jika aku belum mengancingkan kemejaku. Bodoh sekali kau Lora, kau selalu ceroboh.


"Kau marah padaku?"tanyanya. Perlahan tangannya membantu mengancing kemejaku.


"Aku bisa lakukan sendiri," sahutku.


"Jawab aku. Kenapa hari itu kau langsung kabur?" tanyanya mematapku.


"A-aku ... aku ... bukan apa-apa. Tidak ada hubungannya denganmu juga, kan." jawabku seadanya.


Mana bisa aku juju jika aku pergi karena kaget dan malu. Aku shock setelah sadar aku menggila semalaman dengan pria asing yang tidak kukenali.


"Jawab aku. Siapa papa anak-anak? mereka anak-anakku, kan?" cecarnya.


Bagaimana ini? apa yang harus kukatakan. Jika aku jujur, apakah ketiga anakku akan dirampas dariku? tidak, aku tidak bisa kehilangan Annah, Lesi dan Lia. Mereka adalah separuh napasku juga separuh hidupku.


"Sepertinya kau salah paham. Mereka bukan anak-anakmu." jawabku berbohong.


"Lalu, anak siapa?" tanyanya dengan gigih.


"Anak orang lain. Papanya pergi bersama wanita lain. Dia meninggalkaku saat aku hamil beberapa minggu." jawabanku semakin asal.


Ingin rasanya kupukul wajahku sendiri. Bisa-bisanya aku bicara hal yang tidak-tidak seperti ini. Semoga dengan jawabanku yang serampangan, pria aneh ini percaya.


"Oh, begitu. Sayang sekali. Andai mereka anak-anakku. Aku pasti akan sangat senang. Karena hari ini, ketiga anakku sudah menyelamatkanku." ucapnya.


"Apa?" tanyaku kaget.


Pria aneh itupun mulai bsrcerita apa yang terjadi. Ya, ceritanya sama seperti wanita asing tadi. Wanita yang bernama Agatha. Dan kalau dilihat-lihat, wajah mereka sama persis. Apakah mereka anak kembar?


"Apa wanita tadi saudari kembarmu?" tanyaku.


"Siapa? maksudmu Agatha?" jawabnya. "Ya, dia saudari kembarku." lanjuntanya menjawab.

__ADS_1


Aku tahu sekarang, aku mendapatkan ketiga anakku, karena Papinya juga ternyata terlahir kembar. Aku tidak bisa memungkiri, mata ketiga putriku sangat mirip pria ini.


"Ah, aku lelah ... " keluhnya. Ia duduk di sofa, menyandarkan badannya.


"Kau dari mana? mandilah, aku akan belikan makan malam. Kau pasti belum makan, kan?" usulku. Aku merasa tidak enak juga padanya, karena sudah berbohong.


"Kau mau pergi? tidak perlu, aku akan minta Agatha membeli makanan. Kau jaga saja Odellia." jawabnya.


"Tidak, itu akan merepotkannya. Aku hanya pergi ke restorant dekat sini saja." kataku.


"Tidak! kau tidak boleh pergi. Diam di sini dan menurut. Aku mau mandi dulu," katanya yang langsung beranjak dari duduk.


Ia berjalan menghampiriku, "Jangan membantahku. Kau mengerti?" katanya mencium keningku tiba-tiba.


Deg ... deg ... deg ....


Jantungku berdegup kencang. Apa lagi ini? setelah mencium keningku, ia tersenyum tampan tanpa dosa. Gila! Pria gilaaaaa! aku sungguh ingin teriak dan berlari keluar dari ruangan ini.


Pria itu mengeluarkan ponsel. Sepertinya ia menghubungi seseorang. Ia meminta dibawakan makanan dan pakaian ganti. Dia bicara dengan siapa? saudarinya? lupakan, aku tidak berminat juga tahu masalah pribadinya.


***


Pada akhirnya, wanita bernama Agatha datang. Ia membawakan makanan dan pakaian ganti milik saudaranya.


"Ya," jawab pria yang duduk tidak jauh dariku.


"Kau menginap? di-di sini?" selaku.


"Ya, kenapa?" tanya pria itu masih dengan wajah tanpa dosanya.


"Ke-kenapa, apa? kau bisa pulang. Aku tidak apa-apa." jawabku.


"Apanya yang tidak apa-apa. Bagaimana jika terjadi sesuatu. Paling tidak, kita bisa bergantian jaga." katanya tak mau kalah.


Aku hanya bisa diam. Aku kalah berdebat dengan pria aneh itu. Wanita di sampingku hanya tersenyum sepertinya sedang menertawakan kami.


"Baiklah, aku pamit pulang dulu. Karena aku harus mampir ke rumah Hannah untuk memberikan hadiah pada Annah dan Lesi. Tadi aku sudah janji, tidak enak membuat anak-anak itu menunggu." kata Agatha.


"Oh, aku akan antar." sahutku.


"Duduk dan makan saja. Biar aku yang anatar. Ayo Agatha," katanya tanpa menunda waktu.


"Aku pulang, Lora. Senang berkenalan denganmu. Sampai besok, aku akan datang membawakan sarapan." kata Agatha, tersenyum cantik padaku.


Entah mengapa aku menyukai wanita ini. Maksudku bukan dalam hal macam-macam. Aku suka dia yang lemah lembut dan ramah. Juga baik hati, senyumnya manis. Meskipun senyun Alexias juga manis. Ah, apa yang kupikirkan, ini. Pergi, pergi, pergi! pergilah pikiran kotor.

__ADS_1


Agatha dan Alexias pun pergi meninggalkan ruangan. Aku diam menatap makanan yang tertata di atas meja. Hidangan makan malamnya saja mewah seperti ini. Rasanya mereka dari keluarga kalangan atas.


Rasa takut tiba-tiba menghampiri. Bagaimana jika kebenarannya terungkap. Apakah aku akam hidup sendiri tanpa anak-anakku? atau aku akan hidup dengan satu atau dua putriku? tidak mau, aku mau semua putriku. Aku tidak akan berikan hak asuh putriku untuk siapapun. Hanya aku yang berhak, karena aku Mami mereka.


Cukup lama aku menunggu pria aneh itu. Yang kutunggu akhirnya datang. Pria itu langsung duduk di sampingku tanpa izin. Membuatku tidak nyaman. Akupun menggeser sedikit tempat posisi dudukku.


"Kau tidak makan?" tanyanya. Ia lantas tersenyum, "Ah, jangan bilang kau menungguku." lanjutnya bicara.


"Ti-tidak! jangan besar kepala, Tuan. Untuk apa juga aku me ... " belum sampai ucapanku selesai terucap. Alexias sudah memasukan steak ke dalam mulutku.


"Makan dan diam. Jangan terus berkicau seperti burung." katanya mengejekku.


Aku kesal, tetapi aku juga tidak bisa marah. Lebih daripada itu, rasa steak ini sangat lezat. Mataku sampai berbinar menikmati rasanya yang nikmat.


"Enak?" tanyanya.


Aku menganggukkan kepala, "Ya, kau juga makanlah. Aku bisa makan sendiri." ucapku merebut garpu dari tangannya.


Tangan kananku dipegang oleh tangan kirinya, "Sudah diam. Biar aku yang menyuapimu." katanya.


"Tu-tunggu. Kau ini kenapa? aku kan punya dua tangan yang masih berfungsi dengan baik. Aku bisa makan sendiri. Jangan bertindak seolah kau priaku." kataku sedikit kesal, karena aku tidak bisa benar-benar menikmati makan malamku.


"Priaku, ya. Hm, ide yang bagus. Jika begitu, anggap saja aku memang priamu. Mudahkan," jawabnya tanpa merasa bersalah.


Ingin sekali ku tarik telinga laki-laki ini. Dia ini benar-benar polos atau apa? atau dia sengaja mempermainkanku. Akupun hanya diam mengalah. Pria ini menyuapiku, sampai steakku habis tanpa sisa. Aku baru sadar, sejak siang aku belum makan. Itulah kenapa aku makan dengan lahap malam harinya.


"Kau tidak makan? ayo makan," kataku mengambil udang dan menyuapkan ke mulutnya.


Dahinya berkerut, dia seperti ragu memakannya. Namun, tidak beberapa lama, ia membuka mulut dan memakannya.


"Apa enak?" tanyaku.


Alexias hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab. Aku menyuapinya lagi, dan dia memakannya lagi. Begitu sampai ia menghabiskan tiga ekor udang.


"Lex ... " panggilku.


"Hm," jawabnya.


"Kau tak apa-apa, kan?" tanyaku melihat wajah Alexias yang tiba-tiba memerah.


Alex menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa. Jangan hiraukan aku." katanya, yang lalu mengusap wajahnya dengan sapu tangan.


Aneh, kenapa wajahnya langsung merah? apa jangan-jangan ... mataku pun langsung melebar. Aku ingat jika ketiga anakku tidak bisa makan udang dan makanan laut. Alexias kan Papinya, kemungkinan dia juga punya alergi. Bodohnya aku, aku sudah meracuni orang.


*****

__ADS_1


__ADS_2