Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 96. Transaksi


__ADS_3

Peringatan!


Bacaan di bawah mengandung unsur 21+, kekerasan, kata-kata umpatan dan darah. Diharapkan para pembaca bijak dalam menyikapi. Terima kasih.


Seseorang sudah menunggu di sebuah gudang kosong. Ia duduk dengan menaikan kedua kakinya ke atas meja yang ada di hadapannya. Ia menanti kedatangan orang-orang bayaran yang disewanya.


"Apa mereka sungguh mampu melakukannya?" batinnya bertanya-tanya.


Baru saja ia berpikir bagaimana cara orang-orang yang disuruhnya melakukan pekerjaannya. Pintu terbuka dan masuklah dua orang, diikuti tiga orang menggendong tiga anak kecil, yakni si kembar.


"Boss kami sudah dapatkan anaknya," kata salah satu dari kelima penculik.


Seseorang yang dipanggil Boss itupun, untuk sesaat tercengang. Ia tidak yakin jika tiga anak kecil di depannya adalah anggota keluarga Owen yang disegani di kota tempatnya tinggal.


"Kalian yakin?" tanya seseorang itu tidak percaya.


"Apa boss meragukan pekerjaan kami? demi ini semua, kami mempertaruhkan nyawa kami." jawab seseorang.


Seseorang yang duduk itu, lantas berdiri dan menghampiri ketiga anak yang tersungkur di lantai. Dilihatnya baik-baik ketiga anak itu dengan seksama. Ia bahkan sampai mengeluarkan ponselnya dan menyamakan wajah anak-anak di hadapannya dengan yang di galery ponselnya.


Senyum cerah mengembang, "Bagus!" katanya. Ia lantas berdiri dan menatap lima orang di depannya, "Kerja bagus. Kalian memang selalu memuaskanku." lanjutnya memuji.


"Tentu saja, Boss. Kami ini bukan pekerja sembarangan. Kami tidak asal melakukan pekerjaan dan kami juga terlatih," jawab seseorang yang sebelumnya menyamar sebagai pelayan.


"Ok. Upah kalian masing-masing sudah kusiapkan. Ambillah," kata seseorang yang terpanggil sebagai Boss itu.


Ia berjalan mendekati mejanya, membuka laci meja dan mengeluarkan lima amplop coklat berukuran cukup tebal.


"Ini," katanya. Meletakan di atas meja di hadapannya.


Kelima orang itu saling bertatapan satu sama lain. Mereka lalu berjalan bersamaan mendekati meja. Satu per satu dari mereka mengambil amplop yang ada di atas meja. Kelimanya membuka amplop untuk mengecek jumlah uang yang mereka terima. Setelah dilihat, jumlahnya melebihi kesepakatan. Tentu saja itu membuat mereka senang.


"Tuan, bukankah ini lebih?"


"Ya, memang lebih. Kenap"


"Hm ... buka apa-apa. Hanya sedikit terkejut saja. Apa alasan Anda memberikan kami upah lebih?"


"Ya, Tuan. Apa alasan Anda. Jangan katakan ini hanya kesenangan sesaat karena Anda akan melakukan hal buruk pada kami."


"Apa benar begitu, Tuan?"


"Boss, tolong jawab."


Seseorang yang duduk itu lalu, menatap tajam dan tertawa keras. Ia tidak sangka jika lima orang di hadapannya akan berpikiran jauh tentangnya.


"Hahaha .... "


Kelima orang itu semakin bingung. Mereka kembali saling menatap, bahkan saling berbisik dan memberikan bahasa isyarat.


"Tenanglah kalian semua. Akan kujelaskan. Aku memberikan uang lebih bukan karena alasan. Ini adalah harga yang dibayar, karena kalian berhasil menangkap umpan yang besar. Kalian juga tidak perlu khawatir, pekerjaan kalian berlima cukup sampai di sini. Tidak ada hal apapun yang akan melibatkan kalian semua. Apa kalian paham?" jelas seseorang itu dengan tegas.


"Ah, begitu. Baiklah, kami akan menerima dengan senang hati pemberian Anda."


"Benar, Boss. Maaf, telah mencurigai Anda.


"Ya, kami minta maaf."


"Maaf, Boss."

__ADS_1


Mereka semua pun meminta maaf atas sikap buruk mereka yang telah mencurigai seseorang yang dipanggil Boss itu. Setelah permasalahan selesai, mereka pun berpamitan. Si Boss mempersilakan dan mengizinkan orang bayarannya pergi. Tapi sebelum kelimanya pergi, mereka lebih dulu diminta memindahkan si kembar ke sebuah ruangan dan pintu itu dikunci dari luar oleh si Boss.


***


Satu jam kemudian ....


Reine datang ke tempat yang sudah dijanjikan. Ia membawa koper berisikan uang, upah yang sudah disepakati bersama. Koper itu senganja ditinggal Reine di dalam mobilnya. Ia ingin memastikan lebih dulu pekerjaan orang bayaran yang disewanya.


Sesampainya ia di gudang dan bertemu seseorang yang disuruhnya, Reine langsung meminta untuk ditunjukkannya anak-anak yang diincarnya. Ia ingin tertipu lagi oleh siapapun.


"Di mana anak-anak itu?" tanya Reine.


"Ada di balik pintu itu," jawab seseorang itu, menunjuk salah satu ruangan dengan pintu yang tertutup.


"Kau yakin, kan?" tanya Reine lagi.


"Untuk apa aku berbohong, Nyonya. Mana uangnya?" tanyanya balik.


"Tunjukan dulu mereka. Baru akan kuberikan upahnya." jawab Reine tanpa ragu-ragu lagi.


"Ck! benar-benar, ya. Anda sebegitunya tidak percaya pada orang baik ini. Baiklah, akan kutunjukakan." kata seseorang itu sedikit kesal dengan sikap arogan Reine. "Ayo," ajaknya.


Pria itupun berjalan mendekati sebuah ruangan dengan pintunya yang tertutup. Reine dengan ragu-ragu mengikuti. Ada rasa takut dan cemas menyelimutinya. Pasalnya, ini pertama kalinya ia bertransaksi dengan orang bayaran yang menurutnya tidak jelas identitasnya. Ya, mau bagaimana lagi, semua orang bayaran akan menyembunyikan identitas asli mereka dengan memberitahukan identitas yang palsu. Mau tak mau, sebagai pelanggan yang 'Butuh' Reine tidak harus memedulikan identitas mereka semua yang ia bayar.


Keduanya berdiri di sebuah ruangan, "Apa di sini?" tanya Reine.


Pria itu menganggukkan kepala, "Ya, lihat saja sendiri jika Nyonya tidak percaya." jawab seseorang itu.


Pintu dibuka oleh pria itu. Reine melihat dan masuk ke dalam ruangan untuk memastikan. Si pria ikut masuk ke dalam, ia ingin melihat reaksi Reine saat tahu apa yang diinginkan terpenuhi.


Reine memeriksa tiga anak yang tersungkur tidak sadarkan diri di lantai. Ia melihat, gaun yang dipakai ketiga anak memang sama dengan si kembar tiga yang sebelumnya ia temui. Namun, Reine tidak semudah itu percaya. Ia kembali memastikan, Ia mendekati anak-anak itu dan melihat langsung wajah mereka. Ia melihat di tangan anak-anak ada gelang pemberiannya juga.


"Apa Nyonya puas?" tanya pria itu.


Reine menganggukkan kepalanya cepat, "Ya, tentu saja aku puas. Puas sekali," jawab Reine.


"Jadi," lanjut pria di samping Reine.


Reine menatap pria di sampingnya lalu, tersenyum tipis menggoda. Pria itupun tersipu, jika tersenyum Reine memang terlihat cantik dan menawan.


"Wanita ini cantik sekali," batin si pria.


"Ah, pria di mana-mana sama saja. Lihat wajah bodohmu itu, menjijikan!" batin Reine.


"Jadi, apa?" sambung Reine, ia mengusap lembut dada pria di hadapannya.


"Hm, Nyonya. Ini tidak baik untuk jantungku. Aku ini pria normal, jika kau begini, aku tidak akan tinggal diam." kata pria itu.


"Oh, begitu. Lantas, kau mau apa?" kata Reine. Ia melangkahkan kaki selangkah, mendekati pria itu, jarak keduanya semakin dekat.


Reine menatap pria di hadapannya, "Jika dilihat, dia lumayan juga. Ah, saat bertemu dia tidak mencukur kumisnya ya, rambutnya juga tidak dirapikan. Hmm ... " batin Reine menilai.


"Nyonya ... " panggil si pria.


"Coba, panggil aku Reine. Aku mau dengar kau memanggilku 'Reine'. Ayo, lakukan." pinta Reine.


Pria itu kaget, "Re-reine ... " gumamnya memanggil ragu-ragu.


Reine tersenyum, "Sudah kuduga, kau seksi sekali saat memanggil namaku." puji Reine.

__ADS_1


Pujian Reine membuat si pria semakin malu. wajahnya memerah karena ia belum pernah dipuji wanita secantik Reine.


"Nyo ... ah, Reine. Apa kita akan terus berdiri di sini?" kata pria itu mulai terpancing. Isi pikirannya mulai keruh.


Reine tahu isi pikiran mesum dari pria di hadapannya. Tapi, anehnya Reine justru menyukai hal itu. Entah kenapa, Reine sudah mulai bosan dengan Frans dan ingin mencicipi sesuatu yang baru.


"Lalu, kau mau kita ke mana? transaksi kita kan belum selesai." jawab Reine, menatap pria itu dengan tatapan nakal yang menggoda.


"S*al, wanita ini membuatku berg**rah saja." batin si pria.


Hati dan pikiran pria itu sudah kacau. Ia lantas menarik tangan Reine dan membawa Reine keluar dari ruangan di mana si kembar tiga dikurung.


Pria itupun langsung menyerang Reine, ia mencium bibir Reine gemas. Reine mendorong pria itu dan meminta pria itu untuk tidak menyakitinya.


"Wow, hati-hati. Jangan menyakitiku. Jangan juga terburu-buru. Kita akan selesaikan transaksinya dulu, ok." kata Reine.


Pria itu menatap Reine, "Ayo kita ganti transaksi kita," kata pria itu.


Reine memutar bola mata, "Apa maksudnya itu?" tanya Reine berpura-pura tidak tahu.


"Lemparkan dirimu padaku, sebagai ganti uang. Jika kau mau, kau tidak perlu membayarku sepeserpun. Bagaimana?" kata pria itu.


Reine masih berpura- pura bodoh, " Jadi, kau tidak mau kuberi uang? aku hanya perlu membayarmu dengan diriku, begitu?" jelas Reine bergaya polos.


"Benar sekali. Bagaimana, apa kau mau? aku sudah tidak bisa menahannya lagi," kata Pria itu.


Reine tersenyum, "Ini, kau yang membuat kesepakatannya, ya. Awas saja kau ingkar janji, aku akan menuntutmu." kata Reine.


Pria itu tersenyum balik, "Tidak akan. Aku tidak akan memungkiri ucapanku." katanya.


Reine langsung mengalungkan tangannya ke leher pria itu, "Sepakat. Aku akan terima tawaranmu itu," kata Reine.


Pria itu menahan tengkuk leher Reine dan mencium bibir Reine lembut. Lama-lama ciuman itu berubah menjadi ciuman yang kasar dan mengg**rahkan.


"Umh .... "


Pria itu mencumbui Reine. Ciumannya turun ke leher sampai dada Reine. Pria itu sungguh dibutakan oleh Reine.


"Kau harum sekali," bisik Pria itu.


"Benarkah? apa kau suka?" bisik Reine, ia meniup telinga pria yang mencumbuinya.


"Tidak hanya harum, kulitmu juga sangat halus. Ah, rasanya aku jadi ingin cepat-cepat menikmatinya," gumam pria itu.


"Apa kita akan melakukannya di sini? di tempat ini?" tanya Reine ragu-ragu.


"Di sini ada kamar kosong. Kamar yang baisa kupakai tidur. Kita bisa pindah ke sana jika malu. Atau, kita bermain di sini saja? bukankah di sini tidak ada siapa-siapa?" kata Pria itu.


"Terserah di mana saja. Aku pasti akan menikmatinya, jika itu bersamamu." jawab Reine.


"Ahhh ... aku sudah tidak tahan lagi, sayang." bisik pria itu. Seakan mendesak Reine untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi.


Setiap sentuhan dan ciuman pria itu, ternyata mampu membuat Reine menggila. Suhu tubuhnya mulai memanas. Reine tidak tahan lagi, ia ingin mencoba sesuatu yang lain dari pria yang saat ini sedang menyentuh setiap inci kulitnya.


"S*al*n! pria ini hebat juga. Dia tahu benr dimana letak area sensitifku. Dibandingkan Frans dan Evan, dia lebih ... ahhh ... lebih ... emhh ... lebih mengg**rahkan. Aku tidak akan bisa menahan jika seperti ini. Rasanya aku ingin segera menyatu dengannya." batin Reine.


Pada akhirnya Reine dan pria itu melakukan hal yang tidak seharusnya. Meraka bercinta, saling memuaskan h*srat mereka masing-masing. Tidak hanya sekali, bahkan dua orang yang sama-sama gila itu melakukan permainan yang sama sampai beberapa kali.


*****

__ADS_1


__ADS_2