Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 35. Penggoda Yang Tergoda


__ADS_3

Alexias*


Aku meminta waktu pada Lora untuk bicara berdua. Awalnya aku ragu, aku takut Lora akan menolakku. Ternyata tidak, dia begitu saja mengiakan ajakanku. Kamipun akhirnya mengbrol di mobil. Aku tanyakan apa yang ingin kutanyakan. Selama enam tahun aku terus menerus gelisah tidak menentu. Dan aku pun mendapatkan jawaban yang kuingin dengar.


Jadi, inti dari ceritanya, adalah. Dia dijebak oleh sepupunya dan tunangannya yang berkomplot. Dia akan dijual, mungkin lebih tepatnya sengaja akan dipermalukan dengan tujuan tertentu. Yang tidak dijelaskan oleh Lora. Papa dan Mamanya murka, sepupunya pandai mencari muka. Seolah semua kesalahan dilimpahkan sepenuhnya kepada Lora. Wanita sepertinya adalah tipe wanita licik, seperti rubah.


Karena itu juga pertunangan dibatalkan sepihak oleh pihak laki-laki. Niat hati ingin menjelaskan semuanya, Lora memergoki sang manatan tunangan dan sepupu sedang bercinta. Tanpa rasa malu yang sepupu memamerkan kelicikannya. Tanpa ragu sang mantan terkutuk itu mengakui jika hanya memanfaatkan Lora saja. Aku sungguh kesal saat mendengar cerita itu, tetapi aku tahan karena aku menghargai Lora.


Karena terlalu sedih, saat bercerita dan meluapkan semua penderitaannya , ia pun tertidur saat kupeluk. Aku tidak tega membangunkannya, padahal aku ingin mengajaknya minum kopi setelah bicara soal hasil tes DNA yang Agatha lalukan.


Mau tak mau aku membawanya pergi. Kubawa dia ke rumah priabadiku. Di mana tidak ada seorang pun yang tahu tempat itu, termasuk Agatha. Rumah itu belum pernah sekalipun kudatangi semenjak kubangun. Ada seorang yang merawat rumahku itu, dia adalah keponakan dari tetangga sebelah rumahku.


Kupindahkan Lora dari mobil ke kamarku. Aku lalu keluar setelah membaringkan Lora dan menyelimutiny. Aku ingin wanita cantik tidur nyenyak. Aku hendak menyapa tetangga sebelah rumah yang tahu aku datang.


"Hallo, Tuan Owen." sapa tetanggaku.


"Hallo, Nyonya Benz." sapaku balik. "Di mana Tuan Benz?" tanyaku.


"Sedang ada di kebun belakang. Oh, apakah Anda datang bersama istri Anda?" tanyanya tiba-tiba.


Aku tersentak kaget. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Pada akhirnya aku berbohong dan mengiakan pertanyaannya.


"Ya," jawabku tersenyum kaku.


"Wah, Anda sedang menikmati masa-masa indah rupanya. Datanglah ke rumah kami jika Anda ada waktu. Ini sebagai bentuk rasa terima kasih, karena Anda bersedia memberikan Janet dan Robbin pekerjaan. Meski hany untuk mengurus rumah." katanya lagi terlihat senang.


Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. Aku mengiyakan lagi ucapannya. Lalu akupun berpamitan untuk masuk dalam rumah. Namun, sebelum aku masuk dalam rumah, aku mengambil berkas dokumenku di mobil. Ada beberapa berkas yang harus kuperiksa dan pekerjaan yang belum kuselesaikan.


***


Aku ke ruang kerjaku. Di sini aku mengerjakan pekerjaanku yang tertunda. Tempat ini terasa nyaman, padahal baru aku pakai untuk pertama kali. Sejenak aku amati dekorasi ruangan yang kumasuki, lalu aku kembali fokus menyelesaikan pekerjaanku.

__ADS_1


Tidak terasa, hampir dua jam aku menatap layar komputerku. Kepalaku terasa sedikit sakit dan mataku mulai panas. Karena pekerjaanku sudah selesai, aku pun merapikan berkas dokumen dan mematikan komputerku. Aku membawa berkas dokumen bersamaku menuju kamar tidur. Saat pintu kamar kubuka, aku melihat Lora berdiri menatap fotoku.


Kuletakan berkas dokumen di meja dekat sofa. Aku melangkah menghampiri wanita cantik yang jarakny tidak jauh dariku. Aku menggodanya, entah mengapa aku senang melihatnya malu-malu dan merona. Kikira dia akan diam saja saat kugoda. Ternyata dia lebih berani dari dugaanku. Wanit ini benar-benar menguji kesabaranku. Kami saling mengoda, dan aku bicara serius padanya. Singkatnya, kami saling mengungkapkan rasa.


***


Lora dan Aku berbelanja. Kami pergi ke supermaket dekat rumah. Aku mengikutinya sambil mendorong troli belanjaan.


"Kau punya rumah. Kenapa tinggal di Hotel?" tanyanya padaku.


"Itu karena aku datang bersama Agatha. Ah, mungkin itu bukan jawaban yang tepat. Saat datang sendirinpun, aku lebih nyaman tidur di Hotel. Mungkin karena, jika tidur di rumah aku akan sendirian." jelasku.


"Kau takut sendirian?" tanyanya lagi.


"Ya, sedikit. Kenapa? kau mau menemaniku?" tanyaku menggodanya.


"Hm, kau perlu belajar dari anak-anakmu, Lex. Anak-anakmu itu sangat pemberani dan tidak mengenal rasa takut." katanya lagi.


"Sepertinya, keberanian mereka berasal darimu. Kau kan juga wanita yang berani. Berani menelantarkan laki-laki yang sudah kau goda," gumamku mengodanya lagi.


Lora menatapku tajam, "Lex, hentikan! kau kan tahu aku terpaksa. Itu kan juga sudah lama terjadi, sekarang aku di sini. Aku tidak meninggalkanmu." katanya.


Aku tersenyum, "Jadi, kau mau bertanggung jawab, kan?" tanyaku berbisik.


Dia kaget dan mengerutkan dahinya, "Ta-tanggung jawab apa? kau ini, jangan macam-macam." katanya lagi.


Dia berjalan cepat seakan malu pikirannya terbaca olehku. Padahal aku sama sekali tidak tahu isi pikirannya. Aku hanya diam mengikutinya. Dia dengan cepat mengambil semua yang dia butuhkan tanpa mengulur waktu. Kami sengaja belanja, karena aku ingin memakan masakan Lora. Begitu juga anak-anak kami. Selesai berbelanja, kamipun mengantri di kasir untuk membayar tagihan belanja, lalu pulang ke rumah.


***


Aku duduk di hadapan Lora, aku menatapnya yang sedang sibuk memotong sayuran. Cantik, sangat cantik. Kulitnya yang putih, matanya yang indah, aku suka semua hal dari wanita ini. Aku ingin sekali mencium dan mengigit hidung mancung itu. Hmmm ... aku jadi gemas.

__ADS_1


"Ada yang bisa kubantu?" tanyaku menawarkan bantuan.


"Ah, tolong ikatkan rambutku. Jepit rambutku longgar," jawabnya, yang langsung membelakangiku.


"Oh, ok." sahutku.


Aku melepas jepit, dan mulai merapikan ulang rambutnya. Aku menggulung rambut itu dan kujepit. Hm, aku melihat tengkuk leher dan bahu yang menggoda. Sekalian saja kukerjai dia. Aku menciumi tengkuk lehernya sampai ke bahu, kupeluk dia dari belakang. Tanganku mengusap lembut perut ratanya.


"Hhh ... Lex, jangan begini." gumamnya.


"Hm, suaramu terdengar seksi. Coba panggil namaku lagi," pintaku.


Aku menciumi tengkuknya lagi, ciumanku turun ke punggungnya, tanpa sadar aku membuat jejak di sana. Dan Lora langsung mencengkram tanganku yang melingkar di perutnya, diikuti bibirnya yang mengerang.


"Mhhh ... hhh ..." erangnya.


Mataku terbelalak. Aku seketika sadar, jika apa yang kulakukan ini berlebihan. Aku sudah membuat kesalahan dengan menggodanya tanpa batasan.


"Umh, maafkan aku. Aku hanya berniat menggodamu. Namun, sepertinya aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku ... " kataku, langsung melepaskan pelukanku. Aku merasa tidak enak pada wanita di sampingku ini.


Aku semakin kaget, saat Lora tiba-tiba sana mendorongku sampai aku menempel ke dinding. Dia menatapku tajam, tangannya menyusuri dadaku turun ke perut dan langsung menyusup masuk ke dalam kausku. Dirabanya perutku lalu naik ke dada, dia tersenyum nakal padaku. Ah, wanita ini sungguh berani menggodaku.


"Kau berani menggoda ular, Tuan Owen. Apa kau ingin digigit oleh ular bertina ini, hm?" katanya berbisik di telingaku.


Telingaku digigitnya dan dihisapnya. Ahh ... rasanya tubuhku memanas. Dia bahkan mengembuskan napasnya ke telingaku. Aku tidak bisa menahan diriku, langsung saja kutukar posisi kami. Ku himpit tubuhnya dengan tubuhku, ku dekatkan wajahku dengan wajahnya dan kuraih bibir ranumnya.


"Umh ... " gumamnya.


Aku rangkul pinggang rampingnya dengan tangan kiri, dan menahan tengkuk lehernya dengan tangan kanan. Dia yang awalnya diam, mengalungkan kedua tangannya ke leherku dan membalas ciumanku.


*****

__ADS_1


__ADS_2