
Flora*
Dua minggu kemudian ....
Sesuai permintaan Hannah, aku akan pergi ke dokter dan memeriksakan kandunganku. Hannah berhasil mendapatkan rekomendasi dokter kandungan yang cukup bagus dan profesional. Ya, itu menurut penilaian dari beberapa orang.
Aku ingin menghargai Hanna yang sudah bekerja keras. Oleh sebab itu, aku tidak menolak dan tidak sebegitu menyukai perjalananku ke rumah klinik kali ini. Entah mengapa hatiku merasa hampa, seperti ruangan kosong tanpa adany perabotan dan barang-barang lain yang mengisi.
Hannah menatapku terus sejak tadi kami berangkat. Aku pura-puea tidak melihat, aku memilih menatapi jalan yang banyak di lalui orang. Sampai tiba saatnya ia menegurku dengan suaranya yang lembut.
"Kau tidak apa-apa, Lora? Apa perlu kita batalkan saja pertemuan kita kali ini? aku akan atur ulang jadwalnya untukmu jika memang kau tidak bisa. Aku tidak akan memaksamu." Katanya
Kupalingkan wajahku padanya, "Aku tidak apa-apa. Kau kan sibuk, tidak bisa aku terus menerus merepotkanmu. Aku juga tidak bisa seenaknya mengambil libur, kan. Semua sudah ada jadwalnya. Kita selesaikan saja ini semua dengan cepat." jawabku. Aku mengatakan semuanya begitu saja tanpa kupikirkan lebih dulu.
"Oh, ok." jawabnya singkat.
Dari jawabannya, aku yakin dia sedang ada dalam keadaan tidah baik. Dia pasti akan lebih berhati-hati karena tahu aku sedang tidak enak hati. Aku tau Hannah sedang cemas dan gelisah, karena aku akan melakukan tindakan ekstrim.
Dalam pikiranku, aku yakin akan melakukannya. Namun, entah mengapa hati ini rasanya sakit. Janin ini, aku memang tidak mengharapkan kehadirannya. Bagiku, janin ini adalah sebuah kesalaha dan penghambatku. Pikiranku memang picik. Ya, mau bagaimana lagi. Aku tidak sanggup lagi menghadapi cemoh.
Jika kuprtahankan. Hanya malu yang akan kudapatkan. Baik itu dari tetangga sekitar rumah Hannah ataupun lngkungaekerjaanku. Terlebih atasanku. Apa yang akan kukatakan? alasan apa yang kugunakan? dalam surat lamaran dan kartu identitasku, statusku adalah seseorang adalah seorang yang belum atau tidak menikah. Yang berarti aku adalah perempuan tanpa suami. Lalu, jika semua tahu aku hamil. Apa yang akan mereka pikirkan?
Mungkin aku tidak hanya kan mendapatkan cemooh, tetapi juga langsung diasingkan. Mereka yang berpikiran sempit pasti akan menganggapku wanita sampa yang bisa dipakai dan dibuang.
Ah ... rasanya kepalaku mau meledak. Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi sekarang. Semoga ini cepat berakhir, hanya ini yang kuinginkan.
Aku larut dalam pmikiranku. Sampai aku tidak sadar jika aku dan Hana sudah ada di klinik. Tepatnya, kami sudah ada di ruang tunggu. Menunggu giliran pemeriksaan sesuai nomor Antrian.
"Kau ingin minum dulu?" tawar Hannah.
"Ya," jawabku.
Hannah memberikanku sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya. Ia pasti ingin aku langsung minum, tanpa kesulitan membuka tutupnya lagi.
"Terima kasih," uccapku.
__ADS_1
Hannah tersenyum tipis padaku, "Ya, sama-sama." jawabnya.
Aku meneguk dan meminum air dalam botol. Hampir setengah botol aku langsung habiskan. Hannah buru-buru mengambil alih memegang botol dan menutup kembali botol iu.
"Jika kau ingin ke kamar kecil, bilangsaja. Aku akan langsung mengantarmu." kata Hannah.
Aku menganggukkan kepalaku perlahan, "Ya," jawabku.
Kami pun duduk tenang dan menunggu. Hampir kira-kira sepuluh menit, seorang perawat keluar dari ruangan dan memanggil namaku.
"Nona Flora Elvise. silakan." panggilnya.
"Ya," jawabku yang langsung berdiri diikuti Hannah.
Aku dan Hannah berjalan masuk dalam ruangan. Di dalam ruangan tersebut, ada seorang perawat dan dokter wanita yang cantik. Meski usia dokter di depanku tidak muda lagi, tetapi senyumnya yang ramah membuatku nyaman. Aku merasa cukup tenang sekarang.
"Hallo, selamat pagi." sapanya padaku dan Hannah.
"Hallo dokter Patrick. Apa kabar?" sapa Hannah.
"Oh, Hallo juga. Kabarku baik. Hannah, kau tumbuh semakin cantik sekarang. Berapa usiamu, Nak?" tanya dokter itu pada Hannah.
"Anda bisa saja mengejek, ya. Tahun ini sudah menginjak usia dua puluh tahun." jawab Hannah.
"Aku tidak sangka jika akan bertemu lagi denganmu. Kau sangatmirip mendiang Papamu, ya." kata dokter itu lagi.
"Terima kasih, dok. Oh, iya. Perkenalkan, ini adalah teman sekolah saya saat di Prancis. Namanya Flora. Dia yang akan melakukan pemeriksaan." kata Hannah mempekenalkan kami.
"Oh, Hallo. Senang bertemu denganmu." sapa dokter itu padaku.
"Hallo juga, dok. Mohon bantuan Anda." jawabku.
"Ya, silakan duduk dulu." pintanya.
Kami pun duduk. Aku dan Hannah saling memandang. Hannah tersenyum padaku seakan tidak akan terjadi apa-apa, atau hal buruk padaku.
__ADS_1
"Jadi, bisa jelaskan. Apa keluhan kalian datang." tanya dokter.
Aku menganggukan kepalaku. Aku mulai mengatakan alasanku dan juga niatanku datang ke tempat itu. Awalnya, dokter itu terlihat shock mendengar ceritaku. Bahkan dengan tidak tahu malunya pun, aku mengatakan yang sejujurnya. Jika ini adalah janin hasil hubungan diluar pernikahan. Aku juga menjelaskan singkat tentang kejadian yang kusebut kesalahan satu malam itu pada dokter.
Hannah ikut bicara. Ia menyampaikan apa yang menjadi kemauannya. Dari suara Hannah aku menangkap pasti, ia sama sekali tidak rela dan tidak suka aku membuang janin ini.
"Baiklah. Saya akan melakan pemeriksaan lebih dulu. Setelah itu, Anda pasti akan dengan mudah mengambil keputusan. Saya sebenarnya sangat menyayangkan jika Anda beniat menggugurkan janin dalam kandungan Anda. Disamping itu membahayakan kesehatan Anda, itu juga akan mempengaruhi psikologis. Usia Anda masih sangat mud, Nona. Namun, semua kembali lagi pada Anda yang mengambil keputusan." terang dokter.
"Ya, saya mengerti." jawabku.
Aku mulai menjani serangkaian pemeriksaan. Aku terus berharap ini akan segera berakir dan selesai sampai di sini. Namun, apa yan ku pikirkan dan yang kuinginkan, melenceng jauh dari kenyataan.
Pada saat pemeriksaan, dokter mengatakan jika aku hamil anak kembar. Itu artinya ada lebih dari satu janin yang kukadung. Saat diperiksa lebih teliti lagi, dokter pun mengatakan lagi hal yang membuatku dan Hannah tercengang.
"Selamat, Nona. Ada tiga janin yang sedang tumbuh di dalam rahim Anda. Kondisi Jannin sehat dan normal." kata dokter memberitahukan dan menjelaskan.
Jantungku langsung berdegu kencang. Tidak hanya satu atau dua anak, tetapi tiga. Aku akan punya tida anak sekaligus. Ini seperti mimpi, tetapi ini juga sangat nyata bagiku.
Mendengar itu, Hannah langsung menangis. Aku tidak tahu harus menafsirkan air mata Hannah sebagai ungkapan bahagia atau sebaliknya.
Saat tah aku mengandung janin kembar. Entah mengapa pikiranku berubah. Aku membayangkan apa jadinya aku bersama ketiga calon anakku ini.
"Kau masih tetap akan lakukan itu. Lora? kumohon jangan. Aku mau menjadi Ibu asuh ketiga anakmu. Tidak apa, kau bisa sibuk bekerja dan biarkan aku yang merawatnya." kata Hannah.
Aku menatap Hannah, ketulusannya memang tidak tergantikan. Aku pun tersenyum dan mengatakan ingin merawat janin yang kukandung ini hingga kelak mereka dewasa.
"Jika begitu, aku akan lahirkan dan membesarkan mereka. Terima kasih kau mau membantuku, Hannah. Maafkan aku." kataku.
Tiba-tiba saja, air mataku tidak terbendung laagi. Aku diliputi rasa penyesalan yang teramat dalam. Seketika aku langsung memeluk Hannah. Aku berulang-ulang mengucapkan kata maaf padanya. Hannah menyambut pelukanku dengan hangat.
"Ayo kita rawat dan besarkan bersama. Jangan khawatir, aku aan selalu ada di sisimu dan berpihak padamu." kata Hannah terisak.
Sungguh, aku merasa malu. Aku merasa bodoh karena sudah berpikiran sempit. Aku dibutakan oleh keegoisanku.
*****
__ADS_1