Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 47. Dalam Bahaya


__ADS_3

Sesuai apa yang Alexias inginkan. Ia membawa Lora dan anak-anaknya jalan-jalan. Betapa senangnya si kembar tiga di ajak Papinya pergi berkeliling ke area taman.


"Bukannya langsung ke rumah Mama dan Papa. Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Lora pada Alexias. Saat tahu Mobil yang ditumpanginya berhenti di sebuah parkiran depan kedai es krim.


"Aku mau ajak anak-anak jalan-jalan sore dulu. Mereka kan jarang sekali jalan-jalan. Kau sibuk kerja, Hannah juga sibuk dengan kedainya. Siapa yang akan menjaga mereka jika pergi keluar. Benar, tidak?" jawab Alexias tersenyum.


Lora tertegun sesaat, "Pria ini. Selalu saja jauh dari pemikiranku. Bersyukurnya aku dan Anak-anak memilikinya. Sepertinya aku memang tidak boleh melepaskanya." batin Lora.


Lora tersnyum, "Kau memanglah seseorang yang paling mengerti kami, Lex. Terima kasih, sudah mau memikirkan kami sejauh ini." kata Lora berterima kasih.


Alexias mengusap kepala Lora, "Tidak perlu berterima kasih. Apapun akan ku lakukan demimu dan anak-anak. Aku akan berikan semua yang ku miliki untuk kalian, keluargaku." Alexias berbicara dengan nada suara lembut.


Deg ... deg ... deg ....


Lagi-lagi, Alexias membuat jantung Lora berdegup kencang. Hanya dengan ucapan lembut dan perlakuan manis. Membuat Lora merasa nyaman.


"Ayo, semakin lama kita di dalam mobil, semakin sedikit waktu anak-anak bermain." ajak Alexis. Diikuti anggukan oleh Lora.


Alexias menatap ke belakang, "Anak-anak, ayo turun. Kita akan jalan-jalan sebentar di taman. Lalu beli es krim." ajak Alexias.


Si kembat tiga bersorak gembira. Mereka senang, diajak Papinya jalan-jalan sore. Mereka mengiakan ucapan Papinya. Alexias bergegas turun, begitu juga Lora. Keduanya membantu si kembar tiga turun dari dalam mobil dan menggandeng mereka bersama-sama, berjalan menuju taman.


"Papi, papi, lihat itu ... " kata Odellia menunjuk air mancur yang jaraknya cukup jauh darinya.


"Kalian mau ke sana?" tawar Alexias.


"Ya," jawab Odellia.


"Mau, mau." jawab Olesia.


"Annah, kenapa kau diam saja?" tanya Lora.


"Tidak apa, Mi." jawab Oriana.


Lora manatap Alexias, Alexias menatap Lora. Tahu jika kesayangannya butuh bantuan. Alexias pun segera bertindak.


"Gandeng dulu Lesi dan Lia, sayang." pinta Alexias.


"Ya," jawab Lora. Yang langsung menggandeng tangan Olesia dan Odellia.

__ADS_1


Alexsias berlutut satu kaki menghadap Oriana, "Apa ada bagian tubuhmu yang sakit? atau kau ingin sesuatu? katakan saja, Nak. Jangan murung. Papi dan Mami sedih jika kau murung seperti ini." kata Alexias dengan nada suara amat lembut.


"Hm, aku tidak apa-apa, Pi. Mungkin hanya sedikit lelah. Karena aku terlalu memikirkan sesuatu." gumam Oriana.


Alexias terdiam sejenak, "Apa kau memikirkan orang yang kabur itu? dia kan sudah tertangkap. Apa lagi yang mengganggu pikiranmu?" tanya Alexias setengah berbisik.


"Ya, aku sedih saja. Aku masih belum bisa membantu apapun." kata Oriana sedih, menudukkan kepala.


Dipeluknya Oriana oleh Alexias, "Tidak apa-apa. Papi tahu niatmu sangat baik. Ka mau menangkap penjahat itu, kan. Jangan murung lagi, Nak. Papi akan membantumu agar kau bisa menangkap penjahat lainya nanti. Ok." bujuk Alexias lalu, melepaskan pelukan.


"Sungguh? papi akan membantuku?" tanya Oriana melebarkan mata.


"Tentu. Papi 'kan sudah janji padamu juga sebelumnya. Papi akan dukung kau, Lesi dan Lia tanpa menuntut apapun. Kalian harus berusaha dan bekerja keras jika ingin berhasil. Patah semangat akan membuatmu putus asa. Anak Alexias Owen tidak boleh mengenal patah semangat, apalagi sampai putus asa. Karena Papi juga bukan orang yang mudah menyerah. Percayalah, usahamu pasti akan menghasilkan. Di Dunia ini, tidak ada usaha yang sia-sia, nak. Sekalipun hanya usaha kecil." jelas Alexias. Panjang lebar ia bicara, ia mencoba mengutarakan pemikirannya pada Oriana.


Oriana menganggukkan kepala, "Aku mengerti, Pa. Aku akan lebih berusaha tanP mengeluh lagi. Maafkan aku." jawab Oriana tersenyum manatap Alexias.


Alexias membalas senyuman Oriana dan mengusap kepala Oriana, "Ayo, kita akan jalan-jalan lalu makan es krim." ajaknya.


Mereka berlima berjalan mengelilingi taman. Sampai akhirnya berhenti untuk melihat air mancur. Puas berkeliling taman, Alexsias segera membawa Lora dan anak-anaknya ke kedai es krim.


***


Ponsel Alexias berdering, "Sayang, aku angkat telepon dulu, ya. Ini dari temanku. Sepertinya hal penting." kata Alexias berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan meja menuju pintu utama kedai es krim untuk menerima panggilan.


Lora menatap sekilas kepergian Alexias. Terlihat Alexias kelair dari kedai es krim dengan menerima panggilan. Karena kaca transparan, ia bisa melihat Alexias yang sedang bicara di telepon.


"Mami, aku mau ke kamar mandi." kata Odellia.


"Mami antar," kata Lora mengalihkan pandangan dari Alexias ke Odellia.


"Tidak perlu. Olesia dan Oriana akan menemaniku." jawab Odellia.


"Ya, Mami di sini saja." sambung Olesia.


"Kami akan segera kembali, Mami. Jangan cemas. Ayo, Lia ... " kata Oriana.


"Oh, ok. Hati-hati, ya. Jangan lama-lama. Jika ada apa-apa, kalian panggil Mami." Lora tampak panik dan khawatir.


"Ok," jawab Odellia.

__ADS_1


Lora memandangi kepergian ketiga putrinya menuju kamar mandi. Entah mengapa perasaan Lora tidak tenang. Ingin sekali mengantar kepergian anak-anaknya. Namun, ia mencoba untuk percaya pada ketiga anaknya yang yakin bisa menjaga diir dan hati-hati.


***


Oriana, Olesia dan Odellia selesai dari kamar mandi. Mereka berlari pelan saling mendahului. Mereka tertawa senang. Namun, tiba-tiba Odellia menabrak seseorang tanpa sengaja. Odellia pun jatuh dan lututnya terluka.


"Hei, dasar anak-anak nakal. Bagaimana kalian bisa berlarian di sini. Ini bukan taman bermain!" sentak seorang wanita.


"Ma-maafkan kami, Bi. Kami tidak melihat jalan," kata Oriana.


"Bibi kan tidak jatuh. Yang jatuh saudara kami. Kenapa Bibi marah-marah?" kata Olesia sedikit kesal.


"Apa? Bibi? kalian kira kalian siapa, hah. Enak saja memangilku Bibi." kata wanita itu kesal.


"Sayang, ada apa?" tanya seorang pria yang tiba-tiba datang.


Wanita itu memeluk pria yang baru datang menghampirinya, " Ini, anak-anak nakal ini menimbulkan masalah. Salah satu dari mereka menabrakku dan satu lagi bicara kasar padaku." jelasnya. Wanita itu merengek pada kekasihnya.


Mata pria itu melebar mantap si kembar tiga, "Apa kalian tidak tahu sopan santun? cepat minta maaf!" sentaknya.


"Untuk apa minta maaf?" kata Olesia menatap tajam pads pria itu.


"Lesi, jangan melawan. Aku tidak apa-apa." bisik Odellia.


"Tidak bisa, Lia. Bibi itu yang salah. Kita memang berlari, tetapi tidak mengotori pakaiannya. Bibi itu justu mebuatmu jatuh dan terluka, masih mengomel. Aku tidak suka pada Bibi itu." Omel Olesia.


"Sudahlah, Lesi." kata Oriana. Ia menatap pria dan wanita di hadapannya, "Bibi, Paman. Tadi aku sudah minta maaf. Jadi, tolong biarkan kami pergi." kata Oriana, tidak ingin terjadi keributan.


"Minta maaf? kapan?" kata wanita itu melebarkan mata, sampai-sampai matanya ingin lompat keluar.


Oriana kaget, "Bibi ini sengaja menindas kami, ya?" kata Oriana.


"Apa kau bilang? dasar anak-anak nakal. Apa kalian tidak dididik oleh orang tua kalian sampai kalian berani sekurang ajar ini pada orang tua?" kata wanita itu murka.


"Di mana orang tua kalian. Bawa kami pada mereka." sambung pria yang berada di samping wanita tersebut.


Oriana dan Olesia saling bertatapan. Mereka akhirnya tidak punya pilihan lain, selain membawa masalah ini pada Papi dan Mami mereka.


Olesia membantu Odellia berdiri, memapah Odellia. Odellia tertatih karena kakinya sakit dan lututnya terluka. Oriana membantu memapah di sisi lain. Mereka berjalan perlahan menuju meja di mana Mami mereka duduk.

__ADS_1


*****


__ADS_2