
Keesokan paginya. Alexias bangun awal dan sibuk menyiapkan sarapan. Si kembar tiga juga bangun dan melihat Papinya sibuk menata sarapan di meja makan.
"Papi membuat sarapan? Mami mana?" tanya Oriana.
"Hm, Mami masih tidur. Kalian jangan ganggu Mami, ya. Nanti Papi yang akan antar kalian ke sekolah." jawab Alexias.
"Oh, ok." jawab Oriana.
"Hoaamm ... aku masih mengantuk." gumam Odellia.
"Kau bangun terlalu awal tadi. Kan aku sudah bilang, tidur lagi." omel Olesia.
"Jangan mengeomel seperti Mami. Dasar kau," balas Odellia ketus.
"Ck, kalian ini pagi-pagi sudah bertengkar. Ayo cuci tangan lalu makan," sahut Oriana.
"Ada apa? kalian kenapa?" tanya Alexias yang baru datang dari dapur membawa nampan berisi susu hangat.
"Tidak apa-apa, Pi. Hanya sedikit pertikaian kecil diantara anak-anak Papi yang menggemaskan ini." jawab Oriana.
Alexias mengernyitkan dahi, "Oh ... begitu." sahut Alexias ber-oh ria.
"Apa maksudnya, ya? sudahlah, aku tidak mengerti tentang anak-anak lebih baik dari Lora. Nanti aku tanya saja ke Lora, apa yang terjadi." batin Alexias.
Alexias melihat ketiga putrinya pergi menuju dapur untuk mencuci tangan sebelum makan. Ia kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Ia meletakan gelas berisi susu hangat di atas meja. Sarapan istimewa untuk keluarga sudah tersedia dan siap dinikmati.
Beberapa saat kemudian, Agatha datang dengan membawa kotak bekal. Ia membawa titipan dari Mamanya untuk si kembar tiga.
"Pagi, saudaraku terkasih." sapa Agatha.
"Oh, hallo. Pagi juga. Kau datang, ayo duduk dan sarapan." ajak Alexias.
Agatha melihat hidangan di atas meja, "Wuahh ... sepertinya enak. Siapa yang memasak? aku sudah sarapan tadi di rumah Mama, Mama juga menitupkan ini untuk anak-anakmu." kata Agatha meletkana kotak bekal di atas meja. Mata Agatha melihat sekeliling, "Di mana iparku? " tanya Agatha.
"Masih tidur," jawab Alexias.
Agatha kaget, "Hah? masih tidur? Aneh, tidak biasanya dia bangun terlambat." gumam Agatha. Agatha ingat sesuatu lalu, ia melebarkan matanya. "Ah, benar juga. Wah, wah ... " kata Agatha menatap Alexias seakan menertawakan Alexias.
Alexias menatap Agatha, " Kau kenapa? kenapa kau tersenyum aneh begitu?" tanya Alexias.
Agatha mengangkat kedua bahunya, "Emh, entahlah. Pikir saja sendiri." jawab Agatha. Ia mengambil kentang goreng lalu memakannya dan pergi ke dapur.
"Hei, cuci tanganmu dulu. Kau ini, sudah berumur tidak tahu kebersihan, ya." omel Alexias.
__ADS_1
"Iya, iya. Ini juga aku mau ke dapur. Mau cu ci tangan. Jangan terus mengomeliku," jawab Agatha sembari berlalu menuju dapur.
***
Lora*
Umh ... badanku sakit semua. Aku ingat sesuatu, mataku langsung terbuka lebar. Ini sudah jam berapa? aku belum memasak sarapan anak-anak.
Saat aku bangun dari posisi berbaring, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Alexias masuk untuk mandi dan bersiap pergi bekerja.
"Kau sudah bangun? aku mengira kau masih tidur," kata Alexias menghampiriku.
Mataku sebenarnya masih lengket. Umhh ... pinggangku. Ahhhh, sakit sekali.
"Ouch ... "
"Kenapa? biar kubantu kau duduk." Alexias membantuku duduk lalu, dia duduk di sampingku.
Alexias meraba area pinggangku dan menekan-nekannya lembut.
"Apa sangat sakit?" tanya menatapku sedih.
Aku menganggukkan kepala, "Ya, sakit sekali. Sepertinya perlu ku kompres nanti." kataku.
Aku tersenyum, "Kenapa? aku baik-baik saja. Tidak apa-apa sayang. Kau mau mandi, kan? mandilah sekarang, aku akan siapkan pakaian kerjamu." kataku mengusap wajah tampannya.
Alexias mencium keningku, "Maaf, aku seharusnya tahu batasanku. Aku membuatmu kesakitan dan kesulitan." katanya lagi dengan ekspresi wajah yang sedih
"Tidak, Lex. Bukan salahmu. Rasa sakit ini akan hilang dengan segera. Aku sungguh tidak apa-apa, sayang." aku mencoba menyakinkan Alexias.
"Ya, baiklah. Katakan saja jika rasa sakitnya belum reda. Aku akan bawa langsung kau ke rumah sakit, atau mengirim dokter ke sini." katanya khawatir.
Dia sungguh cemas dan khawatir. Melihatnya yang seperti itu, aku jadi kasihan. Dia seperti anak kucing yang kehujaan dan kedinginan.
"Peluk aku," Aku meminta ia memelukku. Untuk mengurangi rasa bersalahnya.
Alexias langsung memelukku erat, "Apapun yang kau inginkan, katakan saja. Aku akan berikan, meski kau minta nyawaku sekalipun." katanya.
"Tidak. Aku tidak mau nyawamu. Aku belum mau menjadi janda. Kita baru saja menikah dan menikmati hidup baru kita dengan anak-anak. Meski tidak tahu seperti apa kedepannya, tetapi aku berharap semua akan baik-baik saja dan kita selalu bahagia." ucapku penuh harap.
"Ya, semoga saja. Itu juga keinginanku." jawab Alexias.
Pelukannya begitu hangat. Aku juga bisa merasakan degup jantungnya. Aku menyukai suara degup jantungnya yang berdebar.
__ADS_1
"Anak-anak, bagaimana? aku belum siapkan makanan." kataku, melepas pelukan.
"Tidak perlu khawatir. Mereka sedang makan dan setelah makan kuminta bersiap untuk sekolah." jawab Alexias.
"Sarapan mereka, siapa yang siapkan? apa Martha yang memasak?" tanyaku pada Alexias. Aku melewatkan waktu memasak sarapan untu anak-anakku.
"Ayo tebak, siapa? jika kau benar, aku akan beri hadiah. Jika kau salah, kau beri aku hadiah." kata Alexias, dia mengajakku bermain tebak-tebakan.
Aku terdiam sesaat. Siapa, ya? yang membuat sarapan untuk anak-anak. Kemungkinan Martha atau koki dapur.
"Pasti koki dapur. Mereka kan sudah tau menu sarapan kesukaan anak-anak kita, juga menu lain." jawabku menebak.
Aku yakin jawabanku benar. Jika tidak lalu, siapa? tidak mungkin kan Alexias yang seperti ini memasak.
"Salah," kata Alexias menatapku.
"Salah?" ulangku. Aku mengernyitkan dahi, "Lalu siapa?" tanyaku yang juga penasaran.
Bagaimana bisa jawabanku salah. Lalu siapa? siapa yang membuat sarapan? aku berpikir lagi menebak.
"Aku, sayang. Aku yang membuat sarapannya." jawab Alexias.
Aku kaget, "Kau?" tanyaku memastikan pendengaranku.
"Iya, aku. Aku juga buat untukmu. Nanti cicipi dan katakan apa yang kurang. Lain waktu aku akan buat yang lebih enak." katanya.
Aku sungguh kaget. Tidak kusangka Alexias yang gila kerja ini bisa memasak. Aku jadi semakin penasaran akan rasa masakannya. Biasanya dia akan membantuku di dapur, tetapi untuk memasak seorang diri belum pernah.
"Wuahhhh ... aku jadi penasaran bentuk dan rasanya. aku harus segera mandi dan segera makan." kataku.
"Mau mandi bersama?" tawar Alexias.
"Hm ... " gumamku ragu-ragu.
"Aku akan bantu kau mandi. Tubuhmu kan sedang tidak baik." jelasnya.
Benar juga. Dengan keadaan begini, bagaimana bisa aku mandi. Bergerak saja kesulitan. Rasanya seperti tulang pinggangku patah.
"Ya, kalau begitu, ayo. Aku ingin segera mandi dan makan. Perutku lapar," kataku.
Alexias berdiri dari posisi duduknya dan langsung menggendongku. Aku kaget, Ia tanpa ragu-ragu langsung menyingkirka selimut yang melilit tubuhku lalu, mengangkatku. Dia menggendongku menuju kamar mandi. Aku malu dengan keadaan polosku sekarang, ini sungguh memalukan.
*****
__ADS_1