
Hannah menceritakan apa yang ia alami pada Lora. Kejadian saat ia datang mengunjungi Bibinya. Ternyata, kunjunganya tidak disambut baik oleh sang Bibi. Hannah dan Bibinya itu sempat berselisih paham dan bertengkar.
Kilas balik*
Hannah datang ke rumah Neneknya, yang sekerang di tempati oleh Bibinya. Sepupunya menyambut hangat kedatangan Hannah. Tidak dengan sang Bibi. Bibi Hannah terkesan acuh tak acuh mendapati keponakannya datang.
"Kak, kau datang tidak memberi kabar. Aku kan bisa siapkan makanan enak untukmu."
"Tidak apa-apa. Aku hanya mampir sebentar saja." jawab Hannah.
"Kenapa kau datang? Nona muda sepertimu tidak akan cocok di tempat seperti ini." kata si Bibi.
"Mama ... " sentak sepupu Hannah pada Mamanya. "Kenapa Mama bicara begitu. Kak Hannah kan keluarga kita juga," kata sang sepupu.
Hannah merasa tidak enak, "Sudah-sudah. Jangan bertengkar. Aku tidak apa-apa." Hannah mencoba menjadi penengah.
"Kak, ayo masuk."
"Tidak, di sini saja." tolak Hannah. Ia tidak mau menyinggung Bibinya lebih lagi.
"Kenapa begini? aku kan datang untuk mengajak Bibi membuka usaha. Bukan mencari musuh," batin Hannah.
"Jangan ajak dia masuk. Dia akan mempermalukan isi rumah. Jika urusan kalian sudah selesai, cepat suruh dia pergi." perintah Mama pada Anaknya.
"Mama keterlaluan. Kenapa Kak Hannah harus pergi. Ini kan juga rumahnya. Mama selalu saja seperti ini. Kenapa, Ma?" tanya sang Anak yang tidak terima.
Plaakkkkk ....
Tamparan keras mendarat di wajah sepupu Hannah. Karena terus membela Hannah dan membantah perintah Mamanya, ia langsung mendapatkan tamparan di wajahnya.
Hannah kaget, "Ka-kau, kau ... tidak apa-apa?" gumam Hannah dengan tubuh gemetar. Hannah lalu, menatap sang Bibi yang berdiri tidak jauh darinya, "Bibi, kenapa seperti ini? aku tahu Bibi tidak menyukaiku dan orang tuaku. Tapi, Bibi tidak perlu lampiaskan kekesalan Bibi pada anak Bibi. Bagaimana bisa Bibi seperti ini?" kata Hannah membela sepupunya.
Hannah segera menghampiri sepupunya, "Kau tak apa" Tanya Hannah. Yang di jawab dengan anggukan oleh sepupunya.
"Kau ini tahu apa? aku paham, selain Ibumu, kau juga kesayangan Nenekmu. Tapi, sekarang Nenek sudah tidak ada. Tidak ada yang menerimamu di rumah ini." kata si Bibi dingin.
Sepupu Hannah tetap tidak terima atas perlakuan Mamanya yang mengucilkan Hannah. Sebagai seseorang yang tumbuh besar bersama, sepupu Hannah sudah merasa sangat dekat dekat dengan Hannah.
__ADS_1
Terjadilah keributan besar. Merasa sang Anak sudah bersikap kurang ajar, sang Mama menjadi murka. Ia menjadi seperti orang yang kerasukan setan. Ia menarik kasar rambut anaknya lalu, menyeret anaknya itu.
Hannah kaget, ia secepatny menolong sepupunya. Tapi, ia justru di dorong oleh sang Bibi sampai tersungkur di lantai. Hannah pun murka, ia menerikai Bibinya sebagai orang jahat berhati dingin.
Mendengar ucapan Hannah, snag Bibi mendekati Hannah dan marik rambut Hannah sampai kepala Hannah menadah ke atas. Sang Bibi mengatai dan memaki Hannah. Ia melampiaskan kekesalannya pada Hannah sampai bicara sambil menangis.
Kilas balik selesai*
"Jadi, kau diam saja diperlakukan seperti itu?" protes Lora.
Hannah menganggukkan kepala, "Aku harus apa? tidak mungkin kan aku membalas perlakukan Bibiku itu. Apa harus ku tarik rambutnya?" jawab Hannah.
"Ya, tidak juga. Setidaknya, kau harus mencegah dirimu dicelakai. Jika ada apa-apa bagaimana? untung saja hanya di tarik rambutmu. Jika kau sampai dibenturkan atau kemungkinan lebih buruk lagi? Hahhhh ... aku tidak bisa bayangkan itu."kata Lora menghela napas panjang.
Hannah minum wine cukup banyak. Wajahnya sampai memerah. Lora merasa sedih karena Hannah mengalami hari yang buruk, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kita sudah selesai makan. Ayo, aku antar kau ke hotel dan istirahatlah." kata Lora.
Hannah menggelengkan kepala, "Tidak mau. Aku masih mau menghabiskan wine ini. Sayang kan jika tidak habis. Ini wine paling mahal di restorant ini." kata Hannah.
Hannah tertawa, "Hahaha ... kau tidak tahu Ezra sibuk? biarkan saja dia bekerja. Aku tidak apa-apa, Lora. Apa kau mau pulang juga? pulanglah jika kau sibuk." kata Hannah.
Lora mengernyitkan dahi, "Ezra masih kerja? ini kan sudah malam." batin Lora.
"Ya, minulah. Aku ke kamar mandi sebentar, ya. Mau cuci tangan," kata Lora berpamitan ke kamar mandi.
"Oh, ok." jawab Hannah tersenyum.
Lora berjalan menuju kamar mandi membawa tasnya. Ia mrngeluarkan poselnya lalu menghubungi Alexias. Panggilan pertamanya tidak diterima oleh Alexias.
Lora menatap layar ponsel, "Apa dia sedang bermain bersama anak-anak, ya?" gumam Lora.
Lora pun mencoba lagi mengubungi Alexias. Dan panggilannya masih sam. Tidak dijawab. Lora menarik napas dalam lalu mengembuskan napas perlahan. Ia mencoba lagi menghubungi Alexias dan akhirnya panggilannya di terima.
Percakapan di telepon*
"Hallo," jawab Alexias. Sesaat setelah menerima panggilan.
__ADS_1
"Hallo, Lex. Apa kau sibuk?" tanya Lora.
"Maaf, sayang. Aku tadi sedang menidurkan anak-anak. Ponselku tertinggal di kamar." kata Alexias.
"Anak-anak sudah tidur? aku kira kau bermain bersama mereka," kata Lora.
"Tidak. Setelah makan dan berjalan -jalan sebentar di halaman depan mansion. Mereka langsung minta dibacakan buku cerita dan langsung tidur." jelas Alexias.
"Oh, begitu. Lex ... boleh aku bertanya?" tanya Lora.
"Ya, sayang. Ada apa? kau di mana? belum pulang?" tanya balik Alexias.
"Aku masih di restorant nenemani Hannah. Itu, apa Ezra kau suruh lembur bekerja?" tanya Lora.
"Tidak. Aku tidak pernah meminta Asisten ataupun Sekretarisku lembur tanpa alasan yang jelas, Lora. Ada apa memangnya?" tanya Alexias lagi.
"Begini ... " Lora pun menceritakan apa yang dialamai Hannah. Ia juga mengatakan, saat ia menyinggung Ezra, Hannah mengatakan jika Ezra sibuk bekerja.
"Oh, begitu. Aku sepertinya tahu mengapa Hannah berpikir demikian. Kemungkinan besar Ezra ada masalah keluarga atau hal lain dan melampiaskan kepekerjaan. Itulah kebiasaanya. Tapi, aku sama sekali tidak pernah menyuruhnya lembur." jelas Alexias lagi. Ia tidak mau dicurigai sebagai seorang yang jahat.
Lora diam berpikir, "Benar juga. Untuk apa Alexias berbohong padaku. Kemungkinan memang Ezra sendiri yang mencari alasan demikian.
"Ah, sayang. Boleh aku minta tolong?" pinta Lora.
"Ya, boleh." jawab Alwxias.
"Bisa kau hubungi Ezra dan meminta untuk menjemput Hannah. Kau juga, tolong jemput aku. Aku akan kirim alamat tempat kami makan setelah ini. Bisa, kan?" pinta Lora sekali lagi.
Alexias langsung menyanggupi, "Ya, kirim sekarang. Aku akan langsung menemui Ezra di Apartemennya. Dia tidak mungkin bisa menolak jika aku langsung datang padanya." kata Alexias.
Lora tersenyum, "Memang, ya. Suamiku itu tiada duanya. Hati-hati sayang. Aku akan kirim langsung alamatnya. Dahhh ... " kata Lora.
"Tunggu aku datang. Jangan pergi ke mana-mana, ok. Dahh ... " Alexias memperingatkan Lora agar tidak pergi ke mana-mana sebelum ia sampai di restorant.
Lora mengiayakan peringatan Alexias dan langsung mengakhiri panggilan. Ia memasukan ponselnya ke dalam tas lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk cuci tangan.
*****
__ADS_1