
Sementara itu, di parkiran. Lora melihat mobil mencurigakan terparkir tidak jauh dari rumahnya. Karena penasaran, Lora mendekati mobil itu. Ia kaget, karena di dalam mobil itu ada Evan.
"Evan, " panggil Lora mengernyitkan dahi bingung.
"Lo-lora, kau di sini?" tanya Evan kaget karena tiba-tiba Lora mengetuk kaca mobilnya dan menegur.
"Ya, aku habis bertemu Papa dan Mama. Kau, kenapa tidak masuk? Reine kan ada di dalam." Lora tidak tahu, jika Evan dan Reine menggunakan mobil terpisah.
Evan melihat sekeliling, "Bisa kita bicara di dalam mobil saja. Karena ini ha yang penting." kata Evan.
Lora melihat mobil Evan, "Ini, mobil siapa?" tanya Lora.
"Masuklah, aku akan jelaskan di dalam." kata Evan.
Lora menghela napas, "Hahhh ... ok. Tapi, aku akan duduk di belakang." kata Lora.
"Ya, terserah kau saja." jawab Evan.
Lora membuka pintu mobil bagian belang lalu, masuk ke dalam mobil. Ia duduk dan menatap ke arah Evan. Evan sedikit memundurkan mobilnya.
"Hahhh ... " hela napas Evan.
"Ada apa, Evan? cepat bicara dan jangan membuang-buang waktuku. Aku sibuk," kata Lora.
"Aku datang ke sini mengikuti Reine. Setelah menikah, dia dan aku sudah tidak tinggal bersama lagi." kata Evan menjelaskan.
"Hah? kau bilang apa? kau dan Reine tidak bersama lagi?" ulang Lora bertanya dengan ekspresi wajah kaget. "Lalu, untuk apa kau mengikutinya?" tanya Lora lagi.
"Aku curiga dia selingkuh, Lora. Kemarin dia lama di gudang tua dan entah sedang apa dia di sana. Lalu, ada pria yang datang ke apartemennya. Mereka pergi, bergandengan tangan, berpelukan bahkan berciuman." Evan bercerita dengan wajah murung.
"Gudang? gudang, gudang ... " batin Lora bergumam. Seketika matanya langsung membulat.
"Tunggu, kau bilang kemarin dia ke gudang? gu-gudang apa? kau tidak tahu dia bertemu siapa dan sedang apa?" cecar Lora tidak sabar.
"Entahlah. Aku hanya mengikuti dia dari rumah Papa, Mamaku. Dia sangat lama di sana," jawab Evan.
"Di mana gudangnya? kau masih ingat alamatnya?" tanya Lora.
Evan terdiam sesaat, "Ah, aku tidak tahu alamatnya. Tapi, aku tahu jalannya. Aku masih ingat jalan ke sana." jawab Evan. Ia menoleh ke arah Lora, "Ada apa? apa ada sesuatu di sana?" tanya Evan melihat eskpresi wajah Lora yang keningnya berkerut.
Lora menggelengkan kepala, "Bukan apa-apa, hanya saja ... " jeda Lora yang langsung diam.
"Hanya saja, apa?" sambung Evan penasaran.
"Ah, kepalaku langsung sakit. Aku mencurigai Reine sudah menyewa orang bayaran menculik anak-anakku, Evan. Makadari itu, tadi aku bertanya di gudang dia sedang apa. Anak-anakku hilang dari pesta kemarin dan sampai saat ini belum ada kabar. Meski hanya dugaan, tetapi sikapnya aneh kemaren kepadaku juga anak-anak. Tidak seperti Reine yang kukenal." jelas Lora bercerita.
Evan melebarkan mata, "Kau serius? jangan berguarau, Lora. Mana mungkin Reine seperti itu." Evan kaget, ia tidak menyangka istrinya adalah seorang penjahat.
"Aku sendiri juga tidak mau berprasangka buruk atau ingin menuduh Reine. Tapi, semua sikapnya kemaren yang tidak biasa, membuatku harus mencurigainya. Alexias juga berpikiran hal yang sama denganku." jawab Lora.
Evan terdiam berpikir. Ia tidak membantah perkataan Lora lagi. Ia hanya berpikir, apa yang sebaiknya ia lakukan.
__ADS_1
"Wanita itu memang sungguh gila! bagaimana bisa dia menculik anak-anak." batin Evan.
Saat berpikir, Evan lantas ingat akan ucapan Reine yang ingin menghancurkan Lora. Ingin balas dendam karena Lora telah membuatnya Reine menderita. Namun, Evan tidak sangka sampai hati Reine memanfaatkan anak-anak untuk pelampiasannya.
"Hubungi suamimu, Lora. Aku akan bicara dengannya." pinta Evan tiba-tiba.
Lora kaget, "Apa? kau mau bicara apa?" tanya Lora.
"Lakukan saja apa yang minta. Aku sungguh tidak memiliki niat buruk. Aku justru ingin membantumu menemukan anak-anak kalian." kata Evan.
Meski ragu-ragu, pada akhirnya Lora mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menghubungi Alexias. Panggilan pertama Lora tidak diterima, hal itu terjadi hingga panggilan ke tiga.
"Tidak diangkat?" tanya Evan.
"Ya, sepertinya sibuk." jawab Lora, menatap layar ponsel.
Tidak berselang lama, ponsel Lora berdering. Alexias menghubungi Lora.
"Oh, dia telepon." kata Lora.
"Berikan padaku," pinta Evan menadahkan tangannya ke arah Lora.
"Umh ... " gumam Lora, memberikan ponselnya pada Evan.
Evan menerima panggilan dan berbicara dengan Alexias.
"Hallo," jawab Evan.
"Ya, ini aku. Aku sedang bersama Lora saat ini. Tolong jangan salah paham, ada sesuatu hal tadi. Detailnya aku akan ceritakan nanti saat kita bertemu. Kau sibuk, ya? jika tidak, kau bisa datang ke tempat yang nantinya akan di kirim Lora. Aku dan Lora akan duluan ke sana. Ah, iya. Untuk berjaga-jaga, bawalah polisi juga." jelas Evan.
Alexias terdiam sesaat, "Apa maksudmu?" tanya Alexias tidak mengerti.
"Sebagai CEO hebat, rasanya tidak mungkin kau tidak paham maksudku. Jangan membuang waktu lagi." kata Evan. Ia lalu, memberikan ponsel yang ia genggamg kembali pada Lora. "Tinggalkan saja mobilmu di sini, nanti kau bisa pulang bersama suamimu. Kita harus segera bergegas." lanjut Evan.
"Tu-tunggu, apa yang kau bicarakan, Evan?" kata Lora bingung.
Evan tidak menjawab. Ia langsung menyalakan mesin mobilnya. Mobil yang ditumpangi Evan dan Lora pun melaju perlahan meninggalkan kediaman orang tua Lora.
***
Di kantor ....
Alexias*
Panggilanku dan Lora masih terhubung. Aku bisa mendengar suara istriku yang panik dan terus memanggil-manggil nama Evan. Kenapa? apa yang terjadi? dan bagaimana bisa mereka bersama?
Itulah yang terus kupikirkan saat pertama kali aku dengar suara Evan yang menerima panggilanku. Tidak! aku tidak boleh berpikir macam-macam. Lora dan Evan dulunya memang punya hubungan yang dekat dan istimewa, tetapi sekarang dia adalah istriku. Jadi, aku harus sepenuhnya percaya padanya, kan.
Ya, Lex. Ayo, kau bukan pria muda yang berpikiran tidak logis dan egois. Semua pasti ada alasannya. Evan tadi juga mengatakan akan menjelaskan detailnya saat bertemu. Dia bahkan memintaku untuk meminta bantuan polisi.
"Hallo ... ah, maaf, sayang. Aku tidak sadar, jika panggilanmu masih tersambung. Maaf," ucap Lora di ujung panggilan. Yang langsung menyadarkanku akan pikiranku yang rumit.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kau sedang bersama Evan saat ini?" tanyaku memastikan lagi. Aku takut jika aku salah dengar sebelumnya.
"Ya, aku bersamanya. Tidak tahu dia membawaku ke mana. Dia tidak menajwabku dan terus di membisu." suara Lora terdengar kesal.
"Tapi, kau tidak apa-apa, kan? dia tidak macam-macam, atau melakukan hal yang buruk, kan?" tanyaku lagi.
Bohong rasanya, jika aku tidak cemas dan khawatir. Apalagi istriku sedang bersama mantan tunangannya. Yang dulu tentu sempat dicintai istriku. Ahhh, pikiran tidak baik ini terus menghampiriku.
"Tidak ada hal seperti itu, Lex. Aku duduk di bangku belakang. Aku ... " kata-kata Lora terputus oleh Evan yang tiba-tiba bersuara.
"Hei, hei. Aku tau kalian berdua memang pasangan serasi dan romantis. Tapi, jangan bermesraan di situasi genting seperti ini juga. Lora, matikan panggilan itu, agar suamimu bisa segera memanggil bantuan. Akan lebih baik jika dia bisa pergi mengikuti kita sekarang, kan. Terlebih, jarak gudang itu dan kantor suamimu cukup jauh." kata Evan.
"Hei, kau. Aku mana bisa percaya padamu begitu saja. Kau itu setengah gila. Aku tidak bisa percaya pada ucapan orang setengah gila sepertimu." ucap istriku yang terdengar kesal.
"Ya, aku memang setengah gila. Maki saja sepuasmu," sahut Evan terdengar pasrah.
Hahhh ... aku sudah gila. Bisa-bisa aku berpikiran, jika akan terjadi apa-apa di antara mereka berdua. Aku pun memutuskan untuk mengikuti ucapan Evan.
"Sayang. Tutup panggilanmu. Aku akan menghubungi polisi sekarang dan segera mengikutimu. Aku bisa melacakmu," kata Alexias.
"Ah, begitu? kau sungguh tidak apa-apa?" kata Lora terdengar khawatir. Mungkin dia takut aku kesal atau marah karena tahu dia berada satu mobil dengan Evan.
"Aku tidak apa-apa. Meski aku melacakmu, kau harus kirim lokasimu saat kau tiba ditujuan nanti. Ok. Jaga dirimu, aku mencintaimu.' ucapku. Sekalian memperingatkannya.
"Oh, tentu. Aku akan kirim lokasinya nanti. Kau juga hati-hatilah. Aku juga mencintaimu," balas Lora pada pernyataan cintaku.
Panggilan kami pun terputus. Aku tersenyum menatap layar ponselku. Aku mengusap layar ponselku, di mana di sana ada foto Lora yang terpasang sebagai wallpaper.
"Ah, iya. Aku harus segera pergi." gumamku. Ingat akan permintaan Evan.
Aku lantas segera bangkit berdiri dari kursiku dan pergi meninggalkan ruangan. Di depan ruangan, aku langsung menghampiri Ezra dan Johana. Yang merupakan Asisten dan Sekretaris pribadiku.
"Johana, tolong atur ulang jadwalku siang ini. Undur semuanya keesok hari. Ada hal penting yang harus aku selesaikan. Ezra, kau bisa kan mewakiliku bertemu klien. Katakan saja jika aku akan menyetujui kontrak kerjasama yang ia ajukan. Minta dia menyusun rapi list ulang harganya." jelasku terburu-buru.
"Baik, Tuan. Tapi, Anda mau ke mana terburu-buru?" tanya Johana.
"Iya, Tuan. Anda ingin ke mana? apakah terjadi sesuatu?' tanya Ezra yang juga terlihat bingung.
Aku saja bingung dengan keadaan saat ini. Apalagi mereka. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, prioritasku saat ini adalah Lora dan pencarian anak-anak. Ya, aku juga harus segera ke kantor polisi menemui Pak kepala.
"Nanti aku ceritakan detailnya. Kalian cukup lakukan apa yang kukatakan tadi. Ok." kataku yang langsung berlari.
Aku berlari cepat pergi menuju lift. Aneh rasanya, aku seperti kuda yang berlari di arena pertandingan saat ini. Kakiku tidak bisa berhenti untuk tidak berlari. Jantungku berdegup kencang, dan pikiranku seperti benang kusut.
Ada perasaan panik, cemas, gelisah dan khawatir. Dadaku nyeri juga sesak. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, ini sangat tidak nyaman. Tanpa kusadari, aku sudah berada di dalam mobilku. Aku bahkan tidak tahu, kapan aku sampai parkiran sampai aku membuka pintu mobilku.
"Hahhhh ... " hela napasku panjang. Kulonggarkan dasiku lalu, kubuka kancing kemejaku paling atas.
Setelah perasaanku cukup membaik, aku pun langsung memasang sabuk pengamanku dan menghidupkan mesin mobil. Mobil kukemudikan. Perlahan mobilku melaju meninggalkan parkiran gedung kantor.
*****
__ADS_1