
Keesokan harinya ....
Lora pergi ke rumah kedua orang tuanya. Di sana, ia menceritakan pada Papa dan Mamanya tentang kecurigaannya. Mendengar cerita Putrinya, Orang tua Lora pun bingung bercampur kecewa.
Mereka sudah menganggap Reine sudah berubah lebih baik. Tidak di sangka, Reine semakin menjadi-jadi. Bahkan dengan sengaja melakukan tindak kejahatan. Terlebih kepada anak-anak dari sepupunya sendiri.
" ... hahhh ... " hela napas sang Papa.
"Ini tidak bisa dipercaya, Nak." kata Hanson.
"Benar. Bagaimana mungkin ini nyata? Reine yang akhir-akhir ini pendiam juga ramah, melakukan kesalahan sebesar itu." kata sang Mama.
"Entahlah, Ma. Ini kan masih dugaanku dan Alexias. Kita masih belum menemukan bukti apa-apa terkait hal ini. Tapi, kami pasti akan segera menemukannya secepatnya." kata Lora bersemangat.
Cukup lama mereka bertiga berbincang. Sampai Reine tiba-tiba datang ke rumah orang tua Lora. Reine melihat Paman, Bibi dan sepupunya, langsung datang mendekat dan menyapa.
"Wah, ada apa ini? kenapa semuanya berkumpul?" tanya Reine tersenyum.
Lora, Marlyn dan Hanson sempat kaget. Mereka menatap Reine bersamaan.
"Oh, kau datang." kata Hanson.
"Re-reine ... du-duduklah." kata Marlyn gagap.
Reine kaget melihat reaksi Marlyn, Bibinya. "Bibi kenapa?" tanya Reine.
"Tidak apa. Hany saja Bibi sedang sedih." kata Marlyn, "Pada saat kau datang, kau cukup membuat kami terkejut." lanjut Marlyn beralasan.
"Oh ... begitu." jawab Reine ber-oh ria. Reine ikut duduk, ia duduk di samping Lora. "Aku kira Bibi kenapa sampai gagap begitu. "Bagaimana kabarmu, Lora? acara ulang tahun anakmu lancar?" tanya Reine tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia terlihat santai seakan tidak terjadi apa-apa.
Lora mengernyitkan dahi, "Apa dia memang tidak tahu? atau pura-pura tidak tahu? atau ... dia sengaja memancingku? apa yang sebenarnya kau rencanakan, Reine." batin Lora bertanya-tanya.
"Tidak berjalan lancar. Ada kejadian buruk yang menimpa kami." jawab Lora sedikit kesal.
"Apa? kenapa?" Reine berpura-pura kaget.
__ADS_1
"Anak-anakku diculik, Reine. Entah siapa orang yang melakukannya. Aku dan Alexias pasti akan menghukum berat orang itu, jika sampai terjadi sesuatu pada tiga putri kami. Siapapun orangnya. Tidak akan kami ampuni!" Lora yang kesal langsung meluapkan kekesalannya di hadapan Papa dan Mamanya, juga Reine.
Mendengar Lora yang terlihat serius, membuat Reine sedikit gugup. Reine terlihat gelisah dan cemas. Ia merasa tidak nyaman.
"Apa, ini? kenapa aku merasa gelisah begini? aku kan tidak melakukan apa-apa. Lora dan Alexias juga tidak akan tau jika ini semua rencanaku. Kalaupun pelakunya tertangkap, pasti mereka juga tidak akan buka mulut. Ya, aku pasti aman-aman saja." batin Reine.
Tanpa sadar Reine menghela napas panjang. Ia merasa lega karena pikirannya. Lora yang melihat Reine menghela napas langsung menegur.
"Kenapa, Reine? kenapa kau menghela napas begitu?" tanya Lora.
"Hah, kau terlihat panik lalu lega. Seolah kau menunjukkan, jika kaulah pelakunya dan karena kau menyewa orang kau merasa lega karena tidak akan terpengaruh. Ckckck ... Reine, Reine. Aku semakin mencurigaimu." batin Lora.
Reine kaget, "Ah, oh. Ini, aku merasa sedikit sesak dan panas. Mungkin karena udara akhir-akhir ini mulai panas." kata Reine beralasan.
"Begitukah?" sahut Lora seakan tidak percaya.
"Ya, tentu saja begitu. Apa kau tidak merasa ini panas? apa karena aku sedang hamil, ya. Huhh panas ... " kata Reine mengibas-kibaskan tangannya seakan sedang kepanasan.
Lora tersenyum, "Kau bisa menyejukkan diri di kamarmu, jika kau merasa kepanasan di sini. Oh, ya. Ada angin apa kau datang, Reine? ada sesuatu yang tertinggal lagi?" tanya Lora.
"Oh ... " sahut Lora ber-oh ria.
"Oh, la-lalu, bagaimana de-dengan anak-anak? apakah mereka sudah ada kabar?" tanya Reine ragu-ragu.
"Belum. Tapi, akan kupastikan segera kutemukan. Kami sudah menemukan petunjuk. Ya, kau bantu berdoa saja. Semoga pelakunya segera kami temukan." kata Lora.
Deg ....
Reine kaget, ia menatap Lora dengan tajam. Lagi-lagi ia memperlihatkan mimik wajah tidak biasa.
"Ayo, Reine. Kau pasti akan menunjukan sifat aslimu jika sudah terpojok. Teruslah cemas dan gelisah, semakin kau kebingungan, semakin kuat aku menyakini dugaanku ini. Lekaslah bertindak, agar aku bisa pastikan semuanya dengan segera." batin Lora tidak sabar.
"Ahh, s*al! seharusnya aku tidak mengungkit masalah itu lagi. Lora kenapa, ya? dia seakan memojokkanku. Tidak mungkin. Dia tidak mungkin tahu, jika aku pelakunya. Tenangkan dirimu, Reine. Tenang, tenang, tenang." batin Reine. Ia mengusap tengkuknya perlahan, "Lebih baik aku pergi saja dari sini," batinnya lagi.
"Ah, begitu, ya. Semoga anak-anak cepat ditemukan, ya. Kasian sekali mereka. Aku mau ke kamarku dulu. Aku mau ambil beberapa buku lamaku." kata Reine, ia menatap Paman, Bibinya dan Lora bergantian. "Permisi," pamitnya yang langsung berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya pergi.
__ADS_1
Tatapan tajam Lora mengiringi kepergian Reine. Melihat Reine sudah menghilang dibalik dinding, Lora langsung mengdengus.
"Huhh ... " dengusnya, "Pa, Ma. Sepertinya aku harus pulang sekarang." kata Lora.
"Ya, Nak. Hati-hati di jalan, ya." kata Marlyn. "Apa semua baik-baik saja?" tanya Marlyn memastikan.
Lora menganggukkan kepala, "Nanti aku akan kirim pesan pada Papa dan Mama. Ok." ucap Lora.
"Papa akan antar. Ayo," ajak Hanson. Ia Tidak tega melihat putrinya.
Lora menggelengkan kepala pelan, "Tidak, Pan. aku baik-baik saja. Aku bisa sendiri. Papa dan Mama bantu kami lewat doa saja. Tolong perhatikan kesehatan kalian berdua." kata Lora.
Selesai berpamitan, Lora pun pergi meninggalkan Papa dan Mamanya untuk pulang. Tapi, Lora tidak akan langsung pulang. Ia menunggu Reine di parkiran. Lora ingin mengintai Reine.
***
Di dalam kamar, Reine sedang menghubungi seseorang. Ia langsung menghubungi pria yang sebelumnya berkencan dengannya. Ia ingin memastikan, jika pekerjaan orang itu masih aman tanpa menyeret namanya.
"Jadi, semua aman, kan?" tanya Reine.
"Pasti, cantik." jawab pria di ujung panggilan.
"Aku khawatir. Intinya, aku tidak mau terlibat. Jika tikus-tikus itu tertangkap." kata Reine memastikan lagi.
"Tenang saja, semua aman. Jika misi sudah selesai di jalankan. Mereka sudah tidak ada kaitannya dengan kita. Mereka akan berpencar entah ke mana. Demi bertahan hidup." tegas seseorang di ujung panggilan.
Reine mengernyitkan dahinya, "Sungguh?" tanya Reine memastikan lagi. Ia tampak ragu-ragu.
"Kenapa? apa ada sesuatu yang menekanmu?" tanya pria itu menebak-nebak.
"Tidak," jawab si Reine mengelak. Aku tutup panggilannya. Nanti aku ke sana. Jaga mereka baik-baik." kata Reine lagi memerintah.
Panggilan berakhir. Reine menarik napas dalam-dalam lalu, mengembuskan napas perlahan. Ia kembali merasa lega.
*****
__ADS_1