
Keesokan harinya ....
Alexias datang ke mansion bersama Christopher. Lora, Agatha, si kembar, bahkan Jeremy dan Erlisa pun menyambut kedatangan Christopher.
Sebelumnya, Lora menceritakan apa yang terjadi terkait bagaimana ia mengenal Christopher. Lalu, ia juga menceritakan tentang Nenek Christopher sampai kejaidan tak diharapkan oleh mereka semua. Dari cerita Lora, Agtha tahu jika Lora adalah sosok yang baik hati meski dia sudah disakiti berkali-kalipun. Itulah mengapa saat Lora harus berdamai dengan keluarganya, ia tidak menolak juga tidak terlalu antusias seaakan sedang menjaga jarak.
Sepulangnya dari mansion saudara kembarnya. Agatha pulang ke rumah di mana Papa dan Mama tinggal. Tidak mau menunda-nunda, setelah kedatangannya ke rumah ia lantas mendatangi kamar orang tuanya untuk mencetitakan apa yang sudah didengarnya.
Jeremy dan Erlisa menyambut baik niatan Lora dan Alexias. Dan mengatakan pada Agatha akan mendukung sepenuhnya kebutusan putra dan menantu mereka. Agatha senang, ia bangga akan orang tuanya yang selalu mau mendukung apapun keputusan anak-anaknya yang dinilai tidak akan merugikan siapapun.
Menanamkan kebaikan dan menolong yang butuh pertolongan adalah prinsip yang dipegang teguh oleh Jeremy. Karena itu, ia juga mengajarkan pada kedua anak kembarnya hal serupa. Demikian Erlisa, wanita berhati lembut ini, sangat tidak menyukai kekerasan dan berdebatan. Ia tidak senang jika ada seseorang yang meninggikan suara ataupun berteriak dihadapannya. Karena ia tidak pernah sekalipun bersikap demikian.
***
Christopher kaget, ia tidak menyangka akan ada perayaan penyambutan untuknya. Tidak hanya Christopher, Alexias juga kaget, pada saat melihat ada Papa dan Mamanya datang.
"Selamat datang .... "
Ucap semua orang di depan pintu utama Mansion. Semua orang tersenyum menatap Christopher. Hal itu mrmbuat Christopher berkaca dan hampir menangis. Ia merasa terharu.
"Hallo, Nak. Selamat datang. Ayo, masuklah." kata Erlisa lembut.
Semua orang masuk tanpa terkecuali. Mereka memenuhi ruang tamu. Semua orang duduk. Lalu, Lora pun angkat suara memperkenalkan mertua dan iparnya pada Christopher. Juga ketiga putri kembarnya.
"Chris, kau pasti kaget, ya? haha ... maaf, ya. Oh, kau harus menyapa beliau berdua. Mereka ini adalah orang tua dari suamiku. Yang ini saudari kembar suamiku. Dan ketiga anak di sana adalah putri kembarku. Kau kan akan tinggal di sini, tidak lengkap rasanya jika kau tidak mengenal keluarga kami." jelas Lora memperkenalkan.
Christopher menganggukkan kepala lalu, menatap Jeremy dan Erlisa. Dengan perasaan gugup dan suara terbata-bata, ia menyapa kedua orang yang duduk dihadapannya.
"Ha-hallo, sa-saya Christopher. Se-senang be-bertemu dengan Anda berdu. Tu-tuan, Nyo-nyonya." kata Christopher menyapa.
"Hoho ... kau lucu sekali, ya. Lalu, apa yang kudengar tadi? Tuan, Nyonya? Hm, aku tidak suka kau memanggilku 'Nyonya' bagaimana jika kau panggil aku Nenek saja? kau bisa panggil aku Nenek dan menganggapku seperti Nenekmu sendiri. Maaf, bukannya aku tidak menghormati mendiang Nenekmu. Tapi, kurasa kita perlu menjadi lebih dekat dan akrab karen kita adalah keluarga." jelas Erlisa dengan nada suara lembut.
"Istriku benar, Nak. Kami turut berduka atas kepergian mendiang Nenekmu. Karena kau akan tinggal di sini, otomatis kau harus segera beradaptasi dan membangun hubungan yang baik dengan kami. Meski itu hanya sementara, kami akan tetap menjadi keluargamu. Jangan sungkan, Christopher. Aku, akan membantu apapun yang bisa kubantu, dan berikan apa saja yang bisa kuberikan. Di sini kau aman, tidak akan ada yang bisa menindasmu, walaupun itu seekor semut." tegas Jeremy, menambahi ucapan Erlisa.
__ADS_1
Christopher masih tegang. Ia sampai bingung mau menjawab apa. Pada akhirnya, ia hanya bisa menganggukkan kepala lalu menjawab 'Iya dan terima kasih' pada Jeremy dan Erlisa.
"Oh, i-iya. Terima ka-kasih, untuk kebaikan hati Anda berdua." ucap sopan Christopher.
"Nah, sekarang giliranku. Hallo, Christopher. Aku, Agatha Owen. Kau bisa memanggilku Bibi Agatha. Kau tidak perlu takut padaku, meksi suara dan wajahku ini menyeramkan, aku tidak akan berbuat jahat padamu. Ok." sapa Agtha.
"Ha-hallo ... Bi-bi-bibi." sapa balik Christopher.
"Ah, bagaimana ini. Aku tegang sekali. Ini pertama kalinya aku di hadapkan dengan banyak orang. Apakah mereka memang tulus bersikap baik, atau hanya pura-pura, aku juga tidak tahu. Tapi, jika diperhatikan lagi, mereka bukan orang jahat. Aku tidak pernah berbicara seakrab ini dengan orang lain sebelumnya. Jadi, apa yang harus kulalukan sekarang?" batin Christopher.
"Wahahaha ... lihat wajahmu, seperti tomat. Astaga, Chris. Jangan tegang dan santai saja. Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi kau juga perlu tahu, jika kami tidak seperti apa yang kau pikirkan." jelas Agatha. Seolah ia bisa membaca dan menebak isi pikiran Christopher.
Christopher kaget, tetapi ia tidak bisa membantah pernyataan Agatha tentang pikirannya. Selagi ia berpikir, kata apa yang akan dia ucapkan. Si kembar tiga mendekati Christopher lalu, menyapa.
"Ha-hallo, Kak. Aku Odellia. Salam kenal. Semoga Kakak tidak kabur dari sini, ya. Baik-baik di sini," ucap Odellia, tersenyum.
Christopher menatap Odellia, "Oh, hallo." jawab Christopher.
"Hai, juga. Terima kasih, Olesia." jawab Christopher yang juga tersenyum.
Mata Christopher menatap Oriana yang tidak bersuara. Oriana hanya dia manatap Christopher. Hal itu, membuat Christopher kebingungan.
"Kenapa dia diam? dia berbeda dari dua saudarinya, ya. Apa dia akan marah karena aku akan tinggal di sini? dia ... dia tidak menyukaiku rupanya. Dia ... " batin Christopher.
Belum sampai Christopher selesai dengan kata hatinya. Oriana langsung menyapa Christopher, bahkan langsung menyakan apa hobi Christopher.
"Aku Oriana. Panggil saja Annah. Apa kau punya hobi? Dari wajahmu sepertinya kau anak yang pandai," kata Oriana.
"Annah, jangan tidak sopan. Panggil dia Kakak." sahut Lora.
Oriana kaget, "Oh, ok. Maaf." jawab Oriana.
Christopher diam beberapa waktu lalu, ia menjawab pertanyaan Oriana.
__ADS_1
"Hallo, juga. Aku Chris. Senang bertemu denganmu, Annah. Hobiku ... hm, aku senang membaca buku dan menulis cerita. Apa kau juga suka membaca?" tanya Christopher menatap lekat Oriana.
"Tentu saja suka. Tidak hanya membaca, aku akan ingat hanya dengan mendengarnya saja. Biasanya aku hanya akan bermain game dan mendengar dialog atau cerita yang yang malas kubaca." jawab Oriana berbangga diri.
Oriana tampak setengah hati pada Christopher. Entah apa yang membuat demikian, tetapi itu justru membuat Chtistopher merasa Oriana adalah anak yang manarik.
"Anak ini, dia masih jauh di bawahku. Tapi, lihat. Dia berani menatapku dengan tatapan lekat dan tajam. Seolah aku ini pesaingnya di arena pertandingan. Dan, apa tadi? dia sedang menyombongkan diri, ya? lucu sekali. Hehehe ... " batin Christopher.
"Dia kenapa balik menatapku? aku kan tidak seberapa suka padanya. Dia pasti anak laki-laki yang nakal dan tidak patuh. Aku akan awasi kau, Christopher!" batin Oriana mengernyitkan dahi.
Perang batin terjadi. Keduanya saling berpikir dan bicara dalam hati masing-masing.
Melihat ketegangan, Alexias pun langsung melerai. Ia mengajak semua orang termasuk Christopher, untuk makan siang bersama.
"Ehemm ... " dehem Christopher, "Bagaimana jika kita pergi ke meja makan dan makan siang bersama. Bukankah, ini sudah waktunya makan siang?" ajak Christopher.
"Iya, iya. Ayo ... " kata Odellia senang.
"Ayo, siapa yang mau Bibi suapi?" tanya Agatha.
"Aku, aku." jawab Olesia.
"Hei, kau kan sudah tadi. Sekarang giliranku," kata Odellia mengernyitkan dahi.
"Kau minta disuapi Mami saja, atau Nenek. Ah, pada Kakek saja." goda Olesia.
"Ah, menyebalkan. Kan aku ingin disuapi Bibi," gerutu Odellia.
Olesia dan Odellia sibuk berebut, siapa yang akan Agatha suapi. Sedangkan Oriana sibuk mengintai Christopher. Merasa terus ditatap Oriana, Christopher pun merasa tidak enak. Tapi, ia berpura-pura tidak tahu.
Semua yang tadinya di ruang tamu, kini berpindah tempat. Berjalan menuju meja makan untuk segera makan siang bersama.
*****
__ADS_1