Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 40. Kekuasaan (1)


__ADS_3

Oriana dan Olesia sedang ada di kelas. Jam pelajaran telah usai. Pada saat guru meninggalkan kelas saat pelajaran usai, beberapa teman menghampiri meja Oriana dan Olesia yang letaknya bersebelahan.


"Hei, Oriana, Olesia ... di mana Odellia? kudengar dia sakit," kata anak itu menatap Oriana.


"Ya, memang sakit. Lia sudah baikan." jawab Oriana.


"Ceritakan pada kami apa yang terjadi. Kenapa saat datang ke sekolah Mama kaliN menangis?" tanya anak lainnya.


"Hei, kenapa kau tany itu. Bukankah kit ingin tanya, di mana Papanya? mereka kan tidak punya Papa. Setiap ada pertemuan orang tua, selalu Mama dan Mama asuhnya yang datang."


"Benar! hahaha ... kasian sekali."


"Aku punya Papa. Papaku Manager perusahaan besar. Papaku sering pergi ke luar kota."


"Papaku dokter."


"Papaku Polisi."


"Hei, Annah, Lesi. Siapa Papa kalian, dan apa pekerjaan Papa kalian?"


Oriana mendengus, "Huh, apa itu penting bagi kalian? tidak perlu dijawab, tidak pernting!" sebenarnya Oriana merasa sebal, tetapi ia berusahan menahan diri.


"Hei, kalian anak-anak nakal dan jahat. Menjauh dari kami!" sentak Olesia.


Oriana menatap Olesia, "Lesi, jangan hiraukan!" perintah Orian.


Oriana dan Olesia saling menatap. Melihat Oriana yang sudah melebarkan mata, Olesia pun mengalah. Ia langsung diam tidak bicara apa-apa lagi.


"Eh, lihat. Mereka kenapa?"


Ketiga anak yang mengejek si kembar terlihat berbisik lalu, setelahnya tertawa lebar. Rupanya mereka menertawakan Oriana dan Olesia. Mereka kembali mengejek Oriana dan Olesia. Sampai membuat Olesia kesal dan akhirnya marah.


"Hahaha ... kalian tidak perlu banyak bergaya. Bilang saja tidak punya Papa, Hahaha ... "


"Kata Mamaku, aku tidak boleh dekat dan main dengan kalian yang tidak punya Papa. Karena bisa saja kau itu anaknya penjahat."


"Mamaku dan Papaku juga bicara begitu. Kita tidak boleh baik pada orang. Karena itu hanya akan merugikan diri kita sendiri."

__ADS_1


Olesia mengepalkan tangan, tetapi lagi-lagi Oriana menghalangi. Olesia menggelengkan kepala, tanda jika ia tidak setuju dengan tatan mata dan bahasa tubuh dari Oriana.


"Hei, kalian. Apa kalian sudah puas mengejek kami? kalian salah besar jika mengira kami tidak punya Papi. Kami punya Papi. Dan pekerjaan Papi kami adalah ... " belum sampai kata-kata Olesia selesai diucapkan. Oriana sudah lebih dulu membekap mulut Olesia.


"Kalian pergi saja. Percuma, kalian tidak akan dapat apapun dari kami. Mau kami punya Papi atay tidak, itu urusan kami. Bukan urusan kalian." dengan tegas Oriana bicara.


"Dia kenapa?"


"Entahlah. Seram sekali dia."


"Ayo kita berkemas dan pulang."


"Ayo, ayo. Yeah ... pulang. Aku akan pergi ke Mall nanti."


Ketiga anak nakal yang mengejek si kembar akhirnya pergi. Melihat teman-teman yang sudah mejauh darinya, Oriana melepaskan dekapannya dari mulut Olesia.


"Kau ini. Apa yang kau lakukan Annah?" tanya Olesia emosi.


"Apa? kita kan tidak bisa seenaknya memberitahu identitas papi pada semua orang. Kau lupa apa yang Mami bilang pada kita?" jawab Oriana manatap Olesia.


Olesia melebarkan mata dan kaget, "Ah, iya. Aku lupa jika kita tidak boleh gegabah." guman Olesia.


"Maafkan aku, sudah membuat masalah." kata Olesia sedih.


Oriana tersenyum, "Tidak. Kau tidak salah. Ah, sudahlah. Ayo kita berkemas juga dan pulang. Jam pelajaran sudah berakhir, kan."


***


Di luar gedung sekolah. Alexias berjalan masuk mencari ruang kantor guru. Ia ingin bertanya lokasi kelas anak-anaknya. Kebetulan ia bertemu dengan wali kelas si kembar di tengah jalan.


"Hallo, selamat siang." sapa Alexias tersenyum.


"Oh, ha-hallo." sapa guru merona. Ia menatap paras tampan Alexias, "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya guru pada Alexias.


"Saya datang ingin menjemput putri-putri saya. Oriana dan Olesia," jawab Alexias.


"Pu-putri?" ulang guru kaget. Ia tidak sangka pria tampan di hadapannya adalah Papi si kembar.

__ADS_1


"Maaf, apakah Anda tahu di mana kelasnya? atau saya perlu bertanya ke ruang guru? Bisa Anda membantu saya, Bu?" dengan sopan Alexias bertanya. Ia ingin segera memeluk anak-anaknya karena sudah sangat rindu.


"Ah, maaf. Saya Cristie Oliver. Wali kelas Anak-anak. Saya akan antar Anda, Pak. Mari, silakan." Guru menunjukkan arah menuju ruang kelas.


"Baik, Bu. Terima kasih. Maaf merepotkan Anda." Alexias senang. Ia akan segera bertemu anak-anaknya.


Sepanjang perjalanan menuju kelas, Alexias melihat-lihat lingkungan kelas anak-anaknya. Tidak beberapa lama, Guru dan Alexias sampai di kelas. Saat Guru ingin membuka pintu, Alexias mencegahnya. Ia mendengar teman anaknya memanggil anaknya.


Kedua orang itu akhirnya diam di depan pintu menguping dengar. Lama-lama arah pembicaraan anak-anak semakin ke arah yang sensitif sampai menyangkut pautkan kelauarga. Alexias mengernyitkan dahi, ia tidak sangka jika anak-anaknya menerima ejekan dari teman-temannya hanya karena hidup tidak bersama seorang Ayah.


"Pak, maaf. Anda harus mendengar ini semua. Saya akan berbicara dengan anak-anak itu dan memanggil wali mereka." Guru merasa tidak enak pada Alexias.


"Tolong lebih diperhatikan lagi, Bu. Setelah ini saya ingin bertemu dengan pihak kepala sekolah dan pemilik yayasan." kata Alexias menahan emosi.


Meski hanya ucapan anak-anak. Baginya itu sudah sangat menyakitkan. Ia tidak bisa memikirkan bagaimana anak-anaknya tahan digunjing dan diejek sedemikian.


"Aku perlu mengambil tindakan. Enak saja. Siapa bilang si kembar tidak memiliki Papa. Apa pekerjaan Papa si kembar? akan ku tunjukan pada kalian anak-anak nakal, siapa Papa teman yang kalian ejek ini." batin Alexias.


Pintu kelas terbuka. Anak-anak yang mengejek si kembar keluar dari dalam kelas. Mereka kaget melihat ada wali kelas dan Alexias yang berdiri di luar kelas meraka.


Ketiganya anak itu saling memandang satu sama lain dan terlihat khawatir. Mereka takut apa ketahuan sudah mengejek Oriana dan Olesia.


"Ha-hallo, Bu Guru." sapa salah satunya.


"Hallo, Anak-anak. Kalian mau pulang? sebelum pulang, bisa bicara dengan Ibu dulu?" Bu guru mengajak ketiga anak-anak itu bersamanya.


Bu guru menatap Alexias, "Maaf, Pak. Saya akan menangani ini dan bicara dengan wali mereka. Silakan Anda temui si kembar di dalam. Saya permisi," pamit Bu guru itu.


"Di mana letak ruang kepala sekolah, Bu?" tanya Alexias.


"Saya akan meminta salah seorang Guru mengantar Anda, Pak. Silakan berkenan menunggu." jawab Bu guru.


"Baik. Terima kasih sekali lagi," jawab Alexias.


Bu Guru mengangukkan kepala. Ia langsung membawa pergi ketiga anak yang baru keluar dari dalam kelas bersamanya. Entah mengapa Guru itu merasakan aura yang tidak biasa memancar dari Alexias.


"Perasaanku saja atau memang pria itu terlihat menyeramkan, ya. Aku harus menegur wali anak-anak ini, bagaiman bida anak-anak ini bicara tanpa tahu jika ucapan mereka akan menimbulkan masalah. Hahhhh ... anak-anak zaman sekarang memang berbeda." batin Bu Guru menghela napas panjang.

__ADS_1


*****


__ADS_2