
Reine dan Evan bertengkar. Reine yang kesal, rupanya masih tidak terima akan sikap evan yang memuji Lora di acara resepsi pernikahannya. Evan yang tidak suka disalahkan, berbalik menyalahkan Reine.
" ... teruskan saja kau mencaciku. Dasar wanita j*l*ng!" sentak Evan. Ia mencengkram dagu Reine dan melebarkan mata. "Kau membuatku muak!" Tambahnya.
Evan lantas melepaskan cengkramannya dan berbalik memalingkan arah pandangannya. Reine kesal karen Evan selalu dingin dan kasar padanya. Sangat berbeda dengan Evan yang dahulu.
Masih tidak terima, Reine masih terus meprotes tindakan Evan. Reine kembali mengingatkan, jika tanpanya Evan bukanlah apa-apa.
"Kau berani sekali mengataiku, Evan. Ingat, siapa kau sebelum kau merayuku dan aku membantumu. Jika tanpa bantuanku, aku yakin kau akan tetep duduk di meja staf di perusahaan. Meski kau menikahi Lora sekalipun, meski kau menantu dari Paman dan Bibiku, tidak akan bisa kau dengan mudahnya menaiki puncak. Pikirkan pengorbananku dan jangan buat aku mengakhiri semuanya." ancam Reine. Ia mendekati Evan yang membelakanginya.
"Oh, kau berani mengancamku rupanya. Kau pikir kau siapa sampai kau berani untuk mengancamku, Reine. Ingat juga, kaulah yang membujukku jadi seperti ini. Saat aku mendekatimu, kau mengiming-imingiku dengan posisi yang di duduki Pamanmu. Dengan begitu yakin kau membuatku harus percaya padamum." jawab Evan.
Reine melebarkan mata, "Mau apapun itu, tetap saja berkatku kau jadi Direktur, kan? mau kau sebelumnya tidak mau ataupun tidak berminat. Tapi, sekarang kau menikmatinya, Evan. Jangan membqlikna keadaan. Kita saling membutuhkan dan menguntungkan." jelas Reine. Ia tidak mau Evan selalu menyangkalnya.
Evan lelah dan menyerah, "Ah, sudahlah. Terserah kau mau seperti apa, bagaimana dan apa yang kau katakan. Yang jelas, aku muak dengan semua tingkahmu dan prilakumu. Aku menikahimu hanya karena Papa dan Mama. Bukan karena aku mencintaimu. Paham!" kata Evan, lantas pergi menuju pintu kamar, hendak keluar.
Melihat suaminya akan pergi, Reine pun mencegah dan bertanya ke mana suamimya itu akan pergi. Tapi, Evan tidak menjawab dan memilih langsung pergi. Reine menahan Evan, memegang tangan Evan. Tidak suka dengan sikap Reine, Evan pun langsung menepis tangan Reine.
"Jangan cegah aku pergi. S*al*n!" umpat Evan tajam menatap Reine.
"Tidak bisa. Kau tidak boleh pergi begitu saja. Kau mau ke mana?" tanya Reine, ingin tahu.
"Mau ke mana dan mau apa. Itu bukan urusanmu, Reine. Kau siapa, ingin tahu apa yang ingin kulakukan dan kuperbua?" kata Evan lagi.
"Wanita ini sepertinya sudah tuli. Aku sudah katakan aku tak mentukainya, tetapi dia tetap gigih mengusikku." batin Evan kesal.
__ADS_1
"Jika kau pergi, aku akan mengikutimu." sahut Reine.
"Ter-se-rah!" jawab Evan kesal. Kali ini Evan sungguh-sungguh pergi dan menutup pintu dengan kasar setelah ia keluar dari kamar.
Reine tertegun sesaat. Ia mengepalkan tangan marah. Tatapan matanya menatap tajam ke arah pintu. Harga dirinya terluka, merasa menjadi orang yang yang tak penting bagi suaminya.
Air mata menetes membasahi wajah Reine. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya pada Evan. Meski ia sudah memohon dan mengemis, Evan tidak akan pernah bisa mau kembali padanya seperti dulu. Tentu saja, hal itu membuat Reine berusaha memutar otak membuat Evan tak bisa lepas dari sisinya, apapun caranya.
***
Di sisi lain. Alexia dan Lora sedang berduaan di kamar. Alexias terlihat kesal karena sikap Evan yang mneurutnya kurang ajar. Lora tahu, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak selain membujuk suaminya itu.
"Kau kenapa?" tanya Lora, duduk di samping Alexais, di sofa.
"Jika tidak apa-apa. Lalu, kenapa sejak tadi hanya diam? aku tanya kau hanya menjawab singkat padat dan jelas. Ya, ok, tidak. Itu saja jawabanmu." keluh Lora. Ia tidak tahan jika suaminya berubah jadi dingin dan kaku.
Dengan wajah murungnya, Lora mengeluh. Mendengar keluhan Lora, Akexias sadar akan apa yang sudah ia perbuat. Ia memang kesal, tetapi tidak seharusnya merubah sikapnya pada Lora, istrinya.
"Benar juga. Aku kan kesal pada Evan. Karena aku tidka bisa meluapkannya, aku pun menujukkan kekesalanku pada Lora. Ah, benar-benar." batin Alexias berpikir.
Lora sedih, "Apa aku berbuat salah? tapi, saat kutanya dia menjawab 'tidak' saat aku bertanya lagi, dia jawab hal sama lagi. Apa yang sebenarnya mengganggu pikirannya. Jika seperti ini, aku bingung sendiri. Seakan apa yang kulakukan tidak benar dan tidak salah." batin Lora.
Tiba-tiba Alexias menyandarkan kepalanya ke bahu Lora. Membuat Lora kaget.
"A-ada apa?" gumam Lora pelan. Ia tidak tahu maksud suaminya menyandarkan kepala ke bahunya.
__ADS_1
"Maaf ... " ucap Alexias.
"Untuk?" sambung Lora.
"Kau pasti cemas dan khawatir, kan. Karena aku hanya diam dan menjawab singkat-singkat saja. Maafkan aku. Aku sedang kesal." jawab Alwelias menjelaskan.
Lora mengernyitkan dahinya, "Kesal? kesal kenapa?" gumam Lora. Tiba-tiba saja Lora terpikirkan sesuatu, "Ah, apa ini soal ucapan Evan tadi?" tebak Lora, ia merubah posisi duduknya menghadap Alexias.
Alexias hanya menganggukka kepalanya tanpa menjawab. Tanda jika tebakan Lora benar. Lora menarik napas lalu, mengembuskan napas perlahan. Ia tersenyum mengusap wajah suaminya yang tampan.
"Apa yang membuatmu kesal, sayang? bukankah aku sudah menolak pujiannya dan memintanya bersikap sopan." kata Lora menegaskan.
Alexsias menatap dalam mata istrinya, "Tetap saja. Hatiku sakit mendengarnya. Hanya aku, satu-satunya pria yang boleh memujimu dan menatapmu dalam. Tidak dengan pria lain, terlebih di b*r*ngs*k itu." jawab Alexias emosional. Lantas mengatai Evan.
Kecupan lembut mendarat di kening Alexias. Kecupan yang diberikan Lora serasa mengamgkat kekesalan Alexias sepenuhnya. Hati yang panas sudah mulai meredam dingin.
"Ya, dia memang pria b*r*ngs*k! sangat-sangat menyebalkan dan tidak tahu diri. Bukan hany kau yang kesal, Lex. Aku pun kesal saat tahu dia sudah mmebuat Papa dan Mamaku menderita. Meski keluargaku tidak sampai jatuh, tetap saja kan dia keterlaluan. Dia tidak tahu malu sampai mau menusuk orang yang menolongnya. Tapi, aku senang. Kau mau dan cepat tanggap membantu masalah keluargaku. Kau langsung menunjukan kesungguhanmu. Terima kasih, sayang." jelas Lora, lantas berterima kasih.
Alexias mengusap wajah Lora, "Ini bukan hal besar, sayang. Masih perlu waktu untuk bisa merebut kembali perusahaan Papamu. Jadi, sampai tiba waktu itu. Kau bisa terus memberikan semangat dan dukunganmu pada Papamu untuk terus semangat. Jangan sampai berputus asa dan menyerah. Pasti akan datang, di mana Evan merasa kesulitan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Karena dari profilnya yang kupelajari, ia hanya mengandalkan semangat dan tidak tahu menahu tentang dunia bisnis. Orang seperti itu, bagaimana bisa kan bertahan membawahi perusahaan. Yang ada dia hanya akan dimanfaatkan bawahannya saja." tegas Alexias menjelaskan. Ia terus mencoba membuat istrinya paham akan situasi.
Lora mengangukkan kepala tanda mengerti, "Aku mengerti. Jika itu yang bisa kulakukan sebagai Anak, aku akan lakukan. Tugasku adalah menjadi Anak yang bisa menjadi penyemangat orang tuanya. Seperti anak-anak kita yang selalu memberikan semangatnya pada kita. Benar, kan." jawab Lora tersenyum.
Alexias tersenyum, "Istriku memang pandai dan cekatan. Aku bangga sekali padamu," katanya. Ia lantas mencium kening lalu, hidung Lora dan berakhri dengan mencium lembut bibir istrinya.
*****
__ADS_1