
Pada saat yang lainnya sibuk bicara, Oriana dan Olesia teringat akan Odellia yang mereka tinggalkan di restorant.
"Lesi, bagaimana dengan Lia?" tanya Oriana.
"Ah, iya. Lia ... " ucap Olesia, meninggikan suara.
"Ada apa anak-anak?" tanya Agatha, menatap Oriana dan Olesia.
"Bibi, kita harus turun ke restorant. Masih ada saudari kami di sana." jawab Olesia.
"Apa? kalian masih punya saudari?" tanya Agatha.
Oriana dan Olesia menganggukkan kepala bersamaan. Agatha menatap Alexias, keduanya juga sama-sama menganggukkan kepala.
Alexias menggendong Olesia, "Kau ikut Bibi," kata Alexias, menyerahkan Olesia pada Agatha.
Alexias menggendong Oriana, "Ayo turun. Pak Manager, di mana pihak keamanan? minta mereka langsung ke restorant. Kita tidak bisa biarkan mereka lari begitu saja." lanjut Alexias bicara.
"Saya akan memberitahukannya, Tuan." jawab Manager.
Mereka semua keluar dari kamar Alexias. Alexias merasa khawatir, pada saat ia tahu jika masih ada seorang anak lagi yang ada dalam bahaya.
"Paman, ayo cepat!" rengek Oriana.
Alexias mengusap kepala Oriana, "Jangan khawatir. Saudarimu pasti akan Paman lindungi." jawab Alexias.
"Odellia, bertahanlah ..." batin Oriana.
"Lia, kumohon. Jangan ada apa-apa denganmu. Kami sudah menemukan Paman dan menyelamatkannya," batin Olesia.
***
Di restorant, Odellia resah gelisah. Ia menyatukan dua tanganya dan terus berdoa. Odellia takut, jika ia ketahuan menguping pembicaraan dua orang dewasa jahat di sampingnya.
"Di mana Annah dan Lesi. Kenapa mereka belum juga datang? aku takut ... " batin Odellia.
Odellia melirik ke sisi samping, ia merasa ngeri melihat dua orang tak jauh darinya. Pikirannya membayangkan hal yang tak seharusnya.
"Cepat datang, Annah, Lesi ... " batin Odellia.
Beberapa saat, Odellia mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Ya, Hannah menemukan keberadaan Odellia. Hannah mendekati Odellia dan bertanya di mana Oriana dan Olesia berada.
"Lia ... kau di sini rupanya. Mama mencarimu ke mana-mana," kata Hannah duduk di samping Odellia.
"Mama, " panggil Odellia.
"Eh, di mana Annah dan Lesi?" tanya Hannah melihat kiri kanan, mencari dua anak angkatnya yang lain.
__ADS_1
"Ah, itu. Mereka, mereka ... " jawab Odellia terbata-bata.
"Lia ... " teriak Oriana dan Olesia bersamaan.
Tentu saja, hal itu membuat semu orang langsung mengalihkan pandangan pada keduanya. Termasuk dua orang jahat yang berada di belakang Odellia.
Odellia berdiri, "Annah, Lesi ... " panggil Odellia tersenyum senang.
Kedua orang di belakang Odellia kaget. Mereka melihat Alexias dan Agatha yang datang bersamaan dengan Oriana dan Olesia. Pandangan mereka bertemu dengan Alexias, merekapun ketakutan.
"Kalian ... " kata Alexias tiba-tiba terhenti. Karena petugas keamanan datang.
"Pak, di mana orang yang harus kami urus?" kata salah seorang petugas keamanan.
"Mereka di sana," kata Agatha. Menunjuk pada dua orang yang berada di belakang Odellia.
Kedua orang di belakang Odellia panik. Keduanya saling bertatapan, mereka langsung berencana kabur.
"Pergi, kita harus pergi!" kata seseorang berkacamata.
"Sial! kita sudah ketahuan. Mau bagaimana lagi. Kita memang harus pergi, daripada kita tertangkap." sahut seseorang berambut gondrong.
Seseorang berkacamata langsung berdiri dari posisi duduknya dan berlari cepat meninggalkan restorant. Begitu juga seseorang yang berambut gondrong. Akan tetapi ia memiliki rencana lain. Saat ia berdiri dan hendak berlari, ia tiba-tiba saja menggendong Odellia dan membawanya berlari.
"Maaf, Nak. Paman akan membawamu sebagai sandera." kata pria itu, berlari cepat.
"Ah, tidak. Lepaskan aku Paman jahat. Lepas! Annah, Lesi, Mama ... " teriak Odellia.
"Oh, tidak. Odellia." gumam Oriana.
"Lia ... " panggil Olesia.
"Mereka lari, ayo cepat kejar." kata Manager, memerintahkan pihak keamanan Hotel mengejar.
Alexias juga langsung berlari, ia mengejar di penculik Odellia. Jantung Alexias berdegup kencang. Tiba-tiba ada rasa takut dan gelisah. Ia seperti tidak mau kehilangan sesuatu miliknya yang berharga.
Sementara itu, penculik Odellia terus berlari sampai mereka keluar dari gedung Hotel. Pria berkacamata juga pergi entah kemana. Kedua orang jahat itu seakan berpisah jalan begitu saja.
"Lepaskan aku, Paman jahat. Lepas!" ronta Odellia memukul-mukul orang yang menggendongnya.
"Diam kau anak kecil! jangan membuatku marah dan semakin kesal. Aku tidak akan segan melemparkanmu ke jalanan." kata pria yang mengendong Odellia dengan nada bicara kasar.
"Bagaimana ini. Paman ini tak akan mau melepaskanku begitu saja. Aku mau dibWa ke mana? aku tidak mau. Tidak!" batin Odellia.
Odelia memikirkan cara agar orang jahat yang menggendongnya mau melepaskannya. Ia langsung mengigit telinga orang jahat itu keras-keras. Benar saja, karena merasa kesakitan, gendongan terlepas dan Odellia jatuh.
Brukk ...
__ADS_1
Odellia terjatuh, lututnya terbentur jalan dan lecet.
"Ahhh, sakit! Anak sialan, beraninya kau. Ahh ..." erang pria gondrong itu memegang telinganya yang berdarah.
"Ouch ... " keluh Odellia merasakan sakit karena terjatuh dan terbentur.
"Aku harus lari, aku tidak boleh tertangkap!" batin Odellia berdiri dan langsung berlari tanpa tujuan.
"Hei kau, jangan lari!" teriak pria itu melihat Odellia beralari.
"Tidak boleh tertangkap. Aku harus mencari bantuan. Polisi, di mana polisi. Tolong ... Mami ... Hiks ... " batin Odellia menangis.
Odellia terus berlari. Ia tidak memedulikan pria jahat yang meneriakinya di belakangnya. Odellia takut, ia tidak tahu akan pergi ke mana. Ia hanya bisa mengikuti arah kakinya berlari.
Di seberang jalan, Odellia melihat seorang petugas polisi yang sedang berkeliling. Ia hendak meminta tolong, ia lalu berteriak.
"Tolong ... " teriak Odellia.
Namun sayangnya, teriakan Odellia tidak terdengar. Ia lantas memutuskan untung menghampiri petugas polisi itu, bagaimanapun caranya.
"Aku harus ke sana. Ya, aku harus pergi ke sana." batin Odellia.
Odellia tidak mengerti, karena panik ia langsung saja menyebrang jalan tanpa melihat situasi dan keadaan sekitar. Saat Odellia menyebrang, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melintas dengan kecepatan cepat.
Pengemudi tidak bisa menghindar meski ia sudah mengurai kecepatan mobilnya. Karena Odellia begitu tiba-tiba melintas di depan mobilnya. Kecelakaan tidak terhindarkan. Tubuh kecil Odellia terpental dan jatuh ke jalan sesaat setelah tertabrak mobil.
"Tidak!" teriak Hannah.
"Lia ... " teriak Oriana dan Olesia bersamaan.
Alexias seketika shock. Ia melihat tubuh gadis kecil Odellia tepental dan jatuh ke jalan. Ia langsung berlari mendekati Odeliia dan memeriksa keadaan Odellia.
Deg ... deg ... deg ....
Jantung Alexias berdegup kencang. Alexias gemetaran melihat kepala Odellia yang terluka. Tak hanya kepala dan wajah yang terluka, bahkan tubuh Odellia juga.
"Tidak! jangan! nak, bangunlah. Kau tidak boleh tertidur." gumam Alexias.
Alexias mememeluk Odellia, tidak tahu mengapa air matanya tiba-tiba saja jatuh. Rasanya tubuhnya ikut sakit melihat kondisi gadis kecil yang berada di pelukannya.
Alexias langsung sadar, "Rumah sakit. Aku harus cepat membawanya ke rumah sakit." gumam Alexias.
"Lex ... " panggil Agatha, menghampiri Alexias
"Taxi, Agatha taxi ... " pinta Alexias, berdiri menggendong Odellia.
"Ya," jawab Agatha.
__ADS_1
Tidak jauh, ada taxi yang sedang menurunkan penumpang. Alexias dan Agatha langsung masuk dalam taxi dan minta di anatar ke rumah sakit. Pikiran Alexias hany tertuju pada Odellia. Ia ingin menyelamatkan nyawa gadis kecil itu.
*****