Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 97. Pencarian Si Kembar Tiga (1)


__ADS_3

Reine selesai dengan permainannya. Ia lalu, pergi meninggalkan pria yang sudah menghabiskan waktu dengannya. Sebelum pergi, ia berpesan jika ia menitipkan si kembar pada pria itu. Reine masih ada urusan dan akan datang lagi esok hari. Pria itu mengiyakan permintaan Reine dengan senang hati.


***


Di luar gudang kosong. Ada Evan yang masih duduk manis di dalam mobilnya. Dengan rasa penasaran yang menumpuk, Evan menunggu keluarnya Reine dari dalam gudang.


"Apa yang wanita gila itu lakukan? kenapa dia lama sekali?" batin Evan tidak sabar.


Evan menunggu lama sekali, sampai akhirnya melihat Reine keluar dari gudang kosong dan berjalan menuju mobilnya. Evan masih diam, ia sengaja tidak menampakkan diri. Evan ingin tahu di mana Reine tinggal selama ini. Semenjak hari di mana Reine memergoki Evan bermain dengan wanita, Reine tidak pernah lagi pulang ke apartemen atau ke rumah kedua orang tuan Evan.


"Kali ini, kau tidak akan bisa kabur dariku, Reine." batin Evan.


Evan melihat, mobil Reine bergerak. Mobil yang yang dikemudikan Reine melaju pergi meninggalkan halaman gedung kosong. Evan juga buru-buru menyalakan mesin mobilnya, ia mengemudikan mobilnya pergi mengikuti mobil istrinya itu.


***


Reine tampak senang. Ia tersenyum cerah setelah berhasil mengelabuhi pria yang disewanya. Ia bangga bisa memanfaatkan tubuhnya untuk melakukan transaksi.


"Semua laki-laki di mana saja sama. Mereka hanya akan memandang fisik dan wajah seorang wanita. Tidak ada pria busuk yang tidak menyukai wanita cantik dan memesona. Hahhh ... " hela napas Reine, "Tidak sia-sia aku selama ini merawat diri. Paras cantik memang segalanya, ya. Tidak heran pria menjijikan tadi langsung tergoda olehku." batin Reine.


"Reine, Reine, Reine. Kau memang cerdas!" Reine memuji diri sendiri dengan sombongnya.


Senyum cantik tidak berhenti mengembang di wajahnya. Ia tidak sadar, jika ia sedang diikuti oleh Evan, dengan mobil yang lain di belakang mobilnya.


***


Malam harinya ....


Sementara itu, di Mansion Alexias. Semua orang berkumpul. Mulai dari orang tua Alexias, orang tua Lora, sampai orang tua angkat Lora juga ada. Hannah, Ezra, Christopher dan Agatha juga terlihat. Semuanya tampak sedih, kekhawatiran melanda pikiran mereka semua.


Mata Lora sudah bengkak, Ia terus menerus menangisi ketiga putrinya yang menghilang. Meski air matanya sampai mengering, Lora tetap saja terdiam tanpa bicara apapun. Ia tidak mau keluar dari kamar si kembar tiga.


Alexias pergi dari ruang tamu ke kamar anak-anaknya. Ia khawatir dengan keadaan Lora, istrinya. Setelah mengetuk pintu dan meminta izin masuk ke dalam kamar, Alexias berjalan mendekati Lora.


"Sayang ... " panggil Alexias.


Lora hanya diam. Ia mematung menatap boneka-boneka kepunyaan Oriana, Olesia dan Odelia.


"Lora ... " panggil Alexias. Ia mengusap kepala Lora, "Hei, kau tidak boleh seperti ini terus menerus, sayang. Jagan mengurung dirimu," kata Alexias.

__ADS_1


Air mata Lora yang mengering kembali keluar tanpa Lora sadari. Lora sedih, ia merasa tidak berguna sebagai seorang Ibu. Ia bahkan tidak bisa melindungi anak-anaknya dengan baik. Lora pun mengeluh pada Alexias.


"Sudah berapa jam, Lex. Ini sudah malam dan mereka belum juga ditemukan. Bagaimana bisa aku tenang? bagaimana bisa aku tidak kepikiran? aku khawatir, aku cemas, Lex. Aku ... aku ... Hiks ... " ucapan Lora terjeda, ia langsung menangis tersedu-sedu.


Alexias yang tidak tega melihat Lora yang seperti itupun segera memeluk istrinya erat. Ia juga meminta maaf, dadanya terasa penuh sesak.


"Maaf, sayang ... " bisik Alexias.


Hiks ... hiks ... hiks ....


Lora terus menangis. Ia tidak bisa meredam tangisannya.


Pelukan Alexias melonggar, ia menangkup wajah dan menyeka air mata istrinya. Dikecupnya kedua kelopak mata Lora bergantian lalu, kecupan Alexias berpindah ke kening Lora.


"Lihat matamu. Mata yang bersinar dan indah sekarang tampak sayu dan juga sembab." kata Alexias.


Lora menatap Alexias, "Kau juga, kan. Lihat ini," kata Lora mengusap area bawah mata Alexias.


"Ah, ini ... mataku terkena debu." jawab Alexias beralasan.


Lora tersenyum tipis, "Bohong. Apa kau tahu? kau itu tidak bisa berbohong, Lex." kata Lora.


Lora mengusap wajah tampan Alexias, "Sayang, dengarkan aku. Tidak ada yang salah dengan menangis. Menangis itu hal yang wajar. Mau itu laki-laki ataupun perempuan, jika bersedih atau sangat bahagia, mereka pasti akan menangis." jelas Lora bersuara serak.


Alexias memegang tangan Lora yang Mengusap wajahnya lalu, ia mencium tangan Lora.


"Mau pergi denganku? ayo kita keluar, sekalian kita cari dan menunggu informasi tentang anak-anak. Jika di sini, kau hanya akan murung. Napasmu akan terasa berat dan dadamu akan penuh sesak." Alexias mencoba mengalihkan pemikiran Lora dengan mengajaknya pergi jalan-jalan.


Lora pun setuju. Ia bersedia ikut Alexias ke luar rumah. Keduanya berjalan bersama-sama keluar dari kamar si kembar tiga dan pergi ke kamar mereka sendiri untuk bersiap-siap.


***


Alexias dan Lora, keduanya pergi ke taman. Di mana biasanya dua orang itu menghabiskan waktu bersama ketiga anak mereka.


"Bagaimana? sudah merasa lebih baik?" tanya Alexias, menatap Lora yang duduk di sampingnya.


Lora menganggukkan kepalanya, "Ya, lumayan. Tidak sesesak tadi." jawab Lora.


"Kau ingat, saat aku datang terlambat ke taman ini akhir bulan lalu? ah, tunggu. Akhir bulan yang lalu atau awal bulan ini, ya? aku lupa. Yang jelas, saat itu kau merajuk karena aku lupa membeli kopi pesananmu." kata Alexias, mengingat-ingat kejadian sebalumnya.

__ADS_1


Lora terdiam sesaat, ia seperti sedang mengingat. Tidak lama ia menyahut.


"Ah, iya. Aku ingat. Itu kejadian akhir bulan lalu, Lex. Pada saat itu, kita juga janji mengajak anak-anak makan, makanan Jepang. Bagaimana tidak merajuk, kau yang menawariku kopi, kau juga yang lupa beli." Lora yang ingat kembali kesal, tetapi ia juga langsung tersenyum.


Ponsel Alexias berdering. Ia menerima panggilan dari seseorang.


"Tunggu," kata Alexias, merogoh kantung mantelnya.


"Siapa, sayang?" tanya Lora, menatap Alexias.


Ponsel sudah dikeluarkan dari saku mantel, "Kepala keamanan," jawab Alexias.


"Oh, cepat terima. Siapa tahu ada kabar dari anak-anak kita," kata Lora.


Alexias lalu, menerima panggilan kepala keamanan tempat diselenggarakannya pesta.


"Hallo," jawab Alexias.


"Hallo, Tuan. Maaf mengganggu Anda malam-malam seperti ini. Ada hal yang ingin saya beritahukan." kata si kepala keamanan.


"Ya, Tuan. Ada hal penting apa?" tanya Alexias penasaran.


Kepala keamanan pun bercerita. Jika sebelum kamera pengawas dirusak, ada hal yang mencurigakan di area parkir. Seseorang laki-laki dan perempuan terlihat sedang berbicara dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Dan si laki-laki yang terekam kamera pengawas, juga adalah orang yang menganiaya salah satu pelayan. Yang tidak lain adalah keponakan dari kepala pelayan yang bertanggung jawab atas pesta.


Mendengar itu, dahi Alexias langsung berkernyit. Ia mengantupkan bibir, dengan tangan kiri yang mengepal erat.


"b*r*ngs*k! siapa orang yang berani mengusik keluargaku. Aku tidak akan tinggal diam membiarkannya hidup dengan baik." batin Alexias.


" ... kami akan kembali melanjutkan penyelidikannya. Kami akan terus memberik kabar terkait kasus ini." kata kepala keamanan setelah menjelaskan panjang lebar.


"Baik, saya tunggu kabar Anda. Tolong terus cari, Tuan. Saya juga akan bantu sebisa saya. Jika butuh sesuatu, jangan sungkan untuk memintanya pada saya." kata Alexias.


"Tentu, Tuan. Kami akan berusaha semampu kami. Mohon bersabar. Saya akhiri panggilan ini, selamat malam." kepala keamanan itu berpamitan.


"Ya, selamat malam. Sekali lagi, terima kasih. Setidaknya informasi Anda bisa mengurangi kecemasan saya dan istri saya." jawab Alexias.


Panggilan pun berakhir. Lora langsung bertanya apa hal yang dibicarakan suaminya itu dengan pihak keamanan. Alexias lalu, menceritakan sesuai apa yang diceritakan pihak kepala keamanan padanya, tanpa dikurangi atau di lebih-lebihkan.


*****

__ADS_1


__ADS_2