Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 38. Pertemuan Keluarga (3)


__ADS_3

Lora*


Aku kaget, saat tiba-tiba Agatha datang. Saat ku sapa, aku melihat Papa, Mama dan Nenek di belakang Agatha. Ada juga dua orang asing yang tidak aku kenal.


Agatha langsung buka suara. Dia memperkenalkan aku dengan dua orang asing yang ternyata adalah orang tuanya juga Alexias. Aku sempat kaget, karena tiba-tiba aku bertemu orang tua Alexias dan Agatha.


Aku memperkenalkan diriku. Alexias juga memperkenalkan diri pada keluarga angkatku. Suasana canggung dan tegang. Entah apa yang terjadi, aku sama sekali tidak menyangka akan kedatangan mereka semua.


Kamipun mengobrol, Alexias terpaksa mengundur waktu untuk pergi rapat. Aku juga mengundur waktuku berangkat ke kantor.


"Apa keadaannya baik-baik saja?" tanya Mama Alexias pada Lora.


"Ya, keadaanya sudah membaik. Meski awalnya sempat tidak sadarkan diri selama tiga hari." jawabku.


"Kau merawat mereka dengan baik rupanya. Maafkan putraku yang mengabaikanmu selama enam tahun ini." katanya lagi menatapku dengan tatapan mata yang sedih.


Aku menggelengkan kepala, "Tidak, Bi. Bukan salah Alexias. Akulah yang melarikan diri darinya pada saat itu. Karena aku malu dan juga kaget, harus memiliki keterikatan dengan pria asin. Aku langsung terpikirkan keluargaku, Papa dan Mamaku pasti mencariku karena aku semalaman tidak pulang. Jadi, tanpa berpikir panjang, aku pergi meninggalkan Alexias begitu saja." jelasku. Aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tetap saja, harusnya anak nakal ini mencarimu. Nanti aku akan menghukumnya." katanya lagi ssambil menatap Alexias yang duduk di sampingku.


"Kalian rapi sekali, mau pergi?" tanya Papa Alexias.


"Ya, aku harus kerja." jawabku.


"Aku mau bertemu orang pabrik. Kami akan rapat," jawab Alexias.


"Oh, ok. Pergilah jika seperti itu. Biar anak-anak kalian kami yang menjaga. Kami juga tidak ada kegiatan," katanya lagi.


"Tenang saja. Aku juga ada di sini, kalian tidak perlu khawatir." sahut Agatha yang sedang memangku Oriana.


"Oriana dan Olesia akan ke sekolah. Jika tidak keberatan, tolong bantu kami jaga Odellia." kata Alexias.


"Aku saja yang antar Annah dan Lesi. Kau antarlah Lora, Lex." Agatha menawarkan diri menggantar Oriana dan Olesia pergi ke sekolah.


"Bagaimana sayang?" tanya Alexias menatapku.


Aku kagt, tiba-tiba saja pria yang duduk di sampingku ini memanggilku sayang. Aku sesatat tertegun, aku merasa malu dan canggung.


"Oh, ah, bo-boleh saja. Jika memang tidak sibuk, tidak apa-apa." jawabku.

__ADS_1


Alexias menatapku, "Kau kenapa? sakit?" tanyanya, tangannya menyentuh wajahku. "Wajahmu memerah," lanjutnya.


Deg ... deg ... deg ....


Wuahhhh ... gila! ini gila! bagaimana bisa Alexias dengan santainya menyentuhku begini, bahkan di hadapan banyak orang. Aku langsung berdiri, karena aku sangat malu. Aku langsung berpamitan pada semua orang. Aku juga menitipkan anak-anak pada Agatha.


"Annah, Lesi, jangan buat masalah, ok. Harus menurut dengan Bibi," kataku. Menasihati anak-anak.


"Ya, Mami. Mami dan Papi hati-hati di jalan." jawab Olesia.


"Ya, kami mengerti. Kami akan ingat pesan Mami," jawab Oriana.


Aku tersenyum lebar. Anak-anakku memang sangat pandai. Kucium kening keduanya dan kupeluk begiliran. Aku juga berpamitan dengan Odellia.


'sayang, baik-baik, ya. Mami pergi kerja dulu. Jika ada apa-apa, kau bisa minta Bibi atau Nenek atau Kakek membantumu. kau juga harus sopan pada Kakek dan Nenek Owen, ya. Mengerti?" kataku, lalu mencium keningnya.


Odellia menganggukkan kepala, "Ya, Mami." jawabnya. Tak lupa aku memeluknya.


Aku melihat Alexias juga berpamitan pada Orang tuanya, orang tuaku lalu anak-anak. Terakhir dia berpamitan pada Nenek dan Odellia.


"Nek, aku pergi kerja dulu. Nenek tidak perlu memaksaan diri. Jika Nenek meraasa tidak nyaman, Nenek bisa istirahat." kata Alexias memberikan perhatian.


"Nenek, jangan membuatku besar kepala. Justru aku yang bersyukur bisa memiliki cucu Nenek. Karena dia adalah sosok wanita yang hebat," kata Alexias tersenyum.


"Sudah, sudah. Ayo, kita harus segera berangkat." selaku. Aku merasa malu, karena Alexias terus memujiku. Dia terus menggoda dan membuatku merona.


"Tungu, aku mau peuk anak-anakku lagi." katanya.


Aku melihat Alexias memang sangat dekat dengan anak-anak. Padahal masih sekitar dua mingguan mereka saling kenal. Mungkin inilah yang dinamakan, darah lebih kental dari air. Meski lama tidak bertemu, mereka bisa langsung akrab dengan mudahnya. Aku melihat anak-anak juga enggan berpisah dari Papinya.


"Papi kerja dulu. Nanti pulang sekolah Papi jemput, ok." kata Alexias, mencium pipi Oriana dan Olesia bergantian.


"Ya, Papi." jawab Olesia.


"Dahh, Papi ... " kata Oriana.


"Agatha, hati-hati mengantar anak-anak." Alexias memperingatkan.


"Iya, Tuan. Jangan khawatir." jawab Agatha.

__ADS_1


Alexias berbalik dan menatap Odellia, "Sayang, Lia. Papi kerja dulu, ya. Cepat sembuh," kataya penuh perasaan. Dia lalu mencium kening Odellia.


"Ya, Papi. Papi dan Mami hati-hati. Sampai jumpa nanti," jawab Odellia tersenyum.


Kami pun pergi meninggalkan mereka yang ada di dalam ruangan. Tanganku digandeng Alexias, aku baru sadar saat aku sudah berada di luar ruangan. Lagi-lagi aku dibuat berdebar olehnya. Pria ini memang lihai.


Langkah kakinya menyesuaikan langkahku. Meski dia tidak mengatakanya, aku tahu jelas alasannya. Namun, aku ingin coba bertanya padanya, kenapa setiap dia menggandengku, dia selalu menyamakan langkahnya dengan langkahku.


"Lex ... " panggilku.


"Hm ... apa?" tanyanya.


"Kenapa, setiap kita berjalan bergandengan, kau selalu menyamakan langkahmu denganku? apa kau takut aku jatuh karena tak bisa melebarkan langkah kakiku" tanyaku. Akupun mengatakan alasan kuat yang kupikirkan.


"Bisa jadi demikian. Namun, alasanku yang paling kuat adalah, Aku ... " jedanya, membuatku memalingkan pandangan ke arahnya karena penasaran.


"Aku ... " ulangku penasaran.


Apa sebenarnya alasannya. Aku sangat ingin tahu.


"Karena aku tidak hanya mau menjadi perisai yang melindungimu di depanmu. Aku tidak mau menjadi pecundang yang bersembunyi di belakangmu. Aku ingin kita berdampingan. Seiring sejalan, mau ke manapun kaki kita melangkah. Apa aku salah?" jawabnya.


Mataku melebar. Aku tidak sangka jika Alexias akan mengatakan hal demikian. Itu, di luar pemikiranku. Pria ini sungguh tiddak bisa tertebak isi pikirannya juga hatinya. Aku selalu keliru menilainya.


Karena aku melamun, tanpa sadar kami sudah sampai di parkiran. Alexias memanggilku.


"Sayang, kau melamun apa?" katanya mengejutkanku.


"Ah, tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu, biar aku yang menyetir." kataku.


"Tidak boleh. Aku saja yang menyetir. Dan aku akan mengantarmu. Aku akan bawa mobilmu, nanti kujemput." katanya.


"Oh, kau tahu jalan?" tanyaku menatapnya.


"Hei, Nyonya. Apa kau meremekan aku?" katanya serius.


Aku tersenyum, "Baiklah, baiklah. Ayo," ajakku.


Aku langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil. Aku duduk di samping kursi kemudi. Alexias juga langsung masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian, mobil melaju perlahan meninggalkan parkiran.

__ADS_1


*****


__ADS_2