Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 61. Makan Malam Bersama


__ADS_3

Sore harinya, sekitar pukul lima sore waktu setempat. Saat sedang santai membaca buku, Lora mendapatkan panggilan dari sahabatnya, Hannah. Dengan senyuman dan perasaan senang, Lora menerima panggilan dari sahabatnya itu.


Perbincangan di telepon*


"Ya, Hannah. Ada apa?" jawab Lora. Ia langsung bertanya kepentingan sahabatnya itu.


"Kau sedang apa, Lora? Sedang sibuk, ya?" tanya Hannah seakan memastikan.


"Sedang baca buku. Aku tidak sibuk. Namun, aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi." jawab Lora. Ia melihat ke arah kamar anak-anaknya.


"Ah, begitu." sahut Hannah.


"Ada apa?" tanya Lora penasaran.


"Hm, hanya ingin menawari saja. Kau mau makan malam dan minum denganku, tidak? aku sedang ingin minum karena aku sedang stres dengan masalah di rumah Bibiku." ajak Hannah dengan suara lemas.


Lora mengeryitkan dahi, "Kau baik-baik saja, Hannah?" tanya Lora mulai penasaran akan tingkah aneh sahabatnya itu.


"Makanya ayo makan malam dan kita minum bersama. Aku akan ceritakan nanti saat kita bertemu." jawab Hannah yang memang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Bailah, ayo kita lakukan sesuai keinginanmu. Aku lanjutkan pekerjaanku dulu, ya. Aku juga harus berpamitan pada anak-anak dan Alexias lebih dulu. Kirim saja alamat di mana kita akan bertemu dan pukul berapa. Ok." jawab Lora menanggapi permintaan sahabatnya itu.


"Ok. Aku akan kabari lewat pesan nanti. Aku juga mau kembali ke Hotel dan mampir beli keperluanku. Sampai nanti, Lora." Pamit Hannah.


"Hati-hati. Sampai nanti, Hannah." jawab Lora.


Tidak beberapa lama, Hannah mengakhiri panggilanya. Lora menatap layar ponselnya. Ia lalu, berdiri dan berjalan menuju kamar anak-anaknya. Ia juga nenatap layar ponselnya lalu, menghubungi Alexias untuk membicarakan soal Hannah.


Prmbicaraan di telepon *


"Hallo," jawab Alexias.


"Sayang. Kau tidak pulang terlambat, kan?" tanya Lora.


"Tidak. Pekerjaanku sudah selesai. Sebentar lagi aku akan pulang. Kenapa?" tanya Alexias.


"Aku akan ceritakan saja nanti di rumah. Hati-hati pulang, ok." kata Lora yang begitu pengertian.


"Ok, muaachh ... " jawab Alexias antusias.


Lora tersenyum, "Dasar penggoda," gumamnya.


Lora pun mengakhiri panggilannya dan membuka pintu kamar anak-anaknya. Saat membuka kamar dan mengintip, ia melihat anak-anaknya sedang berdiskusi dan bertanya jawab. Mereka belajar sambil bermain.

__ADS_1


"Wah-wah, rajin sekali anak-anakku." batin Lora terlihat kagum. "Hah, ." gumamnya.


Ia lalu, masuk dalam kamar dan menutup pintu kamar. Lora tidak ingin si kembar tiga merasa tidak nyaman. Ia pun melangkah pergi mendekati anak-anaknya. Lora ingin menyampaikan permintaan maaf pada anak-anaknya akrena tidak bisa ikut makan malam bersmaa karena suatu hal. Lora berkata jujur, jika ia akan menemui Hannah dan pergi bersama Hannah. Namun, Lora juga mengatakan jika Hannah butuh dirinya sebagai teman cerita karena ada hal yang amat sangat penting untuk dibicarakan. Dengan senyuman manis, Oriana, Olesia dan Odellia menganggukkan kepala tanda mengerti akan ucapan Maminya.


***


Pintu kamar diketuk dari luar. Tidak beberapa lama, pintu ruangan terbuka dan Alexias pun masuk ke dalam ruangan. Alexias sempat mencari Lora di kamar tidur mereka. Tetapi ia tidak berhasil menenukan Lora.


Alexias melangkah mendekati Lora. "Sayang, kau di sini rupanya. Aku sudah mencarimu ke kamar tadi. apa yang terjadi pada Hannah? Dia baik-baik saja?" tanya Alexsias menatap ke arah Lora. Ia juga cemas, takut terjadi sesuatu hal


"Entahlah. Aku tidak tahu pastinya seperti apa. Dari suaranya dia terdengar tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja." kata Lora memalingkan pandangannya menatap Alexias. "Dia memintaku menemaninya makan. Boleh, kan?" tanya Lora ragu-ragu.


Ia tidak tahu apakah Alexias mengizinkannya pergi atau tidak. Meski Lora sudah mengiakan permintaan Hannah. Tetap saja ia harus izin dan berpamitan pada Alexias dan anak-anaknya.


"Kenapa tidak boleh. Pergilah, sayang. Jangan khawatir, anak-anak aku yang akan jaga. " jawab Alexias.


Lora tersenyum, "Terima kasih, sayang. Aku masih harus selesaikan ini." jawab Lora dengan menepuk buku-buku di lemari atas meja. "Anakmu membuat masalah dengan membongkarnya," lanjut Lora.


Alexias mengambil alih pekerjaan Lora, "Biar aku yang kerjakan. Kau bisa bersiap pergi menemui Hannah. Hiburlah dia jika sedih, mungkin dia memang sedang dalam kesulitan." kata Alexias.


"Wuah ... sayangku perhatian sekali. Aku bangga padamu, Lex." jawab Lora.


"Aku juga bangga punya kau, Lora. Oh, di mana anak-anak? apa mereka di luar?" tanya Alexias melihat sekeliling. Karena sejak ia masuk dalam kamar, ia tidak melihat ada anak-anaknya di dalam kamar.


"Oh," jawab Alexias ber-oh ria.


"Baiklah, aku akan pergi dan bersiap. Bagaimana jika kau juga mengajak anak-anak makan di luar, Lex. Kau bisa ajak Agatha juga. Maaf, ya. Aku harus meninggalkanmu dan anak-anak sendirian hari ini. Aku harus merepotkanmu," dengan wajah sedih Lora menatap Alexias.


Alexias mengusap wajah Lora, "Tidak apa, sayang. Pergilah. Aku bukan suami yang mengekang istrinya seperti peliharaan. Kau juga butuh kebebasa dan aku percaya kau tidak akan melepas tanggung jawabmu sebagai seorang istri dan Mami. Jangan sedih, aku dan anak-anak akan baik-baik saja. Nanti aku akan hubungi Agatha agar dia datang bawa cemilan. Kita bisa nonton film bersama di rumah atau pergi ke taman berkeliling." jelas Alexias. Ia tidak mau Lora merasa bersalah karena harus pergi meninggalkanya dan anak-anaknya.


"Ok, aku pergi. Sampai nanti, sayang." pamita Lora.


"Hati-hati di jalan. Kau diantar supir, kan?" tanya Alexias.


"Ya, aku minta supir mengantar." jawab Lora.


Lora mencium pipi Alexias lalu, pergi meninggalkan kamar anak-anaknya. Alexias kembali menata buku dan menunggu anak-anaknya selesai mandi.


***


Pukul tujuh malam waktu setempat. Lora akhirnya bertemu Hannah di sebuah restoran. Sebelumnya, pekerjaan Lora diambil alih oleh Alexias pada saat ia menata buku. Ia meminta supir mengantarnya ke restorant agar Alexias tidak khawatir.


"Hei, kau memikirkan apa?" tegur Hannah membuat Lora kaget.

__ADS_1


"Apa? bukan apa-apa." jawab Lora tersenyum tipis.


"Kau pasti sangat lelah, ya. Maaf membuatmu harus menemuiku seperti ini." ucap Hannah merasa bersalah. Ia melihat wajah sahabatnya sangat lelah.


Lora tersenyum, "Tidak apa-apa, Hannah. Alexias dan anak-anak juga tidak keberatan aku menemuimu. Sedekali kita seperti ini juga tidak masalah." jawab Lora.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai? memang, apa yang kau kerjakan tadi?" tanya Hannah. Yang merasa penasaran.


"Ya, sudah. Alexias langsung mengambil alih pekerjaanku merapikan buku anak-anak." jawab Lora.


"Wah, wah. Nyonya Owen kita sangat sibuk, ya." goda Hannah. Yang lalu, terkekeh.


"Begitulah. Oh, ya. Saat di telepon tadi, suaramu terlihat tidak baik. Ada apa?" tanya Lora ingin tahu penyebab sahabatnya sedih.


"Sepertinya aku akan berpikir dua kali untuk menetap di sini, Lora. Entahlah, keluarga Bibiku sangat mengesalkan." gumam Hannah.


"Ada apa dengannya? kenapa dia murung seperti itu, ya. Pasti ada sesuatu hal. Ya, aku yakin itu." batin Lora mengamati Hannah yang duduk di hadapannya.


Tidak lama, hidangan makan malam keduanya sampai. Pelayan menyajikan makanan di atas meja. Ada steak dan wine. Melihat makanan lezat di depan mata, membuat Hannah berbinar. Untuk sesaat ia melupakan kejadian yang membuatnya kesal. Perhatiannya kini hanya tertuju pada steak yang ada dalam piring di hadapannya. Tidak hanya menyajikan makanan, pelayan juga langsung menuang wine ke dalam dua gelas yang ada di atas meja.


"Silakan menikmati, Nona-nona." kata pelayan yang mengantar hidangan makan malam Lora dan Hannah.


"Ya, terima kasih." jawab Lora tersenyum.


"Terima kasih, Nona." kata Hannah menatap pelayan yang berdiri di sisinya.


"Saya permisi," Pamit pelayan bersuara lembut. Yang kemudian pergi meninggalkan meja Hannah dan Lora.


Sebelum pergi, pelayan itu menudukkan kepala sekilas dan membungkukkan badan sedikit lalu melangkah mundur perlahan. Ia kemudian berbalik dan pergi meninggalkan tamunya.


"Lap air liurmu. Menjijikan sekali," goda Lora menatap kenarah Hannah yang terus menatap steak di atas meja.


"Kau tahu saja jika air liurku menetes. Lihatlah ini, Lora. Bukankah steak ini terlihat enak dan lezat. Huh, aku tidak sabar untuk menyantapnya." ucap Hannah menggebu.


Lora tersenyum, "Selamat makan, Hannah." kata Lora menatap Hannah.


"Selamat makan juga, Lora." balas Hannah tersenyum pada Lora.


Keduanya menikmati hidangan makan malam dengan keadaan tenang. Suasana di restorant saat itu cukup ramai saat Lora datang tadi. Karena tidak ingin makan malam istimewanya terganggu, Lora mengajak Hannah berpindah tempat duduk. Sebelumnya, Hannah memesan tempat di depan. Karena di depan ada banyak pengunjung, Lora meminta pelayan mengosongkam semua tempat di area belakang. Dengan kata lain, Lora tetap ingin menjaga privasinya.


Tidak hanya makan steak bersama. Lora dan Hannah juga menikmati wine yang di pesan khusus oleh Lora. Wine dengan kwalitas terbaik yang ada di dalam daftar menu restorant tersebut.


*****

__ADS_1


__ADS_2