
Mendapat panggilan dari Alexias. Lora buru-buru datang ke sekolah si kembar. Ia sudah takut, kalau-kalau terjadi sesuatu pada anak-anaknya. Sesampainya di sekolah, ia hanya mendapati Oriana dan Olesia yang sedang bermain di ruang tunggu dan didampingi wali kelasnya.
"Hallo, Bu." Sapa Lora, ia baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Hallo, Nyonya. Apa kabar?" sapa balik Guru dengan tersenyum.
"Baik, Bu. Anda?" tanya balik Lora.
"Saya juga baik. Mari, silakan duduk." Bu Guru mempersilakan Lora untuk duduk.
"Mami, mami ... " panggil Olesia.
"Mami ada apa datang?" tanya Oriana.
"Oh, itu. Papi yang menghubungi Mami. Papi kalian di mana?" tanya Lora pada anak-anaknya.
"Entahlah. Papi menitipkan kami pada Bu Guru. Katanya mau mengurus sesuatu." jawab Oriana.
Lora menatap wali kelas anak-anaknya. Bu Guru terlihat gelisah, seperti tahu apa yang akan ditanyakan Lora.
"Bisa kita bicara di luar saja, Nyonya? mari kita duduk di bangku di luar ruangan." ajak Guru. Ingin bicara berdua saja dengan Lora. Tidak ingin si kembar tahu pembicaraannya dengan Lora.
"Oh, baiklah." jawab Lora. Lora menatap Oriana dan Olesia, "Annah, Lesi, baik-baik dulu di sini. Mami dan Bu Guru harus bicarakan sesuatu. Kami akan duduk di luar. Jika ada apa-apa panggil saja Mami atau Bu Guru di luar, ok." Lora memberikan arahan agar kedua anaknya tetap tenang di dalam ruangan.
Keduanya sama-sama menganggukkan kepala. Mereka kembali bermain puzzel. Lora dan Guru pun pergi keluar ruangan. Di luar, mereka duduk berdampingan.
"Silakan bicara, Bu." kata Lora bersuara lembut.
"Begini .... "
Guru itupun menceritakan semuanya. Menceritan pertrmuanya dengan Alexias yang ternyata ingin diantar ke kelas si kembar. Sampai mendengar yang seharusby tidak Guru itu dan Alexias dengar. Setelah ketiga anak yang mengejek si kembar di tanya, pelan-pelan mereka menjelaskan. Sampai timbul rumor tentang kehidupan Lora yang bebas dan liar. Secar tidak langsung, anak-anak itu mengakui semuanya pada wali kelasnya.
Sebagai wali kelas, tentu saja ia kaget. Orang tua murid-muridnya sungguh sangat keterlaluan. Sampai harus bicarakan hal yang tidak sopan pada anak-anaknya terkait masalah keluarga orang lain. Intinya, mereka memiliki pemikiran sendiri tentang Lora dan ketiga anaknya.
" ... begitulah, Nyonya. Maafkan saya. Saya akan sudah mengirimkan surat panggilan pada wali murid. Saya akan bicara langsung pada para wali murid." Guru itu tampak tidak enak hati. Ia merasa bersalah.
Lora tersenyum, "Silakan saja, Bu. Ini bukan salah Bu Guru. Bu Guru di sekolah 'kan sudah mengajarkan yang terbaik. Namun, jika di rumah mereka akan dididik oleh orang tua. Saya memang orang tua tunggal yang banyak kekurangan, tetapi saya sedih mendengar cerita dari Bu Guru tentang anak-anak saya yang diejek demikian. Mereka tidak tahu apa-apa, Bu. Mereka saja awalnya sama sekali tidak tahu siapa Papi mereka, karena saya merahasiakannya dari mereka. Saya yang bersalah dalam hal ini. Saya yang salah." Lora menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tidak salah, sayang. Akulah yang salah, karena terlambat bertemu kalian." sahut seseorang, mengusap kepala Lora. Yang tidak lain adalah Alexias.
Lora dan Guru mengalihkan pandangan menatap Alexias. Di samping Alexias berdiri kepala sekolah dan pengelola yayasan.
"Pak kepala sekolah. Pak Direktur." sapa Guru itu yang langsung berdiri dari posisi duduknya.
Lora juga berdiri perlahan, Alexias merangkul erat pinggang Lora. Menyandarkan kepala Lora ke dadanya.
"Tidak apa-apa. Semua baik-baik saja sekarang." bisik Alexias.
__ADS_1
Lora menadahkan kepala menatap Alexias, "Maksudnya?" tanya Lora.
"Pak Direktu, Pak kepala sekolah, saya mengucapkan terima kasih. Maafkan saya mendadak menemui Anda berdua." ucap Alexias menatap dua orang dihadapannya.
"Saya yang seharusnya berterima kasih, Tuan. Berkat bantuan Anda kami kami bisa lebih menjamin pendidikan anak-anak kedepannya. Soal yang tadi, saya akan urus. Anda tidak perlu khawatir." kata Direktur.
Alexias tersenyum, "Jujur saja. Awalnya saya tidak berniat menunjukan kekuasaan saya. Namun, jika seperti ini kejadiannya, saya tidak bisa tidak menunjukkannya. Bagaimana bisa anak-anak Pemilik saham tebesar, yang juga donatur tetap tiap tahun diperlakukan seperti ini. Diejek dan direndahkan sampai seperti itu. Hati saya sebagai Ayah jadi sakit." jelas Alexias dingin.
Semua diam tidak bicara. Seolah beku oleh ucapan Alexias. Lora menggandeng tangan Alexias.
"Ayo pulang. Anak-anak pasti sudah lapar. Kau juga, kan." lirih Lora menatap Alexias.
Alexias menatap Lora, "Oh, ok. Ayo," jawab Alexias.
Alexias, Lora dan dua mareka akhirnya pergi meninggalkan sekolah setelah berpamitan. Lora merasa Alexias berbeda, aura dingin terus memancar, seakan ingin membekukan seluruh sekolah dan jalan yang akan dilalui.
"Apa dia sangat marah? auranya berbeda," batin Lora.
"Seenaknya saja merendahakan keturuan kelaurga Owen. Meski aku tidak tinggal menetap di Negara ini, aku juga bukan orang yang bisa dipandang rendah di sini. Hahhh ... untung saja Ezra membantuku mengurus tadi." batin Alexias.
Di parkiran. Pintu mobil di buka oleh Alexias, mempersilakan anak-anaknya masuk dan duduk di bangku belakang. Ia juga membukakan pintu depan, sisi kemudi. Dengan hati-hati ia meletakan tanganya dia atas kepala Lora, mengiringi masuknya Lora ke mobil. Alexias tidak mau kepala Lora sampai terbentur.
Oa berjalan cepat menedekati sisi mobil lainnya. Membuka pintu dan segara masuk. Pintu mobil ditutup oleh Alexias, Lora langsung meraih sabuk pengaman dan memasangkannya untuk Alexias.
Alexias tersenyum, "Ah, terima kasih." ucap Alexias.
Lora masih melihat jika Alexias belum hilang kekesalannya. Ia tidak ingin mengancau dan memilih diam. Alexias mengemudikan mobil pergi meninggalkan perkiran sekolah
***
Sebelumnya ....
Alexias*
Aku mengubungi Ezra. Aku ingin Ezra mencari tahu tentang sekolah anak-anakku imi lebih dalam lagi. Ezra mengiakan permintaanku dan meminta waktu padaku.
Ku datangi ruangan kepala sekolah. Saat bertemu kepala sekolah, aku langsung bicara dan menceritakan apa yang kudenger. Sebenarnya aku ingin sekali marah dan meledak, tetapi ku tahan. Aku tidak mau nama baikku tercemar begitu saja hanya karena anak-anak nakal.
Setelah bicara cukup lama, kepala sekolah mendapat panggilan dari seseorang yang tidak kuketahui. Setelah menerima panggilan, ia langsung membawaku pergi dari ruangan satu ke ruangan lainnya.
Di ruangan itu, aku disambut oleh seseorang asing lainnya. Yang langsung bersikap ramah, seperti ingin menjilatku. Aku curiga, tetapi lagi-lagi pikiran negatif terus ku tepis.
"Silakan duduk, Tuan." ucapnya.
"Ya," jawabku singkat.
Aku pun duduk. Diikuti pria asing yang tadi menyambutku dan kepala sekolah. Mereka akhirnya memperkenalkan diri. Di sini aku baru paham, jika aku ada di dalam ruangam Direktur. Yang merupakan pengelola yayasan.
__ADS_1
Lama aku diam. Aku mendengar basa basi pengelola yayasan yang duduk di hadapannku. Ponselku berdering, saat ku keluarkan dari saku jasku, aku melihat nama Ezra di layar tampilan ponselku.
"Maaf, saya akan terima panggilan lebih dulu." katau, agar aku tidak terkesan tidak sopan.
"Ya, silakan."
Aku menerima panggilan Ezra, "Ya," jawabku singkat.
"Tuan. Sekolah itu adalah salah satu sekolah, di mana perusahaan sering memberikan bantuan. Perusahaan kita juga memiliki saham kepemilikan sebesar lima puluh lima persen. Beberapa waktu lalu kita membeli lima belas persen saham dari seseorang dan total saham keseluruhan menjadi tujuh puluh. Ada apa, Tuan? apakah ada sesuatu? maafkan saya lama menghubungi Anda." panjang lebar Ezra menjelaskan.
Alexias menatap dua orang dihadapannya, "Oh, begitu. Bisa kau hubungi penbgacara? aku ingin menuntut ketidakadilan untuk anak-anakku yang sudah diejek dan direndahkan." kataku pada Ezra dengan nada sedikit meninggi.
"Apa? ma-maksud Anda? a-anak apa? Tu-tuan, tolomg bicara yang jelas. Saya tidak mengerti." Ezra terdengar shock, sampai ucapannya gagap.
"Nanti soal itu aku jelaskan. Sekarang yang terpenting adalah masalah kehormatan keluarga Owen." kataku.
Setelah mendengar nama keluarga 'Owen' kulihat, seseorang yang dipanggil Direktur itupun melebarkan mata.
"Direktur, apakah Anda ingin menyampaikan sesuatu?" tanyaku menatapnya tajam.
"Maafkan saya, Tuan. Bisa Anda meredakan amarah Anda? Mari kita bicara baik-baik." katanya membujukku.
"Anda membujuk saya?" tanyaku.
"Saya sudah dengar keluhan Anda dari Pak kepala sekolah. Soal anak-anak Anda, kami akan melakukan yang terbaik, sesuai prosedur yang berlaku di sekolah." terangnya dengan ekspresi panik.
"Tuan, Anda di mana? siapa itu?" tanya ezra. Sambungan panggilanku belum terputus.
"Direktur yayasan yang kau selidiki. Ada sedikit masalah di sini. Bisa kau selesaikan itu dengannya, Ezra?" tanyaku.
Aku khawatir aku tidak bisa menahan diri jika terus berhadapan dengan dua orang di hadapanku ini. Bagaimana bisa mereka terus memintaku sabar dan diam. Anak-anakku memang tidak mendapatkan kekerasan secara fisik. Namun, mereka mengalami serangan psikologis secara tidak langsung.
"Baik, Tuan. Saya akan akhiri panggilan saya dan akan menghubungi nomor pribdi beliau." kata Ezra yang langsung mengakhiri panggilannya.
Tidak beberapa lama, ada suara ponsel yang berdering. Itu milik Direktur yayasan. Rupanya Ezra sedang berbicara dengannya. Aku memalingkan pandangan melihat kepala sekolah. Dia juga terlihat ketakutan. Dahinya sudah dipenuhi keringat.
Setelah selesai bicara dengan Ezra, Direktur itu menghampiriku dan duduk di sampingku.
"Maafkan saya, Tuan. Sungguh. Saya tidak tahu jika sampai ada kejadian seperti itu di sekolah. Saya mohon maaf," katanya.
"Adakan pertemuan pribadi dengan wali tiga anak itu. Aku mau bicara secara langsung dengan mereka. Aku tahu di sekolah pasti di ajarkan tata krama, tetapi sekolah seharusnya lebih memperhatikan anak-anak lagi. Ini baru kepadan anak-anakku. Bagaimana jika ada akorban lain selain anakku. Bagaimana jika korban itu tidak bisa melawan dan hanya memilih diam begitu saja setelah direndahkan. Bukankah seharusnya dalam hal seperti ini sekolah lebih peduli lagi? anak-anak sejak dini sudah bicara sekasar itu, menginjak remaja kekacauan apa yang akan mereka buat nantinya." kataku panjang lebar penuh emosi.
"Te-tenangkan diri Anda, Tuan. Mohon tenang," kata kepala sekolah.
Aku ingin tenang. Tapi, aku tidak bisa. Aku sangat marah, saat ingat anak-anakku diperlakukan tidak baik oleh teman-temanya. Entah sejak kapan semuanya terjadi, tetapi firasatku mengatkan jika anakku sudah lama menerima prilaku dan omongan tidak menyenangkan dari teman-temannya.
*****
__ADS_1