
Alexias merasa kepalanya sedikit tidak nyaman. Karena ia tidak mau saudarinya khawatir, ia meminta saudarinya untuk turun lebih dulu menunggunya keluar kamar.
"Umh, Agatha ... " panggil Alexias.
"Ya, Lex. " jawab Agatha.
"Kau bisa keluaf dan turun dulu. Tunggu aku di bawah, bukankah kita harus makan siang dulu? aku masih ada sesuatu hal yag ingin kupastikan." kata Alexias.
"Oh, ok. Aku akan duluan ke restornat di bawah. Sampai nanti, Lex." kata Agatha.
Tanpa ragu, Agatha mengiakan permintaan Alexias yang memintanya lebih dulu keluar dan turun. Sedangkan Alexias duduk bersandar, ia juga menyandarkan kepalanya, sehingga kepalanya menadah ke arah langit-langit kamar.
Deg ... deg ... deg ....
Tiba-tiba saja, detak jantung Alexias bergedup tidak beraturan.
"Hahh ... sepertinya beberapa hari ini akan sibuk." ucap Alexias, ia merasakan jantungnya yang berdebar dan diraba perlahan bagian dadanya, "Apa ini?" gumamnya.
Suara degup jantung itu bagaikan drum yang dipukul-pukul dengan tempo yang cukup cepat. Napasnya sesak, dadanya terasa nyeri. Alexias berusaha mengatur napasnya perlahan-lahan.
"Aneh sekali. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku juga tidak punya penyakut atau gangguan pernapasan dan organ tubuh. Kenapa sesak dan sakit? apa jangan-jangan memanga ada masalah? haruskah kuhubungi Agatha?" gumam Alexias pagi.
Iapun kembali termenung. Ia berpikir keras juga berusaha meredakan rasa sesak di dadanya.
***
Agatha keluar dari kamar Alexias. Ponsel yang digenggamnya bergetar, dilihatnya layar ponsel itu. Ternyata ia mendapatkan panggilan dari sang Mama.
"Mama, ada apa?" jawab Agatha, menerima panggilan.
"Oh, kukira kau sibuk. Tidak ada apa-apa. Hanya ingin tahu kabar kalian saja. Apa kalian sampai dengan selamat? tidak ada apa-apa, kan? Mama tahu kalian lelah, jadi kalian tidak memberi kabar pada Mama. Namun, Mama juga gelisah jika anak-anak Mama jauh dari Mama tanpa kabar." jelas Erlisa, Mama Alexias dan Agatha.
"Oh, maafkan aku. Begitu datang aku langsung sibuk, Ma. Dan malamnya aku malah sibuk jalan-jalan." jawab Agatha mengakui kesalahannya.
"Oh, ok. Tidak apa-apa. Mama mengerti. Meski begitu, kalian tidak boleh bertengkar. Kalian harus saling menjaga satu sama lain. Jika tidak ada kendala, lusa kami akan menyusul kalian. Kita bisa berlibur bersama setelah kalian selesai dengan pekerjaan kalian." kata Erlisa lagi.
Erlisa begitu sabar. Ia sangat menyayangi Putra dan Putri kembarnya tanpa pilih kasih. Yang terpenting, ia tidak pernah sekalipun bersikap buruk. Sehingga Alexias dan Agtha sangat sayang pada Erlisa. Demikian juga Jeremy. Meski sedikit dingin dan kaku, ia juga sebenarnya adalah sosok Ayah yang baik dan pengertian.
__ADS_1
Agatha tsrsenyum, "Mama ini, selalu saja membuatku rindu. Terima kasih, Ma. Dan maafkan puttimu yang lalai ini. Baik aku ataupun Alexias sama sekali lupa memberi kabar saat kami tiba di sini." jelas Agatha lagi. Raut wajahnya tampak murung.
"Tidak apa-apa, sayang. Jangan jadikan beban. Mama tidak mau kedua anak Mama terbebani hanya karena kabar. Tidak apa-apa, putriku." hibur Erlisa.
Agatha amat bahagia. Ia bersyukur diberikan kedua orang tua yang amat peduli dan penuh cinta seperti Papa dan Mamanya.
"Ok, Ma. Karena putrimu ini sudah lapar, maka ia akan makan. Aku mau makan siang bersama Alex. Mama dan Papa jaga kesehatan. Kabari jika kalian mau berangkat." kata Agatha.
"Ya, semoga harimu menyenangkan. Sampai nanti, Agatha." pamit Erlisa.
"Sampai nanti, Ma." jawab Agatha.
Erlisa mengakhiri panggilannya. Agatha menatap layar ponselnya sesaat, ia melihat foto pernikahannya di layar ponsel. Agatha tersenyum, mengusap pelan layar ponselnya.
"Semoga hari ini lancar, sayang. Doakan aku, ya." batinnya.
Agatha kembali berjalan, ia menuju lift. Ia hendak turun menuju restorant Hotel tempantnya menginap. Sesaat setelah masuk ke dalam lift, ia merasakan dadanya sesak dan nyeri. Perasaanya jadi tidak enak.
"Apa ini?" batin Agatha.
***
"Hannah ... " panggil Elles, teman sekolah semasa kecil Hannah.
"Elles ... akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian lama." kata Hannah senang.
Keduanya melepas pelukan. Elles menatap Hannah seakan menyelisik sesuatu. Demikian juga Hannah yang menyelisik Elles.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Elles.
"Baik, kau bagaimana?" tanya balik Hannah.
Elles menatap si kembar tiga yang dibawa Hannah. Tanpa basa basi, iapun langsung bertanya pada Hannah. Siapa anak-anak yang dilihatnya.
"Umh, Hannah. Siapa anak-anak lucu ini?" tanya Elles.
"Oh, ini adalah anak-anak teman SMA-ku. Aku sudah anggap mereka seperti anakku sendiri. Mereka memanggilku 'Mama' karena aku adalah Mama asuh mereka." jelas Hannah. Ia pun segera memperkenalkan Elles pada si kembar tiga. "Nah, Anak-anak. Ayo beri salam pada Bibi. Bibi ini juga adalah teman baik Mama. Kalian harua bersikap baik, ok." ucap Hannah.
__ADS_1
"Oh ... hallo, Bi." sapa Oriana. Ia segera memperkenalkan diri, "Namaku Oriana."
"Oh, hallo juga. Oriana, salam kenal. Senang bertemu denganmu." jawab Elles tersenyum cantik.
"Hallo, Bibi. Aku adalah Olesia." sapa Olesia.
"Hi, Olesia. Salam kenal," sapa balik Elles.
"Hallo, Bibi. Aku adalah Odellia. Senang bertemu Bibi." sapa Odellia tersenyum.
"Hallo juga, Odellia. Salam kenal juga," sapa balik Elles.
Elles kembali melihat si kembar tiga. Ia lalu menatap Hannah. Ia memuji kecantikan dan perilaku sopan ketiga anak perempuan itu.
***
Elles dan Hannah berbincang. Karena bosan, si kembar tiga meminta izin pada Hannah untuk jalan-jalan di sekeliling. Hannah mengiyakan dengan catatan, ketiga anak angkatnya tidak macam-macam dan membuat onar.
Oriana, Olesian dan Odellia senang. Saat ia mendapatkan izin Hannah. Mereka berjanji pada Hannah, untuk tidak melakukan hal aneh dan macam-macam. Mereka hanya ingin melihat-lihat sekitar saja.
Di tempat tidak jauh dari si kembar tiga, ada dua orang yang baru saja bertemu dan mengucapkan salam. Awalnya, semua baik-baik saja. Sampai pada di mana, pada saat Olesia asik melihat bunga. Ia mendengar sesuatu yang mengejutkan. Ya, ia mendengar hal yg tidak seharusnya.
Dua orang itu ternyata memiliki maksud jahat. Ia merencanakan ingin mencelakai seseorang yang mana seseorang itu adalah salah satu pengunjung Hotel. Olesia kaget, tetapi ia berusaha tenang. Ia diam-diam berbalik dan pergi untuk memanggil kedua saudarinya yang lain. Dimintanya Oriana dan Odellia ikut dengannya.
" ... kita harus segera membereskannya." kata seseorang kepada lawan bicaranya.
"Ya, pasti. Aku sudah muak padanya. Cih! dia sombong sekali hanya karena dia seorang CEO dan punya banyak uang." kata lawan bicara.
Oriana, Olesia dan Odellia mencuri dengar. Mereka mendengar semua rencana. Di pegangny ponsel oleh Oriana, ia merekan semua percakapan dua orang mencurigakan tidak jauh dari mereka berdiri.
"Apa? mereka mau melakukan percobaan pembunuhan?" batin Oriana.
"Gawat! seseorang itu dalam bahaya," batin Olesia.
"Tidak bisa begini. Siapapun itu, aku akan menolongnya. Meski aku hanya akan merepotkan." batin Odellia.
Ketiga anak kembar itu memikirkan sesuai pemikiran masing-masing. Mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu menyingkirkan dan menjatuhkan dua oran yang mencurigakan bagi mereka.
__ADS_1
*****