Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 06. Kisah Cerita (1)


__ADS_3

Flora*


Aku adalah seorang Ibu tunggal yang membesarkan tiga orang anak. Usiaku tahun ini menginjak angka dua puluh enam tahun. Bisa dibilang usia yang masih muda untuk bisa memiliki tiga orang anak. Anak-anakku, maksudku ketiga anakku adalah perempuan. Mereka adalah anak kembar.


Bagaimana bisa aku mendapatkan mereka? dan siapa Papa mereka? itu adalah sebuah hal besar yang selama ini ingin kukubur jauh di dalam lubuk hati.


Jika aku ingat kembali masa itu. Hati ini terasa pedih, seakan luka sayatan itu tak kunjung sembuh. Meski sudah enam tahun berlalu. Masih amat jelas terasa. Pengkhianatan mereka. Kejadian malam itu juga. Hingga kejadian di mana aku di usir oleh kedua orang tuaku.


Apa aku baik-baik saja pada saat, itu? tidak, aku tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Rasa sakit, kecewa, kesal dan murka juga putus asa berbaur menjadi satu.


Pada saat itu, usiaku baru saja menginjak usia dua puluh tahun. Aku diajak oleh sepupu dan mantan tunanganku pergi minum. Dengan alasan merayakan hari ulang Tahunku. Kedua pengkhianat itu membujukku. Aku terlena bahkan tidak menyadari jika aku sudah diperdaya oleh mereka.


Kedua orang yang kuanggap baik. Mereka yang begitu dekat juga perhatian paaku, nyatanya adalah sepasang serigala pemangsa. Satu adalah sepupu dan satu lagi adalah mantan tunangan. Keduanya merencanakan hal buruk padaku.


Entahlah ... sejujurnya, mungkin juga aku harus mengucapkan terima kasih pada mereka. Karena sudah membuatku mabuk, sampai aku bertemu dengannya. Laki-laki yang menghabiskan satu malam bersamaku. Hasil dari kesalahan itu, aku menddapatkan Oriana, Olesia dan Odellia.


Anak yang dulunya tidak ingin kuanggap dan kusambut kehadirannya. Bagiku dulu, janin yang tumbuh dalam rahimku adalah sebuah beban. Aku stres memikirkan nasibku pada masa yang akan datang. Bagaiman bisa aku menjalani hidup seperti sampah. Aku bahkan hamil di luar nikah dengan laki-laki asing yang rupanya saja aku tidak sebegitu ingat.


Aku memaki, mengumpat dan mengutuki diri sendiri. Aku benar-benar tidak bisa menjalai hidup yang berat pada saat itu. Belum lagi saat aku harus memergoki Evan dan Reine bercinta dibelakangku.


Selah aku diusir, aku memutuskan pindah ke Inggris. Negara asal sahabatku, Hannah. Ya, di saat aku sangat butuh uluran tangan dan sandaran, Hannahlah yang menggandengku dan merangkulku. Dia dengan suka hati menawarkan bantuan juga tempat tinggal.


Aku menceritakan apa yang kualami. Semua aku ungkapkan pada Hannah, dengan derai air mata. Hannah memelukku, mengatakan semuanya aka baik-baik saja.


Hannah membawaku ke rumahnya. Seperti layaknya seorang Ibu yang mencoba menyenangkan hati anaknya. Begitulah Hanna bersikap padaku. Aku mulai beradaptasi di sini, di tempat baru, di lingkungan yang masih terasa asing.


Setelah dua minggu aku bertahan, aku perlahan mulai terbiasa. Karena aku tidak mau membebani Hannah, aku memutuskan untuk mencari pekerjaan. Dan semingu kemudian aku mendapatkan panggilan. Pada minggu berikutnya aku mulai bekerja di salah satu perusahaan furniture yang cukup ternama.


Pikiranku mulai tepikirkan akan janin yang kukandung. Setelah berhari-hari kupikirkan, aku membuat keputusan yang gila. Aku ingin mengugurkan janin ini. Benih yang ditanam laki-laki itu.

__ADS_1


Hannah menentang keputusanku. Dia bersikeras mengatakan agar aku mau berpikir ulang dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.


"Apa kau sudah tidak waras, Lora?" tanyanya padaku. Dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Aku memang gila, Hannah. Aku memang gila!" jawabku meninggikan suara.


Dadaku begitu terasa sesak, napasku kembang kempis. Pikiranku kacau, aku tidak tahu harus apa lagi. Alasanku tak menginginkan janin ini karena dia hadir di waktu yang tidak tepat. Pada saat hatiku sedang hancur, tubuhku serasa seperti sampah karena kesucianku hilang begitu saja, juga karena kekesalanku pada dua pengkhianat itu. Aku masih belum bisa menerima keberadaan janin di rahimku.


"Itu bukan salahmu. Bukan salah janin di rahimmu. Pikirkan baik-baik, Lora. Apa janin itu minta hadir? tidak, kan. Apa janin itu tahu kondisimu? tidak, kan. Apa salahnya sehingga kau ingin membunuh anakmu sendiri?" cecar Hannah. Dia benar0-benar marah dan kesal akan keputusan yang sudah kubuat.


"Aku tidak mau punya anak dai hasil kesalahan. Aku ingin mengugurkan janin ini. Mau itu kau setuju atau tidak. Ini sudah menjadi keputusanku." jawabku. Aku terus melawan.


"Lora ... tolong berpikirlah jernih. Kau pasti akan menyesal dengan keputusanmu ini kelak." kata Hannah.


Aku menggelengkan kepalaku cepat. Aku mencengkram perutku sendiri.


Lagi-lagi aku bersikeras. Seakan hatiku membatu dan pikiranku tidak mau tau alasan Hannah menentang.


"Aku akan merawatnya," tegas Hannah.


"Tidak, Hannah. Au tidak mau melahirkannya." jawabku.


Seakan semakin kesal, tetapi tidak berdaya. Hannah pun hanya bisa menghela napas berat.


"Ok. Lakukan sesuai kehendakmu. Akan tetapi, aku ingin kau memeriksakannya dulu untuk yang terakhir kalinya. Lihatlah anakmu, Lora. Kumohon." pinta Hannah bersimpuh dengan pandangan mata berkaca-kaca.


Deg ... deg ... deg ....


Tanpa kusadari jantungku berdegup kencang saat melihat Hannah memohon dan bersimpuh di kakiku.

__ADS_1


Sekilas hatiku goyah. Namun aku kembali tersadar dan masih mengukuhkan niatanku. Kali ini aku tidak bisa begitu saja mengabaikan permintaannya.


"Ya, aku akan lakukan sesuai apa yang kau minta." kataku mengiakan permintaannya.


Mata Hannah berbinar, "Sungguh? kau tidak boleh membohongiku, Lora." ucapnya seakan tidak mempercayai apa yang sebelumnya kukatakan.


Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Mau bagaimana lagi, aku juga tidakbisa melihat Hannah sedih dan murung.


"Ok. Jika begitu, biarkan aku yang membuat janji dengan dokter atas namamu. Aku akan mengabarimu, kalau aku sudah dapat jadwalnya." kata Hannah bersemangat.


"Ya, begitu juga boleh." jawabku.


Hannah hanya menatapku tanpa bicara. Aku juga hanya bisa berdiam diri. Entah ini benar atau tidak. Aku tidak tahu. Yang pasti, aku ingin semuanya segera berakhir. Aku ingin melanjutkan hiduku. Aku butuh ketenangan dan kekuatan penghiburan.


***


Sepanjang hari aku hanya ada di dalam kamar. Setelah perdebatanku dengan Hannah, aku merasa tidak bersemangat lagi. Rasanya hati ini begitu hampa.


Kurebahkan badan ke atas tempat tidur. Mata ini hanya berkedip-kedip menatapi langit-langit kamar. Bayangan laki-laki asing yang tertidur tanpa pakaian pagi itu hadir memenuhi isi kepalaku. Wajahnya hanya terlihat sebagian saja karena aku hanya melihatnya sesaat dan sedang terburu-buru.


"Apa dia akan mengingatku? apa dia akan mencariku?"


Itu yang aku pikirkan. Semakin aku pikikan, aku semakin menggila. Aku tidak percaya, semua ini seperti mimpi bagiku.


Air mataku sudah tidak terhankan. Aku memeluk bantal erat-erat dan terisak dibaliknya. Aku kembali merasakan rasa sakit yang menyesakkan sampai rasanya tidak bisa bernapas.


Mungkin jika aku mengakhiri hidup sejak awal, rasanya tidak akan sesakit ini. Aku tidak harus membebani orang lain juga menanggung malu. Namun aku terjebak di dalam rasa takut. Aku terlalu lemah untuk bertekad.


*****

__ADS_1


__ADS_2