
Di Sekolah ....
Si kembar tiga sedang ada kegiatan olah raga. Karena fisik Odellia yang lemah, ia diizinkan istirahat dan tidak memaksakan diri. Berbeda dengan Olesia yang terlihat menggebu dan penuh semangat memperhatikan penjelasan guru.
Pelajaran hari itu hanya berlari berkeliling lapangan. Tentu saja, itu hal yang sangat mudah bagi Olesia yang memang gemar berolah raga. Lesi, sapaan Olesia. Berlari penuh semangat tanpa melihat kiri kanan lagi. Ia paham jika dua saudaranya tidak akan mampu mengejarnya.
Pada saat berlari, ia melihat salah seorang teman sekelasnya. Terlihat jika anak itu kesulitan berlari karena tubuhnya yang gemuk. Hal itu juga membuatnya harus diejek teman-temannya yang lain, karena tidak hanya lambat berjalan, tetapi juga bergerak.
Olesia melihat salah seorang temannya yang lain sengaja mendorong dan membuat si gemuk jatuh. Hal itu membuat Olesia geram, segera ia menghampiri dan mendorong seseorang yang mendorong si gemuk.
Brukkk ....
"Ah, aduh!" seru Anak nakal memegangi lututnya. Ia melihat ke arah belakang. "Siapa? siapa yang mendorongku? dasar ... " katanya yang tiba-tiba diam. Setelah melihat Olesia.
"Dasar, apa?" tanya Olesia.
"Kau, kau kenapa mendorongku?" tanya si Anak nakal.
"Lalu, kau sendiri? Kenapa kau mendorong Kang ShinWon?" tanya balik Olesia.
Si anak nakal mengernyitkan dahi. Ia melihat ke arah si anak gemuk yang berada tidak jauh darinya.
"Aku suka melakukannya. Memangnya kenapa? itu kan bukan urusanmu." jawab si Anak nakal.
"Oh, begitu. Kalau itu alasanmu. Jawabanku juga sama. Aku suka melakukannya. Aku suka menindas anak-anak nakal sepertimu." kata Olesia melebarkan mata. Menatap tatap pada si Anak nakal.
"Kau ... kau, kau. Ah, sudahlah. Aku tidak mau menyakitimu. Nanti kau menangis." kata si Anak nakal yang lantas berdiri. Ia menatap si Anak gemuk, "Hei, gemuk! beruntung sekali kau hari ini. Tapi, aku tidak akan tinggal diam untuk apa yang terjadi hari ini. Lihat saja nanti," katanya kesal.
"Nanti? kau mau apalagi memangnya? kau mau kupukul, ya?" sahut Olesia yang mendengar ucapan si Anak nakal.
"Kau juga, gadis pemukul. Awas saja kau, lain kali aku tidak akan berbaik hati." katanya menatap tajam pada Olesia.
Si Anak nakal lalu, pergi meninggalkan Olesia dan si Anak gemuk. Olesia membantu si Anak gemuk berdiri dari jatuhnya.
"Kau tidak bisa melawannya? kenapa selalu seperti, ini?" kata Olesia kesal.
"Ma-maaf," ucap si Anak gemuk.
"Maafmu tidak berguna pada saat seperti ini, Kang ShinWon." kata Olesia.
"Umh, aku minta maaf. Aku selalu merepotkanmu. Kau tidak perlu menolongku lagi, Olesia. Aku, aku, aku ba-baik, baik-baik saja." kata Kang ShinWon terbata-bata.
"Anak ini, kenapa dia selalu bicara terbata-bata padaku?" batin Olesia.
"Aku pergi dulu. Te-terima kasih untuk bantuanmu." kata Kang ShinWon. Ia melangkah pergi meninggalkan Olesia.
Olesia tertegun. Ia kesal pada Kang ShinWon, yang dianggapnya terlalu lemah, karena tidak bisa melindungi diri sendiri.
__ADS_1
"Hahhh ... dasar! sudah kubantu dia justru bersikap seperti itu. Sudahlah, aku lanjut lari saja." batin Olesia, ia kembali berlari mengelilingi lapangan.
***
Kang ShinWon berada di klinik sekolah. Di sana ia seorang diri. Wajah Kang ShinWon terlihat sedih. Ia merasa dirinya terlalu lemah, sehingga ia terus diejek dan dipermainkan teman-temannya.
"Kenapa terus seperti, ini? aku kan hanya mau belajar. Kenapa tidak ada teman yang baik." batin Kang ShinWon.
Ia lantas teringat akan Olesia. Gadis kecil cantik yang selalu menolong dan membantunya. Olesia bahkan selalu melindunginya bagaikan perisai. Kang ShinWon merasa malu, ia juga sedih. Ia berpikir, jika Olesia juga akan mengejeknya karena penampilannya yang gemuk.
Klekkk ....
Pintu ruangan terbuka. Ternyata itu Olesia. Olesia melihat Kang ShinWon dan berjalan mendekati Kang ShinWon.
"Sudah kuduga kau di sini. Kau tidak ikut pelajaran. Bu Guru bilang kau izin karena kakimu terasa sakit. Apa itu benar?" tanya Olesia.
"Kenapa kau ke sini? kau tidak pergi ke kantin untuk makan?" tanya Kang ShinWon.
"Tidak. Aku sudah makan bekal dari rumah." jawab Olesia. Ia lalu, memberikan sebuah kotak bekal pada Kang ShinWon, "Ini untukmu. Maaf, jika kau marah karenaku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku, aku hanya ingin menolongmu." kata Olesia.
Kang ShinWon ragu-ragu menerima kotak bekal dari Olesia. Melihat Olesia sedih, Kang ShinWon juga merasa sedih.
"Umh, terima kasih." ucap Kang ShinWon.
"Hmm ... aku mau bertanya. Apa boleh?" tanya Olesia.
"Apa kau tidak suka padaku?" tanya Olesia.
"Apa? ke-kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Kang ShinWon.
"Ya, itu karena kau selalu bersikap aneh padaku. Setiap aku membantumu, kau berterima kasih, tetapi ucapanmu membuatku sedih. Entahlah, aku merasa kau membenciku." jelas Olesia.
Mata Kang ShinWon melebar, "Ah, tidak. Aku tidak membencimu. Sungguh, aku sungguh tidak membencimu." kata Kang ShinWon dengan yakin.
"Lalu, kenapa kau bersikap aneh? apa aku ada salah padamu?" tanya Olesia lagi ingin tahu.
Suasana hening sesaat. Sampai Kang ShinWon menjelaskan apa yang sebenarnya ia pikirkan.
"Itu ... aku hanya merasa malu. Kau selalu baik padaku dan membantuku. Aku kan anak laki-laki, tapi aku lebih lemah darimu. Apa kau tidak malu terus membantuku? karena aku, kau jadi tidak disukai teman-teman kita, kan." jelas Kang ShinWon.
Olesia tertawa, "Hahaha ... jadi, hanya karena itu? ah, maaf. Aku tidak bermaksud menertawakanmu. Aku hanya kaget. Sungguh, aku hanya kaget." jawab Olesia. Ia menatap Kang ShinWon, "Hei, Kang ShinWon ... " panggil Olesia.
"Ya?" jawab Kang ShinWon menatap Olesia.
"Apa kau mau menjadi temanku?" tanya Olesia.
"Apa? te-temanmu? aku?" kata Kang ShinWon terkejut. Pasalnya ia tak pernah mempunyai satu orang pun teman selama ini.
__ADS_1
Kang ShinWon menunduk, "Maaf, aku tidak bisa." jawabnya sedih.
Olesia kaget, "Hah? kenapa? apa aku tidak kurang baik menjadi temanmu?" tanya Olesia.
Kang ShinWon menggelengkan kepala, "Bukan karena itu. Aku akan pindah, Olesia. Kita mungkin tidak akan pernah bertemu lagi. Maaf," jawab Kang ShinWon.
"Kau mau pindah? ke-ke mana? kenapa kau pindah? ah, apa karena anak-anak nakal itu? aku akan membantumu melawan mereka." kata Olesia.
Kang ShinWon tersenyum, "Wah, kau mau menjadi pahlawanku, ya. Hahaha ... " kata Kang ShinWon, lantas tertawa. "Bukan karena itu juga. Karena aku harus kembali ke Negara asalku. Orang tuaku memintaku kembali ke Korea." jelas Kang ShinWon.
"Sayang sekali," gumam Olesia sedih.
Kang ShinWon mengeluarkan sebuah sapu tangan dan diberikan pada Olesia.
"Ini, untukmu." kata Kang ShinWon.
Olesia melihat sapu tangan yang dipegang Kang ShinWon, "Sapu tangan itu, untukku?" tanyanya.
Kang ShinWon menganggukkan kepala, "Ya, ini untukmu. Ini adalah sapu tangan yang kusukai. Karena kau Anak baik dan suka menolong, aku berikan ini sebagai hadiah." kata Kang ShinWon.
Olesia menerima, "Terima kasih. Akan aku simpan ini." kata Olesia. "Lalu, kapan kau pergi? minggu depan ulang tahunku. Kuharap kau bisa datang dipesta ulang tahunku." pinta Olesia.
"Akhir bulan ini. Tentu aku akan datang. Beri aku makan yang banyak, ya." jawab Kang ShinWon senang.
"Ya, akan kuberikan makanan yang lezat dan banyak untukmu." jawab Olesia.
Olesia membantu mengobati luka di lutut Kang ShinWon. Ia meniup-niup lalu, menempel plaster di lutut Kang ShinWon. Olesia menutup mata, ia sedang berdoa. Melihat Olesia diam menutup mata, membuat Kang ShinWon bingung.
"Dia sedang apa? seperti sedang berdoa," batin Kang ShinWon.
Tidak lama, Olesia membuka mata. Kang ShinWon yang penasaran lalu, bertanya pada Olesia. Kang ShinWon ingin tahu apa yang dilakukan Olesia.
"Kau sedang apa? kenapa menutup mata dan memegang lututku?" tanya Kang ShinWon.
"Berdoa," jawab Olesia tersenyum.
"Berdoa?" ulang Kang ShinWon.
"Ya, berdoa. Mamiku berkata, jika ada orang yang sakit, kita harus mendoakan orang itu agar sembuh. Saat aku, Anah, atau Lia sakit, Mami dan Papi akan mendoakan kami. Nah, kau kan sedang sakit. Makadari itu, aku mendoakanmu." jelas Olesia.
Kang ShinWon tersenyum senang, "Wah, hebat. Terima kasih, Olesia. Kau akan selalu kuingat, meski nanti kita tidak akan bertemu lagi." kata Kang ShinWoon.
"Sama-sama," jawab Olesia.
Olesia menemani Kang ShinWon cukup lama. Sampai jam masuk kelas kembali berbunyi. Ia lalu, kembali ke kelas dan pergi meninggalkan Kang ShinWon yang masih ingin tinggal di Klinik.
*****
__ADS_1