Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 16. Kekacauan


__ADS_3

Semua orang di kediaman Louise sudah sangat menantikan kedatangan Flora beserta anak-anaknya. Sang Mama, Rosella bahkan sudah tidak sabar lagi menunggu. Sang suami pun tak bisa mencegah sang istri mengomel.


"Lama sekali mereka datang. Apa mereka terjebak macet di jalan?" gumam Rosella gelisah.


"Bersabarlah. Kenapa kau resah gelisah seperti iu, sayang. Mereka pasti datang." kata Mattew yang berada tidak jauh dari istrinya.


"Ya, aku sabar. Jangan terus berkomentar." sahut Rosella.


"Sudah-sudah. Kenapa kalian jadi sibuk sendiri? Mattew, diamlah. Biarkan saja istrimu bergumam." sahut Magdalena yang baru saja keluar dari dalam kamar.


"Mama ... " ucap Rosella dan Mattew hampir bersamaan.


Keduanya menatap ke arah Magdaena. Rosella pun menghampiri Mama mertuanya itu dan membantu Magdalena melangkah, berjalan mendekati sofa.


Baru saja Magdalena duduk, suara bel rumah terdengar. Seorang pelayan keluar dari dapur, berjalan melewati ruang tengah hendak membuka pintu. Namun, dicegah oleh Rosella.


"Biar aku yang buka pintunya. Tolong siapkan saja sarapannya." kata Rosella.


Pelayan menganggukkan kepala, "Baik, Nyonya." jawabnya yang langsung berbalik badan pergi kembali ke dapur.


Sedangkan Rosella segera bergegas, berjalan cepat menuju pintu utama rumahnya.


***


Sesuai jadwal yang di buat, Lora dan ketiga putrinya pergi ke kediaman keluarga angkatnya. Mereka telah tiba di depan pintu rumah. Lora menekan bel pintu, tanda kedatangannya.


"Apa kalian lelah? Maaf, ya. Mami sudah membuat kalian semua tidak nyaman selama dalam perjalanan." Kata Lora dengan tatapan mata berkaca melihat ketiga putrinya.


"Tidak apa, Mami. Kami baik-baik saja. Benar, kan. Olesia, Odellia?" jawab Oriana yang berbalik bertanya pada Olesia dan Odellia.


Secara bersamaan, Olesia dan Odellia menganggukkan kepala. Tanda jika setuju dengan apa yang disampaikan oleh Oriana.


"Mami terharu. Kalian memang yg terbaik, anak-anak." jawab Lora yang kemudian menciumi ketiga putrinya bergantian. "Mami sangat menyayangi kalian, sayan." tambah Lora.


Tidak beberapa lama, pintu terbuka. Rosella tersenyum senang. Ia tampak bahagia dengan kedatangan anak juga cucu-cucunya.


"Hallo ... " sapa Rosella.


"Nenek ... " sapa balik ketiganya kompak pasa sang Nenek.


Rosella membungkuk, memeluk satu per satu cucunya dan mencium kening ketiga putri Lora. Terakhir, Rosella dan Lora berpelukan beberapa saat. Rosella jug mencium kening putri angkatnya itu. Meluapkan kerinduaanya sebagai seorang Ibu.


"Apa kabar, Ma?" sapa Lora.


"Baik, Nak. Kau bagaimana? kau kelihatan kurus dari terakhir kita bertemu. Apa Papamu banyak memberimu pekerjaan?" tanya Rosella khawatir.

__ADS_1


Lora tersenyum tipis, "Tidak, Ma. Mana ada yang seperti itu. Papa justru terlalu mempermudah pekerjaanku di kantor. Sampai-sampai membuat iri semu stafnya." jawab Lora menerangkan.


"Hah, begitu. Ayo, masuklah. Anak-anak, ayo masuk." ajak Rosella pada putri dan ketiga cucunya.


Mereka semua masuk ke dalam rumah. Lor dan ketiga putrinya langsumg disambut oleh Papa dan Neneknya. Mereka berpelukan meluapkan kerinduan.


"Hampir saja seisi rumah ini hangus, Nak." kata Mattew.


Lora menatap Ayahnya itu, Ada apa, Pa?" tanyanya.


"Apa lagi. Tentu Mamamu yang resah gelisah dan menggumam. Karena kau tak kunjung datang." jawab sang Ayah.


Lora tersenyum menatap sang Ibu, "Maaf, Ma. Lora dan Anak-anak tadi harus berputar arah. Karena ada perbaikan jalan di jalan yang biaa kami lalui. Karena itu, waktu yang terpakai lebih banyak . Karena semua berputar arah juga tadi sedikit macet." jelas Lora.


Melurukan rasa gelisah di dalam hati Rosella.


"Oh, begitu. Yah, mau bagaimana lagi. Mama kan sangat rindu Padamu dan anak-anakmu." sahut Rosella.


"Sudah, sudah. Kita bicara lagi nanti. Sekarang ayo kita makan dulu. Bidadai kecil tiga ini pasti sudah sangat menahan lapar. Bukan begitu, Anna, Lisy, Lia?" tanya Magdalena.


"Ya," jawab Oriana.


Dan dua sisanya hanya menganguk dengan senyuman kecil. Wajah-wajah lucu polos si kembar tiga memang sangat memggemaskan.


***


Sekitar pukul sembilan pagi, waktu setempat. Saat Mattew dan Lora sedang membahas sesuatu di ruang kerja Mattew. Di dalam ruang kerja itu, Ada Magdalena juga Rosella yang bermain dengan si kembar tiga.


Tiba-tiba saja. Mattew mendapatkan pangilan dari sang Asisten. Ada laporan masuk yang diterima Mattew. Jika bebrerapa data rahasia perusahaan bocor. Dan akibatnya, ada beberapa perusahaan yang memutuskan untuk membatalkan kontrak sepihak dan ada juga yang menolak kerja sama karena di nilai perusahan milik Mattew menghasilkan produk yang kurang atau dibawah standar. Rumor-rumor anaeh mulai bermuncullan.


Tentu saja, mendengar itu, Mattew menjadi emosi dan naik darah. Ia sempat membanting berkas dokumen yang dipegangnya. Membuat semua orang terkejut karena mendengar suara jatuhnya berkas yang dibanting Mattew.


"Ada apa, Pa?" tanya Lora bingung.


"Ada masalah di perusahaan." gumam Mattew.


"Sayang, ada apa?" tanya Rosella. Berjalan menghampiri Mattew.


Rosella berusaha mnenangkan suaminya. Mattew pun menceritakan apa yang baru saja ia dengar dari sang Asisten. Rosella dan Lora kaget setelah tahu hal apa yang membuat Mattew terguncang.


"Bagaimana bisa, sayang." sahut Rosella.


"Entahlah. Ini pasti ada yang salah dengan. Ntah itu dati sistem penelolaan data atau staf. Bis juga keduanya." tanggap Mattew murung.


Si kembar tiga yang sedang bermain tidak jauh mendengar. Pemikiran riana langsung bekerja. Tanpa sadar Oriana menyahut dan mengatakan hal yang mengejutkan.

__ADS_1


"Bisa saja sistem diretas." kata Oriana.


Mendengar itu, Mattew, Rosella bahkan Lora tertegun sejenak. Suasana hening tanpa suara.


"Benar juga. Bisa jadi seperti itu." gumam Mattew.


"Lalu? apa yang akan kau lakukan?" tanya Rosella pada Mattew, suaminya.


"Aku harus cari seseorang yang ahli dibidang ini tentunya. Kita perlu memastikannya. Apakah benar sudah ada yang meretas data perusahaan." kata Mattew.


"Ah, Kakek ... " panggil Oriana.


Mattew memalingkan pandangannya pada Oriana dan bertanya.


"Ya, sayang. Ada apa?" tanya Mattew.


"Umh, itu. Apa boleh aku membantu? Yah, meski aku hanya tau beberapa saa dan belum mahir. Tetapi ... " kata-kata Oriana terpotong oleh Olesia.


"Tetapi kau kan yang bisa menangkap pencuri di toko milik Paman Wenny." sela Olesia.


Lora mengernyitkan dahinya, Tunggu, anak-anak. Apa maksud kalian bicara seperti ini. Pertama-tama, kenapa bisa Oriana yang menangkap pencuri. Bisa jelaskan pada Mami?" tanya Lora.


Olesia pun menceritakannpada Maminya apa yang sebenarny terjadi. Pencuri yang sengaja merusak kamera pengawas toko, tertangkap berkat Oriana yang meretas sistem kamera pengawas jalan. Dan menyerahkan bukti kejahatan ppada pemilik toko. Untuk selanjutnya diproses sesuai hukum yang berlaku.


Panjang lebar Olesia bercerita. Lora sempat bertanya dan dijawab anggukan kepala oleh Oriana. Betapa kagetnya Lora pada saat itu. Ia tidak menyangka jika salah seorang putrinya belajar meretas bahkan pada usia dini. Tidak hanya Lora saja yang dibuat kaget, tetapi juga Mattew, Rosella dan Magdalena.


Terlintas dipikiran Mattew untuk memastikan langsung apa yang diceritakan cucunya. Ia ingin tahu kemampuan oriana dengan melihatnya secara langsung.


"Hm, Lora. Bagaimana jika kita ajak anak-anak ke perusahaan dulu. Biarakan saja Anna melakuakn apa yang ingin ia lakukan. Kita kan tidak akan tahu jika belum memastikannya secara langsung." usul Mattew.


Lora terdiam sejenak, ia menatapi ketiga putrinya brgantian. Lalu menatap kedua orangtua angkatnya.


"Ya, baiklah. Apa kata Papa saja." jawab Lora, ia kembali menatap anak-anaknya. "Annah, Lesi, Lia. Kalian harus menjaga sikap dan janji pada Mami tidak akan melakukan sesuatu yang aneh. Mengerti?" kata Lora menjelaskan pada si kembar tiga.


Ketiga menganggukkan kepala bersamaan. Dan menjawab hampir bersamaan juga.


"Baik, Mami." jaab Olesia.


"Ya, Mami." jawab Odellia.


"Mengerti." jawab Oriana.


Tanpa banyak membuang watu, mereka semua pada akhinya pergi meninggalkan kediaman menuju perusahaan.


*****

__ADS_1


__ADS_2