Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 66. Tamu Istimewa


__ADS_3

Menerima usulan Emanuel, Ezra berpikir untuk mengenalkan Hannah pada keluarganya. Ezra menawari Hannah, apakah ia mau bertemu Papa dan Mamanya atau tidak.


"Hannah ... " panggil Ezra.


"Ya?" jawab Hannah.


"Umh, apa kau mau bertemu orang tuaku? Papa dan Mama pasti akan sangat senang kukenalkan denganmu." kata Ezra.


Hannah terdiam sejenak, "Bagaimana, ya. Apa iya aku ikuti saja kemauan Ezra? ya, tidak ada yang salah dengan pertemuan ini, kan." batin Hannah berpikir.


"Baiklah. Toh, kita memang harus saling mengenal satu sama lain lebih-lebih mengenal keluarga masing-maisng. Tapi, sebelum ke tempat Papa dan Mamamu, bisa antar aku ke suatu tempat?" pinta Hannah.


"Ke mana?" tanya Ezra.


"Ke toko bunga. Aku ingin membawa bunga untuk mereka. Sebagai salam perkenalan," jelas Hannah.


Ezra tersenyum, "Oh, ok. Aku akan antar. Kau perhatian sekali pada orang tuaku, sayang." puji Ezra mengusap-usap kepala Hannah.


Hannah meminta sang kekasih mengantarnya ke toko bunga. Hannah ingin membeli buket bunga untuk hadiah pertemuan pertama ia dan orang tua Ezra, untuk menunjukam kesan baik. Kebetulan, lokasi tempat yang menjual bunga berada tidak jauh. Kurang dari sepuluh menit perjalanan.


Setibanya di toko bunga, Hannah turun dari mobil dan masuk seorang diri ke dalam toko. Hannah meminta Ezra menunggu, karena ia tidak akan berlama-lama di toko tersebut. Sekitar kurang dari sepuluh menit, Hannah akhirnya kembali dengan sebuket bunga mawar merah dipelukannya. Ia berjalan mendekati mobil dan masuk ke dalam mobil. Hannah menunjukan bunga yang ia beli.


"Lihatlah, ini cantik, kan?" kata Hannah memamerkan bunga yang didekapnya.


Ezra menatap buket bunga, "Kau beli mawar merah? bukanny mawar merah adalah lambang cinta? seharuany aku yang beli dan kuberikan padamu, sayang." ucap Ezra.


"Memang mencintai hanya kepada pasangan saja? kita kan bisa mencintai orang tua, sahabat dan masih banyak lagi." jawab Hannah. Ia menunjukan buket bunga di tanganya. "Ini buket bunga mawar yang dipilihkan sendiri oleh pemilik toko." imbuhnya menjelaskan.


"Hm, bailalah jika sebgitu. kerja bagus, sayangku. Kalau begitu aku sekarang kita langsung ke toko, ke tempat Papa dan Mamaku bekerja." ajak Ezra.


Hannah menganggukkan kepala. Ezra kembali mengemudikan mobil menuju lokasi tujuannya.


***


Sekitar dua puluh lima menit perjalanan yang ditempuh. Keduanya akhirnya sampai di lokasi tujuan. Ezra langsung turun dari dalam mobil, ia berjalan ke sisi lain dari mobil. Dengan sigap membuka pintu mobil. Hannah turun dan keluar dari dalam mobil, berdiri tepat di hadapan kekasihnya. Tidak mau berlama-lama, Ezra pun langsung menggandeng tangan Hannah dan membawa Hannah masuk ke dalam toko.


"Silakan, selamat datang." kata seseorang menyambut dengan ramah. Ternyata itu adalah Mama dari Ezra


"Hai, Ma." sapa Ezra tersenyum lalu, menghampiri dan langsung memeluk Mamanya itu.


"Sayangku, kau datang." kata sang Mama. Menepuk lembut punggung anaknya.


Hannah hanya diam melihat, "Harmonis sekali. Aku jadi rindu pada Mama dan Papa.

__ADS_1


Ezra melepas pelukan, "Mama apa kabar? kenapa tidak menghubungiku?" kata Ezra. Ia melihat sekeliling dan mencari keberadaan Papanya, "Di mana Papa? tidak menyambutku?" gumamnya.


Sang Mama tersenyum, "Sayang ... lihatlah, siapa yang datang. Kesayangan kita datang bersama seseorang." teriak sang Mama memanggil sang Papa yang berads di dapur.


Tidak beberapa lama, muncul seseorang dari dapur. Yang tidak lain adalah Papa dari Ezra. Sang Papa langsung menyambut hangat sang Anak. Memeluk anaknya erat-erat.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya sang Papa.


"Baik, Pa. Papa bagaimana?" tanya Ezra balik.


"Papa sehat, hanya Mamamu yang kurang sehat. Dia terkena flu ringan." adu sang Papa pada sang Anak.


"Mama sakit?" tanya Ezra mulai panik.


Sang Mama lagi-lagi tersenyum, "Mama tidak apa-apa, Ezra. Oh, ya. Siapa Nona cantik yang datang bersamamu ini?" tanya sang Mama, menatap Hannah.


Hannah tersenyum, "Hallo, Bibi. Hallo, Paman. Saya Hannah. Saya ... umh ... " jeda Hannah ragu. Ia mau langsung mengakui diri sebagai kekasih Ezra, tetapi ia takut Ezra tidak senang.


Ezra mendekati Hannah lalu, menarik tangan Hannah mendekatinya. Ezra akhrinya memperkenalkan Hannah sebagai kekasihnya di hadapan orang tuany tanpa ragu.


"Ma, Pa. Kenalkan. Ini, Hannah. Dia kekasihku. Anak kalian ini, sangat menyayanginya. Aku harap Papa dan Mama mau menerimanya kelak sebagai menantu, dan memberikan restu kalian pada kami." dengan gamblang Ezra bicara. Membuat Papa dan Mamanya sempat kaget untuk sesaat.


Mama dan Papa Ezra saling menatap satu sama lain lalu tersenyum. Mereka bahagia, anak merekan yang dingin dan kaku akhirnya memiliki pasangan setelah bertahun-tahun dibujuk oleh keduanya untuk segera mencari kekasih.


***


Pintu toko terbuka, mendengar bunyi lonceng toko, Hannah segera menghentikan kegiatannya dan menyambut kedatangan sang pembeli. Hannah tidak sangka, ia bertemu seseorang yang tidak disukai Ezra, yaitu Kakak Ezra, yang merupakan anak sulung.


"Hallo, selamat datang ... " ucapnya ramah. Hannah pun menatap arah pembeli dan kaget saat melihat sosok yang datang dan berdiri di hadapannya. Sosok yang cukup mirip dengan Ezra.


"Kau siapa?" tanyanya menatap Hannah.


"Umh, a-aku Ha-hannah." gumam Hannah menjawab.


"Kau pekerja baru di sini?" tanyanya, menatap dingin ke Hannah.


Mata Hannah melebar, "Apa-apan paria ini. " Batin Hannah.


"Untuk apa kau datang?" tanya Ezra dingin.


Ternyata tidak hanya Jonathan saja yang terkejut. Ezra pun kaget saat mendengar suara yang tidak asing, saat memalingkan kepala ia pun lebih kaget karena memang sesuai dengan dugaanya.


"Beraninya dia datang dan bertanya-tanya pada Hannah." batin Ezra kesal.

__ADS_1


"Kau juga ke sini? ada apa, ya. Tidak mungkin hanya berkunjung dan melihat-lihat saja, kan. Pasti ada sesuatu yang kau inginkan." kata seseorang itu. ia langsung berprasangka buruk pada Ezra.


Ezra tersenyum lebar, "Bukan urusanmu untuk apa aku datang." sahut Ezra.


"Kenapa kau kesal begitu. Setidaknya kau kan bisa mempersilakanku duduk, Ezra."


"Silakan duduk," kata Hannah. Ia tidak mau Ezra dan seseorang yabg baru datang itu bertengkar.


Seseorang itu menatap Hannah, "Tidak hanya cantik. Kau juga ramah, ya." pujinya pada Hannah.


Ezra kesal melihat Kakaknya yang bersikap sok dekat dengan kekasihnya. Ia langsung menarik tangan Hannah dan membawa Hannah ke dapur. Di dapur. Ezra memperhatikan sekitar, ia pun menarik kursi dan meminta Hannah untuk duduk. Hannah bingung, tetapi ia berani bertanya. Melihat Ezra terlihat kesal.


"Jangan bicara lagi dengannya." kata Ezra.


"Memangnya kenapa? dia siapa?" tanya Hannah bersuara pelan.


"Kakakku," jawab Ezra.


"Kakaknya? tapi, kenapa mereka terlihat tidak akur, ya? sudahlah. Aku tidak mau membuat Ezra lebih kesal lagi. Jika dia memintaku duduk diam, aku akan lakukan. Lagipula, aku juga tidak menyukai pria tadi. Pandangannya terkesan menusuk dan aneh. Cara bicaranya juga mengesalkan." batin Hannah.


"Ya, aku tahu. Aku tidak akan bicara lagi dengannya." jawab Hannah.


Ezra mengusap kepala Hannah, "Bagus. Setelah ini kita kembali saja. Kita tunggu Papa dan Mama kembali," kata Ezra melanjutkan. Ezra berdiri di samping Hannah duduk. Ia menatap tajam ke arah Kakanya yang duduk diam jauh darinya.


***


Ezra memutar bola matanya perlahan. Ia seperti sedang berpikir. Beberapa detik berikutnya, ia langsung menatap Kakanya yang sedang bicara serius dengan Papanya. Ezra tidak bisa langsung pergi. Ia takut Kakanya membuat masalah.


"Kenapa kau hanya diam dan berdiri di sana, Ezra? kau tidak ingin bicara denganku? ya, meskipun Kau membenciku, tetapi kau tidak boleh berpura-pura tidak melihatku di sini, kan." kata sang kakak menyindir keras Ezra.


Sang Kakak memang pandai mengolah kata. Ia suka menyindir halus seseorang. Ucapannya terkadang mebuat lawannya tidak bisa berkutik dan menghindar. Bahkan meradang jengkel. Kakak Ezra salah satu orang yang suka mencari masalah.


"Tidak ada yang perlu kubicarakan dengamu." jawab Ezra.


Sang Kakak tersenyum, "Ya, ya, ya. Tidak apa-apa. Aku juga tidak mempermasalahkannya. Aku tidak marah ataupun keberaatan jika seandainya kau memang berniat mengabaikanku. Kau bisa benci padaku, jika itu kemauanmu." kata sang Kakak.


Ezra melebarkan mata, "Kau tidak perlu ingatkan aku. Aku memang muak melihatmu." sahut Ezra. Ezra menatap tajam ke arah Kakaknya, "Kau tidak bisa membohongiku. Aku tahu isi hati dan pikiranmu itu. Kau juga orang yang sangat suka memanfaatkan orang-orang terdekatmu. Hahhh ... bertemu denganmu, membuat hariku terasa buruk." kata Ezra lagi.


"Apa yang terjadi? kenapa Ezra sebegitu marahnya pada pria itu?" batin Hannah.


Sang kakak tersenyum, "Benar sekali. Sesuai apa yang kau pikirkan. Aku memang orang seperti itu. Lalu kau mau apa?" kata sang Kakak, seakan memancing murka sang Adik.


"Sudah cukup, kalain berdua hentikan. Kau pergilah jika tidak ada keperluan lagi." kata sang Papa menengahi. Ia menatap anak sulungnya tajam.

__ADS_1


Ezra bukan orang yang tidak pandai dan tidak peka. Justru sebaliknya, ia adalah orang yang pandai membaca situasi, gerakan tubuh bahkan sampai bisa mengetahui isi pikiran lawannya. Ia bukan orang dengan kemampuan supranatural, tetapi memang itulah kelebihan dari Ezra sejak ia masih belia. Ia tidak bisa dibohongi oleh orang lain, jika ada yang berniat jahat dan hendak membohongi atau membodohinya. Ia akan lebih dulu bertindak.


*****


__ADS_2