
Satu bulan kemudian ....
Di kantor. Alexias mengundang Hanson dan Papanya ke kantor karena ada hal penting yang ingin di sampaikan. Sekretaris pribadi Alexias memberitahukan kedatangan dua tamu yang ditunggunya. Setelah merapikan beberapa dokumen di mejanya, Alexias langsung berdiri dari tempat duduknya, ia siap menyambut dua tamunya.
Pintu ruangan terbuka, terlihat Jeremy dan Hanson datang bersamaan dan mereka sedang mengobrol. Alexias melihat kedua tamunya langsung menyapa dan memeprsilakan untuk duduk.
"Hallo, Pa. Silakan duduk," kata Alexias.
"Oh, hallo juga. Apa kabarmu, Lex?" sapa balik Hanson yang langsung bertanya kabar pada Alexias.
"Baik, Pa. Papa bagaimana? apakah Mama juga sehat?" tanya Alexias setelah menjawab kabar yang ditanyakan Hanson.
"Ya, kami baik-baik saja." jawab Hanson.
"Syukurlah jika Papa dan Mama sehat." sahut alexias tersenyum.
"Ada apa memanggil kami, Lex?" sahut Jeremy.
"Oh, itu. Ini tentang hal yang minggu lalu kita bahas, Pa. Yang langsung Papa setujui. Aku akan umumkan secara resmi sekarang." kata Alexias.
Jeremy terdiam sesaat guna berpikir. Ia menimang-nimang hal penting apa kira-kira yang dibicarakannya dengan Alexias minggu lalu.
"Apa, ya? aku sudah mulai lupa. Sepertinya daya ingatku menurun." batin Jeremy.
Pada saat Jeremy ingin menyerah pada ingatannya, ia lantas teringat akan sesuatu hal. Jeremy ingat jika ia dan Alexias pernah membahas tentang keinginan Alexias memberikan pekerjaan pada Hanson. Sebagai pengelola anak perusahaan cabang.
__ADS_1
"Ah, aku ingat." gumam Jeremy.
Alexias menatap Jeremy, "Papa kenapa? serius sekali berpikir." tanya Alexias.
"Oh, itu. Papa sedang berpikir apa hal yang kita bahas minggu lalu. Sekarang Papa ingat." jawab Jeremy. Ia manatap putranya lekat, "Jadi, sekarang sudah waktunya, ya?" lanjut Jeremy bicara.
Alexias menganggukkan kepala perlahan, "Ya, Pa. Karen persiapannya sudah selesai, dan aku tidak mau mengulur waktu lagi." jawab Alexias.
Jeremy ikut menganggukkan kepala, "Ya, baiklah. Silakan saja. Papa kan sudah setujui itu." kata Jeremy tenang.
Hanson bingung. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Ayah dan Anak di hadapannya itu. Namun, Hanson juga tidak ingin tahu. Yang membuatnya penasaran adalah, mengapa ia diundang datang oleh Anak menantunya.
"Ehemmm ... sebelumnya, maaf jika menyela kalian berdua. Tujuan pertemuan kita ini apa? apa ada sesuatu yang harus aku lakukan? atau sesuatu yang perlu kubantu? atau apa?" cecar Hanson bingung.
Jeremy tekekeh lantas menjawab, "Astaga, Hanson. Tenangkan dirimu. Kami sudah membuat kejutan untukmu. Kau kan sedang gelisah dan gundah karena perusahaanmu diambil alih calon suami keponakanmu. Jadi, kami punya sesuatu untukmu. Bukan begitu, Pak CEO?" Jeremy menatap Alexias yang duduk di sampingnya.
Hanson menatap Alexias lalu menatap Jeremy. Lalu, ia manatap berkas dokumen di atas meja. Diambilnya dan dibukanya berkas itu. Hanson membaca baik-baik isi berkas dokumen yang ia pegang.
"Hah? ini sungguhan?" batinnya.
Ia terus membaca isi dari berkas itu. Ia sangat tahu maksud dan tujuan Alexias memberikan berkas dokumen itu padanya.
Hanson menatap Alexias, "Apa ini tidak apa-apa? kau sampai seperti ini demiku, Lex. Ini, ini tidak perlu. Karena itu kesalahanku, biarlah aku yang menanggung akibatnya. Aku tidak bisa menerima ini." Hanson merasa bersalah, karena sudah merepotkan Alexias dan Lora. Sampai membuat Jeremy ikut turun tangan.
"Lora sudah menduga, jika Papa akan berkata demikian. Karena itu, kita buat saja kesepakatan. Jika Papa ingin mendapatkan kembali perusahaan Papa, bukankah Papa harus bekerja keras? buat Evan menyerahkan perusahaan itu secara suka rela. Jika Papa tidak punya pijakan, Papa akan kesulitan. Anggap saja Papa menyewa atau meminjam kekuasaan keluarga Owen sementara. Pikirkan Lora, Pa. Putri Papa itu sangat memikirkan Papa. Dia bahkan mengatakan jika Papanya pasti akan sangat sedih, karena perusahaan itu adalah hasil keringat dan air mata Papanya yang seorang pekerja keras." Alexias berusaha membujuk.
__ADS_1
Hati Hanson terasa nyeri. Ia tidak sangka putrinya akan sangat memikirkannya. Meski sudah putrinya itu sudah ia sakiti. Hanson merasa bersalah.
"Lora, putriku. Maafkan Papa, Nak. Maaf." batin Hanson terdiam.
"Tuan Elvise, kami tulus membantu tanpa imbalan ataupun motif tertentu. Tolong Anda pikirkan lagi. Jangan pikirkan enak tidak enaknya, pikirkan saja perusahaan Anda yang sudah puluhan tahun Anda rintis. Sia-sia jika Ands menyerah dan membiarkan seseorang yang tidak kompeten seperti Evan mengelola. Ini belum terlambat. Ayo kita berjuang bersama, Tuan." bujuk Jeremy.
Hanson merasa haru juga malu. Ia terharu, betapa baik dan mulia hati keluarga dari menantunya. Malu, karena ia hanya mementingkan diri sendiri pada masa lalu. Malu, karena ia sudah membuat putrinya menderita selama bertahun-tahun.
"Mungkin ini memang kesempatanku. Aku akan berubah menjadi orang yang lebih baik lagi. Untuk keluargaku dan orang-orang yang mengasihiku. Ya, aku akan berjuang. Harus dan pasti kudapatkan kembali apa yang seharusnya tetap menjadi milikku." batin Hanson mengumpulkan semangat.
Hanson menarik napas dalam-dalam lalu, mengembuskan napas perlahan. Ia tersenyum menatap Alexias dan Jeremy.
"Baiklah. Aku akan berjuang. Terima kasih, Tuan Owen. Kau juga, Lex. Terima kasih banyak." ucap Hanson.
"Di dalam keluarga, tidak perlu sungka begitu. Kita ini sudah menjadi satu. Harus mau saling menolong dan membantu. Kami senang Anda mau menerima apa yang sudah kami berikan. Jangan ucapkan terima kasih sekarang. Ucapkan itu nanti, pada saat Anda sudah berhasil membawa kemenangan." kata Jeremy.
"Tuan Owen ini sangat bijaksana. Tidak heran dia bisa mendidik putra dan putrinya dengan baik. Penuh rasa tanggung jawab dan pengertian. Peduli dan perhatian. Anak-anaknya pun demikian. Beruntung sekali putriku menjadi bagian keluarga mereka. Aku juga beruntung, bisa bertemu dan dibantu seperti ini. Jika saja Lora tidak datang menemuiku. Hal ini tidak akan pernah terjadi, kan." batin Hanson.
"Hati Anda sangat mulia, Tuan. Sebagai orang sebaya, saya malu. Sepertinya, saya perlu banyak belajar dari Anda." puji Hanson. Ia merasa ia perlu banyak memperbaiki diri.
"Ya, silakan saja. Saya juga perlu belaajr dari Anda. Anda kan sosok pekerja keras. Jangan merasa Anda kurang, karena Lora adalah bukti kesuksesan Anda. Lora juga merupakan pekerja keras seperti Anda. Saya bangga memiliki menantu sepertinya. Terima kasih, sudah mendidik putri Anda dengan baik. Dan memberikan putri Anda untuk putra saya yang kurang ini." ucap Jeremy merendah.
Jeremy berdiri dari duduknya. Ia menghampiri Hanson. Hanson juga berdiri. Keduanya lalu berpelukan erat. Melihat Papa dan Papa mertuanya akur, membuat Alexias senang. Diam-diam Alexias memfoto dan mengirim hasil fotonya kepad Lora.
"Kau pasti senang, kan. Jangan sedih dan khawatir lagi, sayang. Papamu pasti akan bisa merebut kembali perusahaannya. Kami akan selalu ada untuk membantu."
__ADS_1
Isi pesan yang dikirim Alexias untuk Lora. Alexias menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Satu masalah akhirnya bisa ia selesaikan.
*****