Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 55. Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

Lora menyampaikan apa yang menjadi tujuannya datang. Ia memberikan undangam pernikahan Marlyn dan Hanson. Keduanya sempat bingung karena Lora tiba-tiba akan menikah.


"Papa sama Mama pasti bingung. Tapi, inilah keputusan Lora. Aku harap Papa dan Mama mau datang." kata Lora.


Hanson dan Marlyn saling memandang. Ia lalu melihat ke arah Alexias lalu ke arah Lora.


"Ya, baiklah. Papa dan Mama akan datang. Tidak mungkin kami tidak datang." jawab Marlyn.


"Semoga kau selalu bahagia, Nak." kata Hanson.


"Sebenarnya, ada hal lain yang ingin aku sampaikan, Pa, Ma. Hm ... sebenarnya, pria asing yang bersamaku malam itu adalah dia yang saat ini bersama kita. Namanya Alexias." Lora memalingkan wajah menatap Alexias.


Marlyn dan Hanson terkejut mendengar pernyataan Lora.


Alexias tersenyum, "Hallo, Paman, Bibi. Saya Alexias Owen." Alexias memperkenalkan diri pada Marlyn dan Hanson.


Hanson kaget, "O-owen?" ulang Hanson melebarkan mata.


"Ha-hallo juga, Nak." sapa Marlyn.


"Jadi, begini. Saya ingin memperjelas semuanya. Pada waktu itu, bukannya saya tidak mau bertanggung jawab. Tapi, Loralah yang tiba-tiba pergi dan saat saya meminta orang mencari, Lora ternyata sudsh pergi ke luar negeri. Kami baru bertemu beberapa bulan lalu, karena sebuah kejadian yang tidak menyenangkan. Maaf, saya datang terlambat dan baru memperkenalkan diri." jelas Alexias.


"Lora, benarkah itu? Kau pergi melarikan diri?" tanya Marlyn menatap Lora.


"Ya, Ma. Aku kaget sekali saat bangun dan ternyata aku sudah melakukan hubungan satu malam dengan pria asing karena dalam keadaan setengah sadar. Aku juga takut, karena Papa dan Mama pasti mencariku karena aku tidak pulang. Saat sudah di rumah, saat aku mau jelaskan, Papa dan Mam sudah terburu marah karena lebih mendengar perkataan Reine. Sebenarnya aku kecewa, Pa, Ma. Penjelasanku tidak berarti di mata kalian. Aku tahu aku salah, kalian juga pasti kecewa. Kalian bahkan tidak percaya saat aku katakan Reine dan Evan berkhianat. Mereka menjalin hubungan di belakangku. Sebelum aku pergi dari rumah, aku smepat ke apartemen Evan. Di san aku melihat Reine dan Evan sedang bercinta. Pada saat aku pulang, ternyata lagi-lagi Reine memutar keadaan sesuai keinginanya. Aku jelaskan pun, Papa dan Mama juga tidak akan mau mendengar. Maaf juga. Baru sekarang aku berani berbicara dan menemui kalian. Jika boleh jujur, selama enam tahun ini aku sangat merindukan kalian. Tapi, aku tidak mau menjadi beban kalian." begitulah Lora menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu.


Hanson dan Marlyn sangat shock. Mereka merasa bersalah karena baru tahu kebenarannya sekarang. Selama ini, mereka terlalu percaya dengan ucapan Reine.


"Kenapa bisa begini? selama ini aku sudha salah paham pada puttiku sendiri. Jika dipikirkan lagi, aku memang tidak pernah mau dan tidak mau tahu apa hal yang dia sampaikan saat itu. Aku lebih percaya Reine." batin Hanson.


"Bagaimana, ini. Karena saat itu terbujuk ucapan Reine. Aku mengatakan hal yang tidak sepantasnya. Aku bahkan tidak melarang Hanson saat mengusir Lora pergi dari rumah." batin Marlyn.


"Kenapa? kenapa Papa dan Mama diam saja?" batin Lora.

__ADS_1


Lora menatap Alexias. Ia bingung, melihat Papa dan Mamanya yang diam. Bahkan setelah ia menjelaskan semuanya.


"Pa, Ma, apakah terjadi sesuatu?" tanya Lora.


"Tidak, Nak. Bukan seperti itu. Mama hanya kaget dan menyesal. Karena Mama lebih percaya ucapan Reine waktu itu. Seharusnya Mama tidak boleh seperti itu meski Mama kecewa." kata Marlyn sedih.


"Papa juga sangat menyesal, Lora. Papa sangat, sangat menyesal. Kenapa baru sekarang Papa tau semuanya. Sudah enam tahun berlalu dan selama itu pula, kami terus dipengaruhi oleh Reine. Papa merasa Papa ini orang yang bodoh. Bukan percaya pada anaknya sendiri, justru percaya pada Reine." kata Hanson.


Lora menatap Marlyn dan Hanson, "Pa, Ma. Tidak apa-apa. Jangan terlalu menyalahkan diri. Semua juga sudah berlalu. Tidak mungkin kita kembali ke amsa itu, kan. Yang jelas, aku merasa lega karena kesalah pahaman ini sudah terselesaikan. Apa yang ingin kujelaskan enam tahun lalu sudah aku sampaikan hari ini. Ditambah, semua hal yang samar di hari itu sudah terlihat. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," kata Lora tersenyum.


"Boleh Papa memelukmu, Lora? kemarilah," pinta Hanson.


Lora menganggukkan kepala, "Ya, Pa. Tentu boleh. Sangat boleh." jawab Lora yang langsung mendekatk Hanson.


Keduany berpelukan erat. Hanson menangis, Lora pun terisak dalam pelukan Hanson.


"Aku merindukan Papa ... " kata Lora sedih.


"Tidak, Pa. Loralah yang salah. Aku bukan anak yang berbakti. Aku hanya penimbul masalah juga hanya membuat Papa dan Mama kecewa." kata Lora.


Pelukan keduanya terlepas. Hanson menatap Marlyn lalu memeluk Marlyn dan Lora bersama-sama. Marlyn merangkul Lora. Marlyn juga menangis.


"Maafkan Mama juga, Lora. Mama sangat menyesal." kata Marlyn.


Alexias menatap satu keluarga itu dengan tatapan bahagia. Senyum tipisnya menyimpul.


"Wanitaku ternyata berhati lapang. Selain sabar dan tangguh. Aku sangat bangga padamu, Lora." batin Alexias.


Akhirnya, masalah enam tahun silam perlahan terselesaikan. Alasan dan penjelasan Lora sudah tersampaikan. Marlyn dan Hanson pun sudah memahami situasinya. Keduanya sadar, tidak seharusnya mereka cepat percaya dan menyimpulkan segala sesuatu tanpa dipikirkan terlebih dulu. Segala sesuatunya perlu dipikirkan dengan pikiran jernih.


***


Lora meminta Papa dan Mamanya diam perihal Alexias. Ia mengatakan jika Reine pasti akan berulah lagi.

__ADS_1


"Pa, Ma, jika Reine datang lagi dan menjelekanku. Papa dan Mama bersikap biasa saja. Dengarkan saja apa yang mau dia katakan. Dia belum tahu 'kan, jika Alexiaslah yang disebutnya 'Pria asing tidak dikenal' jadi, biarkan saja dia berpikiran buruk tentangku. Aku juga tidak peduli." kata Lora menegaskan.


"Kenapa begitu? bukankah kita harus memberitahunya kebenaran ini? dia mengatakan hal yang tidak sepantasnya padamu," kata Hanson kesal.


Marlyn menganggukkan kepala, "Mama paham, Lora. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Biarkan Mama yang jelaskan pada Papamu nanti." kata Marlyn.


Lora tersenyum, "Terima kasih. Pa, Ma. Oh ya. Kami harus pulang sekarang. Karena kami ada janji dengan anak-anak untuk menonton film." Lora berpamitan.


"Siapa? anak-anak?" gumam Marlyn.


Lora menepuk dahinya, "Ah, aku sampai lupa mengatakannya juga. Saat aku memutuskan pergi dari rumah dan tinggal bersama Hannah. Aku hamil. Aku melahirkan tiga anak kembar perempuan. Lain kali aku akan kenalkan Papa dan Mama pada mereka." kata Lora.


Hanson kaget, "A-anakmu? kau sudah memiliki anak?" tanya Hanson tidak percaya.


"Ya, Pa. Papa memiliki cucu. Tidak hanya satu, tetapi tiga." jawab Lora.


"Astaga, sayang. Kita punya cucu. Senangnya," kata Marlyn bahagia.


"Paman dan Bibi bisa datang ke mansion kami. Pintu mansion kami terbuka lebar untuk kalian berdua. Kalian 'kan keluarga Lora, dan Lora akan menjadi istriku secara sah. Jadi, kalian juga adalah keluargaku." kata Alexias.


"Kau bisa panggil kami seperti Lora memanggil kami, Lex. Jangan terlalu formal seperti itu." kata Marlyn tersenyum.


Alexias kaget, "Ah, apa boleh begitu?" tanya Alexias.


"Tentu saja boleh. Kau bilang kan kita adalah keluarga." sahut Marlyn.


"Istriku benar. Panggil kami dengan santai dan bicaralah senyamanmu. Jangan kaku juga canggung jika ingin bertanya sesuatu hal." tambah Hanson.


Alexias tersenyum, "Dengan senang hati, Pa, Ma. Jika begitu, aku tidak akan sungkan lagi." kata Alexias tersenyum.


Setelah selesai bicara, Lora dan Alexias pergi meninggalkan rumah sakit untuk kembali pulang ke mansion.


*****

__ADS_1


__ADS_2