Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 73. Pertemuan Reine, Junie Dan Frans


__ADS_3

Reine yang tidak mampu menahan emosi akhirnya pergi meninggalkan ruangan Evan. Sebelum pergi, Rein sempat memperingatkan Evan, jika semua yang ia lakukan padanya akan dikembalikan berkali-kali lipat. Mendengar ucapan Reine, entah mengapa Evan menjadi takut.


"Kalian lanjutkan saja sesuka kalian. Aku akan pergi. Aku muak melihat j*l*ng dan pria b*r*ngs*knya." kata Reine berdiri dan berbalik hendak pergi. Namun, ia kembali memalingkan wajah menatap suaminya, Evan. "Oh, ya. Ini Khusus untukmu, Evan. Apa yang kau lakukan akan kuingat lalu, akan kukembalikan berlipat-lipat. Jangan kira aku selamanya akan menurutimu hanya karena aku mencintaimu. Bahkan, detik ini pun cintaku seketika pupus." kata Reine menyimpan kekesalannya. Ia pun pergi meninggalkan ruang kerja Evan.


Evan kaget, ia tidak percaya Reine akan bicara demikian. Ia lantas mendorong wanita yang bersamanya. Evan tidak ingin melanjutkan kegiatannya lagi.


"Minggir!" sentak Evan.


"Aahh ... " jerit wanita yang didorong Evan. Wanita itu jatuh ke sofa.


Evan cepat-cepat membawa pakaianya dan bergegas pergi dari ruangannya. Ia menyusul Reine untuk bertanya apa maksud ucapan Reine sebelum pergi. Namun, sayangnya Evan kehilangan jejak Reine begitu saja.


***


Di lain tempat, ternyata Junie mengajak Reine untuk bertemu. Sekalian Junie ingin mengenalkan Kakaknya. Sesuai tempat yang di janjikan, Reine datang lebih dulu. Ia menunggu teman dan kakak temannya itu sambil menikmati jus jeruk.


Tidak lama, dua orang datang menghampiri meja Reine. Seorang wanita menyapa Reine, seseorang itu tidak lain adalah Junie.


"Reine ... " sapa Junie tersenyum.


"Hai, Junie." sapa balik Reine. Ia bangkit berdiri dan menyambut pelukan temannya itu.


Pelukan terlepas, Junie langsung memperkenalkan Kakaknya pada Reine.


"Oh, kenalkan. Ini Kakakku." Junie merangkul lengan Kakaknya. Ia lalu, menatap Kakaknya dan memperkenalkam Reine. "Frans, ini temanku sekolah, Reine." katanya.


"Hallo, Frans." kata Frans.


"Hallo, juga. Aku Reine." balas Reine memperkenalkan diri.


Keduanya saling menatap dan berjabatan tangan dengan erat. Frans bahkan tidak berkedip menatap Reine.

__ADS_1


"Wah ... tidak kusangka, Junie punya Kakak laki-laki setampan ini." batin Reine memuji.


"Cantik sekali. Aku ingin lebih mengenalnya," batin Frans.


Junie heran, Kakaknya dan Reine masih terus berjabat tangan. Ia pun berdehem, untuk meredam suasana.


"Ehemmm ... apa kalian masih mau terus berpegangan tangan? ah, maksudku berjabat tangan?" goda Junie.


Frans dan Reine sama-sama kaget dan menarik tangan masing-masing. Ketiganya lantas duduk. Junie memanggil pelayan untuk memesan minuman dan makanan.


"Maaf, Reine. Kami belum makan siang. Kami sekalian makan, ya. Kau tidak makan?" tanya Junie menatap Reine yang lesu.


Reine menggelengkan kepala, "Tidak, Junie. Aku sedang malas makan." jawab Reine.


Pelayan datang. Junie dan Frans langsung memesan makanan dan minuman yang hendak mereka nikmati. Pesanan selesai, pelayan pun segera pergi. Junie kembali menatap Reine dan bertanya kabar Reine.


"Bagaimana kabarmu, Reine?" tanya Junie lembut.


"Tidak baik?" ulang Junie. "Kau kenapa? tidak ada hal buruk, kan?" tanya Junie lagi penasaran.


Reine menarik napas lalu mengebuskan napasnya. "Entahlah ... aku tidak tahu ini hal baik atau buruk. Oh, ya. Ada apa kau ingin menemuiku?" tanya Reine penasaran.


Junie menatap Reine "Kau kan tadi tanya. Di mana kita bisa dapat menemukan orang bayaran. Hmm ... " ia lalu menatap sang Kakak, "Frans, kau saja yang jelaskan." kata Junie menambahkan.


Frans berdehem, "Ehemmmhh ... sebelumnya aku sudah dengar dari Junie, jika kau butuh bantuan. Aku punya beberapa kenalan yang bekerja dibidang informan dan memperkerjakan orang bayaran. Namun, apa boleh aku tahu untuk hal apa?" jelas Frans bertanya.


Mendengar pertanyaan Frans, Reine kaget. Lalu, ia secepatnya membuat alasan. Ia tidak ingin Frans tagu tujuan utamanya mencari orang bayaran untuk tujuan tertentu yang berhubungan dengan Lora.


"Oh ... aku hanya ingin membantu Paman dsn Bibiku. Sepertinya ada seseorang yang membuat keduanya kesulitan." jawab Reine beralasan.


"Paman, Bibi?" gumam Junie berpikir, "Apakah maksudmu orang tua sepupumu, Lora?" tanya Junie.

__ADS_1


Reine tersenyum, "Ah, kau masih ingat, ya." sahut Reine.


"Apa ada masalah besar, Reine?" tanya Junie.


"Ada seseorang yang merebut paksa perusahaan Pamanku dengan cara licik. Dan seseorang itu dulunya adalah mantan tunangan Lora. Ya, entah ini aksi balas dendam karena pertunangannya batal dengan Lora atau karena sejak awal tujuannya mengincar perusahaan. Aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku hanya ingun membantu Paman dan Bibiku. Jujur aku ingin memata-matai pria itu." jelas Reine.


Secepat tiupan angin, Reine mengarang cerita sedemikian rapi. Ia membuat Evan diceritanya sebagai tokoh jahat. Dan ia sebagai super hero yang menyelamatkan keluarga sang sepupu.


Junie yang memang tidak tahu apa-apa pun percaya. Karena Junie baru saja datang dari luar negeri. Setelah lulus sekolah, ia memilih tinggal bersama Kakek dan Nenek dari pihak keluarga Papa. Dan baru kembali sekitar sebulan lalu. Karena Papanya ingin Junie membantu Frans, Kakaknya. Untuk mengelola perusahaan. Begitu juga Frans yang hanya mengangguk-angguk mendengar cerita Reine yang terdengar serius.


"Bagus! dengan begini kalian akan mempercayaiku. Maaf, aku terpaksa melukan ini. Aku tidak akan mungkin membongkar kejahatanku sendiri, kan." batin Reine.


"Lalu, di mana Lora sekarang?" tanya Junie ingin tahu.


"Oh, dia tinggal bersama seseorang. Hm, bagaimana, ya. Aku enggan mengatakan ini sebenarnya. Tapi, aku juga tidak bisa menutupinya. Mantan tunangannya itu menjual Lora kepada seseorang yang tidak dikenal. Dan karena takut, Lora pun mengikuti perkataan mantan tunangannya itu. Ya ... begitulah. Karena Lora akhirnya hamil, mau tak mau dia menikah dengan pria itu. Aku kesal, Lora sangat mempercayai mantan tunangannya itu. Lora tidak mau dengar ucapanku sejak awal." jelas Reine, lengkap dengan Ekspresi kesalnya yang hanya akting.


Dengan ucapannya, Reine mampu menyakinkan Kakak beradik, Frans dan Junie mempercayainya.


"Astaga. Apa pria itu gila? bagaimana bisa dia tega melakukan itu pada tunanganya sendiri?" Junie kesal. Ia tidak mentukai pria sampah yang hanya mencari keuntungan semata.


"Junie, tenangkan dirimu." kata Frans.


"Bagaimana bisa aku tenang mendengar cerita yang seperti ini, Frans. Laki-laki seperti itu harusnya dipenjarakan saja. Dihanya parasit yang tidak berguna." omel Junie kesal.


"Ya, kau benar. Dia memang parasit. Dan lebih parahnya lagi, dia itu suka berganti-ganti pasangan. Tadi saja, saat aku menemuinya untuk berunding masalah perusahaan Pamanku, aku melihatnya sedang bersama seorang wanita dan ... ah, sudahlah. Kalian pasti tahu apa yang mereka berdua lakukan, tanpa harus aku ceritakan. Aku bahkan di paksa melihat hal yang menjijikan itu. Makanya, aku kesal sekali sekarang. Untung saja kau menghubungiku dan mengajakku bertemu." kata Reine menjelaskan. Ia masih memasang ekspresi wajah kesal penuh kepalsuan.


Frans hany diam mengamati. Ia tidak tahu, apakah ia benar-benar harus percaya sepenuhny pada cerita Reine atau tidak. Karena ia baru saja mengenal dan bertemu Reine. Ia tidak tahu orang seperti apa Reine itu. Wanita yang duduk di hadapannya adalah sosok dengan ekspresi sedih, kecewa, dan kesal yang menggebu saat bercerita.


"Entahlah ... aku tidak tahu harus apa pada saat seperti ini. Reine, kau orang yang bagaimana? apakah aku harus percaya padamu, atau sebaliknya. Karena aku pernah kehilangan rasa kepercayaanku pada seseorang pada masa lalu." batin Frans.


*****

__ADS_1


__ADS_2