Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 28. Manis (1)


__ADS_3

Alexias mengantar saudarinya sampai di parkiran. Agatha yang penasaran akhirnya bertanya. Ia sengaja dia depan Flora, karrna tidak ingin menimbulkan rasa tak nyaman di hati Flora dan kesan buruk tentangnya.


"Lex ... " panggil Agatha.


"Hm," gumam Alexias tanpa melihat Agatha.


"Apakah wanita itu yang kau cari? apa sungguh dia?" tanya Agatha tiba-tiba.


Alexias terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan saudarinya itu. Namun, dilihat dari pandangan Alexias yang kaget, Agatha sudah menebak jika pertanyaannya benar.


Agatha tersenyum, "Jadi, itu benar. Tak perlu kau jawab jika itu berat. Aku ikut senang kau menemukannya. Aku hanya minta kau perlakukan dia dengan baik. Karena ... " kata kata yang tiba-tiba diam.


"Karena apa?" sambung Alexias penasaran.


"Karena dia wanita. Kau harus bersikap lembut padanya." jawab Agatha tersenyum lagi.


"Bohong! Karena kemungkinan saja dia ibu dari anak-anakmu, dasar bodoh!" batin Agatha.


"Oh, kukira apa. Kau bicara terjeda seperti itu. Membuatku berpikir aneh saja." kata Alexias mengubah ekspresi wajahnya yang sempat tegang karena penasaran.


"Ini masih belum pasti. Aku harus menunggu hasilnya keluar. Jika benar, aku harus bicarakan ini dengan Papa dan Mama secara serius. Alexias tidak boleh begitu saja menelantarkan keluarganya." batin Agatha.


"Kau sungguh tertarik dengan wanita itu?" tanya Agatha ingin tahu.


"Ya, mungkin sejak awal aku sudah tergoda olehnya. Ada sisi lain yang tidak bisa kukatakan, karena itu pribadi." jawab Alexias.


Agatha sempat bingung. Ia terdiam untuk berpikir. Karena tak mengerti maksud saudaranya, Agatha pun hanya bisa menerima penjelasan tidak jelas dari Alexias itu.


"Ya, ya, ya. Terserah saja. Apapun itu aku percaya padamu. Papa dan Mam kita tidak mengajarkan kita membuang keluarga apapun yang terjadi, dan harus saling menguatkan satu sama lain saat dalam masa sulit. Pegang perkataan kedua orang tua lita, Lex." kata Agatha berpesan.


"Ya, aku tahu itu. Hati-hati pulang. Hubungi aku jika kau sampai di rumah." jawab Alexias membuka pintu mobil.


"Hei, kau pikir kau siapa? suamiku saja bukan, minta kuhubungi. Untuk apa juga aku harus menghubungimu?" kata Agatha yang langsung masuk ke dalam mobilnya.


Alexias menutup pintu mobil, "Dasar wanita jahat! jika begini, kau akan cepat tua." ejek Alexias pada Agatha.


Agatha menurunkan kaca mobil, "Hei, kau. Masuk sana. Wanitamu, ah ... maksudku Lora menunggumu. Kasian harus menahan lapar demimu." kata Agatha.


Alexias hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Agatha pergi meninggalkan saudara itu seorang diri. Tanpa membuang waktu lagi, Alexias berjalan perlahan menuju ke dalam gedung rumah sakit dan kembali ke ruang rawat Odellia dirawat.


***


Alexias*


Hmm ... aneh. Aku tak mengerti apa yang akan dikatakan Agatha tadi. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dariku. Apa, ya? Dari parkiran sampai aku berdiri di depan pintu aku terus berpikir.


Ah, sudahlah. Semakin lama dipikirkan semakin rumit. Aku langsung membuka pintu dan disapa oleh Lora. Entah mengapa aku senang, ia menyapaku lebih dulu. Rasanya tidak secanggung awal pertemuan kami tadi.

__ADS_1


Lora mengajakku makan, dan kamipun makan bersama. Aku menyuapi steak yang dibawa Agatha. Wanita yang duduk di sampingku ini makan dengan sangat lahap. Jika diperhatikan lebih seksama, ia tidak hanya cantik, tetapi juga imut.


Sampai saat ia memberika sesuatu, mungkin lebih tepatnya menyuapiku makan. Dia memberiku udang, mau tak mau aku membuka mulutku dan memakannya. Lora tak tahu jika aku memiliki alergi, tetapi aku juga tidak bisa menolaknya. Karena ini pertama kalinya wanita ini menyuapiku.


Uhukkk ....


Aku mulai batuk, suhu tubuhku meningkat. Rasanya dadaku sesak dan nyeri. Ah tidak, udang sialan itu sudah membuatku tak berdaya seperti ini.


"Itu, apa kau baik-baik saja? wajahmu merah, Lex." tanya Lora padaku, dia terlihat cemas.


Aku tersenyum, "Ya, tidak apa-apa. Aku mau ke kamar mandi dulu, ya." jawabku.


Aku lansung berdiri dari posisi dudukku, ku langkahkan kaki menuju kamar mandi tidak jauh dari tempatku berdiri. Gawat, aku merasakan pusing dan mual ingin muntah. Reaksinya ternyata lebih fatal dibandingkan dugaanku. Tidak, aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan Lora. Aku harus menunjukan sisi kuatku padanya.


"Bertahanlah, Lex. Bertahanlah ... "batinku.


Aku sudah hampir sampai ke kamar mandi. Namun, tiba-tiba saja pandanganku gelapdan aku sudah tidak bisa lagi mengendalikan diriku. Aku msrasakan aku terhuyung, aku jatuh ke lantai dan tertidur.


***


Bruuukk ....


Tubuh Alexias terhuyung dan jatuh ke lantai. Lora kaget, ia langsung berteriak dan menghampiri Alexias.


"Alex ... " Lora berteriak memanggil Alexias.


"Lex, kau dengar aku? Lex ... " panggil Lora menepuk wajah Alexias agar tersadar.


"Bagaimana, ini. Oh, aku harus panggil dokter sesegera mungkin. Ya, jika tidak Alexias akan ada dalam bahaya. Meski aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba pingsan. Namun, jika itu karena udang yang kuberikan, itu artinya aku sudah melakukan kesalahan." batin Lora.


Tidak banyak berpikri, Lora segera berlari keluar dari ruangan dan memanggil perawat jaga. Ia meminta pertolongan pada perawat jaga.


***


Alexias akhirnya di rawat. Ia terbaring lebah di ranjang pasien di samping tempat Odellia tidur. Lebih tepatnya, mereka dirawat dalam satu ruangan yang sama.


Lora sedih, ia merasa bersalah pada Alexias. Ia menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang menimpa Alexias. Ia pun menangis sesenggukan.


Hiks ... hiks ... hiks ....


"Bagaimana, ini?" gumam Lora.


Cukup lama tertidur, Alexias pun terbangun. Samar-sama dalam tidurnya ia mendengar suara tangisan. Matanya perlahan terbuka, Alexis melihat Lora duduk di sampingnya dengan wajah yang dibenamkan ke tepi ranjang pasien.


Alexias mengusap kepala Lora, "Hei, kau sedang apa?" tanya Alexias.


Lora kaget, "Kau sudah sadar? ah, syukurlah." kata Lora menatap Alexias.

__ADS_1


"Jangan menangis," lirih Alexias menyeka air mata Lora.


"Bagaiman tidak menangis. Kau ini bodoh! sudah tahu alergi kenapa kau masih makan udangnya? apa kau tidak bisa mengenali yang mana udang mana yang bukan?" omel Lora kesal, ia memukul-mukul bahu Alexias perlahan.


Alexias melongo, ia kaget saat mendengar Lora ngomel karenanya. Di matanya Lora terlihat imut, dengan bibir yang dimajukan dan dahi yang sesekali berkerut.


"Aku tidak apa-apa. Kau lihat, kan. Aku baik-baik saja," jawab Alexias tersenyum tampan.


Alexias memegang tangan Lora dan meletakannya di dadanya. Jantung Alexias berdegup kencang. Lora bisa msrasakan debaran itu.


"Kau dengar? ini hasilnya jika kau terus mengomeliku. Kau membuat jantungku berdebar kencang." kata Alexias dengan manisnya.


"Apa?" kaget Lora.


Wajah Lora sedikit merah. Lora merona karena malu tangannya dipegang oleh Alexias, sampai harus di letakan di atas dada Alexias.


"Apa, ini? pria ini gila, ya? ini, ini, ini ... " batin Lora gugup, kata hatinya terpotong oleh Alexias yang memanggilnya.


"Lora ... " panggil Alexias.


"Ah, i-iya?" jawab Lora tersentak kaget.


Alexias menggeser posisi tidurnya, "Kemari," katanya mengusap sisi kosong ranjang pasien yang dia tempati.


"Apa? apa maksudmu?" tanya Lora mengernyitkan dahi.


Alexias tersenyum, "Sudah malam. Kau mana bisa bsrjaga duduk seperti itu. Kemari dan tidurlah di sampingku. Aku janji tidak akan macam-macam," jelas Alexias.


"Huh, mana ada yang sepeti itu? tidak mau. Pria dan wanita yang belum menikah, tidak boleh tidur dalam satu ranjang. Kau tidak tahu itu?" jawab Lora.


"Hm, begitu ya. Apa kau lupa, kita bahkan lebih dari tidur bersama. Kita kan per ... " kata-kata Alexias terpotong, Lora segera membekap mulut Alexias.


"Tutup mulutmu ini, Tuan Owen. Kau ini merepotkan sekali, ya." kata Lora mulai kesal.


"Manisnya," batin Alexias menatap Lora.


Alexias berhasil menggoda Lora. Ia melepaskan tangan Lora yang membekap mulutnya dan meminta maaf.


"Ya, baiklah. Aku minta maaf jika kau tidak suka." kata Alexias terlihat serius.


Lora berdiri dari duduknya, "Ya, baiklah. Aku akan ke sofa dan berbaring. Aku juga sudah cukup lelah. Kau istirahatlah, agar besok merasa lebih baik." kata Lora.


Lora berbalik dan ingin pergi, tetapi Alexias memegang tangan Lora, menahan dan langsung menarik tangan Lora. Membuat tubuh Lora jatuh ke pelukan Alexias.


"Aaa ... " Lora terkejut, karena tiba-tiba tangannya ditarik oleh Alexias.


Wajah Lora dan Alexias berhadapan, pandangan keduanya bertemu. Wajah Lora memerah, begitu juga wajah Alexias.

__ADS_1


*****


__ADS_2