
Semenjak pertemuan Lora dengan Direktur perusahaanya, ia tidak lagi mendapatkan cemooh. Terlebih lagi, ia kini sudah diangkat menjadi anak angkat keluarga Direktur.
Itu adalah balasan rasa terima kasih sang Nenek angkat pada Lora. Sang Nenek sangat sayang pada Lora, seperti cucunya sendiri. Melihat Lora, ia teringat akan mendiang cucu kandungnya yang sudah meninggal karena kecelakaan.
Kini hidup Lora sudah terjamin. Ia juga tidak khawatir lagi akam biaya bulanan ataupun persalinanya pada masa yang akan datang. Selain mendapatkan gaji, ia juga mendapatkan tunjangan sebagai anak angkat.
Sebenarnya, Lora ingin diboyong oleh keluarga angkatnya ke rumah pihak kelaurga angkat. Namun, Lora menolak keonginan nenek dan orang tua angkatnya. Ia mengatakan jika ia lebih nyaman tinggal di rumah sahabatnya. Tidak lupa, Lora mengucapkan kata maaf dan penyesalannya. Karena ia tidak bisa menerima tawaran dari pihak keluarga angkatnya.
Sang Papa angkat, Mattew Louis. Tidak ingin mempersulit putrinya. Begitu juga sang Mama angkat dan Nenek. Karena rassa sayang mereka yang begitu besar, hampir setiap minggu Mama dan Neneknya datang berkunjung. Dan setiap hari menghubunginya. Meski hanya menanyakan kabar.
Enam bulan berlalu begitu saja. Perlahan tapi pasti, kehidupan Lora berubah. Kini, banyak orang yang perhatian dan peduli padanya. Menyayanginya juga mencintainya lebih dari apapun.
***
Magdalena dan Rosella, Nenek dan Mama angkat Lora datang berkunjung ke rumah Hannah. Mereka berdua bersama dengan Lora baru saja dari rumah sakit. Memeriksakan kandungaan Lora. Hari itu, Hannah tidak bisa ikut. Ia harus datang ke kedai kopi lebih awal karena ada bahan kiriman yang datang. Hannah juga tidak bisa menemani Lora pergi ke rumah sakit.
"Nenek, Mama. Terima kasih banyak. Sudah menyempatkan waktu menemani Lora." ucap Lora dengan melebarkan senyuman.
"Sama-sama, sayang. Mama senang bisa menemanimu." jawab Rosella.
Magdalena mengusap wajah cantik Lora. Dikecupnya lembut kening cucunya itu.
"Tidak perlu berterima kasih, sayang. Apapun untukmu. Bukan begitu, Rose?" tanya Magdalena, ia menatap ke arah menantunya yang duduk di sampingnya.
"Ya, Ma." jawab Rosella tersenyum cantik.
Ponsel milik Rosella berdering. Ia mendapatkan panggilan dari Mattew, suaminya.
"Ah, tunggu sebentar. Mattew menelepon." kata Rosella, sesaat setelah mengambil ponselnya dari dalam tas.
Ia pun segera menerima panggilan dari suaminya itu. Rosella tahu benar, jika suaminya pasti khawatir dan cemas akan keadaan putri angkatnya.
"Ya, sayang." jawab Rosella mesra.
"Sayang, kau di mana? Di mana mama dan putri kita?" tanya Mattew.
"Kami baru saja dari rumah sakit. Kami sedang berada di rumah Hannah. Ada apa? apa Pak Direktur kita ini sedang menganggur, huh?" goda Rosella. Usai menjawab pertanyaan suaminya.
"Ya, aku baru selesai rapat. Oh, ya. Mau makan siang bersama? kita ajak Hannah juga untuk makan bersama kita." tawar Mattew.
Rosella diam seaaat. Ia memalingkan wajah menatap Mama mertuanya dan putri angkatnya. Rosella pun menyampaikan usulan Mattew untuk makan siang bersama.
__ADS_1
"Mama, Lora. Mau makan siang bersama? Pak Direktur kesayangan kita ingin mentraktir." kata Rosella yang lalu tertawa kecil.
Magdalena menganggukkan kepalanya, "Ide bagus. Ayo sayang, kau harus makan yang banyak agar cicit-cicitku sehat." kata Magdalena pada Lora dengan nada suara yang lembut.
Lora tersenyum, "Ya, Nek." jawab Lora setuju.
Lora melebarkan senyuman. Sungguh, ia merasa senang dan tenang. Hidupnya kini terasa damai. Meski Magdalena, Mattew dan Rosella hanya keluarga angkat, mereka semua amat baik pada Lora dan juga Hannah.
Rosella melanjutkan pembicaraannya dengan Mattew. Tidak beberapa lama, pembicaraan keduanya berakhir.
***
Lora, Hannah dan keluarga angkat Lora makan siang bersama. Magdalena meletakan piring berisi dessert yang disuka Lora ke hadapan Lora di atas meja.
"Makanlah ini. Ini cake lemon. Kau kan suka lemon." ucap Magdalena.
"Hm, sebenarnya kurang suka, Nek. Namun, semenjak hamil aku menyukainya. Tidak hanya suka, tetapi sangat suka. Semua yang berbau lemon. Baik itu makanan, minumam, buah atau aroma wewangian. Aku suka." jelas Lora penuh semangat.
"Oh, mungkinkah itu karena kau sedang hamil, Nak?" tanya Maattew yang duduk tepat di samping Lora.
Lora tersenyum, "Ya, mungkin saja, Pa. Banyak hal yang sebelumnya kurang atau tidak kusuka. Setelah hamil aki justru menyukainya. Mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa menghentikannya." jelas Lora.
"Apa kalian juga baik-baik saja, Pa, Ma? semoga Papa dan Mama selalu sehat dan baik-baik saja." batin Lora.
Lora sedih jika ingat kedua orang tuanya. Ia rindu pada Papa dan Mama kandungnya. Namun, ia juga sedih saat Papa dan Mamanya mengusirnya hanya karena alasan kehormatan keluarga karena ia sudah tidak pulang ke rumah dan tidur bersama laki-laki lain selain tunangannya.
Sejak saat itu, lebih tepatnya sejak Lora pergi dari rumah dan memutuskan tinggal di luar negeri. Ia sama sekali belum menggubungi kelaurganya. Papa dan Mamanya juga tidak pernah sekalipun menanyakan kabarnya. Seolah mereka memang ingin memutus hubungan dengan Lora.
Mattew melihat Lora melamun. Ia mengusap kepala Lora dengan lembut dan mengajak Lora pergi berkeliling dengannya.
"Sayang, mau pergi dengan Papa? kita bisa jalan-jalan melihat toko buku dan toko dessert tidak jauh dari sini." tawar Mattew.
Mattew tahu, jika putri angkatnya sedang memikirkan sesuatu hal yang berat. Lora memalingkan pandangan menatap Nenek dan Mamanya. Kedua perempuan cantik itu pun menganggukkan tanda setuju.
"Pergilah jalan-jalan." kata Magdalena.
"Hati-hati sayang. Putri kita sedang hamil besar." kata Rosella memperingatkan.
"Iya, aku tahu. Aku pasti akan menjaga cucu-cucuku dengan sangat baik." jawab Mattew.
"Nenek, Mama, Hannah. Aku pergi dulu, ya." pamit Lora.
__ADS_1
"Ya, sayang. Hati-hati, ya." jawab Rosella.
"Jangan terlalu jauh kau membawanya, Mattew." kata Magdalena memperingatkan juga.
"Ya, Ma. Tenang saja." jawab Mattew.
"Hati-hati, Lora, Paman." kata Hannah.
Lora pun pergi meninggalkan meja makan. Ia dan Mattew berjalan beriringan menuju pintu utama restorant. Keduanya ingin pergi jalan-jalan di sekitaran restorant tempat mereka makan.
Beberapa menit berjalanan, setelah meninggalkan restorant. Mattew pun bertanya tentang apa yang Lora pikirakan.
"Lora ... " panggil Mattew.
Lora memalingkan wajahnya menatap Mattew, "Ya, Pa." jawabnya.
"Kau tidak mau cerita pada Papa?" tanya Mattew.
Lora kembali memalingkan wajahnya. Ia menatap sekeliling sembari berpikir.
"Hm, tidak ada apa-apa, Pa." jawab Lora.
"Tidak, Nak. Kau tidak baik-baik saja. Papa tahu, ada sesuatu yang kau pikirkan. Ada apa? apa Papa tidak boleh tahu hal apa yang kau pikirkan itu?" tanya Mattew.
Lora menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan napas perlahan. Ia pun mengakui hal apa yang membuatnya keras berpikir.
"Sesaat, aku merindukan kedua orang tuaku. Namun, setelah kupikirkan lagi, sepertinya mereka memang ingin memutuskan hubungan denganku. Entahlah, Pa. Aku juga bingung. Kenapa tiba-tiba pikiran itu muncul." jawab Lora menjelaskan.
"Tidak apa-apa, Nak. Kau tidak perlu berpikir keras untuk itu. Memang ada kalanya, seorang anak merindukan orang tuanya. Meski mereka pernah bersikap tidak baik, mereka tetaplah orang tuamu. Apa kau tidak coba menghubungi mereka? kau masih marah pada mereka, Nak?" tanya Mattew ingin tahu.
Lora memperlambat langkah kakinya, "Setengah iya setengah lagi tidak. Satu sisi aku sangat rindu, satu sisi aku marah dan kecewa." jawab Lora.
Mattew menghentikan langkah kakinya, "Lihat Papa, Lora." pinta Mattew.
Lora memalingkan pandangannya ke arah Mattew, lalu menghentikan langkah kakinya.
"Tidak masalah mau kau memikirkan kedua orang tuamu. Namun, kau harus ingat satu hal. Di sini, ada Papa, Mama dan Nenek yang sangat mencintaimu lebih dari nyawa kami sendiri. Jadi Papa harap, kau mau membagi bebanmu pada kami. Jangan merasa kami ini orang asing. Kau mengerti maksud Papa, kan." jelas Mattew menjelaskan.
Lora melebarkan mata. Seketika air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Ia merasa terharu akan ucapan Mattew yang begitu mendalam.
*****
__ADS_1