Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 109. Kejahatan Reine


__ADS_3

Setelah perdebatan sengit. Evan pun mengalah dengan memberi celah pada Reine. Ia tidak ingin memberikan tekanan pada Reine, mengingat Reine sedang mengandung.


"Ya, terserah kau saja. Bagaimana keadaanmu dan kandunganmu?" tanya Evan memalingkan pandangannya.


"Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa menjaga diriku dan kandunganku dengan baik." jawab Reine.


"Oh, begitu." jawab Evan seakan ragu.


"Kau lebih baik pulang. Aku tidak ingin melihatmu." kata Reine, merapikan pakaiannya yang kusut. "Oh, satu hal lagi. Jangan pernah mencariku lagi. Ayo kita bercerai saja," lanjutnya.


Ucapan Reine mengejutkan Evan. Tidak hanya itu, ternyata Frans yang memang ingin menemui Reine juga ikut mendengar dari balik dinding, tidak jauh dari Reine berdiri.


***


Sebelumnya ....


Junie mendatangi kamar Kakaknya, Frans. Ia ingin menanyakan sesuatu. Tapi, ia kaget, karena kamar Kakaknya itu berantakan.


"F-frans ... " gumam Junie sesaat setelah membuka pintu kamar Kakaknya. "Apa yang terjadi, Frans. Kamarmu, kenapa berantakan seperti ini?" tanya Junie bingung.


Dilihatnya semua yang ada di meja kerja Kakaknya berjatuhan ke lantai. Frans mencengkram kuat sebuah bekas dokumen.


"Frans ... " panggil Junie mendekati Kakaknya itu.


"S*al*n! Jadi, dia menipuku sampai seperti ini." gumam Frans.


Kening Junie berkerut, "Menipu? kau kena tipu? siapa?" cecar Junie ingin tahu.


"Reine," jawab Frans lirih.


"Apa?" kaget Junie. "Reine?" gumam Junie menatap Frans. "Katakan padaku. Menipu apa? dan bagaimana bisa? itu tidak mungkin, Kak." lanjut Junie, ia tidak percaya temannya akan menipu Kakaknya.


"Lihat ini. Baca juga pesan yang kuterima dari temanku." kata Frans, membanting berkas dokumen yang dipegangnya ke atas meja.


Junie yang masih belum percaya, mencoba untuk mengikuti apa yang Kakaknya perintahkan. Mula-mula ia membaca pesan antara Frans dan seseorang yang tidak lain adalah teman baik kakaknya itu. Pelan-pelan dan seksama, pesan dibaca Junie. Tangannya gemetar, Junie pun beralih mengambil berkas dokumen yang ada di atas meja. Dan langsung dibaca oleh Junie.


"A-apa? apa ini, Kak? dia ... " kata-kata Junie dipotong oleh Frans.


"Ini kebenarannya, Junie. Tidak hanya aku, sepertinya kau juga tertipu ucapannya yang manis." kata Frans mengeluhkan.


"Wanita jahat. Berani sekali dia mempermainkan kita seperti ini. Sepertinya kita harus meminta penjelasannya. Ayo, kita harus segera pergi ke apartemennya." ajak Junie tidak sabar.


"Ya, itu juga yang ingin kulakukan." kata Frans.

__ADS_1


Frans dan Junie pun pergi bersama meninggalkan rumah mereka. Keduanya ingin menemui Reine dan meminta penjelasan pada Reine.


***


Reine berbalik dan ingin melangkah pergi meninggalkan posisinya. Ia kaget, saat ia melihat Frans ada di hadapannya.


"Frans ... " gumam Reine.


Frans menatap tajam ke arah Reine. Sedangkan Reine hanya diam mematung. Ia kaget, karena tiba-tiba bertemu Frans.


"Ka-kau kenapa di sini?" tanya Reine takut-takut.


"Kenapa? apa ada sesuatu yang ingin kau rahasiakan dariku?" jawab Frans.


"A-apa?" kata Reine kaget.


"Kenapa kaget, Reine?" tanya Frans.


"Kenapa dia di sini? apa dia sudah dengar semuanya? bagaimana, ini? aku harus apa sekarang?" batin Reine bingung.


"Jangan diam saja, Reine. Tolong jawab, apa ini semua?" tanya Frans.


"Ini bukan seperti apa yang kau pikirkan, Frans. Aku bisa jelaskan," kata Reine.


Reine memalingkan pandangan menatap Evan, mengikuti arah pandang Frans. Ia tidak menjawab, Reine terdiam. Evan juga diam, ia tidak tahu harus apa dan bagaimana menghadapi situasi yang ada.


"Kau berbohong padaku, Reine. Kau juga berbohong pada Junie, Adikku. Tega sekali kau memanfaatkan kebaikan dan ketulusan kami padamu." kata Frans sedih, matanya berkaca-kaca.


"Aku ... aku ... " baru saja ingin menjelaskan situasinya, Junie datang dan langsung menampar wajah Riene.


Plakkk ....


"Wanita jahat! aku tidak sangka kau sejahat dan selicik ini, Reine. Salah besar aku sudah percaya dan membantumu. Kau pikir, kami apa, hah? sampai bisa kau manfaatkan sampai seperti ini." Junie terus berteriak, ia tidak terima akan perlakuan Reine padanya juga Kakaknya.


"Junie, tenangkan dirimu!" perintah Frans. Menghentikan Junie menatap tajam pada Reine, seakan ingin kembali menampar Reine.


"Bagaimana aku bisa tenang, jika orang yang selalu bersikap baik, ternyata adalah seorang yang tidak tahu malu, yang suka mempermainkan perasaan." kata junie melebarkan mata.


"I-itu ..." gumam Reine. Ia mengusap pipinya yang terasa sakit. "Aku tidak bersalah. Tidak!" seru Reine. Reine berlari, tanpa sengaja ia mendorong Frans, sehingga Frans jatuh berguling dari tangga.


"Frans ... " teriak Junie panik, melihat Kakaknya jatuh. Ia lalu menghampiri Frans yang sudah tersungkur di lantai bawah.


Ada tangga yang menghubungkan tiap lantai di apartemen tempat tinggal Reine, selain lift utama. Tangga itu biasa digunakan penghuni apartemen untuk jalan cepat menuju lantai atas, atau lantai bawah.

__ADS_1


Mata Reine melebar, ia langsung membekap mulutnya shock. Ia tidak sangka, ia mendorong Frans hingga jatuh. Tidak hanya Reine, Evan yang tahu pun juga kaget.


"Tidak! tidak mungkin," gumam Reine.


Di lantai bawah, Junie berteriak meminta bantuan. Sehingga mengundang perhatian beberapa penghuni dan pihak keamanan yang sedang berkeliling. Panik dan cemas, itu yang dirasakan Junie saat tahu Kakak satu-satunya yang ia miliki terluka.


"Frans, jangan menakutiku. Ayo, bangunlah!" isak tangis Junie. "Hiks ... Kakak ... " lanjutnya menepuk wajah Frans agar kesadarannya kembali.


Junie yang menangis, menatap tajam ke arah Reine yang masih diam di tempat. Murka Junie meledak, segera Juni berdiri dari posisi duduk di lantai dan berlari menaiki tangga. Junie langsung menyerang Reine, mencakar wajah Reine.


"Wanita b*r*ngs*k! wanita tidak tahu malu. Kau j*l*ng. Beraninya kau mendorong Kakakku." geram Junie.


Melihat Junie yang murka, Evan pun melerai. Ia menghadang Junie dan mendorong Junie yang terus berteriak histeris. Tahu serangannya dihalau, Junie pun memukul-mukul dada Evan agar Evan pergi dari hadapannya.


"Lepaskan aku! aku akan bunuh wanita b*r*ngs*k itu." kata Junie.


"Tenanglah! jangan bertindak gila, Nona. Jika kau melukainya, apa bedanya kau dan dia?" kata Evan menekan bahu Junie agar Junie tersadar dari tindakannya.


Junie terdiam, ia mulai terkendali. Junie menatap Evan lalu, menangis. Dicengkeramnya kuat pakaian Evan oleh Junie.


"Kakakku, Huhu ... Hiks ... Kakakku ... " Junie menunduk, tangisannya kembali pecah.


Evan menatap Reine, "Hentikan, Reine. Jangan membuat masalah lagi." kata Evan.


Reine menatap Evan, "Aku tidak salah. Tidak! aku juga bukan pembuat masalah, kaulah yang bermasalah." kata Reine masih belum sadar akan tindakan gilanya.


Junie ingat akan Frans, "Frans ... " gumamnya. Ia segera berlari kembali di mana Frans berada.


Pihak keamanan membawa tim medis dari klinik terdekat untuk memberikan pertolongan pada Frans yang terluka. Frans ditandu dan segera dilarikan ke klinik setelah diperiksa sebentar.


Reine menuruni tangga dengan cepat. Ia seger berlari melarikan diri. Karena perhatian orang-orang hanya berpusat pada satu titik, mereka tidak memperhatikan Reine.


Evan menyadari Reine sudah melarikan diri, begitu juga Junie. Saat Junie hendak mengejar Reine, Evan mencegah. Evan meminta Junie untuk fokus pada Kakaknya saja. Sebagai orang yang dekat dengan Reine, Evan akan membawa Reine kembali untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Frans.


"Ah, s*al! wanita j*l*ng itu melarikan diri. Tidak bisa dibiarkan. Aku harus mengejarnya," kata Junie. Saat hendak berlari, Evan mencegah Junie.


"Jangan dikejar, biarkan aku yang mengejarnya. Aku suaminya, tapi aku tidak akan berpihak padanya. Kau bisa fokus pada Kakakmu. Aku akan bawa dia," kata Evan serius.


Junie menatap Evan, "Baiklah, aku percaya padamu. Tolong bawa wanita jahat itu kembali. Karena dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya." kata Junie.


Evan menganggukkan kepala, "Aku tahu." jawab Evan.


Evan pun pergi, ia meninggalkan Junie. Ia mengejar Riene. Sedangkan Junie berterima kasih kepada semua orang yang membatunya, juga pada pihak keamanan. Ia lalu, segera berlari pergi menyusul tim medis yang membawa pergi Kakaknya menuju klinik.

__ADS_1


*****


__ADS_2