Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 50. Manis (6)


__ADS_3

Kediaman Owen ramai. Jeremy dan Erlisa kedatanga Anak-anak, menantu dan cucu-cucu mereka. Semuanya berkumpul menyantap makan malam.


"Ayo, makan yang banyak." kata Erlisa memperhatikan cucu-cucunya makan.


"Ma, biarkan aku menyajikan. Mama bisa dudul dan makan." kata Lora mengambil alih Erlisa memegang piring berisi steak yang akan diberikan pada si kembar tiga.


"Eh, tidak, tidak. Kaulah yang duduk. Sebagai Tuan rumah, Mama harus menjamu kalian." kata Erlisa, menolak bantuan Lora.


Lora menatap Alexias, seakan memberikan isyarat agar membantunya. Namun, Alexias justru hanya tersenyum menatap Lora.


"Duduklah, sayang. Biarkan saja Mama. Mama akan lakukan apa yang Mama kehendaki. Kau tak akan bisa melawan kekuasaan Nyonya Besar Owen." kata Alexias.


"Alex benar, Lora. Menurut saja. Duduklah dengan tenang." sambung Agatha.


"Oh, baiklah." lirih Lora yang langsung duduk kembali di kursinya. Meski sudah berusaha menenangkan hati, Lora masih merasa khawatir.


Erlisa tersenyum, "Kebetulan sekali, koki membuat steak untuk makan malam kita. Kalian suka steak, kan? Papi kalian juga suka sekali dengan steak." kata Erlisa memberitahu. Ia menyajikan steak yang sudah di potong-potong untuk si kembar tiga.


"Suka sekali, Nek." jawab Oriana.


"Kami paling suka makan steak." sahut Odellia.


"Anak-anak. Jika makan tidak boleh bersuara," Lora memperingatkan anak-anaknya.


"Jangan terlalu keras pada mereka, Nak. Mereka sudah cukup mengerti apa yang baik dan tidak." sahut Jeremy memberi masukan.


Lora menganggukkan kepala, "Ya, Pa." jawabnya lembut.


Alexias menukar piringnya dengan piring milik Lora, "Sudah kupotong, kau tinggal makan. Habiskan, ya." kata Alexias tersenyum.


Lora membalas senyuman Alexias, "Terima kasih." jawab Lora.


Agatha senang bisa melihat saudaranya bisa tersenyum bahagia dengan pasanganya. Selama ini, Alexiaslah yang selalu ada untuknya dan menghiburnya saat terpuruk. Sebagai saudara, Alexias memenuhi tanggung jawab penuh untuk menjaga dan melindungi Agatha setelah kematian suami Agatha. Tanpa mengeluh Alexias sigap membantu setiap Agatha butuh bantuan.


"Akhirnya kau bisa bahagia, Lex." batin Agatha.


***

__ADS_1


Selesai makan, mereka semua duduk di ruang tengah. Semuanya mengobrol, si kembar menceritakan apa yang terjadi saat di kedai kopi. Mendengar cerita si kembar, Jeremy dan Erlisa pun kaget.


" ... begitulah, Kek, Nek. Papi keren sekali," Puji Olesia.


"Astaga, orang itu benar,benar gila. Bagimana bisa dia berteriak dan menghakimi anak kecil seperti kalian? andaikan Nenek ada di sana, Nenek akan cakar wajah dua orang itu." ungkap Erlisa menggebu-gebu.


"Siapa orang itu, Lex?" tanya Jeremy.


Lora kaget lalu, menatap arah Alexias. Alexias hany tersenyum, ia memegang erat jemari tangan Lora.


"Aku tidak kenal. Namun, sepertinya orang itu kenal dengan Lora." kata Alexias.


"Lora, siapa dia? kau kenal?" tanya Jeremy pada Lora.


Lora lagi-lagi menatap Alexias. Alexias menganggukkan kepala, dan Lora pun menjawab dengan jujur pertanyaan Jeremy.


"Dia mantan tunangan Lora di masa lalu, Pa. Ingat cerita yang Lora ceritakan? sepupu dan mantan tunanangan Lora yang berselingkuh." kata Lora menjelaskan.


"Oh, kau bertemu dengan pria jahat itu?" sambung Erlisa kesal.


Lora menganggukkan kepala, "Untung saja ada Alexias yang datang membantu tadi. Jika tidak, mungkin akan sangat kacau kejadian. Karena kami bertengkar," jelas Lora lagi.


"Seharusnya kau melaporkannya, Lora." kata Jeremy.


"Tidak perlu, Pa. Sepertinya dia sudah jera karena Alexias." jawab Lora.


Jeremy menghela napas panjang, "Hahhh ... tetap saja itu berbahaya. Bagaimana jika kau terluka tadi. Karenanya Lia juga terluka, kan." jelas Jeremy, bukan tanpa alasan.


"Itu benar, Lora. Lain kali berhati-hatilah." sambung Erlisa. Ia melihat si kembar tiga lalu, memperingatkan. "Kalian juga. Lebih berhati-hati, ya." kata Erlisa.


"Baik, Ma, Pa. Terima kasih untuk perhatian Papa dan Mama." jawab Lora.


"Baik, Nek." jawab Oriana.


"Ya, Nek." jawab Odellia.


"Kami akan lebih berhati-hati, Nek." jawab Olesia.

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan pembicaraan sampai hampir larut. Karena sudah lelah, Oriana, Olesia dan Odellia mengeluh mengantuk. Jeremy dan Erlisa menyarankan Alexias dan Lora menginap. Begitu juga Agatha yang setuju. Agatha meminta si kembar tiga tidur bersamanya.


***


Di kamar Agatha. Oriana, Olesia dan Odellia tidur di satu tempat tidur yang sama bersama Agatha. Agatha menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur untuk ketiga keponakannya itu. Ia merasa senang sekali karena menjadi lebih dekat dengan anak-anak saudaranya.


Beberapa lama setelah cerita diceritakan. Oriana, Olesia dan Odellia mulai terlelap tidur. Agatha terus bercerita sampai ia memastikan ketiga keponakan kembarnya benar-benar telah tidur.


"Apa mereka sudah benar-benar terlelap?" batin Agatha memeriksa.


Benar saja, ketiga keponakan kembarnya sudah terlelap tidur. Mereka pulas tidur karena kelelahan. Agatha menaikan selimut sampai leher lalu, mencium kening Oriana, Olesia dan Odellia bergantian. Ia berbaring di sisi paling ujung dan ikut tidur.


***


Sementara itu, di kamar Alexias. Lora dan Alexias tidur dalam satu tempat tidur. Mereka berdua masih belum tidur dan masih membahas kejadian saat di kedai es krim. Lora merasa ada yang aneh dengan Evan.


"Apa yang kau pikirkan, sayang?" tanya Alexias.


"Aku merasa Evan mencurigakan, Lex. Aneh saja, penampilannya seperti bukan Evan yang kukenal dulu." kata Lora.


"Maksudmu? kau mencurigai apa?" tanya Alexias lagi, bingung.


Lora menggelengkan kepala perlahan, "Ah, entahlah. Aku tidak begitu yakin. Yang jelas, di berubah. Seperti orang asing. Gayanya berpakian, gayanya bicara. Seakan-akan dia adalah orang hebat yang berkedudukan tinggi. Ditambah lagi dia memiliki kekasih baru selain sepupuku, Reine. Bukankah itu aneh? ya, mungkin aku saja aku yang terlalu banyak berpikir. Mungkin juga Evan dan Reine sudah berpisah atau apalah itu, aku tidak tahu pastinya." jelas Lora mengungkapkan isi pikirannya.


"Apa kau ingin aku menyelidikinya diam-diam?" tawar Alexias.


Lora mengubah posisi tidurnya, "Apa itu tidak apa-apa? ah, maksudku ... ini murni karena aku curiga. Bukan karena aku masih ad arasa atau semacamnya. Kau paham, kan?" jelas Lora lagi. Ia tidak ingin Alexias salah paham dengan apa yang ia maksudkan.


Alexias membelai wajah Lora lembut, "Apa yang perlu kutakutkan? darimu aku mendapatkan tiga putri. Bukankah anak-anak seperti tali yang mengikat kita berdua? jika kau berpaling pada pria lain, itu akan menyakiti anak-anak kita. Demikian aku, jika aku melihat wanita lain, aku adalah Papi yang jahat. Mami mereka ada di depan mata dan terjangkau olehku, kenapa juga aku berpaling." kata Alexias dengan sangat manis.


Lora tersipu malu, "Kau ini, semakin manis saja bicaramu." kata Lora menarik hidung Alexias gemas.


Alexias mendekatkan wajahnya ke wajah Lora. Ia mengecup hidung Lora lalu, bibir Lora berulang-ulang. Lora hanya tersenyum, wajahnya masih memerah karena malu.


"Aku mencintaimu, Lora." bisik Alexias lembut.


"Ya, aku juga. Aku juga mencintaimu, Lex." balas Lora.

__ADS_1


Pandangan Lora dan Alexias begitu dalam. Dalam sekejap mata, keduanya kembali berciuman. Semakin dalam dan semakin panas. Alexias tidak hanya mencium area wajah Lora saja, tetapi sudah ke area lain. Dan di sana, Alexias menunggalkan jejak ciumannya. Tidak ada hal lain yang terjadi, karena Alexias dan Lora masih ingin memegang erat kesepakatan mereka. Keduanya hanya bisa berpelukan, berciuman dan tidur seranjang bersama tanpa melakukan hubungan suami istri.


*****


__ADS_2